Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Aku merindukanmu


__ADS_3

"Pakai seltbelt mu!" ucap Wilson kemudian.


"Iya ....! Bawel ...!" gerutu Tisya sambil mengenakan sabuk pengamannya.


Wilson pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah besar itu.


Hujan rintik membuat kaca depan mobil beberapa kali blur, suasana menjadi sangat dingin.


"Kamu tidak pa pa?" tanya Wilson.


Wilson yang melihat Tisya sedari tadi hanya diam itu menjadi begitu penasaran. Ia cukup khawatir dengan yang terjadi pada Tisya.


Tisya pun menoleh pada Wilson dan mengerutkan keningnya.


Sejak kapan dia peduli sama aku ....? batin Tisya.


"Jangan sedih, semua pasti akan baik-baik saja!" ucap Wilson yang keceplosan, ia lupa jika Tisya tidak tahu kalau dia menyadap pembicaraan mereka.


"Hahhhh?" tanya Tisya bingung. Dia mikir apa sih ....?


Wilson jadi bingung sendiri harus beralasan apa. Kenapa jadi keceplosan sih .....


"Maksud aku ....., kalau patah hati nggak usah lama-lama, tuh cowok nggak pantes buat di tangisi!"


"Sok tahu banget sih ....!"


"Bukannya sok tahu, tadi kan Maira cerita kalau kamu nangis-nangis!"


"Siapa juga yang mikirin, jangan sok tahu deh jadi orang! Lagian kalau aku nangis-nangis juga urusanku sendiri, kenapa kamu yang repot!?"


Tisya begitu kesal saat Wilson mengingatkannya kembali dengan kejadian tadi siang.


Ia juga jadi teringat dengan uang 1 milyar nya yanga harus dia cari dari mana dalam waktu satu bulan.


"Kamu kok jadi sewot sih ....!" gerutu Wilson, ia pun memilih untuk fokus dengan jalan raya.


Tisya pun juga sama, ia memilih untuk menatap ke arah jendela.


Tisya tampak beberapa kali mengusap lengannya yang dingin karena ia hanya memakai kaos lengan pendeknya.


Srekkkkkk


Tiba-tiba sebuah jaket mendarat di wajahnya.


"Apaan sih Wil!?" keluh Tisya.


"Pakek kalau kedinginan! Makanya kalau pakek baju itu yang panjang, tebal biar nggak kedinginan!"


"Ini minjemi nya ikhlas apa enggak sih!" keluh Tisya sambil memakai jaket milik Wilson.


Akhirnya mobil pun sampai juga di depan rumah mereka. Tisya segera turun dan meninggal Wilson begitu saja, ia ingin segera sampai di kamar dan menangis agar tidak di tertawakan oleh Wilson.


...**"""**...


Di Desa, mobil dokter Frans berhenti di depan rumah.


23.00 wib


"Maaf ya paman, paman jadi harus sampai malam!" ucap dokter Frans pada paman Ricard.


"Tidak pa pa tuan!"


"Ya sudah aku masuk dulu ya!"

__ADS_1


"Iya tuan!"


Dokter Frans pun segera masuk ke dalam rumah, bi Molly ternyata belum tidur, bi Molly sedang membersihkan meja makan.


"Bi ...., belum tidur?"


Bi Molly pun menoleh pada dokter Frans, "Iya tuan, ini makanannya sudah saya panaskan?"


"Tadi sudah di kasih makanan sama orang sana! Felic sudah tidur bi?"


"Baru saja tidur tuan! Sedari siang nungguin tuan!"


"Besok pagi kita jadi pulang ya bi!"


"Apa pasiennya sudah tidak pa pa?"


"Sudah stabil, hanya tinggal pemulihan saja!"


"Baiklah kalau begitu saya akan menyiapkan semuanya tuan!"


Dokter Frans pun mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelas itu.


Dokter Frans segera duduk dan meneguk minumannya, bi Molly masih terlihat sibuk di dapur.


"Tidurlah bi, aku juga akan tidur!"


"Iya tuan, ini tinggal sedikit!"


"Baiklah, aku masuk dulu ya bi!"


Dokter Frans pun bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke depan kamar, pintu kamar tertutup rapat tapi tidak di kunci.


Dokter Frans segera membuka pintu itu, ia melihat istrinya tertidur pulas di atas tempat tidur.


