
Setelah merasa lega, ia pun kembali menatap sang suami,
"Siapa istri Rangga?"
Div segera kembali mengambil mangkuk kecil yang masih tersisa beberapa cilok di dalamnya dan segera melahap habis.
"Mas, aku serius!"
"Lagi pula bukan urusan kita!" Div memilih bungkam dari pada mengatakan petunjuk pada istrinya.
"Jahat sekali Rangga, bisa-bisanya dia menikah tanpa kasih tahu aku, dia memang sudah tidak anggap aku sahabatnya!?" gerutu Ersya.
"Itu pilihannya!"
Ersya segera menatap curiga pada suaminya membuat sang suami kembali mengalihkan pandangannya ,
"MASSS ....!" suara Ersya begitu di tekankan, "Aku serius!"
"Pokoknya dia sudah menikah dengan penjaga minimarket!"
"Penjaga minimarket?"
"Iya, sudah jangan banyak bertanya! Sudah sangat malam, sebaiknya kita pulang!"
Mas Div ...., aku tahu kamu tahu sesuatu. Baiklah, aku Ersya yang sangat handal, hanya untuk mencari satu orang saja, aku pasti bisa menemukannya ....
Karena suaminya memilih bungkam, Ersya pun memutuskan untuk mencari tahu sendiri.
...***...
Zea merasakan tubuhnya sudah lebih baik, seharian tidak ke kamar mandi membuat perutnya terasa penuh.
"Aku harus ke kamar mandi!" gumamnya pelan tapi saat ingin menarik tangannya, ia merasa begitu berat. Perlahan ia melihat ke arah samping dan ternyata Rangga tertidur sambil duduk dan menggenggam tangannya.
Zea terdiam, niatnya untuk menarik tangannya segera ia urungkan. Ia menatap wajah lelah suaminya,
"Maafkan aku, aku pasti sudah sangat merepotkanmu!"
"Tapi aku harus apa sekarang, aku tidak ingin membuatmu susah!"
Zea terus bermonolog dengan suara rendah, tapi ternyata gerakan kecil berhasil membuat Rangga terbangun dari tidurnya. Perlahan Rangga menatap Zea dan tersenyum.
"Sayang, kamu sudah lebih baik?" tanya Rangga tapi pertanyaan itu sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Ia pun segera mengambil termometer yang ia letakkan semalam di samping tempat tidur dan mendekatkan ke leher sang istri.
"Sudah turun, apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit? Atau kamu lapar? Biar aku buatkan sesuatu untukmu!"
Zea pun segera menggelengkan kepalanya, melihat Zea yang berusaha bangun, Rangga segera berdiri dari duduknya dan membantu Zea untuk duduk.
"Katakan sesuatu, aku harus apa?"
Lagi-lagi Zea hanya menggelengkan kepalanya, ia segera melihat ke arah jendela tapi tetap saja ia tidak bisa melihat ke luar karena terhalang oleh gorden,
"Apa kamu ingin keluar? Tapi ini sudah_!" Rangga menghentikan ucapannya dan melihat jam di tangannya, "Ini masih terlalu pagi!"
"Aku hanya ingin ke kamar mandi!"
"Biar aku antar!" Rangga kembali berdiri dan menyibakkan selimut Zea.
"Enggak, aku bisa sendiri!"
"Aku akan membantu sampai di depan kamar mandi!"
__ADS_1
Kali ini Zea tidak lagi bisa menolak karena Rangga terus memaksa.
"Panggil aku jika butuh sesuatu, aku akan menunggu di depan!"
Zea tidak berniat untuk menjawab ucapan Rangga, ia berlalu begitu saja ke kamar mandi.
...***...
Matahari sudah sangat tinggi, Zea yang baru keluar dari kamarnya cukup terkejut karena mendapati Rangga masih di rumah.
"Kamu nggak kerja?"
Pertanyaan dari Zea berhasil mencuri perhatian Rangga, Rangga yang sedang merapikan rumah segera menoleh ke arah Zea.
"Kamu sudah bangun? Ayo aku sudah menyiapkan sarapan!" Rangga segera meletakkan sapu yang ada di tangannya dan menghampiri sang istri.
Mereka saat ini sudah di dapur dengan makanan di atas meja, terlihat jika makanan itu belum terambil sama sekali, Zea pun menoleh ke arah jam dinding, dan ini sudah jam sembilan lebih.
"Kamu belum sarapan?"
