
Tuan Bactiar yang masih tersulut emosi segera menemui nyonya Tania. Ia ingin tahu yang sebenarnya siapa Tisya.
"Kita kemana tuan?" tanya sekertaris tuan Bactiar.
"Kita ke rumah!" ucap tuan Bactiar masih dengan wajah marahnya, sesekali ia tampak meremas kertas hasil tes DNA itu. Semua tulisan yang tertera di kertas itu terekam jelas di pikirannya dan semakin ia memikirkannya rasanya semakin ingin marah.
Ia tidak menyangka akan di khianati sejauh ini oleh istrinya sendiri. Pria angkuh itu ternyata bisa menitikkan air mata juga, itu air mata kesedihan atau kemarahan hanya tuan Bactiar yang tahu.
Mobil pun melaju meninggalkan gedung hotel menuju ke rumah utama milik tuan Bactiar yang beberapa hari ini hanya di tinggali oleh istri dan putrinya.
Sudah sangat malam, mungkin penghuninya sudah tidur, karena beberapa lampu utama sudah di matikan.
Mobil pun berhenti tepat di depan pintu utama, tuan Bactiar segera turun dari mobil dan di sambut oleh beberapa pelayan.
"Dimana nyonya?" tanya tuan Bactiar.
"Nyonya sudah istirahat tuan!" ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
"Panggilkan dia, saya mau bicara!" ucap tuan Bactiar dengan begitu kesal.
"Baik tuan!"
Tapi sebelum pelayan itu meninggalkan tuan Bactiar, nyonya Tania sudah lebih dulu menuruni tangga karena mendengar keributan di depan. Ia begitu senang saat melihat suaminya datang.
"Papa ....., papa pulang .....!" ucap nyonya Tania sambil tersenyum, ia segera menghampiri suaminya itu dan hendak memeluknya, tapi segera di tepis oleh suaminya itu.
"Pa ...., kenapa? Apa papa tidak merindukan mama?" tanya nyonya Tania.
"Berhenti bersikap manis di depan saya!"
"Pa ....!"
Ucapan tuan Bactiar benar-benar seperti sebuah pukulan berat untuk nyonya Tania.
Tuan Bactiar pun menyerahkan surat itu pada nyonya Tania.
"Ini apa pa?" tanya nyonya Tania sebelum membukanya.
"Baca sendiri ....!" ucap tuan Bactiar.
Nyonya Tania pun segera membuka dan membaca surat itu,
Deg
Dan apa yang di khawatirkan selama ini terjadi juga sekarang, semua yang sudah ia usahakan hingga bertahun-tahun hancur saat ini juga.
"Pa ...., ini pasti salah!" ucap nyonya Tania yang berusaha untuk tetap tegar walaupun kakinya sekarang sedang gemetar.
"Ya memang ada yang salah, yang salah adalah pernikahan kita, iya kan?"
"Pa ...., percayalah ...., ini mungkin hanya rekayasa rumah sakit saja!"
__ADS_1
Nyonya Tania mencari pembenaran untuk dirinya sendiri.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan ini?" ucap tuan Bactiar sambil menyarahkan dokumen tentang kelahiran Tisya yang baru di ketahui oleh tuan Bactiar beberapa hari yang lalu, ternyata Tisya sudah genap sembilan bulan lahir bukan tujuh bulan.
"Dia lahir di usia sembilan bulan, bukan tujuh bulan! iya kan?" tanya tuan Bactiar lagi.
Nyonya Tania benar-benar terpojok, kakinya seperti tidak bertulang lagi, ia bahkan sampai menjatuhkan tubuhnya di lantai, ia terlalu takut untuk mengakui semuanya. Dan ternyata kebohongannya itu kini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
"Pa ....., maafkan aku! Ini salah mama, pa! Jadi jangan libatkan Tisya juga!"
"Sekarang katakan yang sebenarnya, Tisya itu anak siapa? Siapa ayah biologisnya?"
"Sebenarnya ayah biologis Tisya adalah ayah yang sama dengan ayah dokter Frans, putra mama!" ucap nyonya Tania.
"Hahhhh ....!" tuan Bactiar menghela nafas panjang dan segera menjatuhkan tubuhnya di sofa, "Beraninya kau ....!" teriak tuan Bactiar yang hampir menampar nyonya Tania.
Ia merasa selama ini hanya di jadikan boneka oleh istrinya sendiri, ia bahkan rela mengirim putrinya sendiri tinggal jauh dengan nya demi Tisya yang ternyata bukan putri kandungnya.
"Pa ...., maafkan aku, saat itu aku tidak punya pilihan lain pa!" ucap nyonya Tania dengan berurai air mata sambil memegangi kaki suaminya.
"Jadi sebelum menikah denganku, kau sudah pernah menikah?" tanya tuan Bactiar yang mencoba meredam emosinya.
