Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (111. Mengunjungi Zea)


__ADS_3

Rangga dengan cepat kembali ke apartemen, kali ini ia benar-benar berharap tidak bertemu Miska di sana.


Benar saja, saat ia masuk wanita itu sudah tidak di tempat, "syukurlah." gumamnya dan dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Ia segera membersihkan diri, ia juga mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai, celana jeans hitam yang di padukan dengan jamper berwarna putih, rambutnya di biarkan basah hingga terlihat lebih segar.


Dengan langkah pasti, ia mengambil dompet, ponsel dan kunci mobil yang tadi ia tinggalkan di atas nakas samping tempat tidur.


Sesekali terdengar siulan dari bibirnya, seolah menandakan kalau suasana hatinya tengah bahagia. Bahkan ia melihat pantulan dirinya di cermin kesekian kali sebelum benar-benar meninggalkan kamarnya.


Ia berjalan menyusuri lorong dan berhenti tepat di depan pintu lift, bibirnya benar-benar tidak berhenti tersenyum, hingga pintu lift terbuka dan i memasuki lift bersama beberapa orang di dalamnya yang sepertinya dari lantai di atasnya.


Mobil sudah terparkir di depan karena ia sengaja tidak memarkirkannya di basement agar lebih mudah saat ia pergi lagi.


"Sumringah sekali pak Rangga, ada apa ini?" tanya pria yang di mintai tolong Rangga untuk menjaga sebentar mobilnya. Dia adalah menjaga apartemen itu.


"Biasa aja pak."


"Wajahnya tampak beda Lo pak Rangga!"


"Mungkin cuma perasaan bapak saja, ya sudah saya pergi dulu. Terimakasih ya pak."


"Sama-sama!"


Tampak Rangga menyerahkan uang satu lembar lima puluh ribuan, "Buat jajan pak!"


"Ya ampun ...., terimakasih banyak mas Rangga!"


Rangga hanya menanggapinya sambil tersenyum. Ia segera berlalu dengan mobilnya. Hal yang ia lakukan selanjutnya adalah berhenti di toko buah.


"Buk, buah yang biasanya di sukai ibu hamil apa ya?" jelas Rangga tidak banyak hal tentang ibu hamil. Yang ia pikirkan saat ini adalah memberi yang terbaik untuk Zea dan bayinya.


"Biasanya suka yang asam-asam mas." ucap penjual buah yang memang sudah terbiasa dengan permintaan ibu hamil.


"Contohnya?"


"Mangga muda, jeruk, anggur, apel, pir, anggur, kedondong!"


"Ya sudah, saya mau semuanya!"


Setelah mendapatkan apa yang ia cari. Rangga segera melajukan kembali mobilnya, kali ini tempat yang ia tuju adalah rumah Zea.


Mobil akhirnya sampai juga di depan rumah Zea, ia masih harus melewati penjaga yang berjaga di depan pagar tinggi itu. Tanpa berniat untuk turun, ia menurunkan kaca mobilnya. Seorang penjaga menghampirinya, wajah Rangga tentu bukan wajah yang asing bagi para penjaga karena beberapa hari ini Rangga yang selalu mengantar Zea pulang.


"Ada yang bisa di bantu?"


"Zea nya di rumah?"


"Ada tuan, sebentar saya akan mengatakan dulu sama nona Zea!" penjaga itu tampak kembali dan melakukan panggilan dengan sambungan telpon ke dalam rumah. Terlihat dia tengah bicara dengan seseorang tidak berapa lama ia kembali menghampiri Rangga.


"Silahkan masuk tuan!"


Penjaga lain juga tanpa membukakan pagar tinggi itu. Ternyata saat Rangga sampai di halaman depan pintu utama terlihat Zea Sudja tersenyum menyambutnya di teras rumah.


"Rangga, ada apa?" Zea benar-benar merasa begitu senang di hari Minggu bahkan rangga menemuinya.


"Aku_, aku_!" Rangga begitu grogi, ia merasa jantungnya seperti mau lepas dari tempatnya, bahkan bibirnya sampai sulit untuk di gerakkan.


"Iya?" Zea menunggu apa kelanjutan dari ucapan Rangga.


"Aku, mau ngasih ini." Rangga menunjukkan keranjang buat yang ia sembunyikan di belakang punggungnya.

__ADS_1


"Buah?"


"Iya, biasanya ibu hamil paling suka makan buah, makanya aku kepikiran buat bawain kamu buah."


"Ya ampun kamu baik sekali."


Rangga benar-benar menunggu saat Zea memintanya untuk masuk. Tapi wanita itu tidak segera mempersilahkan ia masuk hingga ia bingung harus mengatakan apa lagi.


"Apa di dalam ada_!" Rangga tanpa mengintip dari balik punggung zea.


"Oh, iya. Di dalam ada papa. Ayo masuk!" Zea segara menarik tangan Rangga .


Akhirnya ....., setelah sekian menit akhirnya Zea mengajaknya masuk. Ia benar-benar khawatir jika Zea tidak mengijinkannya masuk.


"Pa, ini ada Rangga pa!" Zea tampak memanggil papanya, "Duduklah, biar aku panggil papa!"


"Nggak pa pa, jangan. Aku ke sini mau ketemu sama kamu."


"Benarkah? Ya udah biar aku minta bibi buat bikinin minum buat kamu, pasti haus kan?"


"Iya, kalau ada."


"Ada, mau minum apa?"


