
"Ga, hari ini rencanamu apa?" Rangga tengah duduk di ruang makan sederhana bersama pak beni. Semenjak pindah ke rumah sederhana itu, sepertinya Rangga tidak punya banyak waktu untuk bisa duduk berdua dengan orang tuanya.
Ia harus fokus untuk cari uang, ia harus bisa mengembalikan toko dan rumah orang tuanya. Selain itu ia juga harus menyelidiki tentang kecelakaan yang menimpa dirinya.
"Ada apa pa?"
"Nanti sore tetangga sebelah mengadakan hajatan, mereka berharap kamu bisa menghadiri acara itu."
"Nanti Rangga usahakan deh pa, tapi Rangga tidak janji."
"Jangan terlalu keras bekerjanya. Papa tidak membutuhkan apapun saat ini selain kamu dan_!" keluargamu. pak Beni hanya bisa mengucapkan dalam hati kelanjutannya.
Sampai saat ini bahkan Rangga belum jujur tentang keadaannya,
"Rangga hanya sedang berusaha menjadi anak yang berguna untuk orang tua Rangga. Jadi jangan halangi apapun yang Rangga lakukan!"
Ia tidak mungkin mengabaikan orang tuanya, walaupun semua itu murni bukan kesalahannya tetap saja kehilangan toko yang sudah menjadi penghidupan keluarganya selama ini, bahkan sekitar sepuluh orang bergantung nafkah dari toko itu. Ia takut jika toko itu tidak segera di ambil lagi, pemilik yang baru akan segera merombaknya.
"Papa hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu, jika pun tidak sesuai dengan ekspektasi kamu, tidak masalah karena saat ini papa jauh lebih bahagia." memiliki kehidupan yang lebih sederhana membuat hidupnya lebih tenang, apalagi hubungannya dengan sang istri. Istrinya yang dulu begitu keras kepala seperti sekarang sudah mulai terbuka pikirannya. Bahkan ia sudah tidak lagi menjelek-jelekkan menantunya.
"Terimakasih ya pa!"
Pak beni mengusap bahu putranya dan tersenyum, "Berangkatlah, sudah hampir jam tujuh."
"Baiklah, salam buat mama!" Rangga kembali beranjak dari duduknya dan mengambil tas punggung yang ia letakkan di kursi yang ada di sampingnya.
"Ya nanti papa sampaikan!"
Mama Rangga sekarang jika pagi akan ikut ibu-ibu di sana mengikuti senam kebugaran. Jadi saat Rangga berangkat jarang bertemu dengannya.
Rangga hari ini datang lebih pagi karena hari ini saatnya proyek yang ia kerjakan dengan Zea selesai, lusa adalah hari peresmiannya sedangkan hari ini ia harus bertemu dengan pada penanam saham dalam proyek itu.
Ada rasa bahagia, sekaligus sedih. Ia sedih karena mungkin setelah itu kadar pertemuannya dengan Zea akan sesering sebelumnya, tapi ia juga bahagia karena dengan berhasilnya proyek itu akan membuat posisi Zea menjadi kuat.
Setidaknya tidak akan ada lagi yang mengabaikan Zea dan menganggap Zea pantas untuk mengelola perusahaan.
Baru saja memarkirkan motornya, kedatangannya langsung di sambut oleh Zea, tampak wajah Zea begitu tegang saat ini.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Rangga, ia sudah menghampiri Zea yang berdiri di depan pintu masuk.
"Aku cemas, Ga! Bagaimana kalau aku gagal presentasi?"
"Jangan khawatir, ada aku. Aku yakin kamu bisa, ini tinggal titik akhirnya. Jadi tenangkan dirimu!"
Rangga mengalihkan tatapannya ke arah perut Zea, rasanya ingin sekali mengusap perut itu agar Zea tenang begitu juga dengan bayinya.
__ADS_1
Srekkkk
Tiba-tiba tubuh Rangga terdorong hingga membuatnya memeluk Zea, tangannya kini juga tengah berada di perut Zea.
Doa Rangga sepertinya tengah terkabul, ia bisa mengusap perut itu walaupun tanpa sengaja.
"Maaf pak, saya tidak sengaja!" suara seseorang menyadarkan mereka. Rangga pun segera melepaskan pelukannya pada Zea.
Rangga menoleh ke belakang ternyata cleaning servis yang sedang membawa dua buah galon yang berisi air,
"Tidak pa pa! Lain kali hati-hati!"
"Iya pak, sekali lagi saya minta maaf!"
