
"Fe cepet sembuh ya, nanti gantian kamu yang datang!" ucap wanita berwajah cantik dengan balutan dress berwarna cream begitu pas di tubuhnya itu.
"Iya Ra ...., pasti!" Felic mengantar mereka sampai di depan rumah.
"Kak Fe, aku juga ikutan pamit ya!" ucap wanita yang lebih muda dengan menggendong bayi mungilnya itu.
Sedangkan para pria sudah menunggu di depan mobil mereka masing-masing.
Fe dan dokter Frans melambaikan tangannya saat mobil mereka menghilang di balik gerbang rumahnya.
"Emang ya si Rendi, nggak yang kalau kalau dia bakal jadi bapak dua anak!" gumam dokter Frans sambil merangkul bahu istrinya itu.
Felic mengerutkan keningnya menatap suaminya, "Memang kenapa?"
Dokter Frans nyengir kuda, ia masih tidak bisa membayangkan kalau dia pria itu akan jatuh cinta dengan gadis kecil bernama Nadin.
"Ya rasanya aneh, kamu kan tahu sendiri kalau Rendi itu orangnya bagaimana!"
"Emang dia orangnya bagaimana?"
"Kayak nggak tertarik sama cewek!"
"Jadi tertarik sama cowok?"
"Ihhhhh, bukan gitu Fe sayang!" dokter Frans begitu gemas hingga ia mencubit hidung Felic.
Felic tersenyum, menggoda suaminya menurutnya adalah hal yang sangat menyenangkan.
"Lagian sayang, aku rasa kalian bertiga punya penyakit sama!"
"Apa?"
"Paling nggak bisa ngungkapin perasaan pada pasangan! Kaku banget!"
"Biar kaku gini kalau udah cinta nggak bakal keganti! Ayo masuk ....!"
Mereka pun segera masuk ke dalam rumah. Dokter Frans mengajak istrinya itu untuk kembali ke kamarnya.
...**""**...
Di tempat lain, Tisya terlihat beberapa kali membetulkan letak kepala Wilson.
"Aku yang sakit kenapa dia yang malah tepar kayak gini!" gumamnya.
Hingga bunyi ponsel berhasil membangunkan pria yang begitu nyaman bersandar di bahu gadis itu.
Wilson segera mengangkat kepalanya dan menoleh pada Tisya, ia mengerutkan keningnya. Mungkin baru sadar jika ternyata tempatnya bersandar adalah bahu Tisya.
"Kenapa aku bisa begini?" ucapnya sambil menunjuk bahu Tisya.
"Nggak usah tanya, keburu terputus ntar telponnya!" Tisya menunjuk ponsel yang ada di atas meja dengan matanya.
Wilson pun dengan cepat menyambar ponsel itu, menggeser tombol hijau dan melekatkannya di daun telinganya.
Wilson segera berdiri meninggalkan Tisya.
"Iya hallo tuan_!"
Sama-sama Tisya masih bisa mendengar percakapan mereka di awal karena Wilson semakin menjauh.
"Kak Frans!" gumamnya saat tahu panggilan tuan pasti untuk kakak laki-laki nya.
Hahhhhhh
__ADS_1
Lagi-lagi Tisya menghela nafas panjangnya. Pikirannya kembali berkutat pada uang satu milyar itu, dari mana.
"Sekarang waktuku berkurang satu hari lagi, bagaimana caranya ngumpulin duit sebanyak itu!"
...**""**...
Pagi ini Tisya sudah begitu rapi dengan pakaiannya, ia sudah ada janji dengan seseorang.
"Nggak biasanya bangun pagi-pagi, ada apa?" tanya Wilson yang sedang sibuk dengan berkas di depannya, ia harus segera mengantar berkas yang sudah selesai itu ke rumah dokter Frans untuk di tandatangani.
Tisya mencomot selembar roti dan mengoleskan selai coklat di atasnya dan dengan cepat melahapnya, "Mau cari uang satu M!"
Wilson mengerutkan keningnya, "Di mana?"
"Aku mau nemuin produser, siapa tahu ada pemotretan dan Tisya bisa di ajak!"
"Mana ponsel kamu!" ucap Wilson sambil mengacungkan tangan kanannya.
Tisya terlihat bingung, bukankah Wilson sudah punya nomor ku ..., "Buat apa?"
"Mana! Aku butuh!"
Tisya pun begitu ragu menyerahkannya tapi Wilson dengan cepat menyambarnya. Ia melakukan sesuatu dengan ponsel Tisya dan segera mengembalikan saat sudah selesai.
"Kamu apain sih ponsel aku?" Tisya begitu penasaran dengan apa yang di lakukan Wilson.
"Nggak usah banyak tanya, kalau mau pergi ya pergi aja! Aku juga udah mau pergi!"
