Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (107. Rasa yang mulai kembali)


__ADS_3

Akhirnya Zea dan Rangga sampai juga di tempat proyek. Tampak beberapa pekerja masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Di sini cukup berbahaya, apa biar saya saja yang masuk?" Rangga terlihat khawatir saat melihat Zea hendak ikut turun bersamanya.


"Nggak pa pa, lagipula di sana masih banyak ruang terbuka, aku akan mengecek dari sana!"


"Kamu yakin?"


"Hmmm!"


"Baiklah!"


Akhirnya Rangga pun membiarkan Zea untuk ikut bersamanya melihat pekerjaan para pekerja proyek. Proyek yang tengah di jalankan saat ini adalah proyek pembangunan gedung olah raga dan ruang terbuka. Jadi tidak semuanya pekerja berada di ruangan yang masih sekitar 60 persen penyelesaian. Sebagian pekerja juga tengah mempersiapkan taman terbuka hijau.


"Kamu di sini saja ya, saya yang akan mengecek ke dalam!"


"Kamu yakin?" Zea merasa khawatir karena melihat masih banyak barang-barang berat yang berserakan.


"Iya, aku pakai helm. Tetap di sini dan jangan ke mana-mana mengerti!"


"Hmmm!"


Rangga pun berjalan cepat meninggalkan Zea, ia sepertinya tidak mau meninggalkan Zea terlalu lama di sana.


Beruntung di dekatnya masih ada pohon besar yang belum di tebang membuatnya merasa teduh di tengah teriknya sinar matahari,


"Panas banget!" Zea mengusap keringatnya yang mulai keluar dan memilih untuk duduk di bawah pohon sambil menunggu kembali Rangga.


"Kayaknya akan bagus kalau pohon ini tidak di tebang nantinya!" gumamnya lagi menyayangkan beberapa pohon besar lainnya yang sudah di tebang.


Bibir Zea sesekali tersenyum saat melihat Rangga tengah mengobrol dengan salah satu mandor bangunan. Terlihat mereka begitu serius, di sana tidak hanya ada satu mandor yang menangani karena Rangga ingin pekerjaan ini segera selesai bahkan sebelum dua Minggu.


"Begini ya rasanya bisa dekat lagi dengan Rangga, kamu pasti juga senang kan sayang?" Zea mengusap perutnya yang mulai melakukan gerakan-gerakan kecil, "Walaupun papa kamu belum ingat sama kita, tapi mama tahu rasa sayangnya tidak akan pernah hilang, mama tahu itu!"


Hingga cukup lama Zea menunggu, Rangga juga tidak terlihat di sana.


"Rangga di mana ya?"


Matanya sudah berkeliaran seolah bisa menelisik seluruh tempat itu, tapi ia tidak bisa menemukan sosok rapi diantara sosok pria berdebu lainnya. Penampilan Rangga sedari tadi memang terlihat menonjol dengan kemejanya yang bersih dan rapi berbeda dengan pekerja yang lain yang penuh dengan debu, semen, pasir dan tanah.


Rasa khawatirnya semakin memuncak saat ia memingat bagaimana kejadian kecelakaan itu kembali menguasai pikirannya.


"Tidak, aku tidak mau kehilangan dia untuk yang kedua kalinya!"


Zea sudah hampir berdiri tapi seseorang segera menahan bahunya.


"Mau ke mana?"


Srekkkkk

__ADS_1


Bukannya menjawab, Zea malah berhambur memeluk Rangga, rasa tidak ingin kehilangan itu seakan kembali muncul,


"Jangan pergi, aku takut!"


Rangga sama sekali tidak berniat untuk melepaskan pelukan Zea, ia merasakan kenyamanan saat Zea memeluknya rasanya ada sesuatu yang kembali dari dalam dirinya. Perasaan hampa selama ini tiba-tiba menghilang berubah menjadi perasaan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Aku tidak akan pergi!"


Rasanya tidak ingin melepas pelukan itu, tapi ia harus berbuat apa sekarang,


"Ga!?" ucap Zea pelan.


"Hmmm!"


"Apa kamu tidak mengingat sesuatu?"


Rangga segera melepaskan pelukannya, ia takut jika sampai Zea menyadari perasaannya pada wanita itu sedangkan dia tahu jika wanita yang baru saja ia peluk sudah mempunyai seorang suami,


"Maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud kurang ajar!" Rangga benar-benar merasa tidak enak.


