Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (140. Penangkapan Miska)


__ADS_3

Sedangkan di tempat Miska, ia masih berdiri tercengang sambil menutup mulutnya tidak percaya dengan yang baru saja terjadi. Kejadian tadi begitu cepat baginya, ia sungguh hanya ingin memberi pelajaran pada Zea tapi ia tidak menyangka kejadiannya akan seserius ini.


Hingga suara beramai orang mendatanginya membuatnya sadar, dari beberapa orang itu ternyata berseragam polisi,


"Tangkap dia pak!" perintah seseorang dengan wajah seriusnya, orang itu adalah Divta.


Divta sudah mendapat laporan dari anak buahnya, setalah menerima bukti terakhir yang dikirimkan oleh Rangga, divta pun meminta anak buahnya untuk mengurus semuanya.


Begitu mengetahui wanita itu kembali membuat masalah, Divta dengan cepat menghubungi polisi.


"Kalian apa-apaan, kalian tidak bisa seenaknya menangkap orang. Kalian tidak tahu siapa saya, saya akan bisa melaporkan balik kejadian ini atas tuduhan perlakuan tidak mengenakkan!"


Divta yang mendengar Miska masih berkilah, ia pun maju beberapa langkah. Berdiri dengan tatapan dingin, satu tangannya ia sakukan ke dalam saku celana sedangkan satu tangannya lagi memegang sebuah berkas yang tengah ia tunjukkan pada Miska,


"Apa menurutmu ini masih kurang cukup bukti, apa perlu aku membuka semuanya di sini."


Miska seketika terdiam, jika sampai Divta membuka semua bukti itu di depan umum, jelas dia sendiri yang akan merasa malu.


"Baiklah, aku akan ikut kalian. Nanti aku akan buktikan kalau aku tidak bersalah!"


Akhirnya Miska pun tidak lagi melakukan perlawanan.


"Sebaiknya pak Divta ikut juga dengan kami sebagai saksi!" ucap salah satu pria yang berseragam polisi itu dengan begitu sopan pada Divta.


"Saya pasti akan menyusul!"


"Baiklah, kami akan menunggu kehadiran pak Divta di sana!"


"Hmmm!"


"Kami permisi!"


Sedangkan di tempat lain, akhirnya mobil yang membawa Rangga sampai juga di sebuah rumah sakit. Rumah sakit yang cukup terkenal, FrAd Hospital, milik dokter Frans.


Sudah tidak bisa di ragukan tentang pelayanan rumah sakit itu, begitu bodyguard memanggil perawat, beberapa perawat langsung berdatangan dengan membawa bad dorong.


Zea yang masih begitu syok ia sam sekali tidak melepaskan tangan Rangga, hingga langkahnya harus terhenti saat di depan ruang UGD.


"Maaf, tidak ada yang boleh masuk selain pasien!"


"Tapi saya istrinya!"


Bodyguard Zea pun segera menahan tangan Zea,


"Maaf nona, biarkan dokter melakukan yang terbaik untuk tuan rangga!"


Mendengar perkataan bodyguard nya, akhirnya Zea menyerah. Ia membiarkan Rangga di bawa masuk.


Tapi baru saja pintu di tutup dari dalam, tiba-tiba tubuh Zea terjatuh beruntung bodyguard cukup tangga, ia menangkap tubuh Zea yang pingsan sebelum sampai jatuh.


"Dokter, tolong!" teriaknya berharap seseorang menolongnya. Dan benar, akhirnya beberapa perawat mendatangi Zea dan bodyguard,


"Tolong nona Zea, dia sedang sangat terguncang! Dia tiba-tiba pingsan!"


"Bantu kami membawanya ke ruang perawatan!" ucap perawat wanita itu. Ia tidak mungkin bisa mengangkat tubuh Zea sendiri.


"Baik!" bodyguard Zea segera mengangkat tubuhnya dan membawanya ke sebuah ruangan berdasarkan petunjuk perawat itu.

__ADS_1


Seorang dokter segera memeriksa keadaan Zea dan memastikan keadaan kandungan Zea.


Bodyguard Zea benar-benar tidak meninggalkannya, ia terus menemani Zea meskipun dokter tengah memeriksa keadaannya.


