
Dokter Frans segera meninggalkan ruangan felic, ia memilih menuju ke ruangannya. Ia
berlalu begitu saja saat asistennya menyapa. Tidak biasanya, ia biasanya balik
menyapa tapi kali ini ia memilih diam dan berlalu begitu saja.
“Ada apa dengan dokter Frans?” gumam dokter Sifa.
Sesampai di ruangannya ia segera menjatuhkan tubuhnya di sofa, menutup matanya perlahan.
“Kenapa mata Felic begitu indah? Apa aku mulai jatuh cinta padanya?”
Jantungnya bahkan masih berdegup begitu kencang saat mengingat mata bening itu. Tapi
bayang-bayang cinta masa lalunya datang bersamaan dengan perasaan pada wanita
yang sudah menjadi istrinya itu.
Malam ini dokter Frans memilih tidak kembali ke kamar Felic, ia sedang ingin
meyakinkan hatinya sendiri. Ia baru tahu jika rumah tangga dan cinta bisa
serumit ini.
Agra yang tegas bisa kehilangan ketegasannya karena cinta, Rendi yang pintar bisa kehilangan kepintarannya karena cinta dan sekarang dirinya sendiri yang bijaksana bisa kehilangan kebijaksanaannya karena cinta juga.
Ternyata Felic pun juga mengalami hal yang sama, ia tidak bisa tidur di kamarnya, ia
terus mondar-mandir menunggu kedatangan dokter Frans. Tapi ia juga takut jika
pria itu datang, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang.
Berkali-kali ia berusaha untuk tidur, tapi percuma. Belum selesai urusannya dengan Rangga dan sekarang dengan dokter frans.
“Hehhhhhh …!” berkali-kali ia terus menghembuskan nafas beratnya, setiap kali mengingat wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu jantungnya berdetak begitu kencang, nafasnya seakan sesak. Ruang seluas itu seperti begitu sempit.
“Ya Allah …, perasaan macam apa ini?” Felic memilih tidur untuk menghilangkan perasaanya yang terus bergejolak.
***
Pagi ini dokter Frans harus mengikuti rapat bulanan bersama para dewan direksi. Ia
memberi tugas memeriksa Felic pada dokter Sifa. Hal ini sengaja dokter Frans
lalukan untuk menghindari bertemu dengan Felic, ia belum yakin untuk kembali
bertemu dengan wanita itu.
Sebenarnya masih ada waktu untuk menemui Felic tapi dokter Frans memilih tidak melakukannya.
“Selamat pagi bu Felicia!” sapa dokter Sifa.
Felic sedikit kecewa saat mengetahui yang datang bukan dokter Frans, ia berharap pagi
ini ia bisa bertemu dengan suaminya itu dan memastikan sekali lagi bahwa
perasaannya ini biasa saja.
“Maaf bu, dokter Frans Nya sedang ada rapat dengan dewan direksi!” dokter Sifa seperti
mengerti dengan maksud tatapan wanita yang telah menjadi istri dari atasannya
itu.
“Apa akan lama?”
“Mungkin hingga siang ini, bu! Mari saya periksa!”
Felic pun kembali ke tempatnya, ia duduk dan menerima setiap yang di lakukan dokter
Sifa.
“Dokter Sifa!”
__ADS_1
“Iya?”
“Apa aku sudah boleh pulang?”
“Sebenarnya menunggu keputusan dokter Frans, bu! Ini semua wewenang dari dokter Frans!”
Apa dia kembali menghindari ku …?
“Kalau begitu saya permisi, bu!”
Felic terdiam, saat langkah dokter Sifa hampir mencapai pintu, Felic segera memanggilnya kembali.
“Dokter Sifa!”
“Iya?”
“Boleh aku ke ruangan mu, aku janji nggak akan ganggu pekerjaan dokter Sifa!”
Sebenarnya begitu berat mengiyakan karena sebentar lagi pasien yang datang bukan pasien
biasa, tapi ia juga tak mampu menolaknya.
Mungkin mereka tidak akan keberatan
dengan keputusanku ini!
“Baiklah …, mari!” ia menerima permintaan Felic karena tahu keadaan Felic sudah lebih
baik.
Felic begitu kesepian karena harus berada di ruangan yang besar itu seorang diri. Ia
mengikuti dokter sifa di ruangannya, ternyata ruangan itu berada di depan ruang
dokter Frans.
Sama seperti Ersya, ia juga mengagumi desain ruangan itu, lorong itu tidak seperti
Sesekali Felic menjepret kan kameranya mengabadikan setiap sisi dari tempat itu.
