Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (103. Pertemuan pemegang saham)


__ADS_3

Zea sudah siap dengan baju kerjanya, ia begitu cantik dengan setelan blazer dan bawahan celana panjang, walaupun dengan perut yang sedikit buncit tetap tidak mengurangi kecantikannya.


Seorang bodyguard yang juga merangkap menjadi sopir sudah siap menunggunya di samping mobil, tampak bibi menyiapkan beberapa bekal untuk Zea,


"Pokoknya nanti jangan lupa di makan ya nyonya!"


"Bibi, Zea bukan mau perang. Zea cuma mau ke kantor menemui para pemegang saham."


"Ya nggak pa pa, pokoknya nyonya dan calon bayi kalian harus sehat."


"Iya pasti bi, Zea berangkat dulu ya. Papa sudah menunggu di kantor!"


Zea pun segera masuk ke dalam mobil setelah sopir membukakan pintu. Tuan Seno sudah menghubungi Zea sedari pagi agar tidak melupakan hari ini karena hari ini sangat penting bagi Zea.


Para pemegang saham sudah duduk di kursinya masing-masing, mereka saling berdiskusi mengenai apa yang terjadi semalam. Beberapa mereka ada yang pro dan ada yang kontra apalagi yang paling fanatik memihak nyonya Widya.


Sepanjang malam nyonya Widya mengumpulkan para pemegang saham yang mau berpihak padanya, ia sedang mengumpulkan suara agar mendapatkan dukungan. Ia mau putrinya lah yang akan memimpin perusahaan itu nantinya.


Nyonya Widya ternyata juga sudah berada di antara mereka, mulai melancarkan aksinya dengan terus menjaring suara sebanyak-banyaknya. Hampir lima puluhan peserta yang datang dan siap untuk memberi suara mereka.


Di ruangan pribadi itu, tampak tuan Seno terus saja mengepalkan tangannya,


"Jadi dia sudah bertindak sejauh ini?"


"Iya tuan, bahkan beberapa dari mereka sudah memihak pada nyonya Widya."


"Sepertinya kita harus bertindak lebih cepat lagi, jika dia melakukan cara itu untuk menarik pendukung, kita harus juga melakukan hal yang bisa membuat mereka kembali berpihak pada kita."


"Tapi nyonya Widya punya wewenang besar selama ini, sepertinya akan cukup sulit untuk menjatuhkannya!"


"Dia yang memulai perang ini, jadi sekarang sudah waktunya kita untuk melanjutkan apa yang sudah dia mulai."


"Mengerti tuan."


"Bagaimana, apa Zea sudah datang?"


"Lima menit lagi akan sampai, apa perlu kita menyambutnya di depan?"


"Itu lebih baik!"


Tuan Seno segera berdiri dari duduknya dan kembali merapikan jasnya, ia tahu siapa dukungan terkuatnya saat ini. Divta group juga memiliki hak saham yang cukup besar di perusahaan mereka. Jika di lihat dari sepak terjangnya, selama ini Divtagroup selalu berpihak padanya.

__ADS_1


Tepat saat sampai di pintu masuk, mobil yang di tumpangi oleh Zea berhenti di depannya. Seseorang langsung turun dan membukakan pintu mobil.


Melihat Zea yang turun dari mobil, tuan Seno segera menghampirinya,


"Selamat pagi!"


"Selamat pagi, pa!"


"Bagaimana kamu sudah siap untuk hari ini?"


"Siap pa."


"Mungkin keadaannya tidak seperti yang kamu bayangkan tapi jangan khawatir papa akan selalu mendukung kamu!"


Mereka pun segera menuju ke ruang meeting, ruangan besar dengan meja yang melingkar panjang menyisakan ruangan kosong di bagian tengah dengan kursi-kursi yang berada di sisi-sisi sampingnya. Ruangan itu terlihat luar biasa dengan dinding yang di dominasi dengan warna putih dan coklat dengan. lampu yang menerangi ruangan itu.


Kedatangan tuan Seno dan Zea berhasil membuat kegaduhan di ruangan itu segera sirna bergantian dengan keheningan.


Tuan Seno meminta Zea untuk duduk di bangku kosong yang ada di sebelahnya.


Ini untuk pertama kalinya bagi Zea menghadapi orang-orang sebanyak ini dalam satu ruangan, Zea mulai mengabsen satu per satu orang-orang yang datang dan akhirnya matanya tertuju pada satu orang,


Mas Rizal ...., jadi ini alasan kenapa Miska bisa mengenal mas Rizal? batin Zea.


