Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (34. Mendapat restu)


__ADS_3

"Duduklah nak!" perintah bapak itu. Zea pun duduk kursi plastik yang satunya. Mereka hanya di pisahkan sebuah meja kecil yang juga berbahan plastik.


Zea kembali menatap bapak itu, ia sepertinya pernah melihat tapi lupa ia bertemu dengannya kapan dan di mana.


"Apa bapak mengenal saya?" Zea segera mencoba mencari jawaban atas segala keraguannya saat ini.


"Saya ingin lebih mengenal nak Zea!"


"Bapak tahu nama saya?" Zea cukup terkejut karena pria asing di depannya sudah tahu namanya.


Bapak itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan,


"Saya tahu nama kamu dari putra saya! Dia begitu bersemangat saat menceritakan tentang kamu!"


"Anak bapak ya!?" Zea kembali mengingat siapa pemuda atau pemudi yang akhir-akhir ini pernah ia temui, tapi selain pelanggan minimarket tidak ada lagi.


"Anak bapak pasti pelanggan mini market tempat Zea bekerja ya?"


"Iya, begitulah! Dia sangat menyukai mie buatanmu katanya!"


Zea tertawa kecil, "Itu bukan buatan saya pak, tapi buatan pabrik!"


"Tapi karena yang menyedu kamu, mie itu jadi begitu istimewa!"


"Bapak ini ada-ada aja!" Zea tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum, kemudian ia teringat dengan teh yang mulai dingin, "Ya ampun pak, teh nya sudah hampir dingin, minumlah dan aku akan diam dulu!"


"Tidak pa pa, saya suka mengobrol dengan kamu! Baiklah aku akan meminumnya!"


Satu tegukan, dua tegukan dan pria paruh baya itu kembali tersenyum.


"Ini selera anak saya!"


Zea tersenyum, "Apa bapak suka yang manis? Maaf pak saya terbiasa membuat teh yang tidak begitu manis!"


"Nggak pa pa, selera saya dan anak saya tidak jauh beda. Dia paling suka tumis kangkung sama sambel tempe!"


"Bapak pasti sayang banget ya sama anaknya, sampai tahu makanan kesukaannya?"


"Ya, begitulah!"


"Oh iya, sedari tadi kita ngobrol, bapak belum memberitahukan siapa nama bapak?"


"Saya Beni!"


"Om Beni!"


"Tapi sepertinya saya lebih suka dengan panggilan yang tadi!"


Zea terdiam, ia mengingat bagaimana ia memanggil pria itu tadi.


"Bapak!"


"Ya, dan mungkin juga akan segera berubah kalau dia cukup gentlemen!"

__ADS_1


"Hahhh?"


"Saya sudah cukup lama di sini, kalau begitu saya pamit ya, jaga dirimu. Salam buat suami kamu dan berikan ini padanya!"


Pak Beni menyerahkan paper bag kecil berwarna abu-abu pada Zea.


"Ini_?"


"Dia akan tahu dari siapa, jaga dirimu!"


Pak Beni berlalu meninggalkan rumah Zea, Zea masih berdiri mengawasi langkah pria paruh baya itu hingga benar-benar menghilang.


...***...


Zea sudah tidak sabar untuk menunggu Rangga datang, ia terus menatap paperbag yang ia letakkan begitu saja di atas meja. Ia sama sekali tidak berani membukanya walaupun begitu penasaran. Hingga ia bisa mendengar suara motor milik Rangga.


Rangga sengaja membeli motor karena cukup sulit membawa mobil masuk ke dalam gang rumah Zea. Ia meninggalkan mobilnya di rumah Div karena tidak mungkin membonceng Divia dengan motor.


Zea dengan cepat berdiri dan menghampiri sang suami.


Rangga tersenyum senang melihat Zea sudah membukakan pintu untuknya.


"Begini ya rasanya punya istri!?" Rangga tersenyum dan memeluk Zea.


"Ga, bukan itu. Sebenarnya sedari tadi aku menunggumu!"


"Menungguku? Apa ada yang begitu istimewa selain kehadiranku?"


"Aku serius Ga!" Zea pun segera menarik tangan Rangga setalah pria itu melepaskan pelukannya dan mengajaknya duduk di sofa.