"Iya pa! Saya sudah pernah menikah diam-diam karena ayah tidak menyetujui pernikahan kami, ayah Frans hanya seorang sopir! Setelah ayah Frans meninggal, aku baru tahu jika aku hamil, ayah pun tidak tahu. Dia meminta saya untuk menerima perjodohan dengan papa! Dan aku tidak punya pilihan lain pa, selain menikah dengan papa!"
Selama menikah dengan ayah dokter Frans, nyonya Tania tidak mendapat restu dari ayahnya maka mereka menikah secara sembunyi-sembunyi, hingga akhirnya ayahnya dokter Frans meninggal dunia. Hal itu menjadi alasan yang kuat untuk ayah nyonya Tania menjodohkan dengan duda beranak satu yang kaya raya.
Tentang kehamilannya nyonya Tania tidak pernah bercerita pada siapapun jika ia sedang hamil satu bulan.
"Pa ...., aku tahu kesalahanku terlalu besar, tapi aku mohon ...., kita bisa memulai nya dengan yang baru tanpa kebohongan! Aku mencintai papa dan papa juga mencintai mama!"
"Iya kau benar ...., kita harus memulai dengan yang baru, mulai sekarang kita harus berpisah. Aku dengan hidupku dan kau dengan putrimu itu. Segera angkat kaki dari sini!"
"Pa jangan begitu, semua bisa di selesaikan baik-baik pa!"
"Ini penyelesaian terbaiknya!"
Tisya yang baru saja pulang melihat mamanya menangis segera menghampiri sang mama.
"Ma ..., ada apa? Kenapa mama menangis?" tanya Tisya sambil memeluk tubuh mamanya.
"Mau jadi apa kamu, jam segini baru pulang!" hardik tuan Bactiar.
"Maaf pa, tapi Tisya ada acara sama temen-temen! Ini sebenarnya ada apa pa?" tanya Tisya.
Lalu mata Tisya menangkap sebuah kertas yang tergeletak di lantai, ia segera mengambilnya dan itu adalah hasil tes DNA miliknya dan papanya.
"Tidak cocok?" tanya Tisya pada mama dan papanya.
“Lalu Tisya anak siapa ma?” tanya Tisya pada nyonya Tania tapi nyonya Tania memilih untuk tetap diam.
"Pa ...., kalau Tisya bukan anak papa, lalu Tisya anak siapa?" tanya Tisya lagi, air matanya sudah membanjiri pipinya.
__ADS_1
"Tanyakan itu pada mamamu!" ucap tuan Bactiar.
"Ma ....?"
Bukannya menjawab pertanyaan Tisya, nyonya Tania malah memeluk putrinya itu.
"Tidak ....!" teriak Tisya sambil mendorong tubuh mamanya, "Ma ...., ini nggak bener kan ma ...? Semua ini nggak benar kan ma? Ini cuma becanda kan? Tisya anak papa kan? Iya kan pa?"
"Tisya .....!" teriak nyonya Tania, "Sudah cukup Tisya, papa kamu tetap tidak akan mengerti!"
"Tisya nggak mau ma jadi anak orang lain, Tisya anak papa, iya kan pa? Tisya anak papa? Papa jangan bohong sama Tisya!"
“Saya bukan papa kamu jadi berhenti memanggil saya seperti itu!”
“Pa…, jangan seperti itu, apa tidak ada artinya kita hidup bersama selama dua puluh lima tahun ini pa?” ucap nyonya Tania
“Semuanya hancur karena kebohongan kamu, jadi segeralah pergi dari sini dan bawa putra mu juga, saya tidak mau melihat wajah kalian lagi!"
"Pa ...., jangan keterlaluan!" teriak nyonya Tania.
Prok prok prok
Tuan Bactiar menepuk tangannya tiga kali dan sekretaris nya sudah turun dari kamar dengan membawa dua koper yang berisi semua barang-barang milik nyonya Tania dan Tisya.
Sekertaris tuan Bactiar meletakkan koper itu di depan nyonya Tania.
"Bawa barang-barang kalian juga!"
"Tapi pa ...., ini sudah malam, kita mau pergi ke mana malam-malam seperti ini?" ucap nyonya Tania memohon.
"Terserah kalian!"
"Dan lagi, tunggu saja surat cerai dari saya!”
Tuan Bactiar benar-benar terluka karena merasa telah di bohongi bertahun-tahun oleh istrinya sendiri.
Nyonya Tania benar-benar sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di rumah itu.
“Ayo Tisya …, kita pergi!” ucap nyonya Tania sambil menarik tangan putrinya itu.
“Ma …, tisya nggak mau …, Tisya nggak mau pergi dari sini!”
"Jangan keras kepala Tisya ....!" bentak nyonya Tania.Dan mereka pun akhirnya benar-benar keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun kecuali dua koper itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