Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Keguguran


__ADS_3

Akhirnya mereka sampai juga di depan gedung rumah sakit itu. Ersya segera turun dari mobil dan di ikuti oleh Divta. Mereka menuju ke IGD.


Ia bisa melihat Wilson di depan ruang IGD.


"Wil ...., gimana Felic?" tanya Ersya.


"Nyonya masih di tangani di dalam, tuan juga di dalam!"


Divta yang mengenali Wilson segera terpaku.


"Wilson?"


"Tuan Div!"


"Jadi ..., Fe itu ...?"


"Istri tuan dokter, tuan!"


"Kenapa aku bisa tidak menyadarinya!" gumam Divta.


Ersya yang melihat Wilson begitu hormat pada Divta jadi bingung sendiri.


“Jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Ersya.


"Iya nona! Dia tuan Divta!" jawab Wilson.


"Tuan ....?!"


Ersya hanya menatap Divta dan Wilson bergantian. Divta kembali bertanya pada Wilson.


"Apa yang terjadi?” tanya Divta


"terjadi incident dengan kandungan nyonya Felic, tuan!”


"Apa yang lainnya sudah tahu?"


"Sepertinya belum tuan, tuan dokter sama sekali tidak keluar dari tadi!"


"Baiklah saya akan menghubungi yang lainnya!"


Divta pun segera menjauh, ia menghubungi Agra dan Rendi. Mungkin saat ini dokter Frans butuh dukungan dari mereka.


Setelah menghubungi kedua sahabat dokter Frans, Divta kembali menghampiri Ersya yang sedang duduk dengan wajah cemasnya.


"Jangan khawatir, semua pasti akan baik-baik saja!"


“Bagaimana tidak khawatir, ini salah ku, aku harusnya jaga dia tadi! Tapi aku malah sibuk sendiri ....!"


Divta kembali menatap pintu itu, tapi tidak juga ada pergerakan, mereka di sana sudah satu jam.


Tidak berapa lama, pintu itu terbuka, Ersya segera bangun dari duduknya dan menghampiri pintu itu.


"Fe ....!"


"Nyonya Felicia akan di pindahkan di ruang perawatan!" ucap suster yang mendorong ranjang Felic.


Ersya pun mengikuti kemana para perawat itu membawa Felic. saat sampai di dalam, perawat itu meminta Ersya untuk tidak menggangunya.


"Suster …!”


‘Maaf nyonya …, biarkan nyonya Felic istirahat dulu!”


Saat perawat itu hendak meninggalkan kamar Felic, Ersya kembali menghentikannya.


"Suster ....!"


"Iya?"


"Apa kandungannya baik-baik saja?"


"Nyonya Felicia kehilangan bayinya, nyonya!"


"Felic keguguran?"


"Iya nyonya!"


Ersya benar-benar terkejut dengan berita itu, ia benar-benar tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini, sahabatnya itu sangat mengharapkan kehadiran buah hatinya lahir.


"Tapi saya boleh menemaninya di dalam kan?" tanya Ersya lagi sebelum para perawat itu benar-benar meninggalkan ruangan.


"Silahkan nyonya!"


Setelah para perawat itu keluar, Ersya pun segera duduk di samping Felic yang masih tidak sadarkan diri.


"Fe ...., maafkan aku ya ....!"


Ersya mengusap wajah pucat sahabatnya itu.


"Aku yang salah ...., maafkan aku!"


Ersya benar-benar sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia harus melihat sahabatnya kehilangan bayinya, sedang kan dia masih belum bisa merasakan menjadi seorang ibu.


***


Divta yang tidak melihat dokter Frans juga keluar dari ruang IGD ia pun memutuskan untuk menghampirinya.


"Dokter!" sapa Divta pada dokter Sifa yang keluar.


"Iya?"

__ADS_1


"Apa Frans masih di dalam?"


"Iya tuan, dokter Frans masih sangat syok di dalam, bahkan ia tidak melepaskan janinnya dari tadi!"


"Boleh saya masuk?"


"Silahkan tuan!"


Divta pun masuk ke dalam ruang IGD, ia segera mendekat pria yang sedang terdiam di tempatnya sambil memegang baskom itu.


“Frans…!”


Dokter Frans hanya menoleh padanya sebentar.


Divta bisa melihat apa yang terjadi saat ini, pria itu kehilangan buah hatinya yang bahkan belum sempat dilahirkan ke dunia.


Janin yang masih sebesar jempol tangan itu terus saja ia tatap, bahkan bukan lagi air mata yang keluar.


Divta mengusap punggung dokter Frans.


“Sabar Frans …, Tuhan lebih sayang sama anak kamu! Kuatkan hati kamu, istri kamu lebih butuh dukungan mu saat ini!”


"Baru kemarin aku mendengarkan detak jantungnya dan sekarang dia ada di sini tanpa nafas, bagaimana aku bisa merelakan ini begitu saja!"


"Jangan biarkan kesedihanmu itu kelemahan untuk istri kamu!"


"Frans .....!"


Dua orang datang menghampiri mereka, dia adalah Agra dan Rendi. Setelah mendapat kabar dari Divta, Agra dan Rendi segera datang.


"Kalian!?"


"Aku yang memberitahu mereka!"


Agra dan Rendi pun mendekat pada dokter Frans.


"Frans ...., aku percaya kamu kuat! Allah lebih sayang sama dia, jadi relakan dia!" ucap Agra sambil memeluk sahabatnya itu.


Kali ini dokter Frans tidak mampu menahan air matanya lagi, ia benar-benar menumpahkan air matanya di bahu sahabatnya.


“terimakasih!" ucap dokter Frans setelah mampu menguasai perasaannya lagi.


