
Tisya masih sangat terkejut dengan ucapan Tisya, ia benar-benar tidak tahu jika Wilson tidak makan demi dia.
"Bodoh sekali ....!" ucap Tisya sambil kembali menyendok soto ayamnya yang masih tersisa setengah.
"Bukan bodoh ..., itu namanya aku tanggung jawab terhadapmu!"
"Cie ....., belum apa apa sudah ngomongin tanggung jawab!" ucap Tisya menggoda Wilson.
Wilson yang merasa telah salah bicara jadi salah tingkah sendiri, ia sampai terburu-buru meminum teh hangatnya.
"Jangan mikir macam-macam ...., bukan begitu maksudku!"
"Kalau begitu juga nggak pa pa!" ucap Tisya dengan entengnya.
Huks huks huks
Wilson sampai tersedak minumannya gara-gara ucapan Tisya, Astagfirullah ...., Tikus ini kalau ngomong memang nggak ada saringannya ya .....
"Kamu kenapa Wil ...., aku kan cuma becanda ...., serius amet jadi orang!"
Wilson pun menatap tajam pada Tisya, ia benar-benar tidak suka dengan sikap Tisya yang seperti ini.
"Kamu tahu ...., gara gara cara becanda mu yang seperti ini yang bisa membuat hubungan orang lain rusak!" ucap Wilson dengan penuh penekanan.
"Aku tahu kemana arah pembicaraan mu ya ...., bukan salahku kalau mereka berpisah, aku juga nggak dapat mas Rizal!" ucap Tisya yang merasa tersinggung dengan ucapan Wilson dan berdiri meninggalkan Wilson yang masih terpaku melihat kemarahan Tisya.
Tisya sudah berjalan lebih dulu dengan penuh kemarahan. Wilson pun segera meninggalkan makanannya yang masih sisa separo dan melakukan pembayaran.
"Ambil semua saja Kang!" ucap Wilson sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
Wilson segera berlari menyusul Tisya yang sedang marah itu. Wilson segera berlari dan menarik tangan Tisya agar berhenti.
"Lepasin!"
"Aku bilang berhenti!"
Tisya pun terpaksa berhenti, ia tidak bisa melepaskan tangan Wilson juga.
"Kamu pasti menertawakan ku kan! Menertawakan Tisya si pecundang, perebut suami orang yang ternyata di campakkan oleh tunangannya? Iya kan?"
Air mata Tisya sudah meleleh, setiap mengingat bagaimana ia di campakkan berhasil membuat air matanya leleh.
Melihat air mata Tisya, Wilson merasa semakin bersalah, Dia bisa menangis juga ternyata, apa aku sudah keterlaluan ....
Srekkkkk
Wilson pun segera menarik Tisya kedalam pelukannya, Tisya berusaha keras untuk melepaskannya dengan beberapa kali memukul dada Wilson tapi Wilson tidak peduli, instingnya hanya mengarahkannya untuk memeluk gadis di depannya itu.
"Lepas Wil ...., lepas ....!" ucap Tisya di sela air matanya.
"Maafkan aku ...!" ucap Wilson.
Kini akhirnya Tisya menyerah, ia membiarkan tubuh Wilson menjadi tempatnya bersandar, air matanya juga sudah membasahi dada Wilson.
"Maafkan aku, kemeja mu basah!" ucap Tisya saat sudah melepaskan pelukan Wilson, tangannya sibuk mengusap kemeja Wilson dengan kaosnya hingga membuat perutnya terasa buka.
"Sudah sudah cukup ....!" ucap Wilson sambil menahan kaos Tisya agar tetap tertutup.
"Apa sih Wil ...., aku udah baik loh ini ...!"
__ADS_1
"Iya ...., kamu itu terlalu baik, lihat pria pria di sini pada liatin perut kamu tuh ...!"
"Cuma perut doang, ini sudah biasa Wil! Aku biasa pakek bikini untuk pemotretan!" ucap Tisya yang sudah kembali ke sifat awalnya.
...Ahhhh ...., mulai kan menyebalkannya ......
"Ah ..., sudahlah ...., ayo kita pulang!" ucap Wilson yang memilih menyerah dengan sikap Tisya.
Mereka pun akhirnya kembali menuju ke tempat di mana mobil mereka terparkir, semakin sore Taman kota semakin ramai pengunjung.
"Masuklah ...!"
"Ada angin apa nih, nggak biasanya kamu membukakan pintu mobil untukku!?"
"Agar meminimalisir kerugian!" ucap Wilson.
"Kerugian apa?"
Masih tanya lagi, sudah tahu mengumbar aurat bisa mendatangkan pria hidung belang ....
"Sudah jangan banyak bertanya, cepetan masuk atau mau aku tinggal!?"
"Iya iya ...., baiklah ...! Bawel!"
Akhirnya Tisya pun segera masuk dan Wilson berlari mengitari mobilnya dan masuk melalui pintu lainnya.
