Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Berkunjung ke panti


__ADS_3

Dokter Frans pun segera meninggalkan rumah sakit, ia harus menemui sahabatnya itu.


Rasanya akan sangat aneh jika ia tiba-tiba ke panti asuhan tanpa Agra.


Mobil dokter Frans sudah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi itu, gedung


setinggi itu hanya milik satu perusahaan yaitu finityGroup dengan segala macam


bidang yang berkembang di dalamnya. Ada property, teknologi, fashion, perfilman dan periklanan.


Perusahaan yang sangat di segani di dunia bisnis dengan pemegang saham tertinggi adalah keluarga Wijaya kusuma, ayah Agra.


“Selamat datang dokter!” sapa seseorang berseragam biru tua, dia adalah satpam yang


menjaga pintu depan, walaupun di jaga oleh satpam tapi tetap saja pria dengan


jas hitam masih berkeliling di luar gedung itu lengkap dengan aerophone yang


selalu melekat di telinganya, mereka harus mendengarkan komando dari ketua


setiap saat untuk mengurangi terjadinya kecolongan pengawasan, mereka adalah


anak didikan Rendi dan paman Salman.


“Terimakasih!” dokter Frans terus tersenyum seperti biasa sepanjang jalan, sedikit tebar


pesona, walaupun begitu tetap saja banyak yang segan karena pemilik rambut


gondrong itu memiliki tatapan yang tajam sama tajamnya dengan kedua sahabatnya.


Dokter Frans langsung menaiki lift khusus untuk pembesar perusahaan, pemandangan


sangat berbeda jika dokter Frans yang berjalan, di belakangnya terlihat sepi


tidak seperti Rendi maupun Agra yang setiap kali berjalan setidaknya selalu ada


enam orang penjaga yang mengawal mereka yang sudah di bekali dengan ilmu bela


diri dan senjata yang sudah memiliki sertifikat resmi.


Memang untuk mencapai tempat seperti Agra dan Rendi tidak lah mudah, butuh proses yang


panjang dan juga resiko yang harus mereka terima, selalu ada pro dan kontra. Bahkan


keamanan keluarga menjadi taruhannya setiap saat.


Beberapa lawan bisnis mereka ada yang hanya akan menjatuhkan dengan cara halus, atau


bersaing sehat ada pula yang sengaja ingin menghancurkan dari dalam dengan


mencelakai anggota keluarga, itulah sebabnya Rendi tidak pernah lengah


sedikitpun untuk memperketat pengawasan.


Sudah jam makan siang, ia yakin Agra masih di kantor karena mereka sudah janji


bertemu. Kedatangan dokter Frans langsung di sambut sekertaris Agra.


“Selamat datang dokter Frans!” sapa-nya sambil berdiri dan menundukkan kepala memberi hormat.


“Apa Agra masih di ruangannya?”


“Pak Agra baru saja kembali ke ruangannya, dok!”


“Sibuk sekali dia …!” gumam dokter Frans tapi masih bisa di dengar oleh sekretaris


Agra, “Terimakasih, saya masuk dulu ya!”

__ADS_1


Sekertaris itu tersenyum dan mempersilahkan dokter Frans untuk masuk. Tanpa mengetuk pintu seperti biasa ia langsung saja masuk. Mungkin tidak pa pa membiarkan dokter Frans masuk karena dokter Frans termasuk anggota keluarga, pikir sekretaris itu.


“Ups …, sorry …, gue kira cuma ada lo …!” ucap dokter Frans terkejut dan segera


membalik badannya saat ternyata di dalam bukan hanya Agra tapi juga ada Ara,


mereka sedang berciuman, hal itu membuat Ara segera mendorong tubuh Agra dan


ikut membalik badan, ia benar-benar malu.


“Dasar gila lo Frans…, bisa tidak sih mengetuk pintu dulu!” gerutu Agra, dokter Frans hanya


tersenyum dan kembali membalik badan, Ara segera berlari masuk ke kamar mandi


dan membenahi dirinya yang sedikit berantakan.


“Siapa suruh mesum di kantor, kurang apa di rumah? Kayak nggak ada tempat lain aja!” dokter Frans pun segera duduk di


sofa dan memakan begitu saja makanan yang sudah tersaji di atas meja.


“Sialan lo …, itu buat gue!” Agra segera mengambil makanan itu dari tangan dokter


Frans.


“Pelit amet sih lo jadi orang …!” gerutu dokter Frans.


