
Divta mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada siapapun kecuali mereka bertiga.
"Di mana Frans?” tanya Divta pada Felic, tapi Felic tidak juga menjawabnya. Air matanya malah terlihat mengembeng di pelupuk mata.
“Dia tidak lagi kemari setelah Felic sadarkan diri!” ucap Ersya. Ia begitu kesal dengan suami sahabatnya itu.
“Emang tuh anak ya, harus di kasih pelajaran!” ucap Divta kesal. Divta pun segera keluar dari ruangan Felic.
Divta menghampiri dokter Frans di
ruangannya. Tanpa mengetuk pintu, ia segera masuk. Ia bisa melihat pria itu sedang menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
“Frans ...!” ucap Divta sambil berdiri menatap dokter Frans begitu kesal.
Dokter Frans segera mendongakkan kepala nya dan tersenyum. Ia pun berdiri.
"Eh bang …, duduklah…!” ucap dokter Frans.
Tapi bukannya duduk, Divta malah berjalan menghampiri dokter Frans.
"Ada apa bang?" tanya dokter Frans bingung karena melihat wajah marah dari Abang sahabatnya itu.
Divta bukannya menjawab, ia malah menarik kerah bajunya.
“Bang …, apa yang abang lakukan?” tanya dokter Frans bingung. Tangan dokter Frans memegang tangan Divta berusaha melepaskannya tapi ternyata tangan Divta lebih kuat dari tangannya.
“Aku hanya ingin mengajari orang yang tidak tahu diri ini!” ucap Divta kesal sembari terus mengeratkan tangannya, rahangnya juga sudah sangat mengeras, terlihat sekali jika kali ini pria itu tidak main-main.
Bukkkkk
Sebuah pukulan mendarat di pipi dokter Frans hingga membuat tubuh dokter Frans tidak seimbang hingga menabrak kursi di belakangnya.
Tubuh dokter Frans pun tersungkur di lantai. Ia memegangi pipinya yang ngilu karena pukulan dari Divta.
Divta kembali menarik kerah baju dokter Frans kembali
"Dan ini ...., untuk sakit yang di rasakan istri kamu, bahkan sakitnya lebih sakit dari ini!" ucap Divta dan kembali memukulnya dokter Frans hingga beberapa kali.
"Ayo bangun ...., bangunlah jika kau punya kekuatan, tapi jangan pernah menyakiti seorang wanita gara-gara ego mu itu!"
"Ayo bangun!"
Tapi dokter Frans tidak berniat untuk bangun, ia tetap memilih duduk di lantai sambil memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, wajahnya sekarang sudah penuh dnegan lebam, tapi sakit yang ia rasakan di wajah dan tubuhnya sekarang tidak lebih sakit dari hatinya, hatinya sedang mengering saat ini.
Dokter Sifa yang kebetulan di luar ruangan itu, mendengar keributan di dalam, ia pun segera masuk dan memeriksa apa yang sedang terjadi.
Melihat Divta memukuli dokter Frans, dokter Sifa pun segera menghampiri mereka.
"Dokter …!"
"Tuan Divta …!”
__ADS_1
Teriak dokter Sifa, ia pun berlari mendekati dua pria itu.
"Tuan Divta, apa yang terjadi?" tanya dokter Sifa tapi Divta tidak juga menjawab begitupun dengan dokter Frans.
“Bang maafkan saya!” ucap dokter Frans lirih.
"Maaf itu bukan padaku! Tapi untuk istrimu!" ucap Divta kemudian, ia pun merapikan kembali jasnya dan mendekati dokter Frans lagi. Dokter Sifa sudah bersiap-siap jika saja ada pemukulan lagi, ia akan memanggil pihak keamanan.
Tapi ternyata Divta hanya ingin mengatakan sesuatu.
“Itu hanya pukulan kecil tidak sebanding dengan pukulan yang sudah kamu buat untuk istri kamu!”
“Bang …, dia sudah membuat anakku tidak selamat, andai dia mau mendengarkan ucapan ku,
andai dia tidak datang di acara itu, semua ini tidak akan terjadi!” ucap dokter Frans yang masih merasa tidak ikhlas. Ia masih begitu terluka dengan kehilangan buah hatinya.
“Itu cuma andai …, dan tidak akan terjadi! Jika kamu terluka, istri kamu lebih terluka! Ingat dia yang mengadung bukan kamu! Jangan menyalahkan dia dengan apa
yang terjadi, karena dia juga tidak mau ini terjadi!” ucap Divta lalu berlalu begitu saja meninggalkan dokter Frans dan dokter Sifa.
Setelah Divta meninggalkan ruangan itu, dokter Sifa pun menghampiri dokter Frans.
"Dokter tidak pa pa? Biar saya obati luka dokter ya!"
"Nggak usah ...., aku tidak pa pa ...., tinggalkan saya sendiri!"
"Tapi dok ....!"
"Baik dok ....!"
Dokter Sifa pun dengan berat hati meninggalkan ruangan dokter Frans, ia merasa prihatin dengan keadaan dokter Frans, kehilangan buah hati membuatnya dalam keadaan yang paling terpuruk.
Selama ini ia tidak pernah melihat dokter Frans yang seperti itu, selama ini dokter Frans yang ia kenal adalah dokter yang ceria, murah senyum, ramah dan selengek an.