Dokter Frans kembali bangun dan mengambil lagi nampan itu, memasukkannya di dalam kardus.


"Aku harus memakamkannya dulu!” ucap dokter Frans.


"Kami akan menemanimu!" ucap Agra.


“Baiklah …!”


Akhirnya Agra dan Rendi menemani dokter Frans ke makam, tidak lupa dokter Frans juga menghubungi ayah Dul untuk membantu memakamkan janinnya.


"Bagaimana keadaan Felic?"


"Dia belum sadar! Di mana suami Felic?"


"Mereke harus memakamkan janin Felic!"


"Mereka?"


"Frans dan sahabat nya!"


Divta pun memilih duduk tidak jauh dari Ersya, tidak ada siapapun lagi di sana hany mereka bertiga. Wilson juga ikut bersama dokter Frans ke makam.


"Apa kau akan menginap di sini?" tanya Divta setelah melihat jam ternyata sudah jam tiga pagi.


"Iya ...., kasihan kalau Fe sendiri, aku akan menemaninya sampai sadar!"


Ternyata Ersya memilih untuk tetep di rumah sakit untuk menjaga sahabatnya itu.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya, aku akan kembali lagi besok!"


"Iya ....!"


Divta pun meninggalkan rumah sakit, ia tidak mungkin mengabaikan Divia di rumah sendiri. Divia pasti akan marah kalau sampai dia tidak pulang.


***


Sesampai di rumah, Divta langsung menuju ke kamar putrinya. Ia melihat putrinya itu sudah tertidur pulas di kamarnya.


"Maaf ya princess nya daddy, Daddy pulang telat lagi!"


"Daddy adalah daddy yang paling beruntung di dunia ini, Tuhan mengirimkan putri secantik kamu, maafkan daddy ya sayang karena Daddy belum bisa jadi daddy yang baik buat kamu!"


Cup


Divta meninggal kan kecupan di kening putrinya itu dan kembali keluar. Ia tidak mau membuat tidur putrinya terganggu.


Saat Divta keluar dari kamar itu, pengasuh Divia ternyata sudah bangun.


"Tuan, mau saya siapkan makanan untuk tuan?"


"Tidak usah, saya mau langsung tidur saja!"


"Baik tuan!"


Divta sudah hampir masuk ke dalam kamarnya tapi langkahnya segera terhenti.


"Sus ...!"

__ADS_1


"Iya tuan?"


"Apa Divia rewel semalam?"


"Tidak tuan, nona Divia senang sekali melihat tuan bersama calon istri tuan!"


"Apa ...., Divia melihatnya?"


"Iya tuan!"


Kenapa jadi tambah runyam gini ...., aku harus ngomong apa sama dia ....


"Tuan ....!"


"Pergilah ....!"


Divta pun segera masuk ke dalam kamarnya, ia harus memejamkan matanya, barang satu atau dua jam.


***


Setelah matahari terbit, Dokter Frans mensucikan Janin itu dan membungkusnya dengan kain kafan kecil. Ia di bantu Agra dan Rendi serta ayah mertuanya segera membawa janin itu ke pemakaman dan memakamkannya di samping ayahnya.


"Ayo Frans ...!"


"Tinggalkan aku sendiri dulu ....!"


"Baiklah ...., kami akan menunggu di mobil!"


Kini tinggal dokter Frans di pemakaman.


“ayah …, tolong jaga dia ya, dia cucu ayah!”


Ia sengaja menjadikan satu makan kedua orang yang ia sayangi itu.


Ia masih ingat betapa ayahnya sangat menyayanginya di waktu kecil.


***


Di tempat lain, nyonya Tania sedang duduk di dalam kamarnya menunggu suaminya.


Bagaimana aku bisa, dia putra ku ....., batin nyonya Tania sambil melihat beberapa berita tentang pria yang selama ini ternyata putranya.


Suaminya baru saja keluar dari kamar mandi dan menyusulnya ke atas tempat tidur.


"liat berita apa sih ma?"


"Bukan apa-apa pa!"


Nyonya Tania pun segera meletakkan ponselnya di atas nakas dan meletakkan bantal di belakang punggung suaminya.


"Gimana pa?"


“Hahhhhh …!” pria dengan keriput di wajahnya itu tampak menyimpan beban yang begitu besar.


"ada apa pa? Apa masalahnya sangat besar?”


“Papa bingung ma, Tisya sudah membuat kesalahan besar! Kamu tahu istri pemilik rumah sakit FrAd hospital mengalami keguguran gara-gara kejadian kemarin!”


“benarkah …?”


Ya Tuhan …, aku yang membuat bayinya celaka …., dia pasti akan semakin membenciku …., tapi aku rasa ini bagus ...., sepetinya wanita itu bukan wanita baik-baik!


"Iya ma ...., aku benar-benar pusing harus gimana?"


"Bagus dong pa!"


"Maksud mama?"


"Hah ...., bukan pa! Maksud ku bagus cuma keguguran pa, coba jika lebih parah dari itu!"


"Ini sudah menimbulkan masalah ma!”


“Memang siapa pa pemilik FrAd Medika?”


“Namanya dokter Frans Aditya!”


“Frans …, Aditya …?”


Dia benar-benar anakku ......


“mama kenal?” tanya tuan Bactiar.


“Nggak pa …!”


"Mama yakin?"


"Iya pa ...., mama mau tidur pa!"


Nyonya Tania memilih merebahkan tubuhnya. Ia tidak mau kepikiran dengan semua itu. Ia harus meyakinkan sesuatu.


...Kadang yang membuat seseorang cemas bukan karena masalah yang sedang ia hadapi tapi yang sering membuat cemas adalah hal yang belum terjadi, Jadi tetaplah berpikir positif~DTIS...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2