Mobil kembali melaju meninggalkan taman kota, hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah Wilson.
Setelah mobil sampai di halaman, Tisya pun segera keluar dari dalam mobil dan tidak lupa mengambil baper bag yang ada di bangku belakang.
Wilson turun belakangan, ada sesuatu yang harus ia laporkan kepada dokter Frans tentang informasi yang baru saja ia dapat.
Wilson pun mengirim pesan itu, sambil menunggu balasan dari dokter Frans, tidak butuh waktu lama notif pesan masuk.
//Apa kamu sudah tahu perjanjian apa itu?//
Wilson kembali mengetikkan jawabannya.
//Maaf tuan, saya belum mendapatkan informasi secara detailnya//
Wilson kembali mengirimkan pesannya dan kembali mendapatkan balasan.
//Cari tahu detailnya ...//
Wilson kembali membalasnya.
//Baik tuan//
Setelah memastikan tidak ada pesan lagi, Wilson segera menyakukan kembali ponselnya dan turun dari mobil.
Wilson pun segera masuk ke dalam rumah, Tisya sudah berada di dapur dengan membawa segelas air di tangannya. Ia bersandar pada meja dapur sambil memainkan ponselnya, melihat sosial media miliknya.
Ia sekarang memang sudah tidak seaktif dulu dalam bersosial media, tapi ia masih suka intip intip. Rasanya belum siap menerima segala hujatan akan akan ia dapat, namanya sudah sangat jelek gara-gara ulah papanya.
Wilson yang melihat hal itu segera menghampiri Tisya, ia mengambil gelas kosong yang ada di rak piring dan meletakkannya di bawah galon, mulai memencetnya dan air keluar dari sana.
Tisya begitu serius hingga ia tidak menyadari keberadaan Wilson di sana.
"Serius amat ...., liatin apa sih?" tanya Wilson sambil ikut bersandar di samping Tisya.
__ADS_1
"Eh ..., ini ...., cuma sosial media aku!"
"Nggak usah mikirin haters! Nanti juga ngilang sendiri mereka!"
"Enggak ...., siapa juga yang mikirin! Seharusnya aku memang mikirin nasib aku nih dari model terkenal sekarang malah terjebak jadi asisten rumah tangga! parah nggak?"
"Ya itung-itung mendalami peran, nggak usah ngeluh!"
Mereka pun kembali terdiam, Wilson mulai meneguk air putihnya sedangkan Tisya kembali fokus dengan ponselnya.
"Maira tadi mengatakan tentang perjanjian antara kamu dengan tuan Bactiar!" ucap Wilson. Hal itu berhasil membuat Tisya benar-benar terkejut sampai harus menjauhkan ponselnya.
"Perjanjian?" tanya Tisya,
Kenapa Wilson bisa tahu sih ....? Apa ini artinya kak Frans juga tahu ...., gimana nih ....
"Iya!"
"Bukan hal yang serius! Jadi nggak usah di pikirin, aku bakal menyelesaikan semuanya!"
Masih ada waktu dua hari lagi kan ....
"Jika ada masalah kamu bisa bicara sama aku!" ucap Wilson meyakinkan.
"Enggak .....! serius bukan hal yang penting, hanya perjanjian-perjanjian biasa!"
"Yakin ....?"
"Iya ..., bawel!" ucap Tisya sambil berlalu meninggalkan Wilson.
"Ehhhh tikus ..., mau ke mana?" tanya Wilson membuat Tisya kembali menoleh padanya.
"Ya mau tidur lah di kamar!"
"Enak aja ...., kamu itu di sini di gaji buat kerja bukan buat tidur! Lihat nih dapur kotor, lantai kotor ....!
Jangan istirahat kalau belum selesai semua pekerjaan, aku akan ke kamar dan dua jam lagi akan kembali mengecek apa pekerjaanmu sudah selesai apa belum, jadi jangan lelet!"
"Ihhhhh ...., ngeselin banget sih!" gerutu Tisya kesal.
Wilson hanya tersenyum, ia berjalan dan mengambil sapu yang bersandar di dinding yang ada di antara meja dapur dan lemari pendingin.
"Nih sapu nya ....!" ucap Wilson sambil meletakan sapu itu tepat di dada Tisya hingga membuat tubuh Tisya terdorong ke belakang dengan otomatis tangan Tisya meraih sapu itu.
"Sapu sampai bersih!"
Wilson pun segera meninggalkan Tisya dan menuju ke kamarnya meninggalkan Tisya yang begitu kesal.
"Ihhhh menyebalkan!" gerutu Tisya sambil beberapa kali menjejakkan kakinya.
"Sudah tahu aku lagi kesal, sedih, banyak pikiran masih juga di cekokin sama pekerjaan ...., di rumah sakit aku udah di suruh- suruh nggak di kasih makan lagi ...., sekarang masih di tambah suruh bersih bersih lagi ...., tega bener tuh orang ...!" gerutu Tisya sambil menyapu seluruh ruangan.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