
Ternyata pria yang tengah di cari itu sedang berada di ruangan khusus, ia tampak menghubungi seseorang.
"Sekarang sudah waktunya, segera antar dia ke sini!"
"Baik tuan, akan segera kami laksanakan!"
Ternyata pria itu tengah menghubungi sopir yang telah merangkap menjadi bodyguard putri kandungnya.
Setelah menutup kembali telponnya, tuan Seno kembali duduk di sofa besar itu dengan ajudan setianya yang berdiri di sampingnya,
"Segera siapkan semuanya, minta MC untuk memulai acara!"
"Baik tuan!"
Ajudan tuan Seno pun segera memberi perintah pada MC untuk memulai acaranya.
Seperti biasa, MC pun segera naik ke atas panggung, menyapa semua undangan yang hadir, beberapa orang yang datang memberi sambutan terutama Divta karena dia menjadi salah satu tamu istimewa di pesta itu.
Beberapa bintang tamu yang sudah di sewa pun bergiliran satu per satu naik ke atas panggung untuk mulai menghibur tamu pun di persilahkan untuk menikmati hidangan yang di sediakan.
Di tempat lain, terlihat Zea sudah mulai keluar dari rumahnya, ia terus saja mengandeng tangan bibi. Tampak wajahnya begitu gugup,
"Bi, bagaimana kalau aku tidak bisa dan mengacaukan semuanya?"
"Tidak akan terjadi, bibi yakin nyonya pasti bisa. Semangat nyonya!"
"Bibi ikut ya!" Zea benar-benar enggan melepaskan tangan bibi,
"Bibi dukung nyonya dari rumah ya." walaupun berat melepaskan nyonyanya tetap saja bibi harus melepaskan genggaman tangan Zea saat ini juga, apalagi terlihat sang sopir sudah memberi kode pada bibi."Nyonya pasti bisa."
"Mari nona, tuan sudah menunggu anda." supir Zea sudah memperingatkannya lagi, ini sudah untuk ke sekian kalinya ia memperingatkan wanita itu.
"Baik." walaupun berat akhirnya semua harus ia hadapi, ia sudah melangkah sejauh ini dan tidak mungkin ia berbalik kembali. Tidak ada pilihan lain jika ia tidak ingin kehilangan suaminya.
Kini Zea sudah duduk di dalam mobil, mobil mewah keluaran terbaru menjadi bukti betapa ia sangat berharga di mata sang papa.
Di tempat pesta, Miska dan mamanya masih sibuk mencari tuan Seno hingga ia menemukan ajudan pribadi suaminya itu di belakang panggung,
__ADS_1
"Tuan mana?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Maaf nyonya, tapi tuan sedang sibuk!"
"Sesibuk apa sih hingga ia tidak bisa di temui oleh istrinya sendiri!?" wanita itu terlihat begitu kesal, ia merasa begitu diabaikan oleh suaminya sendiri. Walau bagaimana pun hubungan mereka tetap saja ia paling tidak suka diabaikan.
"Tuan tengah menyiapkan kejutan untuk nyonya dan nona Miska!" ajudan terpaksa memberikan bocoran agar mereka tidak terus mendesaknya.
Yang mereka tahu acara ini adalah acara peresmian saja tapi mereka tidak tahu ada hal besar lain yang tengah di persiapkan oleh pak Seno. Mereka hanya bisa menduga-duga saja kejutan apa yang tengah di persiapan oleh suami dan papanya itu.
"Baiklah, kalau begitu katakan padanya aku mencarinya!"
"Baik nyonya!"
Nyonya Widya kembali menarik tangan Miska, mereka memilih tempat yang agak jauh dari panggung agar bisa berbicara dengan leluasa,
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu?" tanya nyonya Widya saat melihat putrinya terus tersenyum tanpa mengatakan apa sebabnya.
"Mama nggak peka atau apa sih ma? Mama tahu mungkin saja kejutan ini emang di tujukan buat aku sama Rangga." ucap Miska dengan begitu yakin. Ia benar-benar tidak sabar untuk menunggu kejutan dari sang papa tapi berbeda dengan wanita di sebelahnya itu, ia malah berasa cemas dengan kejutan yang di maksud putrinya.
