Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (53. Pertemuan ke dua)


__ADS_3

"Serius Zee, kita ketemu ya!"


"Aku usahain deh, tapi nggak janji. Di mana?"


"Di restoran kemarin aja!"


"Baiklah!"


"Okey, thanks ya. Sampai jumpa nanti!"


Zea kembali meletakkan ponselnya. Ia menatap jam yang tergantung di dinding. Masih ada waktu 2 jam lagi untuk bertemu dengan Anha.


"Seharusnya nggak pa pa kali ya, kalau aku ketemu sama Anha." Zea memikirkan ucapan suaminya sebelum berangkat kerja. Ia selalu berpesan agar Zea tidak keluar-keluar sembarangan, kalaupun ingin keluar harus menghubungi dirinya terlebih dulu.


Zea menatap ke arah dapur, terlihat asisten rumah tangga yang di sewa suaminya sedang berkutat di dapur. Bibi itu selain membantu pekerjaan Zea juga bertugas s menjaga Zea selama Rangga tidak di rumah.


Boleh nggak yaa kira-kira?


Zea pun meyakinkan dirinya agar bisa meminta ijin. Setidaknya tidak perlu meminta ijin pada Rangga.


Ia berjalan perlahan menghampiri bibi,


"Bi!"


Wanita yang tengah sibuk memotong sayuran itu segera mendongakkan kepalanya,


"Iya buk, ada yang bisa saya bantu?"


"Kalau aku keluar sebentar boleh ya bi!"


Melihat ekspresi bibi saja sudah membuatnya tahu bahwa akan sulit,


"Cuma di restoran bawah aja bi, serius!" Zea mengacungkan kedua jarinya.


"Kalau begitu bibi temenin ya!?"


"Kok gitu bi, aku kan cuma bentar. Lagian perginya juga sama Anha. Bibi tahu kan Anha, temen aku yang ada di lantai delapan?!"


"Tapi saya tidak bisa meninggalkan ibuk sendiri, saya bisa di marahi bapak nanti!"


"Nggak akan, asal bibi nggak ngomong! Boleh ya bi, please!!!"


"Tapi buk_!"


"Janji nggak sampai satu jam, kalau sampai aku belum kembali setelah satu jam, bibi boleh deh cari aku di restauran bawah!"


Setelah Zea terus memaksa akhirnya bibi pun setuju.


"Terimakasih bi, aku siap-siap dulu ya!"


Zea segera masuk kembali ke dalam kamar, walaupun masih dua jam lagi. Tapi benar-benar tidak sabar untuk keluar, rasanya sudah sangat lama berada di dalam apartemen tanpa boleh keluar.

__ADS_1


Tepat jam dua, Zea pun berpamitan keluar. Ia langsung menuju ke restoran seperti janjinya tadi.


Saat Zea sedang pergi tiba-tiba ponsel bibi berdering, wajah bibi seketika panik,


"Waduh bapak, aku harus ngomong apa!?" gumamnya.


Dengan begitu ragu, ia segera menerima telpon dari Rangga.


"Hallo bi!"


"Iya pak, ada apa ya?"


"Zea ada kan bi, aku telpon dari tadi kenapa tidak di angkat ya? Dia baik-baik saja kan?"


"Anu pak, itu_!"


"Katakan terus terang bi, ada apa?"


"Sebenarnya saya tadi sudah berusaha mencegah ibuk agar tidak pergi sendiri, tapi ibu nggak mau. Katanya cuma ke restauran bawah sama mbak Anha!"


"Tolong kamu susul ya bi, aku tidak tenang. Biar aku telpon dia siapa tahu mau angkat."


"Baik pak, kalau gitu aku pergi dulu pak!"


Rangga pun langsung mematikan sambungan telponnya. Tapi belum sampai bibi keluar terdengar deringan telpon, bibi pun memilih mencari keberadaan benda pipih itu. Ternyata berada di samping televisi sedang di cas.


Ia segera mengangkat telpon dari tuannya,


"Maaf pak, ini bibi. Ternyata ponselnya ibu k di tinggal di rumah!"


"Kebiasaan!"