"Pergilah!"
Setelah cleaning servis itu pergi, Rangga kembali fokus pada zea,
"Zee, kamu tidak pa pa kan?"
Aku sangat baik Ga, bahkan lebih baik dari yang tadi. Walaupun tanpa sengaja, kamu sudah mengusap perutku, mengusap anak kita ....
"Zee!?"
"Kamu tidak pa pa kan?"
"Tidak pa pa, aku baik. Bahkan sekarang jauh lebih baik karena kamu sudah memberi semangat ke aku. Aku sudah siap sekarang, ayo! Para memegang saham sudah datang!"
"Baiklah, ayo!"
Zea menarik tangan Rangga tanpa sadar, tapi Rangga tidak berniat mengingatkannya. Ia begitu senang karena zea memegang tangannya.
Sesampai di ruangan, kedatangannya sudah si sambut peserta rapat. Pihak Div sudah di wakili oleh dirinya, walaupun begitu ia juga mengirim sekretaris Revan untuk memberi dukungan pada Rangga.
Sedangkan dari pihak tuan Seno, dia sendiri yang datang untuk memberi dukungan pada Zea. Walaupun skandal yang menimpa nyonya Widya sedikit memengaruhi nilai saham perusahaan tapi hal itu tidak membuat tuan Seno gentar. Ia sudah memikirkan semuanya sebelum bertindak.
Zea pun mulai mempresentasikan semuanya, sesuatu dengan hasil akhir di lapangan. Ia juga mengirimkan undangan secara terbuka untuk acara peresmian.
Presentasi Zea cukup memulai semua yang hadir, hingga presentasi selesai hanya pujian yang di dengar oleh Zea dan tuan Seno.
Saat mereka meninggalkan ruangan, tidak lupa para pemegang saham memberi selamat satu per satu.
Hingga yang paling akhir, ada Rangga. Ia berhenti tepat di depan Zea,
"Kamu benar-benar luar biasa!"
__ADS_1
"Kamu terlalu berlebihan Ga!"
"Tidak, tapi ini lebih dari yang aku pikirkan sebelumnya, kelak kamu akan jadi pengusaha yang sukses."
"Enggak Ga!"
Ucapan Zea berhasil membuat Rangga menatap ke arah mata Zea,
"Aku hanya ingin menjadi ibu dan istri yang baik untuk anak-anak dan suamiku." ucap Zea melanjutkan. Meskipun tanpa di tanya, ia tahu arti dari tatapan mata Rangga.
"Terimakasih ya!" ucap Rangga membuat Zea terkejut.
"Untuk?"
Ia berharap Rangga akan mengatakan jika ia berterimakasih karena sudah mau menjadi istrinya tapi sepertinya hal itu terlalu berlebihan karena nyatanya bukan seperti itu.
"Karena kamu sudah mau menjadi wanita terbaik dalam hidupku, sebagai rekan terbaik." jawab Rangga, ia memberi alasan yang menurutnya masuk akal. Ia belum siap mengatakan semuanya.
Jaga istri dan ibu terbaik untukku dan anak kita nanti ...
Zea tersenyum dengan perasaan getir, Zea sudah berharap Rangga akan mengatakan hal lainnya, tapi nyatanya ia salah.
"Oh iya Ga, kita makan siang bareng yuk. Anggap sebagai traktiran karena keberhasilan kita."
Sebenarnya ingin sekali menerima tawaran Zea, tapi saat ini ia masih harus melakukan pekerjaan yang sangat penting. Ia mengenai semua yang berhubungan dengan kecelakaan yang menimpa mereka dan setelah itu, saat acara peresmian ia ingin mengungkapkan semuanya pada Zea.
"Maaf ya, tapi bukan hari ini. Bagaimana kalau lain kali? Aku hari ini ada pekerjaan yang sangat penting, kamu tidak pa pa kan?" Rangga benar-benar dalam pilihan yang berat, baginya permintaan Zea adalah hal yang begitu penting tapi ia juga harus bisa memikirkan mana yang lebih tepat untuk di dulukan.
Walaupun kecewa, tapi Zea bisa apa, "Baiklah, aku mengerti. Aku akan menunggu lain kali itu."
"Terimakasih ya, ya sudah aku pergi dulu!"
Rangga pun segera meninggalkan Zea, ia takut tidak akan bisa mengendalikan perasaannya jika terlalu dekat dengan Zea.
Melihat wajah kecewa Zea sungguh menyakiti hatinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1