
“Lo yakin sudah beneran cinta sama Felic, bukan Zea?”
“ampun deh …, yakin Gra …, se yakin-yakin nya malah! Ya emang setelah ketemu Zea gue
ngerasa seperti kembali ke masa lalu, cinta itu seperti tumbuh tapi setelah gue bener-bener rasain ternyata itu bukan lagi cinta Gra…, Zea istimewa di hati gue, dulu …,
Ingat …, dulu ya …! Tapi semakin ke sini, gue jadi merasa jika Zea bukan prioritas di
hati gue lagi! Semuanya sudah berubah, hati gue nggak bergetar lagi saat
mendengar namanya! Tapi saat melihat air mata Felic, gue ngerasa ikut hancur
bersama air mata itu!”
“Baru nyadar lo setelah Felic ninggalin lo!” Agra benar-benar gemas dengan kedua
sahabatnya suka sekali di tinggalin pasangannya baru bisa nyadar jika cinta.
“Gue nyadar dari dulu kali, Gra! Cuma gue ngrasa nggak penting lah kata cinta yang
penting di tunjukin aja pakek perbuatan!”
“dan teori kalian itu yang bikin pasangan kalian kabur-kaburan, iya kan?”
Kali ini dokter Frans membenarkan ucapan sahabatnya itu, sebenarnya dia lebih
beruntung Karena Felic nggak ninggalin dia terus ngilang tanpa kabar seperti yang
di lakukan oleh Nadin.
Tapi kesungguhan cinta Agra kepada Ara patut untuk di jadikan contoh. Agra mudah mengatakan cinta walaupun di awal pernikahan mereka tidak mudah butuh pengorbanan yang besar untuk pernikahan mereka.
“Ya udah sekarang kasih tahu gue gimana caranya?”
“Cari tahu apa kesukaan pasanganmu, misalnya music kesukaannya, lagu favorit nya,
makanan kesukaannya, tepat makan yang ia sukai, kencan yang ia suka, atau pria
yang bagaimana yang bisa membuatnya jatuh cinta!”
“Aku harus cari tahu bagaimana? Dia tertutup banget sama keluarganya!”
“Ya cari di barang-barang pribadinya, ponsel atau laptopnya, atau sosial medianya!”
Laptop …..
Sepertinya dokter frans mengingat sesuatu, ia pun segera beranjak dari duduknya,
“Gue pulang dulu …!” ucapnya sambil menyambar ponselnya yang tergeletak di meja.
“Frans …, Frans …!” panggil Agra, tapi sepertinya dokter Frans tidak mengindahkan
panggilan Agra, '‘Dasar bucin ….!”
***
Dokter Frans sudah berada di ruang kerjanya yang berada di rumahnya, ia sedang
mencari-cari sesuatu di dalam setiap laci lemarinya. Sepertinya ia lupa dimana
__ADS_1
ia menyimpan benda itu. Hingga akhirnya tangannya berhenti di salah satu
laci dan membukanya. Ternyata benda itu berada di sana.
“ahhhh …, akhirnya ketemu juga …!”
Dokter Frans mengambil laptop tua itu dan meletakkan di atas meja lengkap dengan
charger nya. Ia segera membukanya dan menekan tombol on off di sana.
“Kenapa nggak bisa nyala?” ucap dokter Frans setelah beberapa kali menekan tombol on
off tapi nggak nyala-nyala.
“jangan-jangan rusak ya? Atau baterainya habis ya!”
Akhirnya dokter Frans menyambungkan charger dengan laptop yang terlihat sudah tua itu dan menghubungkan ke stopkontak listrik.
“Aghhh…, akhirnya nyala juga!” ucap dokter Frans setelah laptop itu bisa menyala.
Ia mulai membuka data pribadi Felic yang masih tersimpan di laptop itu.
“Semua berisi novelnya! Bagus juga novelnya!” gumamnya setelah membaca sekilas
beberapa bab yang dari tulisan Felic.
Kemudian ia menemukan data yang tersimpan
sendiri di sana dengan judul “My Self”
“Yang ini pasti!”
Di dalam file itu ada beberapa curhatan felic, sekolahnya keluarga nya perjalan
cintanya. Bagaimana dirinya menghadapi hidup yang tidak mudah.
Dan akhirnya ketemu juga, cowok idaman untuk Felic, sesuatu yang di sukai Felic dan
segala hal.
Setelah mengakhiri memeriksa data pribadi Felic, dokter Frans segera menghubungkan laptop itu dengan jaringan internet ia berharap bisa menemukan sesuatu. Dan benar saja
Felic sudah pernah menghubungkan laptop dengan WhatsApp milik Felic.
Ia bisa melihat beberapa pesan Felic, beberapa chat Felic pada beberapa orang atau group.
“Dia benar-benar nggak aktif dalam percakapan! Apa jawabnya Cuma, y, gk, ok, hemm! Beda banget sama orangnya yang banyak bicara!”
“Ini nomor kontaknya Ersya, mungkin aku bisa minta bantuan sama dia!”
Dokter Frans segera menyimpan nomor Ersya di ponselnya dan menyimpan kembali laptop milik Felic itu.
***
Pagi ini tiba-tiba saja ersya datang mengunjungi rumah orang tua Felic.
“Pagi tante, Felic nya ada kan?”
“Ersya, masuk!”
__ADS_1
Ersya pun masuk ke dalam rumah bersama ibu Felic, “Felic ada sedang istirahat di kamar!”
“Emang Felic sakit ya tan?”
“Enggak, dia sedang hamil muda, dokter memintanya untuk bedtres!”
“Oh gitu …, tapi menurut dokter yang bicara sama Ersya, katanya boleh loh tan di
ajak jalan-jalan asal pakek kursi roda!”
“benarkah?”
“Benar tan, ini dokternya terpercaya banget malahan dok, dokter yang sangat peduli
sama ibu hamil seperti Felic!”
“Ya udah kalau kamu mau ngajak jalan-jalan, nggak pa pa deh! Asal jangan lama-lama
ya!”
“Siap tante!”
Ersya segera masuk ke dalam kamar Felic, Felic yang sedang membaca buku begitu senang melihat kedatangan Ersya.
‘Ersya…!” ucap felic sambil tersenyum lebar.
“Hay Fe …, lo hamil kok nggak ngomong-ngomong sih!”
“Maaf …, gue lupa!”
“Enak banget ngomongnya, sama sahabat bilang lupa!”
“Lo tahu gue di rumah ayah dari siapa?”
“Oh itu …!” Ersya tampak berpikir, “Anu itu …, tadi gue nggak sengaja aja lewat
terus mampir, eh kebetulan lo ada disini!”
“Gue seneng ada lo, gue kesepian banget! Mau gerak takut terjadi apa-apa sama kandungan gue!”
“O iya Ngomong-ngomong selamat ya atas kehamilan lo!”
“makasih ya!”
“Mau jalan-jalan nggak sama gue?”
“Emang boleh?”
“Boleh kalau pakek kursi roda, ini beneran loh gue dapat data dari sumber terpercaya!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1