Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (31. Begitu sulit)


__ADS_3

Zea masih terdiam di tempatnya, bahkan tetap bergeming, menatapi gelas yang masih utuh isinya. Perlahan air mata yang sedari tadi coba ia tahan, kelopaknya tidak mampu lagi menampung. Punggungnya mulai bergetar, rasa bersalah di masa lalu membuatnya begitu terluka.


Seandainya saja ...


Kata itu yang kerap muncul di benaknya, tapi kata seandainya jelas tidak akan merubah apapun.


Baru saja Zea menyelesaikan tangisnya, memendam kembali lukanya. Tiba-tiba pintu kembali di ketuk,


"Apa nona Ersya kembali?" gumamnya pelan, ada senyum tipis yang mengembang di bibirnya. Ia ingin menjelaskan banyak hal pada wanita itu.


Zea pun kembali menghapus sisa air matanya yang masih menempel di pipinya dan buru-buru menghampiri pintu yang tanpa sengaja tertutup kembali.


Tubuhnya kembali tertegun saat melihat siapa yang datang.


"Nona Miska!"


Miska datang dengan wanita paruh baya yang beberapa hari datang ke minimarketnya dan meminta bantuan Zea untuk membantunya membacakan list belanjaan.


"Tante!???"


Zea menatap mereka bergantian dengan tatapan tidak mengerti.


"Ini yang biang keroknya, Rangga pasti di sini sekarang!" Miska terus bicara pada wanita itu sedangkan Zea masih menyatukan kepingan kebingungannya.


"Ini ada apa sebenarnya? Tante ini siapa?"


"Miska, ini nggak mungkin. Nggak mungkin Rangga suka sama wanita seperti dia, dia penjaga minimarket di depan kan?" ternyata mama Rangga tidak kalah terkejutnya.


Miska menatap jengah pada wanita paruh baya itu,


"Tante, aku kan sudah bilang dari kemarin! Ayolah Tante, jangan menunda-nunda lagi, langsung aja grebek!"


Zea mulai mengerti situasinya, ia pun segera menghadang langkah mereka,


"Tunggu nona Miska, tolong jangan bikin keributan di sini!"


"Elehhhh, minggir! Pasti kamu sembunyikan Rangga di sini kan, ayo tunjukkan di mana Rangga, kalau enggak. Kami akan mencarinya sendiri!"


Miska pun kembali memperingatkan mamanya Rangga untuk segera bertindak.


"Ayo Tan, cepetan masuk!" Miska berusaha menerobos masuk rumah Zea, tapi Zea masih berusaha untuk menghalanginya.


"Nggak, nggak boleh. Kalian nggak boleh masuk!" Zea berusaha keras untuk menahannya tapi dengan kuat mama Rangga mendorong tubuh Zea hingga Zea terjatuh ke lantai.


"Minggir!"


Miska tersenyum meremehkan pada Zea yang terjatuh di lantai.


"Ga ...!"

__ADS_1


"Ga ....!"


"Ga, keluarlah, ini mama!"


Mama Rangga terus berjalan dan memeriksa semua ruangan yang ada di rumah itu dan di ikuti oleh Miska di belakangnya.


Zea kembali bangkit dan langsung menarik tangan mama Rangga saat hendak membuka pintu kamar.


"Saya akan melaporkan hal ini pada petugas, jika kalian masih berbuat onar di sini!"


Plakkkkkk


Tapi bukannya berhenti, mama Rangga malah menampar pipi Zea dengan keras.


"Wanita murahan, jangan sampai membuat saya marah. Jika sampai saya menemukan Rangga di sini, saya yang akan melaporkan kamu ke polisi!" ancam mama Rangga sambil menunjuk ke arah Zea.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


Suara seseorang yang begitu mereka kenal segera membuat mereka bertiga menoleh ke arah pria yang baru datang itu.


"Rangga, nak ..., mama kangen!" mama Rangga hendak mendekati tapi Rangga malam memilih menghampiri Zea dan memeluknya.


"Apa yang mama lakukan pada Zea?"


"Mama cuma kasih pelajaran sama wanita murahan itu!"


