
Dokter Frans pun segera meninggalkan rumah sakit, ia harus menemui sahabatnya itu.
Rasanya akan sangat aneh jika ia tiba-tiba ke panti asuhan tanpa Agra.
Mobil dokter Frans sudah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi itu, gedung
setinggi itu hanya milik satu perusahaan yaitu finityGroup dengan segala macam
bidang yang berkembang di dalamnya. Ada property, teknologi, fashion, perfilman dan periklanan.
Perusahaan yang sangat di segani di dunia bisnis dengan pemegang saham tertinggi adalah keluarga Wijaya kusuma, ayah Agra.
“Selamat datang dokter!” sapa seseorang berseragam biru tua, dia adalah satpam yang
menjaga pintu depan, walaupun di jaga oleh satpam tapi tetap saja pria dengan
jas hitam masih berkeliling di luar gedung itu lengkap dengan aerophone yang
selalu melekat di telinganya, mereka harus mendengarkan komando dari ketua
setiap saat untuk mengurangi terjadinya kecolongan pengawasan, mereka adalah
anak didikan Rendi dan paman Salman.
“Terimakasih!” dokter Frans terus tersenyum seperti biasa sepanjang jalan, sedikit tebar
pesona, walaupun begitu tetap saja banyak yang segan karena pemilik rambut
gondrong itu memiliki tatapan yang tajam sama tajamnya dengan kedua sahabatnya.
Dokter Frans langsung menaiki lift khusus untuk pembesar perusahaan, pemandangan
sangat berbeda jika dokter Frans yang berjalan, di belakangnya terlihat sepi
tidak seperti Rendi maupun Agra yang setiap kali berjalan setidaknya selalu ada
enam orang penjaga yang mengawal mereka yang sudah di bekali dengan ilmu bela
diri dan senjata yang sudah memiliki sertifikat resmi.
Memang untuk mencapai tempat seperti Agra dan Rendi tidak lah mudah, butuh proses yang
panjang dan juga resiko yang harus mereka terima, selalu ada pro dan kontra. Bahkan
keamanan keluarga menjadi taruhannya setiap saat.
Beberapa lawan bisnis mereka ada yang hanya akan menjatuhkan dengan cara halus, atau
bersaing sehat ada pula yang sengaja ingin menghancurkan dari dalam dengan
mencelakai anggota keluarga, itulah sebabnya Rendi tidak pernah lengah
sedikitpun untuk memperketat pengawasan.
Sudah jam makan siang, ia yakin Agra masih di kantor karena mereka sudah janji
bertemu. Kedatangan dokter Frans langsung di sambut sekertaris Agra.
“Selamat datang dokter Frans!” sapa-nya sambil berdiri dan menundukkan kepala memberi hormat.
“Apa Agra masih di ruangannya?”
“Pak Agra baru saja kembali ke ruangannya, dok!”
“Sibuk sekali dia …!” gumam dokter Frans tapi masih bisa di dengar oleh sekretaris
Agra, “Terimakasih, saya masuk dulu ya!”
__ADS_1
Sekertaris itu tersenyum dan mempersilahkan dokter Frans untuk masuk. Tanpa mengetuk pintu seperti biasa ia langsung saja masuk. Mungkin tidak pa pa membiarkan dokter Frans masuk karena dokter Frans termasuk anggota keluarga, pikir sekretaris itu.
“Ups …, sorry …, gue kira cuma ada lo …!” ucap dokter Frans terkejut dan segera
membalik badannya saat ternyata di dalam bukan hanya Agra tapi juga ada Ara,
mereka sedang berciuman, hal itu membuat Ara segera mendorong tubuh Agra dan
ikut membalik badan, ia benar-benar malu.
“Dasar gila lo Frans…, bisa tidak sih mengetuk pintu dulu!” gerutu Agra, dokter Frans hanya
tersenyum dan kembali membalik badan, Ara segera berlari masuk ke kamar mandi
dan membenahi dirinya yang sedikit berantakan.
“Siapa suruh mesum di kantor, kurang apa di rumah? Kayak nggak ada tempat lain aja!” dokter Frans pun segera duduk di
sofa dan memakan begitu saja makanan yang sudah tersaji di atas meja.
“Sialan lo …, itu buat gue!” Agra segera mengambil makanan itu dari tangan dokter
Frans.
“Pelit amet sih lo jadi orang …!” gerutu dokter Frans.