Terlihat dokter menyuntikkan obat melalui cairan infus yang baru saja si pasang.


"Kami harus memberi obat penenang agar ibu Zea bisa beristirahat!" ucap dokter itu masih dengan terlihat sibuk menyuntikkan cairan.


"Bagaimana keadaan nona Zea, dok?" tanya bodyguard itu, ia hanya ingin memastikan tidak terjadi hal yang serius.


"Syukurlah, tidak ada yang serius. Sepertinya ibu Zea hanya syok. Kami akan mengganti baju dan membersihkan darah pada tubuh Bu Zea, sebaiknya bapak keluar dulu!"


"Baik dok!"


Walaupun dengan terpaksa, akhirnya bodyguard Zea pun keluar dari ruangan itu, membiarkan beberapa perawat mengganti baju Zea yang kotor terkena darah Rangga.


Sedangkan di ruangan lain, Rangga mendapatkan beberapa jahitan di kepalanya, beruntung luka itu hanya berada di luar saja dan tidak menimbulkan lupa di bagian dalam.


Tidak ada penggumpalan darah di dalam otak dan untuk memastikan keadaan Rangga, dokter harus menunggu hingga Rangga sadar.


"Kita pindahkan pasien ke ruang perawatan!"


"Baik dok!"


Sedangkan tuan Seno yang berada di luar kota, begitu mendengar kabar kecelakaan yang di alami Rangga dan Zea, ia pun memutuskan untuk kembali.


Ia memesan tiket pesawat saat itu juga, sebenarnya ingin segera menghampiri Miska di kantor polisi, tapi memastikan keadaan Zea dirasa jauh lebih penting.


"Bagaimana keadaan Zea?" tanyanya pada bodyguard Zea begitu sampai di rumah sakit. Pria yang di tanyai itu segara berdiri dan menyambut kedatangannya. Pria itu tengah duduk di depan sebuah ruangan yang menjadi tempat Zea di rawat.


"Nona Zea tidak pa pa, tuan. Hanya tuan Rangga yang cidera. Nona Zea mengalami syok! Maafkan saya!" ia sudah cukup merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Zea dengan baik, "Sungguh saya minta maaf, saya tidak bisa menjaga nona Zea dengan baik!"


"Saya tidak tahu bagaimana pastinya, karena saat kejadian nona Zea meminta saya untuk membelikan bubur ayam tapi berdasarkan cerita yang saya dengar, nona Miska mendatangi nona Zea dan mencari ribut. Tapi tuan Rangga segera datang, saat nona Miska mendorong tubuh nona Zea, tuan Rangga segera menyelamatkannya dan merelakan kepalanya terbentur pembatas jalan!"


"Miska lagi!" tuan Seno begitu geram, ia sampai mengepalkan tangannya karena begitu kesal dengan kelakuan putri sambungnya itu.


"Bagaimana keadaan Rangga sekarang?"


"Tuan Rangga juga belum sadarkan diri, dokter masih belum memastikan apa ada masalah pada kepala tuan Rangga, karena pendarahannya cukup serius!"


Hehhhhhhh ....


Tuan Seno menghela nafas, belum juga satu masalah selesai kini bertambah lagi masalah baru. Ia benar-benar merasa kasihan dengan kehidupan putrinya.


"Di mana Zea sekarang?"


"Nona Zea masih belum bangun tuan!" tuan Seno pun segera masuk untuk melihat keadaan Zea, dan benar saja putrinya itu masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Tuan Seno pun duduk di samping Zea yang masih belum sadarkan diri karena memang dokter sengaja menyuntikkan obat penenang yang aman untuk ibu hamil agar saat ia bangun, Zea tidak akan histeris.


"Nak, maafkan papa! Papa masih selalu tidak bisa menjagamu!" ucap tuan Seno sambil menggengam tangan putrinya. Ia benar-benar menyesalkan kelalaiannya dalam menjaga Zea. Seandainya saja ia bisa sedikit saja waspada, semuanya tidak akan terjadi.