"Apa aja!"


Zea pun segera masuk kembali tapi ia bukan langsung ke dapur. Ia memilih berhenti di ruang keluarga dan memegangi dadanya. Bibirnya tidak henti tersenyum.


"Ya ampun, Rangga benar-benar ke sini, dia bahkan bawakan buah-buahan buat aku." rasanya seperti mimpi, Zea benar-benar merasa diperhatikan oleh Rangga dan sikapnya juga sangat manis hari ini.


Setelah merasa detik jantungnya stabil, Zea segera pergi ke dapur.


"Bibi mana bi?" ia tidak mendapati bibi di dapur, padahal ia berharap bibi bisa melihat Rangga meskipun dari kejauhan.


"Baiklah tidak pa pa, buatkan dua gelas minuman dingin untuk tamu saya ya bi." pintanya pada pelayan.


Setelah selesai urusannya di dapur, Zea pun kembali menghampiri Rangga. Ia benar-benar tidak mau membuang waktu melewatkan moment berharga bisa berbicara sedekat ini sama Rangga, bicara bukan tentang pekerjaan.


Tidak berapa lama, setalah Zea kembali. Bibi datang dengan membawa dua gelas minuman dingin yang di minta oleh Zea.


"Silahkan tuan minumannya!"


Tapi Rangga malah terpaku melihat bibi yang mengantarkan minuman untuk mereka, wajahnya tentu familiar,


"Bibi!?"


Ternyata pelayang yang mengantar minuman adalah bibi. Pelayan di apartemen mereka, bibi yang merawat Rangga sejak remaja.


"Bapak!?"


Zea pun terkejut, ia benar-benar tidak sadar jika yang mengantar minuman bukan pelayan yang tadi tapi bibi. Ternyata bibi sudah kembali dari kamar mandi, melihat pelayan junior membuat minuman bibi jadi bertanya dan pelayan itu mengatakan kalau membuatkan minuman untuk nyonya Zea.


Pelayan tadi juga mengatakan kalau nona Zea tengah mencarinya tadi dan rupanya ini.


"Bibi di sini?"


Akhirnya bibi pun terpaksa ikut duduk, ia harus menjelaskan semuanya walaupun juga tidak semuanya benar.


"Sebenarnya begini mas Rangga, setelah mas Rangga kecelakaan saya bingung harus bekerja dengan siapa, kemudian saya memutuskan untuk mengikuti nyonya Zea."

__ADS_1


Rangga tersenyum mendengar cerita bibi yang ia tahu tidak semuanya benar, tapi untuk saat ini ia juga tidak ingin memaksa bibi untuk mengatakan semuanya karena ia masih punya misi yang harus di selesaikan.


Terimakasih bi ..., aku tahu bibi sengaja lakuin itu untuk menjaga Zea ..., terimakasih ...,


"Maafkan saya ya mas Rangga, sungguh saya tidak bermaksud meninggalkan mas Rangga. Tapi saya juga tidak suka tinggal dengan perempuan ular itu." ucap bibi membuat Zea segera melotot padanya, ia takut Rangga sampai curiga.


"Maksud saya mbak Miska. tuan!" bibi bahkan sampai bingung harus memanggil Rangga bagaimana. Saat belum menikah, ia terbiasa memanggil Rangga dengan mas tapi setelah menikah dengan Zea, ia mulai memanggil Rangga dengan bapak dan sekarang, setelah Zea menjadi nyonya rumah ini, bibi ingin memanggil Rangga dengan tuan juga.


"Aku tahu, jangan khawatir. Saya senang bibi tinggal di sini, suatu saat nanti pasti bibi juga akan tinggal dengan saya lagi."


"Terimakasih mas Rangga, kalau begitu saya permisi. Saya masih banyak pekerjaan di belakang."


"Silahkan!"


Kini di ruangan itu tinggal Zea dan Rangga, tapi suasananya jadi terasa kaku. Zea merasa tidak enak dengan Rangga, ia tidak mau di anggap sudah mengambil asisten rumah tangga terbaiknya. Tapi memang bibi lebih baik bersamanya dari pada sama Miska, ia benar-benar tidak tega membiarkan bibi bersama Miska.


"Ga!?"


"Zee!?"


Akhirnya mereka membuka mulut bersamaan membuat mereka saling tersenyum.


"Aku minta maaf!"


"Aku minta maaf!"


Lagi-lagi mereka bicara bersamaan dan kembali membuat mereka tersenyum.


"Kamu dulu saja!" akhirnya Rangga meminta Zea untuk bicara lebih dulu.


"Maaf ya sudah mengambil bibi dari kamu."


"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Aku bersyukur karena bibi bersama kamu. Terimakasih ya!"


"Jadi kamu tidak merasa keberatan?"


Rangga menggelengkan kepalanya, "Jangan khawatir, justru aku senang!"


Mereka kembali terdiam hingga suara langkah kaki menghampiri mereka.


"Rangga!"


Rangga pun segara berdiri dan menyalami tuan Seno yang baru saja datang.


"Baru datang?"


"Iya tuan. Maaf menggangu waktu istirahat tuan."


"Tidak, justru saya senang kalau kamu mau sering-sering datang ke sini, iya kan Zea ?" tuan Seno melirik putrinya yang sudah tersipu dibuatnya.


"Iya pa!"


"Ya sudah kalian lanjutkan ngobrolnya, papa mau keluar dulu ada urusan sedikit!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2