“Ini khusus Ara buat untuk gue …!”
Ara pun kembali keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan yang lebih baik, ia
sudah rapi kembali. Ara menghampiri suami dan sahabat suaminya itu, ia duduk di
samping suaminya tapi Agra segera menarik tubuh Ara hingga ia terjatuh di
pangkuan suaminya.
“Kenapa malu, dia sudah menikah juga!” ucap Agra dengan santainya sambil menciumi pipi Ara, dokter Frans pun tidak kalah santainya. Ia malah sibuk mencomoti makanan Agra.
“Sudah gue bilang itu khusus buat gue!” ucap Agra sambil memukul tangan dokter Frans.
“Dasar pelit …!” dokter Frans hanya bisa menggerutu, perutnya lamar karena pagi tadi
ia sampai lupa memakan sesuatu gara-gara lihat Felic berangkat kerja,
“Kakak ipar, apa kau juga tega tidak memberiku makan sedikit pun?” dokter Frans
memasang wajah melasnya.
“Bagilah bby …!” Ara segera turun dari pangkuan Agra dan mengambil satu piring lagi dan membagi makanan itu menjadi dua.
“besok-besok kalau ke sini nggak usah pas waktu makan siang, enak saja ambil jatah gue!”
gerutu Agra, ia benar-benar tidak terima makanannya di bagi untuk orang lain
apalagi itu masakan istrinya.
“kakak ipar aja yang masak nggak keberatan, iya kan kakak ipar?”
Ara hanya tersenyum dan mengangguk, mereka akhirnya makan bersama-sama. Setelah makan
mereka berencana untuk segera menuju ke panti asuhan kasih bunda. Ara memang
sengaja datang ke kantor Agra karena ingin ikut ke sana, sebelumnya memang Agra
sering mengajak Ara datang bersama anak-anak mereka.
Sekarang sudah jam dua siang, mungkin anak-anak panti sudah pulang dari sekolah. Mereka sengaja datang sedikit sore agar bisa bertemu dengan semua anak.
__ADS_1
***
Akhirnya mereka sampai juga di panti asuhan, ini kali kedua dokter frans datang ke panti
asuhan setelah keluar dari tempat itu. Kelebatan kenangan masa lalu saling lalu
lalang di benaknya sejak ia menjejakkan kakinya memasuki pagar dari kayu itu. Semua
masih terlihat sama, sepertinya seseorang sengaja untuk mempertahankan semuanya
agar tetap menjadi sama.
“Frans!”
Agra ternyata sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu yang terus diam, ia tahu
sahabatnya itu paling pandai menyembunyikan luka. Kehidupan dokter Frans tidak
lebih baik dari kehidupan Agra dulu, tapi dokter Frans lah yang selalu menghadirkan senyum di bibir Agra kecil. Saat semua meninggalkannya gara-gara ia menjadi pria yang introvert, dokter Frans lah yang selalu mendekatinya tak
peduli seberapa keras Agra menolaknya dan mengusirnya.
“hehhh?”
dokter Frans segera mengalihkan pikirannya dari masa lalu, ia kembali mengukir
senyum di bibirnya.
“Apa kau baik-baik saja?”
“menurut lo …., gue baik kali Gra …!” seperti biasa dokter Frans akan menanggapinya
dengan bercandanya itu, hal itu malah membuat Agra yakin jika sahabatnya itu
tidak sedang baik-baik saja.
“Ya sudah lah …, kita langsung temui pengurus pantinya aja kali ya!”
Ara memang tidak tahu bagaimana masa kecil mereka, tapi melihat tampilan panti
asuhan itu, sedikit banyak Ara bisa membayangkan bagaimana bandel dan
introvertnya suaminya dulu. Dengan datang ke tempat itu, ia menjadi semakin
merasa kenal dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Betapa sederhananya kehidupan mereka dulu sebelum menjadi sultan seperti sekarang. Bahkan kehidupannya berlawanan sekali dengan kehidupannya yang sekarang, maka tidak heran jika Agra bisa hidup di situasi apapun.
Mungkin jika Rendi berada di posisi Agra awal menikah, ia malah tidak akan sanggup
karena ia tidak pernah berada di lingkungan yang seperti itu. Rendi sejak kecil
memang sudah berada di lingkungan yang penuh dengan aturan.
Spesial visual dr. Frans
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘😘❤️
__ADS_1