Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (117. Pengakuan mama)


__ADS_3

Rangga benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengan mamanya. Sepulang kerja ia langsung pulang ke rumah orang tuanya tanpa menunggu lama.


"Pa, mama mana?" Rangga yang melewati papanya segera bertanya.


"Tumben kamu nanyain mama kamu, tuh mama kamu sedari kemarin nggak keluar kamar, tiap kali papa tanya bilangnya nggak ada apa-apa."


Tanpa menanggapi ucapan sang papa, Rangga dengan cepat berlari menuju ke kamar mamanya, ia membuka kasar pintu kamar mamanya,


"Ma!?"


Teriakan Rangga berhasil membuat wanita paruh baya yang tengah duduk membelakangi pintu itu menoleh padanya, "Ada apa sih Ga, datang-datang langsung teriak. Mama masih belum budek!"


Rangga tidak peduli dengan ucapan sang mama, ia tetap menatap mamanya dengan wajah dingin, "Sekarang jelaskan sama Rangga, mama punya hutang apa sama nyonya Widya?"


Pertanyaan itu berhasil membuat sang mama berdiri dan menatap Rangga dengan tatapan menyelidik, "Kamu ini bicara apa sih? Pasti ini semua gara-gara wanita itu kan, dia sudah pengaruhin kamu supaya membenci mama kamu, iya kan?"


"Mama salah, Zea tidak pernah melakukan hal itu sama Rangga. Justru Rangga beruntung karena Zea mau cerita sama Rangga soal pembicaraan mama dengan nyonya Widya!"


Ternyata keributan itu di dengar oleh pak Beni, pak Beni pun segara menyusul mereka di kamar.


"Kalian ada apa sih? Kenapa ribut-ribut seperti ini?" tanya pak Beni setelah ia melihat putra dan istrinya tengah berdebat hebat, kemudian ia menatap pada putranya itu " Dan kamu Rangga, kenapa datang-datang langsung marah-marah?"


Rangga yang masih terbakar emosi sampai tidak lagi memikirkan tentang kesopanan, ini untuk pertama kalinya ia bicara kasar pada sang mama,


"Tanyakan sendiri sama istri papa ini?"


Melihat kemarahan sang putra, pak Beni jadi tahu kalau kali ini Rangga benar-benar serius, ia kembali menatap istrinya yang tengah tertunduk dan menangis, rasanya sakit di bentak oleh putranya sendiri, putra yang telah ia besarkan dengan tangannya sendiri,


"Ada apa sebenarnya?" pak Beni menghampiri sang istri dan mengusap punggungnya, "Ada apa ma?" tanyanya lagi.


"Rangga sudah salah faham pa sama mama!" ia masih berusaha untuk membela diri walaupun ia juga sadar kalau ia salah. Tapi mungkin dengan begitu Rangga tidak akan mencercanya lagi.


"kalau kalian tidak mau menjelaskan, mana papa tahu!" Pak Beni semakin bingun di buatnya, ia kembali menatap putranya yang terlihat begitu marah itu, bahkan sekarang wajahnya sampai memerah karena menahan amarah, otot-otot wajahnya seakan mau keluar, "Jelaskan Ga!" pak Beni tidak ingin memihak salah satu, ia harus tahu duduk perkaranya dulu baru menentukan sikap.


"Mama punya hutang sama nyonya Widya, pa!" Rangga kembali menatap mamanya, ia bahkan menunjuk mamanya dengan jari telunjuknya, "Itulah kenapa mama ngotot mau nikahkan Rangga sama Miska, iya kan ma? Jawab!" bentaknya lagi.

__ADS_1


"Ga, mama memang mau jodohin kamu sama Miska karena menurut mama Miska yang paling tepat buat kamu!" mama Rangga masih berusaha untuk mencari pembelaan.


Rangga tersenyum getir, "Benarkah seperti itu? Atau biar mama nggak perlu bayar hutang?"


Pak Beni kembali menatap istrinya, dan memastikan apa yang di katakan Rangga itu benar, "Benarkah seperti itu ma?"


"Seharusnya kamu bersyukur Rangga, Miska itu putri orang kaya, itu bukan hal buruk Rangga, kesempatan ini tidak akan datang dua kali!"


"Tega sekali sih mama sama Rangga! Itu sama artinya mama jual anak mama sendiri!"


