Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (48. Pertemuan tak terduga)


__ADS_3

"Kamu bisa tenang di sini, selain di lengkapi cctv, di bawah juga ada penjaganya. Mereka akan melarang masuk beberapa orang yang di tandai oleh penghuni di sini, dan aku akan memasukkan mama serta Miska dalam daftar itu!"


Rangga terus menjelaskan pada Zea yang masih sibuk mengamati apartemen milik suaminya. Apartemen itu jauh lebih nyaman dan tentunya lebih luas dari kontrakannya.


"Memang bisa seperti itu?"


"Bisa dong! Ini milik pak Div, pak Div orangnya selalu suka yang perfeksionis, jadi untuk semua yang dia kelola juga harus perfeksionis!"


Zea menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada suaminya, di matanya ada kekaguman yang di tujukan pada pria yang baru saja di ceritakan oleh suaminya,


"Luar biasa sekali ya pak Div, pantas nona Ersya begitu mencintainya!"


"Ya begitulah!" Rangga memilih berlalu menuju ke kamar mereka, meletakkan koper milik Zea di sana. Ia berencana untuk merapikannya tapi rasanya masih enggan. Ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur besar yang sudah lama ia tinggalkan.


Walaupun begitu, ia menyewa jasa bersih-bersih. Orang akan membersihkan apartemennya dua hari sekali setiap paginya.


Zea pun akhirnya memilih menyusul sang suami, ia menatap suaminya dari depan pintu.


Dia pasti lelah sekali karena terjaga semalam ..., Zea memang tidak bisa tenang semalaman kemarin karena masih trauma dengan apa yang di lakukan oleh mertuanya.


Zea perlahan mendekati suaminya, ternyata ia sudah bisa mendengar nafas halus dan teratur dan sang suami.


Dia sudah tidur ....


Zea yang tidak ingin menggangu memilih melanjutkan langkahnya keluar kamar , ia belum melihat dapur yang akan menjadi tempat favoritnya nanti.


Zea di buat terkagum dengan dapur yang begitu rapi, tanpa sang penghuni juga suka berada di dapur. Peralatan dapur yang begitu lengkap. Ia mulai membuka lemari pendingin yang ternyata masih belum terisi, hanya ada beberapa minuman kemasan dan beberapa mie instan.


"Dia memang penyuka mi instan!" gumamnya, perutnya saat ini terasa lapar tapi ia sedang tidak ingin memakan mie. Tangannya terus mengusap perut ratanya.


"Pengen makan apa ya? Di bawah kira-kira ada tempat makan nggak ya?" Zea yang tidak ingin membangunkan suaminya, memilih mengambil dompetnya dan keluar dari apartemen.


Ia mengingat di lantai mana mereka tinggal, bukan lantai yang terlalu atas jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di lantai paling bawah dan bertanya pada pengurus apartemen.


"Maaf, menggangu waktunya sebentar!"


"Iya, nyonya Rangga. Ada yang bisa kami bantu!"


Zea cukup terkejut karena orang-orang itu langsung bisa mengenali wajahnya. Ini pertama kalinya ia berada di tempat itu.


"Ehhh, ini saya mau cari tempat makan, apa di sekitar sini ada tempat makan?"


"Nyonya bisa kembali ke lantai dua, dia sebelah kiri ada tempat makan nyonya!"


"Ohhh begitu, terimakasih atas informasinya!"

__ADS_1


Walaupun sebenarnya ia ingin keluar dari gedung itu hanya untuk sekedar jalan-jalan, tapi Zea memilih kembali ke lantai dua. Ia tidak mau membuat Rangga khawatir karena telah pergi tanpa pamit.


Apartemennya berada di lantai empat, jadi ia bisa langsung kembali ke apartemennya setelah makan.


Zea benar-benar tidak menyangka jika di dalam gedung yang sama itu ada restauran sebesar itu, ia mempercepat langkahnya. Benar-benar tidak sabar untuk mencari makanan.