“Ini khusus Ara buat untuk gue …!”


Ara pun kembali keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan yang lebih baik, ia


sudah rapi kembali. Ara menghampiri suami dan sahabat suaminya itu, ia duduk di


samping suaminya tapi Agra segera menarik tubuh Ara hingga ia terjatuh di


pangkuan suaminya.


“Kenapa malu, dia sudah menikah juga!” ucap Agra dengan santainya sambil menciumi pipi Ara, dokter Frans pun tidak kalah santainya. Ia malah sibuk mencomoti makanan Agra.


“Sudah gue bilang itu khusus buat gue!” ucap Agra sambil memukul tangan dokter Frans.


“Dasar pelit …!” dokter Frans hanya bisa menggerutu, perutnya lamar karena pagi tadi


ia sampai lupa memakan sesuatu gara-gara lihat Felic berangkat kerja,


“Kakak ipar, apa kau juga tega tidak memberiku makan sedikit pun?” dokter Frans


memasang wajah melasnya.


“Bagilah bby …!” Ara segera turun dari pangkuan Agra dan mengambil satu piring lagi dan membagi makanan itu menjadi dua.


“besok-besok kalau ke sini nggak usah pas waktu makan siang, enak saja ambil jatah gue!”


gerutu Agra, ia benar-benar tidak terima makanannya di bagi untuk orang lain


apalagi itu masakan istrinya.


“kakak ipar aja yang masak nggak keberatan, iya kan kakak ipar?”


Ara hanya tersenyum dan mengangguk, mereka akhirnya makan bersama-sama. Setelah makan


mereka berencana untuk segera menuju ke panti asuhan kasih bunda. Ara memang


sengaja datang ke kantor Agra karena ingin ikut ke sana, sebelumnya memang Agra


sering mengajak Ara datang bersama anak-anak mereka.


Sekarang sudah jam dua siang, mungkin anak-anak panti sudah pulang dari sekolah. Mereka sengaja datang sedikit sore agar bisa bertemu dengan semua anak.

__ADS_1


***


Akhirnya mereka sampai juga di panti asuhan, ini kali kedua dokter frans datang ke panti


asuhan setelah keluar dari tempat itu. Kelebatan kenangan masa lalu saling lalu


lalang di benaknya sejak ia menjejakkan kakinya memasuki pagar dari kayu itu. Semua


masih terlihat sama, sepertinya seseorang sengaja untuk mempertahankan semuanya


agar tetap menjadi sama.


“Frans!”


Agra ternyata sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu yang terus diam, ia tahu


sahabatnya itu paling pandai menyembunyikan luka. Kehidupan dokter Frans tidak


lebih baik dari kehidupan Agra dulu, tapi dokter Frans lah yang selalu menghadirkan senyum di bibir Agra kecil. Saat semua meninggalkannya gara-gara ia menjadi pria yang introvert, dokter Frans lah yang selalu mendekatinya tak


peduli seberapa keras Agra menolaknya dan mengusirnya.


“hehhh?”


dokter Frans segera mengalihkan pikirannya dari masa lalu, ia kembali mengukir


senyum di bibirnya.


“Apa kau baik-baik saja?”


“menurut lo …., gue baik kali Gra …!” seperti biasa dokter Frans akan menanggapinya


dengan bercandanya itu, hal itu malah membuat Agra yakin jika sahabatnya itu


tidak sedang baik-baik saja.


“Ya sudah lah …, kita langsung temui pengurus pantinya aja kali ya!”


Ara memang tidak tahu bagaimana masa kecil mereka, tapi melihat tampilan panti


asuhan itu, sedikit banyak Ara bisa membayangkan bagaimana bandel dan


introvertnya suaminya dulu. Dengan datang ke tempat itu, ia menjadi semakin


merasa kenal dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Betapa sederhananya kehidupan mereka dulu sebelum menjadi sultan seperti sekarang. Bahkan kehidupannya berlawanan sekali dengan kehidupannya yang sekarang, maka tidak heran jika Agra bisa hidup di situasi apapun.


Mungkin jika Rendi berada di posisi Agra awal menikah, ia malah tidak akan sanggup


karena ia tidak pernah berada di lingkungan yang seperti itu. Rendi sejak kecil


memang sudah berada di lingkungan yang penuh dengan aturan.


Spesial visual dr. Frans



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘❤️

__ADS_1


__ADS_2