"Jaga mulut mama, dia istri Rangga! Jangan sampai ucapan mama membuat Rangga semakin membenci mama!"


Rangga pun beralih ke arah Miska yang sama-sama terkejut seperti mama Rangga.


"Miska, aku tahu ini pasti ulah kamu. Untuk saat ini aku akan mengampunimu, jangan sampai di lain waktu membuat masalah lagi dengan istri ku. Maka jika saat itu terjadi, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu, pergi dari sini sebelum kesabaranku berakhir!" Rangga bicara dengan penuh penekanan, matanya memerah menahan amarah.


"PERGI!" kali ini Rangga sedikit meninggikan suaranya membuat Miska bergidik ngeri dengan kemarahan Rangga.


Ia pun segera menghampiri mama rangga dan menarik tangannya,


"Ayo Tan, kita pergi!"


Tapi sepertinya mama Rangga masih bergeming karena rasa terkejutnya.


"Ayo Tan, baiklah kalau Tante tetap mau di sini, aku akan pergi sendiri!"


"Aku ikut!"


Akhirnya mereka berdua pun meninggalkan rumah Zea.


Rangga masih tetap memeluk Zea yang menangis. Ia tidak meminta Zea untuk berhenti menangis hingga zea siap untuk menghentikannya sendiri.


Ternyata kedatangan Miska ke rumah orang tua Rangga adalah untuk mengajak mama Rangga ke rumah Zea untuk mencari Rangga. Ia mendapat laporan dari Rizal bahwa Rangga ada di sana.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku ya! Aku datang terlambat!" Rangga terus meminta maaf, tapi sepertinya Zea masih belum siap untuk bicara.


"Duduklah!" setelah sekian lama berdiri, Rangga pun mengajak Zea untuk duduk. Sepertinya Zea masih begitu syok dengan apa yang terjadi hari ini.


Kedatangan Ersya sudah membuatnya begitu khawatir di tambah lagi dengan kedatangan mama Rangga yang terlihat begitu membencinya.


Rangga yang melihat pipi memerah Zea bekas tamparan segera mengambil baskom dan es batu, mengompresnya dengan begitu telaten.


"Pasti sakit ya? Di tahan sebentar ya!" sesekali terlihat Zea menahan sakit hingga tanpa sengaja tangan Rangga menyentuh siku kiri Zea.


"Aughhh!" Zea mengasuh karena sikutnya yang memeras. Sepertinya saat ia terjatuh karena di dorong mamanya Rangga, siku Zea membentur sudut meja.


Rangga dengan cepat memeriksa siku Zea dan mendapati memeras, sedikit terluka.


"Astaga, sikumu juga terluka!"


Belum selesai mengompres pipi Zea, Rangga kembali berdiri untuk mencari kotak obat.


"Sayang, di mana kotak obatnya?" Rangga berteriak dari arah dapur saat tidak menemukan apa yang di cari.


"Di laci paling atas, sebelah lemari pendingin!"


Tidak berapa lama, Rangga kembali dengan membawa sebuah kota berwarna putih dengan tulisan P3K di atasnya.


Ia segera mencari obat yang di butuhkan untuk mengobati memar dan luka Zea kemudian menutupnya dengan plester luka.


Zea terus menatap suaminya, ia begitu lembut merawatnya. Hatinya semakin teriris menyadari pernikahan mereka yang penuh dengan masalah.


"Ga!"


"Hmm?" Rangga mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Zea.


"Ga, kamu boleh pergi. Aku tidak pa pa!"


Rangga langsung meletakkan. kotak obatnya begitu saja. Ia menatap Zea dengan tatapan kecewa.


"Sudah aku bilang berapa kali, aku tidak akan pernah pergi meskipun seribu kali kamu memintanya!"


Zea segera menarik tangannya, mengalihkan tatapannya ke tempat lain agar Rangga tidak bisa melihat carian bening yang hampir menetes dari matanya.


"Tapi Ga, ini pasti akan sangat sulit buat kamu!"


"Sesulit apapun nanti, aku pasti bisa menghadapinya, asal bersama denganmu!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2