Sekarang pak beni mulai tahu, ia menatap tajam pada istrinya, sepertinya ia juga sama marahnya dengan Rangga, "Apa benar yang di katakan Rangga, ma!"


Hal itu membuat mama Rangga benar-benar tidak bisa mengelak lagi, ia hanya bisa menunduk dan menyesali semuanya,


"Ma, katakan yang sejujurnya!" bentak pak Beni hingga membuat mama Rangga benar-benar menangis dan berlutut di kaki suaminya. Rangga mundur dan duduk di kursi kecil di depan meja rias. Ia hanya bisa mengusap kasar wajahnya, seakan masih tidak percaya jika mamanya bisa Setega itu padanya.


"Maaf pa, mama benar-benar tidak sengaja!" rancaunya sambil menangis. Pak Beni berusaha melepaskan tangan istrinya yang melingkar di kakinya.


"Cukup ma, sekarang jelaskan sama papa!" pak Beni meminta istrinya untuk berdiri, ia menarik kedua bahu istrinya agar berdiri dan menatap padanya.


"Jadi maksud mama?"


"Iya pa, mama tergiur dengan bisnis yang di tawarkan teman mama. Tapi mama tidak tahu ternyata mama di tipu ratusan juta pa. Mama menggadaikan toko milik kita!"


"Astaghfirullah ma, tega sekali mama!"


"Maaf pa!"


"Lalu apa hubungannya dengan nyonya Widya?"


"Saat itu tiba-tiba Widya datang dan menawarkan bantuan. Dia membantu melunasi hutang mama tanpa syarat, ia hanya mengatakan kalau akan meminta imbalannya kalau sudah waktunya, tapi mama tidak tahu ia akan minta Rangga buat nikah sama putrinya. Aku pikir saat itu, itu bukan ide yang buruk karena memang mereka dari keluarga baik-baik!"


"Tapi mama kan tahu kalau rangga_!" pak Beni tidak melanjutkan ucapannya, ia hampir saja kelepasan mengatakan kalau Rangga sudah menikah. Ia tidak mau sampai melihat Rangga kambuh.


Akhirnya mereka pun terdiam. Pak Beni memilih duduk di salah atau tepi tempat tidur, ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana nasib keluarganya jika sampai Rangga benar-benar akan menikah dengan Miska. Putra satu-satunya yang ia miliki akan di kuasai oleh wanita ular itu.

__ADS_1


Pak Beni menikah ke agar Rangga yang sudah duduk dari tadi di kursi kecil yang ada di depan meja rias. Rangga terlihat beberapa kali menyunggar rambutnya dengan jari-jarinya. Mengusap wajahnya kasar, mencoba untuk mencari solusi atas masalah itu.


"Berapa hutang mama?" tanya Rangga setelah sekian lama terdiam.


"Liam ratus juta, tapi ternyata Widya meminta bunganya juga. Karena sudah hampir sepuluh tahun jadi bunganya bertambah dua kali lipat."


"Maksudnya satu setengah milyar?" Rangga benar-benar terkejut di buatnya, bahkan tabungannya tidak sampai sebanyak itu dan mamanya hanya bisa mengangguk pasrah.


"Rangga mau dapat uang dari mana sebanyak itu ma, mama ini ada-ada aja."


"Makanya, mama mau kalian menikah saja. Bukan hal yang berat kan? Dari pada harus mencari uang sebanyak itu Ga. Mama sudah menjual semua perhiasan mama, tapi bahkan jumlahnya tidak sampai lima puluh juta."


Pak Beni menatap tajam pada Istrinya, jelas dia tidak akan setuju untuk menikahkan putranya dengan miska,


"Tidak, papa tidak akan pernah setuju. Kita harus cari solusinya dulu!" pak Beni pun kembali menatap putranya.


"Ga, papa masih punya tabungan. Jika kita menggabungkan tabungan kita, mungkin kita bisa melunasinya!"


"Tapi pa_!"


"Yang penting kamu terbebas dari wanita itu, papa tidak rela punya menantu wanita ular itu! Kalau perlu papa akan jual toko papa."


"Jangan pa!"


"Toko itu tidak lebih penting dari pada kamu, putra papa. Kalaupun papa harus kehilangan semua harta papa, papa rela!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2