
Akhirnya Zea bisa bernafas lega sekarang, setidaknya meskipun ia sudah bertemu dengan papanya, tapi ia masih bisa melakukan apapun yang ia mau.
Kemudian mata Zea kembali menatap kuasa hukum pak Seno. Tidak mungkin jika pria itu berada di sana tanpa ada hal yang penting.
"Pak Genta dan papa kenapa bisa bersamaan ke sininya?" Zea menatap mereka bergantian dan pak Seno maupun pak Genta tampak tersenyum.
"Jadi papa sengaja mengundang pak Genta ke sini karena ingin melanjutkan pembicaraan kita kemarin!"
"Tentang apa pa?"
"Tentang beberapa saham yang harus kamu tangani!"
"Lalu?"
Pak Genta pun mulai mengambil posisi, "Jadi begini nona, sebagai pemegang saham 40% di perusahan tuan Seno, mau tidak mau nona Zea sedikit banyak harus ikut terjun mengelola perusahaan.
Kebetulan sekali .....
Zea jadi teringat dengan rencana Ersya, ada beberapa proyek yang perusahaan papanya kerjakan dengan perusahaan Rangga. Bak gayung bersambut, Zea pun langsung menampakkan wajah sumringahnya.
"Saya setuju pak untuk terjun di sana!"
Pak Seno tampak begitu senang, "Bagus, tadi papa sudah sangat khawatir!"
"Tapi maaf jika Zea mengajukan syarat!"
Tampak pak Seno dan kuasa hukum Genta saling berpandangan dan menunggu apa syarat yang akan di bicarakan oleh Zea. Melihat ekspresi kedua orang yang ada di dekatnya itu, Zea langsung mengerti maksudnya,
"Untuk permulaan, ijinkan Zea untuk menangani proyek papa yang berhubungan dengan perusahaan Divtagroup, terutama yang di pegang oleh Rangga!"
Pak Seno langsung faham dengan maksud putrinya itu, jelas ia akan sangat mendukung hal itu jika untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak putrinya.
"Pasti, papa akan setuju dengan apapun itu, tapi itu proyek yang lumayan besar, jadi_!" tampak pak Seno begitu ragu untuk mengutarakannya.
Zea pun langsung menatap dengan tatapan yang meyakinkan. Ia tidak mau sampai papanya menolak permintaannya yang ini,
"Kalau masalah kemampuan, saya juga tidak akan bunuh diri pa, saya akan belajar dengan tekun untuk itu asal papa kasih aku beberapa berkas yang harus aku pelajari!"
Melihat betapa seriusnya sang putri, pak Seno pun menjadi yakin. Melihat betapa kritisnya Zea, ia yakin jika putrinya itu mudah untuk belajar.
"Baiklah, setalah ini papa akan mengirim guru untuk mengajarimu dan berkas-berkas yang harus kamu pelajari sebelum terjun ke dunia itu!"
"Terimakasih pa!"
"Papa yang bangga sama kamu, papa nggak nyangka kamu punya tekat yang kuat!"
"Papa tahu Zea nglakuin ini demi siapa. Maaf jika nanti aku menyakiti putri papa yang lainnya tapi kebenaran harus di tegakkan!"
"Iya, papa tidak masalah, papa akan bantu sebisa papa!"
__ADS_1
Zea kembali memeluk papa yang seharusnya ia sudah peluk sejak lama itu.
Setelah urusannya selesai pak Genta pun berpamitan,
"Terimakasih pak Genta, saya akan menghubungi Anda lagi saat di perlukan!"
"Baik tuan Seno, jangan sungkan! Kalau begitu saya permisi!"
Hanya pak Seno dan ajudannya yang mengantar ke depan, Zea saat ini sudah berada di dapur tempat yang menurutnya paling favorit.
Ia langsung bereksperimen dengan membuat masakan di bantu oleh beberapa pelayan terutama bibi,
"Bibi tahu, bibi benar-benar keren dengan seragam itu!" Zea terus memuji penampilan baru bibi.