Brukkkkkk


Tubuhnya tanpa sengaja membentur seseorang hingga membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Beruntung tangan orang itu dengan cepat menarik kembali tubuh Zea hingga ia tidak sampai terjatuh.


"Tuan, tuan tidak pa pa?" tanya pria yang berada di sampingnya yang jauh lebih muda. Tapi pria paruh baya itu tidak menghiraukan ia memilih menatap Zea.


Wajahnya tidak asing ...., batinnya sambil memperhatikan wajah Zea.


"Kamu tidak pa pa?"


Zea yang sudah tersadar dari rasa terkejutnya, segera melepaskan diri dari genggaman pria paruh baya itu.


"Saya tidak pa pa terimakasih dan maafkan saya tuan. Sungguh saya tidak sengaja!" Zea segera menundukkan kepalanya.


Pria paruh baya itu kembali membetulkan letak kaca matanya dan juga merapikan jas hitamnya, sedang Zea hanya bisa menunduk tanpa berani menatap pria paruh baya itu.


"Lain kali hati-hati!"


"Iya tuan, pasti. Sekali lagi saya mohon maaf!"


Pria paruh baya itu segera melambaikan tangannya meminta Zea untuk pergi setelah ponselnya berdering. Zea yang merasa sudah mendapat ijin segera meninggalkan dua pria itu.


"Zea, kamu benaran Zea kan?" seseorang yang sepertinya begitu mengenal Zea segera memanggilnya. Seorang wanita yang seumuran dengan Zea sedang berdiri dari duduknya dan melambaikan tangannya pada Zea.


Bibir Zea seketika tersenyum lebar,


"Anha!"


Zea mengenal siapa sosok yang tengah menyapanya itu, dia adalah teman satu panti dulu, tapi beberapa tahu yang lalu Anha memilih meninggalkan panti karena bekerja di sebuah perusahaan. Anha anak yang berprestasi hingga ia begitu beruntung karena mendapatkan beasiswa perguruan tinggi dan di terima di sebuah perusahaan ternama.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik!"


"Duduklah, duduklah!" Anha segera meminta Zea untuk duduk.


Tapi tanpa mereka sadari dua pria yang telah di tabrak oleh Zea tadi tengah memperhatikan mereka.


"Kalau tidak Sahal, Zea juga terdaftar dalam salah satu dari enam anak itu tuan!"

__ADS_1


"Jadi menurutmu dia juga dari panti asuhan?"


"Sepertinya begitu!"


"Selanjutnya selidiki dia, aku tidak yakin dengan gadis yang bernama Anha itu karena tidak bisa menjelaskan secara detail semua pertanyaan kita!"


"Baik tuan!"


Mereka pun segera meninggalkan tempat itu, mereka adalah tuan Seno dan ajudannya.


Zea yang bertemu dengan Anha akhirnya saling bercerita panjang lebar.


"Jadi kamu tinggal di sini juga?" Anha begitu bersemangat menanyai Zea.


"Iya begitulah, tapi baru hari ini pindahan!"


"Tinggal sama siapa? Boleh kan aku main ke tempat kamu?"


"Boleh, aku sama suami!"


"Wahhh sudah nikah nih?"


"Begitulah, baru saja!"


"Trus kamu sekarang kerja di mana?" tanya Anha lagi.


"Kemarin kerja di minimarket, tapi karena aku lagi hamil suami larang buat kerja!"


"Haahhhhh, kamu hamil? Selamat ya!" Anha segera memeluk teman lamanya itu. "Kita harus merayakannya kalau begitu! Bagaimana kalau malam nanti aku datang ke tempat kamu!"


"Malam ini?" Zea begitu terkejut. Jelas ia belum siap, ia teringat dengan isi lemari pendinginnya yang hanya ada mie instan. Ia tidak mungkin menjamu tamunya dengan mie instan saja.


"Iya, kenapa?"


"Jangan deh, maksudnya jangan malam ini, aku belum siap. Lagi pula aku juga belum tanya sama suami ku, takutnya dia terkejut. Bagaimana kalau lusa?"


"Baiklah, setuju! Lusa ya? Lantai empat kan?"


"Hmmm!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2