
Aku pun di bantu oleh pria itu dan juga asistenku membawa masuk wanita yang tengah pingsang itu.
Beruntung pasien yang di dalam sudah selesai melahirkan hingga aku bisa bergantian merawat wanita muda itu.
Setelah melakukan pemeriksaan dan mengobati lukanya, aku baru tahu kalau dia tengah hamil muda. Beruntung kandungannya tidak terjadi masalah.
"Biarkan saja dia istirahat, panggil saya kalau dia bangun."
"Baik Bu."
Hingga pagi hari barulah wanita muda itu sadarkan diri, ketika aku tengah memeriksa keadaanya.
"Bu!"
"Jangan banyak gerak dulu, luka kamu belum sembuh."
Bukannya tenang, wanita muda itu malah menangis tersedu membuat hatiku iba, aku pun segera memeluknya. Aku merasa dia begitu menderita hingga tidak bisa menahan emosinya.
"Bu, lindungi saya dan bayi saya Bu, saya mohon." rancaunya terus dalam tangis. Dia terlihat begitu menderita.
"Jika kamu tidak keberatan, ceritakan semuanya pada ibu. Ibu akan membantu sebisa ibu."
Setelah mulai tenang wanita muda itu mulai bercerita.
"Ada yang ingin mencelakai saya dan anak dalam kandungan saya, Bu."
"Siapa? Apa suami kamu tahu?"
Wanita muda itu menggelengkan kepalanya, "Dia tidak tahu Bu, aku pikir dengan aku pergi dari suamiku. Mereka akan melepaskan aku, tapi ternyata tidak Bu. Mereka masih mengejar kami."
"Bagaimana kalau aku hubungi suami kamu?"
"Jangan Bu, saya mohon. Setidaknya biarkan saya tinggal di sini sampai bayi ini lahir Bu, saya mohon."
Karena merasa kasihan, aku pun membiarkan dia tinggal di tempat saya. Saya akhirnya tahu kalau namanya adalah Chintya.
Flashback off
Dari cerita Bu Ambar akhirnya Zea tahu bagaimana perjuangan mamanya untuk melindungi dirinya. Bahkan mamanya rela jika harus berpisah dengan papanya.
Akhirnya Zea tahu jika mama Zea pergi dari rumah bukan karena kemauannya sendiri, ia tahu kalau seseorang telah mengancamnya dan yang lebih parahnya mereka juga ingin melenyapkan mamanya.
"Lalu bagaimana dengan kehidupan mama setelah itu?" tanya Zea lagi. Ia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Bu Ambar pun akhirnya kembali bercerita.
Flashback on
Kehidupan kami setelahnya cukup bahagia, aku sudah menganggap Chintya sebagai putri saya. Dia juga tidak segan membantu ku untuk menangani beberapa pasien, setiap kali aku harus berjaga di rumah sakit, Chintya juga ikut bersama ku.
__ADS_1
Tapi ternyata keberadaan Chintya lama-kelamaan tercium juga oleh orang-orang jahat itu.
Seorang wanita muda yang seumuran dengan Chintya mendatanginya. Wanita itu juga tengah hamil.
"Kenapa kamu datang ke sini? Jangan ganggu kehidupan saya lagi!" Chintya tampak enggan untuk menerima tamu yang belakangan saya tahu namanya adalah Widya.
Wanita bernama Widya itu tersenyum sambil mengusap perutnya yang besar, "Aku ke sini cuma ingin melihat keadaanmu saja. Dan ternyata, memprihatinkan. Kamu tahu bayi siapa yang ku kandung sekarang?"
"Aku tidak peduli. Jadi pergilah dari sini!" Chintya sudah akan masuk ke dalam rumah tapi langkahnya kembali terhenti saat wanita bernama Widya itu mengucapkan sesuatu.
"Ini bayi Seno, kamu tahu ini bayi Seno. Selama ini Seno sudah menjalin hubungan denganmu, dengarkan itu baik-baik. Dan kami sudah resmi menikah. Jadi jangan harap kamu bisa mengambil Seno lagi dariku, mengerti!"
Setelah kedatangan wanita itu, Chintya tampak begitu murung. Ia sering mengurung diri di kamar. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan.