"Mama ini ngomong apa sih ma? Mama lihat itu ada orang tua Rangga juga." Miska mengajar tangannya sebatas dada dan meregangkan telunjuknya, menunjuk pad ketiga orang yang tengah duduk di salah satu bangku, "bukankah hal yang langka juga sampai papa juga mengundang mereka, papa selama ini tidak pernah berkeinginan untuk melibatkan mereka dalam hal apapun dan hari ini_!"
"Justru hal itu Miska, sejak kapan papa kamu merestui hubungan kamu sama Rangga setelah tahu Rangga sudah punya istri? Dia yang paling menentang hubungan itu." nyonya Widya terus saja meyakinkan putrinya.
Percakapan mereka terpaksa terhenti karena dari arah pintu masuk, seorang tamu yang baru saja datang cukup menyita perhatian sebagian besar tamu, mereka cukup kagum dengan kecantikan dan gaun yang tengah ia kenakan,
"Ma, bukankah itu Zea?" Miska sampai syok melihatnya, "Papa juga mengundang dia?"
"Mama bilang juga apa, pasti papa kamu punya rencana lain." omel nyonya Widya tapi sepertinya Miska tengah tidak mendengarkannya, ia hanya tengah fokus pada pria yang menatap Zea tanpa berkedip itu.
"Ini tidak bisa aku biarkan." gumamnya pelan, "ma, aku ke tempat Rangga bentar." Miska dengan cepat meninggalkan mamanya tanpa berminat untuk mendengarkan apa yang di katakan oleh mamanya.
Miska benar-benar terkejut dengan kedatangan Zea, ia tidak pernah mempersiapkan hal ini bahkan ia datang dengan gaun yang begitu cantik, gaun yang kemarin menjadi rebutan antara dirinya dengan Zea.
Miska dengan cepat melingkarkan lengannya di lengan Rangga, "Sayang, maaf ya aku tinggal lama tadi."
"Hmmm!" bahkan pria itu menjawab tanpa berminat untuk menatap wanita di sampingnya.
__ADS_1
Kedua orang tua Rangga pun tidak kalah terkejut, ia sampai berdiri melihat kedatangan Zea,
'Zea ...' istri pak Beni itu sampai kagum dengan penampilan baru Zea, "Itu benar Zea kan pa?"
"Menurut mama?" pak Beni tidak berniat untuk memberi penjelasan pada istrinya itu, kalau menyangkut Zea istrinya itu tidak pernah tertarik tapi sepertinya hari ini beda.
"Bagaimana bisa_?" ia bahkan tidak bisa melanjutkan pertanyaannya sendiri.
Meskipun perutnya terlihat sedikit berisi tapi tidak menutupi kecantikannya malah terlihat lebih seksi, senyumnya mengembang dan begitu anggun, beberapa tamu saling bertanya perihal siapa yang baru saja datang,
"Kayaknya kita belum pernah melihat wanita itu?"
"Benar, apa mungkin dia putri salah satu pengusaha di sini yang lama di luar negri?"
"Mungkin saja, tapi dia begitu cantik!"
Ersya yang melihat kedatangan Zea segera menghampirinya,
"Kamu cantik Zea!" bisiknya sambil merangkul tangannya Zea.
"Terimakasih nona, nona Ersya juga begitu cantik!"
"Walaupun dengan perut besar ini?" Ersya mengusap perutnya sendiri yang jelas jauh lebih besar dari perut Zea.
"Iya, tampak lebih seksi. Lihat saja tuan Div sampai tidak mampu berkedip saat nona menjauhinya." Zea benar-benar pandai memuji.
"Sepertinya Rangga juga begitu." mendengar ucapan Ersya, Zea jadi terpancing untuk melihat ke arah Rangga, meskipun sekarang Miska sudah berada di sampingnya tetap saja tatapannya tertuju padanya. Zea tersenyum mengetahui kenyataan itu. Walaupun jauh tapi ia sudah merasa menang sekarang.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah **semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰**...
__ADS_1