"Kamu memberi kado untukku?"


"Bukan aku, itu tadi dari pak_!" Zea sepertinya melupakan namanya, "Siapa ya namanya? Aku lupa!"


"Apa dia menyakitimu?"


"Tidak, dia begitu ramah, sangat ramah!" Zea kembali mengingat percapakan mereka yang panjang tadi.


"Kalau begitu aku akan membukanya, siapa orang baik yang memberi kado untukku?" Rangga yang ikut penasaran pun akhirnya mengeluarkan sebuah kotak dari paper bag itu dan dengan perlahan membukanya.


Ternyata sebuah peniti berbentuk bunga mawar yang begitu indah, ada permata di atasnya.


"Indahnya!!!" Zea sampai terpukau di buatnya tapi tidak dengan Rangga. Rangga memilih sesuatu yang mungkin bisa sebagai petunjuk dan akhirnya di bagian bawah terselip secarik kertas yang digulung dan di hias dengan pita berwarna merah.


"Ada suratnya!" Rangga pun segera melepaskan pitanya dan mulai membaca isi dari kertas itu.


...Ga, maaf papa nggak bisa ngasih kado ini langsung ke istri kamu, papa minta tolong ya kasihkan ke istri kamu sebagai kado pernikahan kalian, semoga kalian dilimpahi dengan kebahagiaan yang banyak...


Rangga tersenyum, ia langsung tahu siapa yang mengirim kado itu untuknya.


"Ga, apa isi suratnya. Itu dari siapa?"


"Ini dari pak Beni kan?"

__ADS_1


"Iya benar, pak Beni namanya! Beliau ramah banget!"


"Ini untuk kamu!" Rangga menyerahkan peniti itu dan mengancingkannya di baju Zea, "Cantik!"


"Kok aku?"


"Ya iya, memang aku yang harus pakek, nggak mungkin kan! Aku mandi dulu, gerah!"


Rangga segera beranjak dari duduknya membiarkan Zea yang masih berada dalam kebingungan.


"Ini dari siapa Ga?" Zea berbicara dengan suara keras agar Rangga bisa mendengarnya dari dalam kamar.


"Baca aja sendiri suratnya!" Rangga berteriak dari dalam kamar.


Zea yang begitu penasaran pun akhirnya membuka kembali kotak kecil itu dan mengambil surat itu.


Bibirnya sampai bergetar membacanya, memang bukan hal yang istimewa tapi ini begitu berarti untuknya.


Bahkan sekarang cairan bening itu luluh begitu saja seperti ada sumber yang tidak bisa ia kendalikan. Ia memeluk kertas itu, rasa syukurnya begitu besar setelah segala kesukaran yang harus ia hadapi.


"Sayang_!" Rangga yang sudah mengganti bajunya dengan baju santai begitu terkejut melihat Zea menangis.


Ia berjalan cepat menghampiri sang istri,


"Sayang kamu kenapa?"


Zea segera menghapus air matanya, dan menunjukkan kertas yang ada di tanganya dengan gemetar.


"Jadi pak Beni itu_!"


Rangga tersenyum, "Iya, dia papa aku!"


"Pantas saja!"


"Pantas saja kenapa?"


"Pak Beni terus menceritakan tentang putranya, kenapa aku sampai tidak peka. Bagaimana kalau papa kamu merasa tersinggung dengan penyambutanku? Aku tidak memintanya masuk ke dalam rumah?"


"Papa bukan orang yang seperti itu. Kamu akan sangat menyukainya nanti, papa yang akan membantuku menjagamu nanti!"


"Kenapa seperti itu?"


"Ya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tapi apapun itu jangan pernah meninggalkan aku, kamu sekarang dan selamanya adalah duniaku!"


"Kenapa kamu bicara seperti itu, seolah-olah kamu akan pergi dariku saja! Jangan pernah berani pergi dariku saat aku memintamu untuk bertahan!"


"Dalam mimpi pun tidak pernah!" Rangga kembali memeluk Zea, mereka saling menguatkan satu sama lain. Setelah ini pasti masih banyak lagi hal yang harus mereka lalui dan itu tidak akan mudah.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2