Hingga akhirnya hari diman Chintya melahirkan pun tiba. Kamu pun membawa Chintya ke klinik tempat ku praktek.
Dengan penuh perjuangan akhirnya Chintya berhasil melahirkan seorang putri yang ia beri nama Zea.
Tapi kebahagiaan Chintya tidak bertahan lama karena ia melihat seseorang tengah berusaha untuk membunuh bayi dan dirinya. Beruntung Chintya bisa menyelamatkan diri.
Pihak klinik tidak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Chintya hingga membuatnya terpaksa membawa pergi bayinya.
"Chintya ke mana?" tanyaku pada penjaga dan penjaga itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana bisa kalian tidak tahu? Ayo katakan pada saya!" aku terus berteriak-teriak seperti orang gila mencari keberadaan Chintya.
"Pihak klinik memintanya pergi karena ia sudah berani memfitnah Rusdi telah menyakiti anaknya!"
Aku sudah tidak peduli, aku pun berlari mencari keberadaan Chintya dan putrinya.
Hingga aku berpapasan dengan dengan pria yang bernama Rusdi itu,
"Hei kamu, jangan kira aku tidak tahu apa-apa. Aku akan buat perhitungan sama kamu nanti!" teriakku padanya. Tapi aku tidak punya waktu. Aku harus mencari Cintya dan putrinya.
Tapi ternyata aku tidak berhasil. Aku tidak menemukan Chintya di mana pun.
Aku menyerah. Mungkin Chintya sudah benar-benar pergi jauh hingga tidak ada seorang pun yang akan menemukannya. Aku berharap seperti itu.
Hingg satu Minggu kemudian, saat pagi hari aku membuka pintu. Chintya tengah berdiri di depan rumahku.
"Chintya!"
"Ibu!"
Dia memelukku dengan begitu erat, ia menangis tersedu hingga air matanya bisa aku rasakan menempel di baju tidurku.
"Duduklah!" aku membantunya duduk, "Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi? Di mana bayimu?"
Chintya datang tanpa membawa bayinya. Tampak mata Chintya sampai berkantung sepertinya ia sudah terlalu banyak menangis.
__ADS_1
"Aku sudah membawanya ke tempat yang aman Bu."
"Maksud kamu?"
"Dia aku letakkan di panti asuhan. Jika terus seperti ini, bersamaku tidak akan aman Bu."
Aku kembali memeluk Chintya, aku tahu dia sekarang begitu terluka.
"Sudah, jangan menangis lagi. Mulai sekarang kamu harus bangkit, demi anak kamu."
Setalah hari itu. Chintya tampak begitu sibuk, aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Jika pagi sampai sore ia akan bekerja dan malam harinya ia masih saja pergi atau kalau tidak ia akan memilih duduk berlama-lama di depan komputer.
Aku baru tahu jika ternyata di begitu pandai mengoperasikan komputer.
Hingga akhirnya sebuah kenyataan membuat wanita yang rapuh itu semakin hancur. dia di diaknosa tengah menderita sebuah kanker.
Dan untuk mendapatkan perawatan, ia harus pergi ke kota besar.
"Bu, aku harus ke kota. Ibu baik-baik ya di sini!"
"Kamu juga harus baik di sana. Berjuang dengan semua kekuatanmu. Aku yakin kamu bisa."
"Pasti Bu. Bu saya titip ini ya!" Chintya menitipkan sebuah amplop coklat besar padaku.
"Ini apa?"
"Ini adalah bukti-bukti yang sudah aku kumpulkan selama ini. Siapa tahu suatu saat nanti ada yang membutuhkan ini!"
"Baiklah, aku akan menyimpannya!"
Flashback off
Mendengar kata bukti, baik tuan Seno ataupun Zea begitu penasaran.
"Bukti apa Bu?" tanya tuan Seno.
"Sebentar, aku akan mengambilnya!" Bu Ambar pun kembali berdiri, ia berjalan ke dalam. Dan dalam waktu beberapa menit ia kembali keluar dengan membawa sebuah amplop besar berwarna coklat yang masih tersegel.
"Aku sama sekali tidak pernah membukanya. Mungkin ini yang sekarang kalian cari."
Bu Ambar pun memberikan amplop itu pada tuan Seno.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...