
Tisya yang hendak turun dari tempat tidur walaupun sebenarnya kepalanya masih pusing.
"Nggak usah kerja!" ucap Wilson dengan entengnya sambil menyambar ponselnya di atas meja, ia harus segera membuatkan sarapan untuk Tisya.
"Maksudnya?"
"Tadi aku sudah ijin, kamu sakit jadi nggak bisa kerja!"
Wilson berlalu begitu saja meninggalkan Tisya yang masih terbengong.
"Keterlaluan ....!" gerutu Tisya.
Wilson segera menuju ke dapur, walaupun matanya begitu mengantuk tapi ia tidak mungkin membiarkan Tisya yang masih sakit kelaparan, dia bisa kena pasal berlapis karena menyia-nyiakan adik perempuan bos besar nya.
Tisya yang merasa sudah lebih baik segera mencuci mukanya dan gosok gigi lalu menyusul Wilson ke dapur.
"Kenapa ke sini?" tanya Wilson yang sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya.
"Mau liat pertunjukan!" ucap Tisya.
"Di mana pertunjukan?"
"Nih di depan aku ....!" ucap Tisya yang tidak sanggup menahan tawa gara-gara kepolosan Wilson.
"Dasar tikus kecil ....!"
Wilson pun segera menyerahkan semangkuk bubur pada Tisya.
"Makanlah dan minum lagi obatnya!" ucap Wilson.
Tisya yang memang sudah lapar pun segera memakan makanannya, tapi setelah hampir habis ia baru menyadari sesuatu.
"Wil!"
"Hemmm?"
"Bukankah kamu semalam juga belum makan?" tanya Tisya dan Wilson pun mengangguk.
"Makanlah ....!" Tisya menyendokkan sisa bubur dalam mangkuknya dan menyuapkannya pada Wilson.
"Makan saja, aku gampang ....!"
"Mana bisa ...., aaaaa ....!" tapi Wilson masih terus menggelengkan kepalanya.
"Makan, atau aku tidak mau mak_!"
Ucapan Tisya menggantung saat tiba-tiba tangan Wilson meraih tangan Tisya dan menyuapkannya ke dalam mulutnya membuat Tisya tersenyum tipis.
Akhirnya mereka pun makan bersama dengan di suapi oleh Tisya bergantian.
"Minum dulu obatnya!" ucap Wilson sambil menyerahkan sebutir pil berwarna putih yang bertuliskan parasetamol.
Tisya pun segera menerimanya dan menelannya di bantu dengan segelas air.
"Ohhh iya Wil ...., aku tidak ke laundry! Aku harus hemat, tapi baju kotorku banyak! Bisa beritahu aku cara nyucinya nggak?" tanya Tisya kemudian.
__ADS_1
Biasanya ia selalu membawa baju kotornya ke tempat cuci baju, tapi sekarang ia harus mengumpulkan uang, baginya sekarang uang lima ribu begitu berarti.
"Siniin bajunya, biar aku yang cuci! Kamu istirahat saja!"
"Yakin?" tanya Tisya tidak percaya.
"Yakin ...! Kamu duduk di sofa saja dan tunggu aku sampai menyelesaikan pekerjaanku!"
Wilson pun mengajak Tisya ke depan tv, memintanya untuk duduk manis di sana sedangkan ia segera ke kamar Tisya untuk mengambil baju kotor Tisya yang ada di keranjang.
Wilson memasukkan semua baju Tisya ke dalam mesin cuci, tapi ada sesuatu yang tersangkut di keranjang, sesuatu yang begitu asing.
"Ini benda apa? Gunanya untuk apa? Kenapa bentuknya aneh sekali ....!?" gumam Wilson.
Wilson mengamati benda itu, antara mesin cuci dan ruang tv hanya bersekat sebuah dinding tanpa pintu, Wilson pun segera mendongakkan kepalanya dan mengacungkan benda mirip kaca mata besar itu.
"Tikus ....!" panggil Wilson.
"Apa?" tanya Tisya.
"Ini benda apa?" tanya Wilson sambil mengacungkan benda itu di tangan kanannya.
"Sial ....!" umpat Tisya.
Tisya pun segera berlari menghampiri Wilson dan mengambil benda mirip kaca mata itu menurut Wilson.
"Wilsoooooon ....!" gerutu Tisya sambil menyembunyikan benda itu di balik punggungnya.
"Itu tadi apa?" tanya Wilson dengan begitu polosnya.
"Kalau aku tahu ngapain aku pakek tanya segala!"
"Kalau begitu jangan banyak bertanya!" ucap Tisya sambil memasukkan bra miliknya ke dalam tabung mesin cuci.