Tisya pun mengangkat kedua bahunya dan kembali menyimpan ponselnya di dalam tas.
Ia segera keluar dengan memakai celana baggy pan dan juga sebuah kemeja lengan panjang ya.
Ceklek
"Kak Maira, pagi-pagi udah kesini aja?"
Gadis bertubuh tinggi berambut panjang hitam legam itu pun tersenyum, "Pagi sayang!"
Maira segera memeluk adik perempuannya itu, tubuh Tisya terlihat begitu mungil dalam pelukan Maira.
"Kakak ada perlu sama Tisya ya? Kalau iya, maaf ya Tisya udah mau jalan!"
"Nggak kok Tis, kakak mau ketemu sama Wilson! Soalnya dari kemarin Wilson susah banget di hubungi, aku jadi khawatir makanya kakak ke sini!"
"Benarkah? Wilson nya di dala kak, biar Tisya panggilin ya!"
"Nggak usah repot-repot Tisya, kalau kamu mau berangkat, berangkat aja, biar kakak yang temui Wilson sendiri!"
"Baiklah, Tisya duluan ya kak!"
Tisya memang sedang buru-buru tidak mungkin menunggui orang yang mungkin akan bermesraan.
Setelah keluar dari pagar, Tisya segera melepas kemejanya dan meninggalkan tank top seksinya kemudian memasukkan kemeja panjang itu ke dalam tasnya.
Ia sudah memesan taksi, ia harus tetap rapi sampai di studio pemotretan jadi terpaksa menggunakan jasa taksi.
Sedangkan Maira setelah Tisya keluar, ia segera masuk ke dala rumah.
Dia serius sekali ..., batin Maira saat melihat Wilson masih sangat serius dengan berkas-berkas nya sampai tidak menyadari kedatangan Maira di sana.
Maira pun mengendap-endap dan segera menutup mata Wilson dari belakang.
Wilson segera memegangi tangan yang menutupi matanya itu.
__ADS_1
"Tikus, jangan becanda ya, aku lagi buru-buru, lagi pula ngapain balik lag_!"
Ucapan Wilson menggantung saat ia menarik tangan itu hingga membuat tubuh Maira terhuyung ke depannya hingga kini tubuh Maira berada di antara tubuhnya dan meja.
Dengan cepat Wilson melepaskannya, kenapa Maira ...
Padahal ia berharap orang lain yang biasa ia panggil tikus.
"Maaf maaf ..., aku tidak sengaja!"
Wilson segera membangunkan Maira dari tubuhnya.
"Santai aja Wil, aku aja nggak keberatan!" ucap Maira sambil kembali merapikan bajunya.
"Kamu kok di sini?"
"Iya, aku khawatir banget sama kamu! Dari kemarin pesan aku nggak kamu bales, telpon aku nggak kamu angkat, kemana aja?"
"Maaf, kemarin habis kehujanan Tisya demam, jadi aku harus jagain Tisya semalaman!"
Wilson perhatian banget sama Tisya ...., batin Maira kecewa.
Maira pun duduk di bangku kosong yang tadi di tinggalkan oleh Tisya. Ia mengerucutkan bibirnya, "Kamu suka ya sama Tisya?"
Pertanyaan Maira membuat Wilson menghentikan pekerjaannya, ia dengan cepat menoleh pada Maira.
"Hahh ...?"
"Kamu perhatian banget sama Tisya, kamu pasti suka ya sama Tisya?"
"Tidak, kamu ini bicara apa! Mana mungkin aku suka sama Tisya, dia bukan tipe aku!"
"Benarkah? Tipe kamu yang bagaimana?" tanya Maira penasaran, ia sampai mendekatkan wajahnya pada Wilson hingga membuat Wilson menjauhkan wajahnya.
"Apa seperti aku?" tanya Maira lagi.
Saat pertama kali bertemu memang iya, lembut, baik hati, murah senyum, nggak sombong, tapi kenapa semakin ke sini aku ngerasa bukan itu yang aku mau, aku menginginkan yang lainnya, tapi apa?
"Kenapa kamu diam? Pasti iya ya?"
Wilson bingung harus menjawab apa, tapi saat melihat jarum jam ia dengan cepat merapikan berkas-berkasnya. Ia harus segera menyerahkan ke pemiliknya.
"Maaf Mai, aku harus segera pergi!"
"Baiklah tidak pa pa, aku juga harus segera ke kantor, papa lagi ngadain meeting sama beberapa pemilik saham!"
Wilson pun segera memasukkan berkas-berkas itu ke dalam tas kerjanya, ia mengajak Maira untuk segera keluar dan pergi dengan mobil yang berbeda.
Spesial visual Wilson dan Tisya
Bersambung
...Untuk mengenalmu aku butuh waktu, tapi untuk mencintaimu aku akan menghabiskan seluruh hidupku itu pun tidak akan cukup...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1