"Bukan itu! Tapi ya sudah lah lupakan!" Zea memilih mengambil kembali tas nya yang masih ia tingga di kursi yang berada di bawah pohon.


"Tadi aku mencarikan minum untukmu, duduklah lagi!" Rangga yang merasa bersalah meminta Zea untuk tidak pergi dari tempat itu. Ia pikir Zea tengah marah padanya gara-gara ia memeluknya.


Zea pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengambil tas, ia kembali duduk begitupun dengan Rangga.


"Aku tidak tahu kamu sukanya apa, lagi pula kamu juga sedang hamil jadi aku takut salah belinya apa, tidak pa pa ya air mineral saja?"


Zea tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Ini lebih dari cukup!" bahkan saat ini tiba-tiba air mata Zea tidak mampu ia bendung lagi.


"Kamu kenapa menangis? Maafkan aku sungguh aku tidak bermaksud tadi_!"


Melihat Rangga yang panik dan semakin merasa bersalah, Zea pun segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Rangga,


"Bukan, ini bukan salah kamu. Hanya saja aku yang terlalu cengeng, ini hanya pengaruh hormon kehamilan saja. Aku hanya merasa terharu dengan perhatian yang kamu berikan, sungguh!"


Rangga benar-benar merasakan sakit saat melihat air mata Zea, rasanya bahkan ini lebih sakit dari pada ia harus mendapatkan kemarahan dari atasannya. Dengan reflek tangannya terulur dan mengusap air mata Zea,


"Jangan menangis lagi ya!"


Zea bisa merasakan luka di hati Rangga saat mengatakan hal itu membuatnya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih ya!"


"Minumlah sekarang!"


Rangga kembali memberikan botol yang belum sempat ia berikan. Zea segera menerimanya dan meneguk air mineral itu hingga sisa setengahnya,


"Haus banget ya?"

__ADS_1


"Hmmm, di sini tadi panas banget soalnya!"


"Bagaimana kalau setelah ini kita lanjut kerjanya cari tempat yang adem aja, sambil bahas berkas yang belum selesai sekalian makan, lapar kan?"


"Hmmm, tapi di sini, apa sudah selesai?"


"Dua hari lagi kita ke sini!"


"Maaf ya aku tidak bisa ikutan tadi!"


"Jangan khawatir, aku tidak mungkin memintamu untuk ke sana."


"Karena aku perempuan?"


Rangga dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Bukan, jangan salah faham. Hanya saja rasanya aku tidak ingin melihat kamu terluka!"


Zea tersenyum dengan ucapan Rangga, disadari atau tidak oleh Rangga ucapan itu menandakan jika pria itu begitu menjaganya.


"Baiklah, kita pergi sekarang. aku sudah lapar!" Zea segara beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rangga yang masih memikirkan ucapan terakhirnya tapi wanita itu seolah tanpa beban.


Rangga tersenyum melihatnya, Dia tidak tersinggung ....


Angah segera menyusul Zea, dan mereka pun akhirnya berjalan beriringan sambil sesekali melontarkan candaan. Rangga yang pertama kali bertemu dengannya telah kembali, Rangga yang tidak pernah jaim padanya dalam hal apapun.


"Kita belum memutuskan mau makan di mana!?" Rangga baru sadar setelah mereka sampai di dalam mobil.


"Bagaimana ke tempat makan yang waktu itu?"


"Baiklah, aku setuju!"


Rangga pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah makan sederhana yang pernah mereka kunjungi waktu itu.


Tapi kali ini hanya Zea yang masih mengingat kenangan mereka berdua sedangkan dalam ingatan Rangga hanya ada gadis minimarket yang selalu datang ke tempat yang sama bersamanya.


Hal yang paling tidak bisa Rangga lupakan adalah rasa yang ia dapat adalah rasa yang sama meskipun ia tidak tahu jika wanita yang tengah duduk bersamanya itu adalah wanita yang sama yang memakai seragam minimarket.


Mereka kembali ke tempat makan kenangan mereka berdua. Tempat duduk yang sama dengan menyewa waktu yang lama sambil menyelesaikan pekerjaan mereka.


Menghabiskan waktu berdua, mengerjakan pekerjaannya dan sesekali membicarakan hal yang menurut Rangga sebuah lelucon.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2