Setelah insiden bra itu selesai, Wilson meminta Tisya untuk kembali ke tempatnya dan melanjutkan mencucinya, untung saja mesin cuci itu sudah langsung ada pengeringnya jadi Wilson tidak perlu menemukan benda-benda aneh lagi di sekumpulan baju Tisya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Wilson pun memilih menghampiri Tisya. Matanya begitu lengket minta di pejamkan, hari ini sudah ijin tidak masuk kerja.
"Aku akan tidur sebentar, jangan ganggu!" ucap Wilson, ia duduk di samping Tisya dan menyandarkan kepalanya ke belakang, ke sandaran sofa dan mulai memejamkan matanya.
hanya dalam hitungan menit saja, nafas Wilson sudah teratur menandakan kalau pria itu sudah benar-benar tertidur.
Tisya mengamati wajah tenang itu, ia sedikit merendahkan volume tv agar tidak menggangu tidur Wilson. Ia tahu jika pria di sampingnya itu pasti sangat lelah karena menjaganya.
"Terimakasih ya, kucing besar ku ...!" ucap Tisya lirih.
Aku tahu memperkerjakan aku di rumah ini sebenarnya hanya sebuah alasan dari kak Frans ..., dia ingin menjagaku melalui kamu ...., kamu pasti sangat menderita menjagaku ...., aku bukan gadis yang mandiri ..., aku gadis yang manja ..., menyebalkan ..., tapi kamu begitu telaten menjagaku ..., maafkan aku ....., batin Tisya sambil terus menatap Wilson.
Walaupun mungkin dugaannya itu benar, ia tidak pernah marah pada kakaknya ataupun Wilson. Ia tahu kakaknya pasti ingin yang terbaik untuknya.
Tisya kembali menatap wajah tenang itu, ia melihat jika tidur Wilson terlihat kurang nyaman, ia pun meletakkan tangan kirinya ke kepala bagian kanan Wilson dan menariknya perlahan hingga kepala Wilson bersandar di bahu kanannya.
Tisya mengusap pelan kepala Wilson agar Wilson kembali pulas.
Tisya bisa melihat dengan jelas wajah Wilson di bahunya.
__ADS_1
Dia kalau di lihat-lihat tampan juga ya ...., pantas saja kak Maira tergila-gila padanya ...., batin Tisya.
...***""***...
Di tempat lain, dokter Frans begitu senang menyambut kedatangan kedua sahabat dan juga istri-istrinya.
"Mana sih kembar?" tanya dokter Frans saat tidak melihat Sanaya dan Sagara bersama Agra dan Ara.
"Mereka kan sekolah kalau jam segini!" ucap Agra.
"Ahhh iya aku lupa ...., mereka sudah besar saja ....!"
Rendi membawa Nadin dan baby Keyra sedang kan Elan tidak ikut karena di rumah ayah Roy.
"Baby Key cantik banget, rambutnya kenapa bisa begini ya? Emang rambut kamu dulu gini ya Rend?" tanya dokter Frans saat melihat rambut baby Key yang bergelombang membuat baby Key semakin cantik saja di tambah pipinya yang tembem itu.
"Emang bapaknya yang ganteng, ya anaknya ganteng sama cantik!" ucap Rendi menimpali ucapan dokter Frans.
Felic yang baru saja mandi pun segera menghampiri tamu-tamunya.
"Ara ...., Nadin ....!" sapa Felic.
"Hai Fe ....!"
"Hai kak Fe ...!"
Sapa Ara dan Nadin bersamaan, Felic pun duduk di antara Ara dan Nadin.
"Bagaimana kandungan mu?" tanya Ara sambil mengusap perut besar Felic yang tinggal beberapa minggu lagi melahirkan.
"Baik ...., bayinya juga sehat!"
"Sudah di lihat belum jenis kelaminnya apa kak?" tanya Nadin yang penasaran.
"Udah ...., tapi Frans nggak mau ngasih tahu ke aku katanya buat surprise ...!"
Dokter Frans terlihat begitu senang dengan baby Key, ia sibuk mengajak bicara baby Key yang baru bisa tengkurap itu.
"Kalau pengen, ntar buat yang banyak, kalau bisa ada yang kembar juga!" ucap Agra yang terus menggoda dokter Frans.
"Memang ...., rencana ku mau buat kesebelasan!"
"Asal jangan pingsan aja liat istri kamu lahiran, kan nggak lucu kalau dokternya pingsan ha ha ha ....!" ucap Agra dan diakhir dengan tertawa membuat Rendi yang merasa di bicarakan melotot padanya.
"Jangan mulai ya ....!" ucap Rendi.
Bersambung
...Jika kamu adalah pemilik hatiku, maka jangan biarkan hati ini di miliki orang lain...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