Dokter Frans masih berada di tempatnya, di balik meja. Terduduk di lantai dnegan wajah babak belurnya, air matanya kembali menetes. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa memaafkan istrinya.
Setiap kali melihat istrinya, bayangan janin kecil di tangannya kembali muncul dan itu membuat dadanya semakin sesak.
"Aku harus bagaimana ....?" gumam dokter Frans dengan suara yang bergetar, tampak sekali kalau kali ini ia sedang menahan tangis.
"Jangankan untuk berbicara dengannya, hanya melihatnya saja rasanya begitu sesak, aku harus apa ....?!"
Dokter Frans kembali bangun dan duduk di kursinya, hatinya masih terlalu perih. Ia membiarkan luka lebam di wajahnya begitu saja tanpa berniat untuk mengobatinya.
Ia memilih melanjutkan pekerjaannya, bahkan saat beberapa karyawan sudah berganti sift, dokter Frans masih belum meninggalkan ruangannya.
Dia memang tidak ke ruang perawatan Felic, tapi ia juga tidak berniat meninggalkan rumah sakit, ia juga sama sekali tidak pulang, bahkan bajunya pun tidak pernah di ganti, wajah dan penampilannya begitu berantakan saat ini.
Hingga malam hari pun, dokter Frans masih di ruangannya, ia sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaannya agar tidak terus kepikiran dengan kejadian buruk itu, trauma di tinggalkan orang-orang terdekatnya membuatnya begitu terluka.
"Sudah jam dua belas malam!" gumam dokter Frans saat merasakan tubuhnya sudah begitu lelah tapi matanya masih enggan terpejam, lingkaran hitam di sekitar matanya semakin tampak jelas.
__ADS_1
Dokter Frans memilih keluar dari ruangannya, ia berjalan berkeliling untuk melemaskan kakinya. Hingga tanpa sadar, langkahnya terhenti di depan ruang rawat inap Felic.
Entah dorongan yang bagaimana hingga membuatnya tertarik untuk sekedar mengintip istrinya itu dari balik pintu, ada kaca kecil yang tembus pandang di pintu rumah sakit itu hingga ia bisa melihat apa yang di lakukan orang yang ada di dalamnya.
Ia bisa melihat istrinya itu tidur meringkuk di atas tempat tidurnya, seperti ia sudah tidur. Karena meringkuk membelakangi pintu membuat dokter Frans tidak bisa memastikan jika wanita itu sudah benar-benar tidur atau belum.
Dokter Frans pun memutuskan untuk masuk dan memastikan jika istrinya itu sudah tertidur.
Ia berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara, dengan begitu pelan hingga ia sampai di samping tempat tidur Felic. Ia pun memilih untuk duduk di kursi kecil yang ada di samping tempat tidur Felic itu.
Dengan perlahan menggeser kursi itu agar tidak menimbulkan suara.
Ia hanya duduk menatap punggung Felic tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Ia hanya ingin menatap punggung yang sedang bergerak seirama naik turun dengan gerak nafasnya.
Ingin rasanya menyentuh wanita itu, tapi di sisi lain, ada sesuatu yang membuatnya menolak. Rasa sakitnya menutupi rasa cintanya.
Felic ternyata belum tidur, ia menyadari jika saat ini di belakangnya ada orang, ia tahu jika saat ini suaminya yang berada di belakangnya.
Ingin rasanya tetap diam dan membiarkan pria itu tetap diam di belakangnya, tapi rasa rindu pada suara pria itu membuatnya tidak bisa menahan untuk tidak bicara.
“Frans …!” ucap Felic tanpa membalik tubuhnya.
Dokter Frans yang tidak menyangka jika istrinya itu belum tidur begitu terkejut karena ternyata Felic mengetahui jika ia di belakangnya.
Karena tidak ada sahutan dari belakangnya, Felic pun segera membalik tubuhnya. Ia bisa melihat suaminya itu sekarang.
Suami yang biasanya terlihat modis dan keren itu sekarang terlihat begitu berantakan, apa lagi baju yang di kenakan nya masih baju ya g sama saat pesta.
“Maafkan aku, Frans ....! Aku tidak bermaksud membuat anak kita celaka, maafkan aku …!” ucap Felic sambil menarik tangan dokter Frans.
Tapi dokter Frans malah melepaskan genggaman tangan Felic.
“Tidur lah …! Aku akan keluar!” ucap dokter Frans dengan begitu dingin.
Dokter Frans hendak bangun dari duduknya dan meninggalkan Felic, tapi dengan cepat felic menahan tangannya kembali hingga membuat dokter Frans menghentikan langkahnya.
“Frans …, jangan diamkan aku seperti ini …, aku mohon! Aku juga terluka, aku sakit, tapi jangan hukum aku seperti ini, ini sudah sangat sakit, jadi jangan lagi, sudah cukup!” ucap Felic dengan air mata yang sudah tidak mampu ia bendung lagi.
“Aku masih banyak pekerjaan, jadi tidurlah …!” ucap dokter Frans lalu melepaskan genggaman Felic dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan salam, atau selamat malam.
...Jangankan untuk menyapa, melihatnya saja sudah cukup membuat air mataku mengalir. Bukan aku tidak baik tapi saat ini aku sedang terluka~DTIS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1