"Seandainya saja papa bisa lebih waspada lagi, seandainya saja papa melakukan hal yang tegas dari awal pada Miska, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi!" tuan Seno terus saja menyalahkan dirinya atas semua kemalangan yang terjadi pada putrinya.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu ruangan itu, tuan Seno dengan cepat mengusap matanya yang mulai berair, ia pun segera mempersilahkan orang itu masuk, dan ternyata seorang dokter.

__ADS_1


"Selamat sore tuan, saya mau memeriksa keadaan pasien!" ucapnya di temani seorang perawat di belakangnya.


"Selamat sore, iya silahkan!"


Tuan Seno segera berdiri dari duduknya, ia memberi tempat untuk dokter dan perawat itu.


Mereka tampak serius memeriksa putrinya, tapi kini yang menjadi pusat perhatiannya bukan bagaimana dokter itu memeriksa putrinya, tapi ia tengah mengamati wajah dokter yang tengah memeriksa putrinya itu.


Wajah dokter itu terasa tidak asing, dokter dengan ciri khas rambutnya yang gondrong dan di kuncir rapi, dengan kaca mata yang membingkai matanya, masih sama persis seperti belasan tahun yang lalu, dia benar-benar tidak berubah.


"Bukankah kamu Frans?" pertanyaan itu berhasil membuat dokter itu menghentikan kegiatannya. Ia menatap ke arah pria paruh baya yang tengah berdiri di samping tubuh Zea.


Dokter Frans segera menoleh pada perawat yang membantunya,


"Kamu boleh keluar sekarang!"


"Baik dok!"


Setelah memastikan perawat itu keluar, dokter Frans kembali mengamati wajah pria paruh baya di depannya,


"Anda, tuan Seno?" walaupun rambut pria di depannya sudah beruban dan kulitnya banyak kerutan. Tapi ia yakin, pria itu adalah pria yang sama waktu itu. Pria yang sedang mencari putrinya.


"Iya,!" tuan Seno segera tersenyum menyadari pria yang sekarang berprofesi sebagai dokter itu masih mengingatnya. Mereka bertemu sekitar dua belas atau tiga belas tahun lalu, "Jadi kamu benar-benar Frans? Kamu sekarang jadi dokter? Kamu juga pemilik rumah sakit ini?"


Dokter Frans jelas masih teringat, sekitar dua belas tahun lalu saat ia masih mengenyam pendidikan di SMA, pria paruh baya di depannya sering sekali mendatangi panti asuhan dan mengajaknya mengobrol.


"Iya, senang bertemu dengan tuan Seno lagi, bagaimana? Apa putri anda sudah ketemu?" ia masih selalu mengingat perkataan pria itu, mereka dulu selalu merasa senasib karena sama-sama tidak memiliki keluarga.


"Dia putri saya!" tuan Seno menunjuk pada Zea dan hal itu membuat dokter Frans benar-benar terkejut.


"Jadi Zea putri anda?"


"Iya, setalah tiga puluh tahun. Akhirnya kami baru di pertemukan!"


Dokter Frans kembali tersenyum, "Dunia ternyata begitu sempit!" ia benar-benar tidak menyangka jika Zea yang selalu bersamanya saat itu adalah putri yang tengah di cari pria itu.


"Maksud dokter Frans?"


"Jika anda tahu, dulu gadis yang selalu saya ceritakan pada anda adalah Zea!" setiap kali tuan Seno curhat tentang cinta dan putrinya, ia juga menceritakan tentang cinta pertamanya, gadis yang sangat baik yang selalu ingin ia jaga.


"Jadi_?"


"Iya, tapi kini kita sudah punya kehidupan masing-masing." dokter Frans tidak pernah menyesali semua yang terjadi, kehidupannya yang sekarang bahkan sudah memberi kebahagiaan yang utuh, istrinya memang bukan cinta pertamanya, tapi ia yakin istrinya adalah cinta terakhirnya hingga mau memisahkan.


Tuan Seno pun menepuk bahu dokter Frans, "Terimakasih, karena dulu kamu selalu menjaganya!"


"Mungkin ini sebagian dari takdir! Kita di pertemukan untuk semakin menguatkan betapa tuan Seno dulu begitu mendambakan putrinya yang hilang! Dan Zea pasti akan mengerti semuanya!"


"Aku tahu, dia anak yang baik!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2