Tuan Seno pun mulai membuka rapat, ia mengumumkan bahwa Zea mulai hari ini juga memegang saham perusahaan sebesar 30% dan saham itu lebih besar lima persen dari milik Miska dan mamanya, nyonya Widya hanya memiliki 10 persen sedangkan Miska 15 persen dan 40 persen lainnya milik orang-orang yang hadir di sana.


"Untuk itu dalam waktu dekat kami akan menentukan siapa CEO perusahaan ini, dari yang sudah saya sampaikan tadi apa ada yang ingin mengemukakan pendapatnya?"


Beberapa orang pun segera mengangkat tangannya dan mengutarakan pendapatnya, ada yang setuju jika Zea yang menjadi CEO perusahaan karena memang dia pemilik saham terbesar sedangkan yang berpihak pada nyonya Widya, mereka mengatakan jika zea tidak pantas menjadi CEO karena ia bahkan hanya berpendidikan sampai SMA saja dan lagi tidak memiliki pengalaman dalam memimpin sebuah perusahaan.


"Jika hal itu masalahnya, jangan khawatir karena untuk menguji kelayakannya, saya sudah menyiapkan sebuah proyek yang harus ia selesaikan, jika dalam proyek itu ada masalah, maka kita bisa melakukan musyawarah lagi."


"Baik saya setuju!"


Tapi nyonya Widya segera berdiri dan mengangkat tangannya, "Tidak, saya tidak setuju!" kini semua mata tertuju padanya,


"Saya kurang setuju karena kita tidak mungkin membiarkan dia menangani sebuah proyek sedangkan dia tidak punya pengalaman apapun, jangan sampai apa yang ia lakukan membuat perusahaan kita merugi besar."


"Iya, iya, nyonya Widya benar!" beberapa orang langsung mengiyakan masukan dari nyonya Widya karena memang mereka sudah terlalu pro dengan nyonya Widya.


"Saya yang akan bertanggung jawab jika proyek ini tidak berhasil." ucapan seseorang yang tiba-tiba menyela keributan membuat semua yang hadir terdiam, siapa yang tidak kenal dengan salah satu singa finityGroup group ini, pemilik Divtagroup itu tidak kenal takut dengan segala macam tantangan.

__ADS_1


Semua seakan terbungkam dengan pernyataan singkat pria itu, dan dalam sekejap semua menyetujuinya.


Acara itu pun selesai setelah tuan Seno menutupnya,


"Terimakasih atas dukungan yang tuan Div berikan kali ini!" tuan Seno sudah menyusul pria yang segera pergi dengan sekretaris pribadinya itu.


"Jangan khawatir tuan Seno, saya melakukan ini bukan untuk anda tau perusahaan anda, saya melakukan ini untuk orang kepercayaan saya, saya tahu anda pun melakukan ini untuk putri anda!"


Setelah mengucapkan hal itu, Divta berlalu begitu saja tanpa berpamitan. Tuan Seno masih menatap punggung pria itu, dalam diam ia mengagumi sosok arogant itu, meskipun tanpa mengatakan apa-apa tapi ia tahu pria itu telah melakukan banyak hal untuk membantu Rangga.


Ternyata Zea juga melihatnya dari kejauhan, 'Rangga, kamu di kelilingi orang-orang baik.' dengan perlahan ia mendekati tuan Seno dan berdiri di belakangnya,


"Pa!?"


Tuan Seno segera menoleh ke belakang dan tersenyum mendapati putrinya berdiri di belakang,


"Nak!?"


"Maafkan Zea ya pa!"


"Untuk apa?"


"Karena Zea, papa mengalami banyak kesulitan seperti ini."


"Bukan nak, harusnya papa yang mengatakan hal itu, karena papa kamu harus melewati banyak hal yang sulit di dunia ini."


Pantulan suara sepatu hak tinggi menggema di lantai membuat pembicaraan mereka terpaksa berhenti, seorang wanita dengan penampilan modis dan wajah arogannya tengah berjalan menghampiri mereka,


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!" tatapan wanita itu tertuju pada tuan Seno.


"Kita bicara di ruangan saya!"


Tuan Seno segera berlalu meninggalkan Zea begitupun dengan wanita itu. Zea merasa itu bukan urusannya memilih untuk tetap tinggal.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2