Walaupun lampu sudah di matikan tapi ia masih bisa melihat samar-samar wajahnya dari lampu tidur.


"Dia cantik sekali!" gumam dokter Frans sambil mengusap wajah Felic dan meninggalkan kecupan di bibir Felic.


Merasakan sentuhan, Felic pun perlahan membuka matanya, ia tersenyum saat melihat suaminya sudah berada di depannya.


"Kamu sudah pulang?" tanya Felic dan dokter Frans pun menganggukkan kepalanya.


"Maaf ya Fe, sudah membuatmu menunggu!" ucap dokter Frans pelan.


Felic pun segera mengalungkan lengannya ke leher suaminya itu hingga membuat wajah mereka begitu dekat.


"Tidak pa pa, sudah menjadi resiko istri seorang dokter ...!"


"Kamu sayang banget ya sama aku?" tanya dokter Frans sambil mengusap hidung Felic dengan jari telunjuknya dan Felic pun menganggukkan kepalanya.


"Aku merindukanmu!" ucap Felic lirih membuat dokter Frans terpancing untuk mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya itu.


"Aku juga, kamu tahu apa yang paling berat?!"


"Apa?"


"Saat aku harus jauh dari kamu!"


Cup


Tiba-tiba Felic menjadi begitu berani, ia sedikit mengangkat kepalanya dan mendaratkan bibirnya ke bibir suaminya dan menahannya di sana, membuat suaminya terkejut.


Dokter Frans pun tersenyum tipis, tanpa aba-aba ia segera ******* bibir istrinya, menyesapnya dan menggigitnya kecil hingga Felic membuka mulutnya, lidah dokter Frans mulai mengabsen setiap jengkal isi mulut Felic.

__ADS_1


Dokter Frans segera naik ke atas tempat tidur dan tangannya juga mulai lincah bermain-main di tubuh Felic.


Dress Felic sudah hilang ke mana, kemeja dan celana panjang dokter Frans pun juga sudah berserakan di lantai.


...**""**...


Pagi di desa


Mobil sudah siap di depan rumah, semua barang-barang sudah di masukkan semua.


Kali ini mereka benar-benar harus pulang. Dokter Frans harus segera menjalankan misinya.


"Kamu belum bilang punya rencana apa?"


Felic terus saja manyum sepanjang pagi karena suaminya selalu suka membuat teka-teki.


"Nanti kamu juga tahu sendiri! Yang terpenting kita pulang aja dulu!"


Dokter Frans menarik koper kecilnya yang belum masuk ke bagasi mobil.


"Ayolah Fe ...., nanti kalau sudah berhasil aku beri tahu!"


"Janji ya!" ucap Felic.


Mereka pun masuk ke dalam mobil, paman Richard sudah siap di balik kemudi.


"Nanti kalau paman capek, biar aku gantiin!" ucap dokter Frans.


"Baik tuan!"


Mobil pun melaju meninggalkan perkampungan, setiap berpapasan dengan orang-orang desa di jalan, mereka melambaikan tangan, memberi ucapan selamat jalan.


Jalan yang tidak begitu luas, hanya cukup untuk satu mobil dan juga satu motor itu menunjukkan bagaimana suasana jalan di pedesaan.


"Hahhhhh ....., kita masih lama lagi dong sayang ke sini?" ucap Felic sambil menyandar kepalanya di bahu suaminya itu.


"Iya ...., kamu boleh ikut ke sini kalau anak kita sudah cukup bisa untuk di ajak perjalanan jauh!"


Dokter Frans mengusap kepala Felic dan mengecup puncak kepalanya.


"Jadi maksudnya kamu akan sering ke sini?" tanya Felic.


"Iya ...., aku kan punya tanggung jawab juga di sini, nanti aku ke sininya bisa satu bulan sekali atau dua bulan sekali!"


"Kamu boleh ke sini tanpa aku, tapi ada syaratnya!"


"Apa?"


"Asal, Nggak boleh genit-genit sama cewek di sini!"


"Mana ada aku genit, yang ada mereka yang tersemsem sama aku!"


"Jangan mulai deh ....!"


Melihat wajah cemberut istrinya, dokter Frans tersenyum. Ia tidak menyangka akan di cintai oleh wanita itu sebesar ini.


Bersambung


...Berada di sisimu adalah kebahagiaan, tapi menjadi orang yang berada sisimu adalah keberuntunganku...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2