Rangga yang sedang sibuk mengambilkan makanan untuk istrinya segera menatap sang istri sejenak dan tersenyum,
"Aku sengaja menunggu kamu!"
Zea pun hanya bisa tersenyum hambar,
"Kamu nggak kerja?"
"Aku sengaja cuti sampai keadaan kamu jauh lebih baik!"
"Kamu nggak perlu melakukan itu, kamu akan mendapatkan tanggapan jelek dari atasan kamu. Aku nggak mau sampai kamu di pecat gara-gara aku!"
Rangga pun segera duduk mendengarkan ucapan Zea yang teramat panjang, ia menggengam tangan sang istri,
Zea pun akhirnya mulai memakan makanannya, tapi tetap saja pikirannya tidak bisa teralihkan dari ucapan Miska. Ia tidak bisa membayangkan jika sampai dirinya yang menjadi penyebab suaminya di pecat.
"Ga, aku sudah baik-baik saja, sungguh! Pergilah kerja!"
"Aku akan kerja besok!"
"Jangan! Aku janji akan makan dan istirahat teratur, tapi pergilah kerja!"
"Baiklah, tapi dengan satu syarat!"
"Apa?"
"Tetaplah di rumah sampai kamu sudah benar-benar baik, setidaknya sampai tiga hari ke depan!"
"Tapi_!"
"Jika kamu pergi kerja, maka aku akan menemanimu di sana dan tidak akan pergi kerja!"
"Baiklah!"
Demi Rangga, ia tidak boleh egois. Lagi pula tidak pergi bekerja selama tiga atau empat hari tidak akan membuatnya di pecat.
"Baiklah, setelah sarapan aku akan berangkat! Tapi aku akan mengirimi kamu pesan setiap satu jam sekali, jadi jangan sampai tidak di balas!"
"Hmmm!"
Walaupun berat akhirnya Rangga meninggalkan Zea di rumah, ia memang tidak bisa ijin terlalu lama walaupun tidak menjadi masalah bagi Div.
__ADS_1
...***...
Ersya hari ini akan menjadi detektif, ia tidak mendapat keterangan apapun dari suaminya tapi ia bisa mendapatkan dari orang lain.
"Tolong titip baby Zhoe sebentar ya sus, paling lama sekitar dua jam!"
"Tapi nyonya mau ke mana? Bagaimana kalau tuan telpon dan menanyakan nyonya?"
"Biar itu menjadi urusan saya!"
Setelah menitipkan baby nya, ia pun pergi bersama sopir. Ia tahu tempat mana yang ingin ia kunjungi saat ini.
Selama di perjalanan, ia pun menghubungi sahabatnya dan melakukan vc.
"Hallo Fe, tebak gue mau ke mana?"
"Ya mana gue tahu, yang pergi Lo kok tanya gue!?"
"Astaga!!!!! Gue kan kasih tebakan sama Lo!"
"Ya udah Lo kasih tahu sekarang mau ke mana? Lagi pula mudah sekali dapat ijin dari suami Lo, emang mau ke mana sih?"
"Gue diam-diam perginya. Gue mau cari tahu siapa istri Rangga!"
"Hahhhh, Rangga sudah nikah?" terlihat sekali Felic begitu terkejut.
"Jangan keras-keras, kedengaran suami Lo, bikin salah faham lagi entar. Di kira Lo gagal move on!"
"Nggak, bukan gitu! Siapa yang bilang dia nikah? Lagi pula suami gue jam segini sudah di rumah sakit!"
"Mas Div yang bilang, tapi dia nggak mau ngasih tahu siapa istri Rangga!"
"Kok gitu?"
"Makanya hari ini gue mau cari tahu!"
"Ke mana?"
"Ke rumah Rangga lah!"
"Gila Lo, Lo tahu kan nyokapnya Rangga gimana? Jangan cari perkara deh!"
"Kayaknya Lo lupa ya siapa gue?! Nih Ersya, emang mempan sama cibiran mak_nya Rangga? Nggak bakal!"
"Ya udah deh, gue cuma bisa kasih Lo bekal doa!"
"Enang gue mau perang!?"
"Ini lebih sadis dari perang. Melawan mak-mak nyinyir nggak gampang, siapa tahu Lo kalah!"
"Ah Lo malah bikin gue parno aja, udah ah, bye ...., ntar gue kabari hasilnya!"
Ersya pun segera mematikan sambungan telponnya tepat saat mobil yang ia tumpangi sampai di depan rumah Rangga.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...