Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Masa lalu yang rumit


__ADS_3

Di tempat lain Tisya juga sudah bersiap-siap dengan pakaian yang rapi, tapi kali ini bukan dengan baju kantorannya karena pekerjaannya kali ini tidak di kantor, ia harus mengurusi rumah Wilson.


"Kucing hitam itu tidak boleh di biarkan menang, enak aja ...., bisa-bisanya dia bilang aku tikus kecil, memang aku punya kumis dan suka makan keju apa, dasar ...!" gerutu Tisya sambil mengikat rambutnya dan sesekali merapikan bedaknya.


"Sudah siap ...!"


Tisya pun segera menyambar tas punggungnya, ada banyak barang untuk di bawa, ia tidak mungkin mengorbankan tas mahalnya untuk membawa barang-barang yang menurutnya cukup berat itu.


Kemudian ia merogoh dompetnya, memeriksa berapa isi uang di dompetnya karena sebelum ke rumah Wilson is harus menemui tuan Bactiar dulu, ia penasaran apa yang ingin di bicarakan oleh papa nya itu.


"Yahhhh ...., uangku tinggal ini, kapan ini semua berubah gambarnya jadi pahlawan Soekarno Hatta!" gumam Tisya yang melihat semua isi dompetnya hanya lembaran uang sepuluh ribuan dan lima ribuan dan hanya berjumlah tujuh puluh ribu dan beberapa uang receh yang terselip di sela-sela dompet tipisnya.


"Sayang banget inih kalau buat naik taksi, naik apa ya aku?" gumam Tisya sambil keluar dari kamarnya.


Terlihat nyonya Tania sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Ayo sayang sarapan!" ucap nyonya Tania sambil menyiapkan piring untuk Tisya.


"Masak apa ma?" tanya Tisya.


"Maaf ya sayang, mama cuma bisa masak tempe sama telur!" ucap nyonya Tania.


"Nggak pa pa ma ....! Maaf ya ma Tisya belum bisa bantu mama!" ucap Tisya.


Tisya tumbuh menjadi gadis yang manja, ia tidak terbiasa melakukan banyak hal, segala sesuatunya selalu di siapkan oleh asisten rumah tangga. Bahkan untuk mencuci bajunya sendiri, ia belum bisa. Banyak hal-hal baru yang mulai ia pelajari sekarang termasuk cuci piring dan menyapu rumah. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang untuk membantu mamanya.


"Mama yang salah sayang ...., seandainya mama tidak melakukan kesalahan itu, mungkin sekarang semua tidak akan kacau seperti sekarang!"


"Ma ...., Tisya boleh bertanya ya ma, jangan marah!"


"Mau tanya apa sayang?"


"Siapa ayah Tisya? Walaupun Tisya belum pernah melihatnya, tapi Tisya ingin tahu seperti apa ayah Tisya!" tanya Tisya.


Nyonya Tania terdiam, memang benar itu hak Tisya untuk tahu bagaimana ayah kandung putrinya itu. Walaupun sudah meninggal tapi ia masih punya kenangan yang indah dengan suami pertamanya itu.


"Ayah kamu bernama Bima Putra, mas Bima mama biasa memanggilnya, kami bertemu ketika kami kuliah di kampus yang sama, jurusan yang sama.


Dia mirip sekali dengan kakak kamu, Frans. Rambutnya, gigi gingsulnya bahkan mungkin sikapnya juga sama, ada beberapa hal yang istimewa yang kemudian membuat mama menyukai ayah kamu.


Mas Bima bukan berasal dari orang kaya, Bahkan yang mama tahu dia hanya tinggal bersama ibunya yang saat itu juga sakit-sakitan.


Ayah kamu ternyata juga menaruh perasaan yang sama terhadap mama, tapi karena mama putri orang kaya membuat ayah kamu tidak berani mengungkapkan perasaannya.


Hingga kami sama-sama menyimpan perasaan itu hingga kami lulus kuliah. Kami terpisah, hingga satu tahu kemudian kami di pertemukan lagi dalam acara reoni kampus.


Hubungan kami kembali dekat, ayah kamu sudah bekerja di perusahaan ternama dengan gaji yang besar.

__ADS_1


Sepertinya hal itu yang membuat mas Bima berani untuk menyatakan perasannya pada mama, tapi saat kami memutuskan untuk menikah, kakek kamu tidak setuju.


Tapi kakek kamu tidak bisa berbuat apa-apa saat tahu ternyata mama sudah mengandung Frans, kakek mengusir mama, kami memutuskan menikah tanpa persetujuan kakek kamu.


Hidup kami awalnya begitu bahagia, hingga Frans lahir kami masih bahagia, tapi kemudian mama begitu kecewa saat mas Bima mengundurkan diri dari pekerjaannya, mengorbankan karirnya demi memilih pekerjaan menjadi sopir keluarga Wijaya.


Mama saat itu sangat marah, kami bertengkar hebat. Mama memutuskan pergi dari rumah dan kembali ke rumah kakek, tapi kakek kamu tidak mau menerima kakak kamu, Frans.


Mama bingung harus melakukan apa, akhirnya mama memilih menitipkan Frans ke panti asuhan, saat itu mama sangat marah sama ayah kamu, mama sebenarnya juga tidak mau jauh sama kakak kamu tapi rasa marah mama mengalahkan rasa sayang mama sama kakak kamu.


Ayah kamu mengetahui jika Frans mama titipkan di panti asuhan, ayah kamu pun mengambil kembali kakak kamu dari panti asuhan. Ia juga meminta mama untuk kembali, ayah kamu berjanji akan menghidupi kami secara layak walaupun pekerjaannya hanya sebagai sopir.