"Ini semua berkat nyonya, andai saja aku tidak mengenal nyonya, aku tidak akan naik pangkat menjadi kepala pelayan!" ucap bibi sambil tersenyum mengakui jabatan barunya.
"Kok aneh sih bibi panggil Zea kayak gitu!?" protes Zea karena menurutnya nyonya itu terlalu berlebihan.
"Tapi nyonya harus terbiasa biar terlihat lebih elegan dan tidak akan ada yang bisa meremehkan nyonya lagi, semangat nyonya buat bawa kembali tuan Rangga!"
Mendengar panggilan mereka membuat Zea tertawa kecil, tapi ia segara mengangkat tangannya, "Semangat!!!"
Pak Seno yang masih belum puas bertemu dengan putrinya akhirnya ia memilih untuk menghabiskan waktu seharian dengan sang putri,
"Apa tuan hari ini tidak kembali ke kantor?"
"Tidak, hari ini saya akan di sini sampai malam, jika ada pekerjaan tunda sampai besok!"
***
Di kantor ternyata nyonya Widya tengah datang tapi ternyata ia tidak menemukan suaminya, Ia hanya menemukan ajudannya saja,
"Di mana tuan?"
"Maaf nyonya, tuan ada urusan di luar!"
"Lalu kenapa kamu di sini?"
"Saya di minta tuan untuk mengatur ulang jadwal tuan!"
"Maksudnya?"
"Semua jadwal hari ini akan tuan tunda sampai besok!"
Bahkan dia sampai menunda semua pekerjaannya hari ini, apa yang lebih penting dari itu? sepertinya nyonya Widya mulai curiga.
"Baiklah, saya pergi. Katakan pada tuan kalau saya mencarinya hari ini!"
"Baik nyonya!"
__ADS_1
Nyonya Widya pun segera meninggalkan ruangan pak Seno. Ia berjalan cepat menuju mobilnya dan memakai kembali kacamata hitamnya.
Tapi saat ingin memasuki mobilnya tiba-tiba ponselnya berdering,
"Ada apa dia menelponku?" gumamnya pelan, tapi segera menerima telpon itu.
"Hallo jeng, ada apa?"
"Jeng Wid, kita bisa ketemu sebentar saja kan, ini penting sekali. Ini mengenai anak-anak!"
Ada apa lagi ini? Atau jangan-jangan Miska bikin gara-gara lagi ....
"Baiklah, bagaimana kalau setengah jam lagi kita ketemu di kafe xx!?"
"Baiklah, sampai ketemu jeng!"
Nyonya Widya segera mematikan sambungan telponnya, ia harus mengabaikan sebentar urusannya dengan suami. Saat ini ada urusan yang lebih penting.
Ia segara masuk ke dalam mobil dan menuju ke tempat yang sudah mereka janjikan.
Saat ia sampai di kafe yang di maksud, ternyata teman lamanya itu sudah menunggu di salah satu kursi,
"Selamat siang jeng!"
"Selamat siang, duduk jeng!"
Nyonya Widya pun segera duduk, mereka duduk berhadapan dengan di pisahkan sebuah meja kecil berbentuk persegi,
"Ada apa jeng?"
"Ini loh, ini Maslaah Miska!"
"Ada apa dengan putri saya? Ada dia membuat masalah?"
"Tidak jeng, sebenarnya begini ....!" mama Rangga segera menceritakan keluh kesahnya mengenai kesulitannya bertemu dengan sang putra.
"Kalau masalah itu aku setuju jeng sama Miska! Memang kalau saya pikir, semakin sering Rangga ketemuan sama jeng dan suami, maka akan semakin cepat Rangga mengingat semuanya. Kalau saran saya, dari pada mempermasalahkan hal itu, akan lebih baik jika kita segera membicarakan soal pernikahan mereka. Semakin cepat mereka menikah akan semakin baik!"
"Jadi begitu ya jeng?"
"Iya, begitulah!"
Akhirnya mama Rangga bisa luluh dengan ucapan sang calon besan impiannya,
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...