"Ya sudah cepetan bi, kalau sudah sampai awasi dari jauh saja. Aktifkan video call nya!"


"Baik pak!"


Bibi pun segera meninggalkan apartemen dan menuju ke restauran yang ada di lantai bawah. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat Zea sedang duduk bersama dengan Anha.


Bibi pun segera melakukan video call dengan Rangga.


"Sudah ketemu pak!"


"Bagus, arahkan kamera padanya!"


"Baik!"


Zea benar-benar tidak menyadari kalau kali ini ia sedang di awasi. Ia tetap mengobrol asik dengan Anha,


"Sebenarnya kita nungguin siapa sih An?"


"Ada deh, nanti kamu juga tahu sendiri. Dia itu sedang cari putrinya yang di titipkan di panti asuhan dulu. Dia cari yang seumuran dengan kita, seingat aku memang kamu juga seumuran denganku!"

__ADS_1


"Mudaan kamu satu tahun Anha!"


"Hanya satu tahun, nggak akan ngaruh!"


"Oh iya, kamu kok bisa sama pak Rangga sih. Padahal dulu seingatku kamu cinta mati sama Frans, gimana kabar Frans sekarang?"


"Apaan sih An, itu sudah menjadi cerita masa lalu, dia sudah bahagia sama pasangannya dan aku juga begitu. Aku bersyukur memiliki Rangga di sisiku!"


"Syukurlah. Tapi sungguh kalian dulu sangat cocok. Bahkan kamu rela nggak keluar dari panti cuma gara-gara pengen nungguin Frans kembali. Kamu punya keyakinan jika dia akan kembali!"


"Please ...., nggak usah di bahas lagi ya yang itu. Lebih baik kita bicarakan yang lain saja!"


"Baiklah!"


Akhirnya Anha pun tidak lagi membicarakan tentang kehidupan di masa lalu mereka. Mereka memilih untuk membicarakan beberapa hal yang mereka tidak ketahui belakangan ini.


"Permisi, maaf kami terlambat!" hingga suara seseorang menghentikan percakapan mereka.


Zea dan Anha pun segera berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Tidak perlu sungkan, silahkan duduk kembali!"


Zea pun menggeser duduknya, ia memilih duduk di samping Anha dan berhadapan dengan dua orang pria beda generasi itu.


"Kenalkan ini atasan saya, tuan Seno!"


Ajudan pak Seno memperkenalkan diri sebelum memulai pembicaraan. Zea yang tidak tahu seluk beluk apa yang ingin mereka bicarakan akhirnya memilih diam dan menunggu apa yang akan di bicarakan oleh kedua pria di depannya itu.


"Tidak banyak yang ingin saya tanyakan, hanya beberapa pertanyaan yang sewajarnya saja."


"Tapi maaf tuan Seno, kalau boleh tahu apa hubungan pertanyaan yang akan anda lontarkan dengan keberadaan saya di sini ya?" Zea akhirnya tidak bisa menunggu lagi, ia sudah begitu penasaran. Walaupun Anha sudah menjelaskan sedikit tapi ia tetap tidak mengerti hubungannya dengan dirinya.


"Jadi saya kehilangan bayi perempuan saya sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Dan ternyata ibu dari putri saya telah menitipkannya di panti asuhan tempat kalian besar. Dan berdasarkan data yang saya dapat, nama anda juga terdapat dalam salah satu dari enam anak perempuan yang berusia tiga puluh tahun itu."


"Iya, tapi kenapa saya?" Zea mulai merasakan gemuruh dalam dadanya. Entah perasaan apa itu, ataukan marah, benci, senang karena akhirnya ada yang mencarinya walaupun itu belum tentu dirinya.


Setalah tiga puluh tahun akhirnya ada yang mau menanyakan tentangnya. Di saat teman-temannya di adopsi oleh keluarga yang berada dan dia tetap di biarkan besar di dalam panti asuhan dan tidak ada yang menginginkannya.


Kenapa baru sekarang?


Pertanyaan yang pertama kali muncul membuat dadanya semakin sesak. Saat ia sudah tidak butuh lagi kehadiran kedua orang tuanya dalam hidup yang terbiasa sendiri ini.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2