“Mari bu!” dokter Sifa berdiri di depan pintu, mempersilahkan Felic untuk masuk lebih
dulu, walaupun itu ruangannya tapi wanita yang bersamanya saat ini lebih berhak masuk ke setiap sudut ruangan yang ada di rumah sakit itu.
Felic pun tersenyum, ia meraih tangan dokter Sifa dan masuk bersama-sama. Dokter sifa
begitu canggung dengan sikap Felic.
“Duduklah dok, aku akan menemanimu di sini saja!” ucap felic sambil meminta dokter sifa
untuk duduk di tempatnya sedangkan ia memilih untuk duduk di sofa yang berada
di depan.
Felic kembali mengamati ruangan itu, ia bisa melihat betapa indahnya ruangan itu, ia
menepati janjinya. Ia tidak mengganggu dokter Sifa, tapi ada yang aneh kenapa
dokter Sifa sama sekali tidak bekerja, ia hanya menyiapkan beberapa peralatan saja.
“Dokter apa hari ini tidak ada pasien?” tanya Felic setelah sekian lama ia mengamati
dan dokter sifa sama sekali tidak melakukan pemeriksaan terhadap pasien-pasiennya.
“Hari ini ada tamu khusus, jadi tugas hari ini hanya untuk memeriksa tamu khusus
dokter Frans!”
“tapi tadi dokter memeriksaku!”
“Itu terkecuali bu, karena anda termasuk pasien khusus dokter Frans!”
“Kenapa ada yang khusus, bukankah Frans juga dokter biasa?” tanya felic penasaran,
__ADS_1
karena semenjak datang ke rumah sakit ini ia merasa ada banyak sekali keanehan
dan yang paling aneh adalah tamu dokter Frans yang lengkap dengan pengawal.
Belum sempat dokter Sifa menjawabnya, pintu ruangan itu terbuka. Menampilkan
seseorang bersama dokter Frans.
“Masuklah Nad, aku akan memeriksamu!” ternyata dokter Frans tidak menyadari keberadaan Felic di sana. Felic yang melihat dokter Frans begitu perhatian dengan wanita
yang bersamanya membuat hatinya begitu aneh, ada rasa tidak suka di sana.
Felic segera berdiri, tapi ternyata perhatian dokter Frans masih belum teralihkan
dari Nadin hingga ia tidak menyadari keberadaan felic di sana.
Ia masih tidak menyadari keberadaan ku, sebegitu pentingnya wanita itu ....
Dokter Sifa menatap Felic, ia hendak bicara pada dokter Frans jika ada istrinya di sana, tapi belum sampai bicara, dokter Frans sudah lebih dulu memerintahnya.
“Dokter Sifa, siapkan tempat untuk nadin!”
Walaupun sedikit ragu, dokter Sifa pun menyanggupinya,
“Baik dok!” dokter Sifa pun segera berpindah dari tempatnya menuju ruang pemeriksaan.
Sedangkan Felic masih tetap di tempatnya. Nadin yang menyadari keberadaan wanita lain dengan baju pasiennya mengerutkan keningnya.
“Dokter .., dia siapa?” dokter Frans yang sedari tadi hanya memperhatikan Nadin segera
beralih menatap arah tatapan Nadin, dokter Frans tercengang. Ia segera
melepaskan tangannya pada Nadin.
“Fe …, lo di sini?”
“Maaf …, aku, maksudnya gue tadi hanya, maaf aku akan kembali ke kamar!” ucap felic
dengan gugup, entah kenapa dadanya begitu sesak melihat dokter Frans memperhatikan wanita lain.
Felic pun segera berlalu meninggalkan mereka, dengan sedikit berlari ia menuju ke kamarnya tanpa memperhatikan sekitar.
Bug
Tubuhnya terpental saat ia menabrak seseorang membuatnya terjatuh, ia terus menundukkan wajahnya. Tanpa berani menatap siapa yang ada di depannya.
“Maaf …, saya tidak sengaja!”
Tapi orang dengan sepatu pantofelnya itu malah mengulurkan tangannya pada felic
membuat felic terpaksa menerima uluran tangannya dan kembali berdiri.
“terimakasih!” ucap Felic dengan terus menunduk. Ia tidak berani mendongakkan wajahnya karena air matanya sudah hendak menetes.
“Istri Frans!”
Mendengar suara pria itu, membuat felic terpancing untuk melihat wajah orang yang telah ia tabrak.
Pria dingin itu …
“Sekali lagi, maafkan saya!” Felic pun tidak mau berlama-lama. ia memilih berlalu
begitu saja meninggalkan pria dingin itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘😘❤️
__ADS_1