Mama masih sangat mencintai ayah kamu, rasanya begitu berat berada jauh dari ayah dan kakak kamu. Mama akhirnya memutuskan untuk kembali walaupun mama tahu resikonya, kakek kamu akan marah besar sama mama.


Mama dan ayah kamu akhirnya kembali tinggal bersama, kehidupan kamu memang sudah jauh berbeda, kita hidup dengan uang pas-pasan, tapi ayah kamu tidak pernah membiarkan mama kekurangan apapun, apa yang mama mau pasti ayah kamu akan memberikannya.


Hingga suatu ketika tiba-tiba ayah kamu menitipkan Frans kembali ke panti asuhan, mama begitu marah sama ayah kamu.


Kemudian mas Bima memberitahu alasan sama mama, mama marah tapi mama nggak bisa berbuat apa-apa. Mama tidak tahu bagaimana jalan pikiran ayah kamu, bisa-bisanya ayah kamu memilih untuk tetap bersama tuan Wijaya walaupun tahu jika sekarang nyawa keluarga tuan Wijaya sedang terancam.


Ayahmu beralasan menitipkan Frans ke panti karena tidak mau mengambil resiko, ia takut jika Frans akan menjadi sasaran musuh tuan Wijaya, tapi bagaimana seorang sopir bisa sebegitu siapnya kehilangan nyawa demi tuannya.


Hingga tragedi itu benar-benar terjadi, ayah kamu ikut tewas bersama tuan Wijaya dalam peledakan mobil itu.


Mama begitu syok, mama tidak tahu harus berbuat apa. Padahal saat itu mama baru cek ke dokter jika mama sedang mengandung kamu sayang.


Mama pun memutuskan untuk kembali ke kakek kamu, mama juga tidak mengatakan jika mama sedang hamil.


Kakek kamu kemudian memutuskan untuk menjodohkan mama sama papa kamu, mama pun menyanggupinya, mama nggak mau kamu lahir tanpa status.


Dan akhir-akhir ini mama baru tahu kenapa ayah kamu begitu relanya mengorbankan nyawanya demi tuan Wijaya!"


"Apa ma?" tanya Tisya penasaran.


"Ayah kamu ternyata saudara se ayah dengan tuan Wijaya! Ia mengemban amanah dari ibunya sebelum ibunya meninggal jika ia harus melindungi kakaknya itu!"


"Tapi kenapa ma?"


"Ibu ayah kamu ternyata adalah selingkuhan dari ayahnya mas Bima, gara-gara ibunya mas Bima keluarga ayah mas Bima hancur, ayahnya memilih tinggal bersama ibunya mas Bima dari pada istri sahnya!"


"Hehhhh ....., sebegitu rumitnya hidup Tisya ma, serumit hidup ayah!"


"Bagaimana kalau besok kita ziarah ke makam ayah kamu?!"


"Mau ma ...., tapi mama tahu di mana makamnya?" tanya Tisya, karena setahunya mamanya tidak pernah pergi ke makam.


"Hampir setiap tahun mama selalu datang untuk mengunjungi ayah kamu sayang!"

__ADS_1


"Benarkah ....? Tapi Tisya tidak pernah tahu?"


"Mama selama ini belum punya keberanian untuk mengatakannya padamu sayang! Tapi semuanya sudah berubah, mama tidak mau terus hidup dalam kebohongan, rasanya begitu sakit, mama tertawa tapi hati mama menangis, rasanya lebih sakit dari pada bisa dengan mudah menunjukkan rasa sakit kita!"


"Mama ...., Tisya pasti yang sudah membuat hidup mama hancur! Maafkan Tisya ma!"


"Tidak sayang, kamu dan Frans adalah buah cinta mama, apapun itu mama tidak pernah menyesalinya, yang selalu mama sesali adalah mama sudah melukiskan sebuah luka yang besar di hati kakak kamu, mama sudah membuangnya!"


"Semua pasti akan baik ma ....!" ucap Tisya sambil mengusap punggung ibunya itu.


"Astaga ma ....!" Tisya begitu terkejut saat melihat jam yang menggantung di dinding.


"Apa sayang?"


"Tisya sudah terlambat sekali ma ...., ya udah Tisya berangkat dulu ya!" ucap Tisya sambil mencium pipi nyonya Tania.


"Tisya!" panggil nyonya Tania membuat Tisya menghentikan langkahnya.


"Iya ma ...., ada apa?"


"Apa hari ini kamu mau menemui papa kamu?" tanya nyonya Tania.


Tisya hanya diam, ia memang ingin menemui papa nya sebelum ke rumah Wilson.


"Mama cuma pesan sama kamu, lakukan yang menurut kamu benar ya sayang, jangan melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang mama lakukan dulu, mama tahu kamu sudah dewasa untuk bisa menentukan yang baik dan yang tidak!" ucap nyonya Tania memperingatkan putri nya itu. Ia sudah terlalu hafal untuk mengenal mantan suaminya itu, dua puluh lima tahu bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal suaminya.


"Tisya mengerti ma, Tisya pergi dulu ya!"


"Hati-hati sayang!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


R : Kapan nih thor bang Divta nya?


A : Banyak yang tanya kapan Divta sama Ersya launching nya, nanti ya di tunggu tanggal 1 September ya,


R : Kenapa nggak sekarang aja sih thor?


A : Gini ya Author lagi nabung bab dulu biar banyak, trus untuk bulan ini sedang mau fokus dulu sama dokter Frans ya.


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy weekend and happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2