Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (115. pertemuan dengannya)


__ADS_3

"Silahkan masuk dok!" Rangga masih belum mengingat apa hubungan dokter Frans dengan Zea di masa lalu, itulah kenapa ia masih bisa bersikap biasa. Yang ia tahu, pria itu adalah pria yang telah menikahi cinta pertamanya tapi ia tidak tahu kalau pria itu juga cinta pertama istrinya.


"Ga!?" Zea segera menggenggam tangan Rangga dan menggelengkan kepalanya.


"Dia dokter Frans, dokter terbaik di rumah sakit ini. Dia juga pemilik rumah sakit ini, jadi jangan khawatir ya."


Zea akhirnya menyerah, ia hampir lupa jika suaminya bahkan tidak ingat tentang hubungan mereka di masa lalu.


"Silahkan dok!"


Dokter Frans pun berjalan mendekati mereka,


"Bagaimana keadaan anda, nona Zea?"


"Sa, saya sudah lebih baik!"


"Baiklah, kalau begitu ijinkan saya memeriksanya ya!"


Baru saja dokter Frans akan memeriksa Zea tiba-tiba ponsel Rangga berdering.


"Maaf dok, saya ke luar dulu tidak pa pa kan?" Rangga menunjukan kalau ia Ingin menerim telpon itu.


"Iya silahkan!"


Rangga pun akhirnya keluar dari ruangan itu, telpon itu dari mandor bangunan. Ia sampai lupa memberi kabar pada mandor itu, ia yang tiba-tiba pergi tentu membuat mereka bingung padahal tadi ia masih akan melakukan meeting.


Kini di ruangan itu tinggal mereka berdua, Zea dan dokter Frans. Suasana berubah menjadi canggung.


Dokter Frans tampak mulai memeriksa keadaan Zea,


"Bagaimana kabarmu?" pertanyaan yang ingin sekali dokter Frans tanyakan setelah Zea menghilang dengan tiba-tiba dan sekarang ia kembali datang dengan Rangga.


"Aku baik!"


"Kemana saja selama ini?" ternyata Felic tidak pernah menceritakan keberadaan Zea pad suaminya. Ia memang sudah memaafkan wanita itu tapi tetap saja, rasanya masih belum rela jika membiarkan suaminya kembali dekat dengan Zea. Ia sudah tahu bagaimana masa lalu Zea dan suaminya, sedekat apa mereka dulu. Zea dan dokter Frans bahkan sudah tinggal bersama semenjak kecil, hubungan mereka seharusnya bukan sebatas cinta pertama tapi lebih dalam dari itu. Hubungan yang mengikat mereka dengan makanan yang sama, nasib yang sama dan tumbuh bersama, hubungan sedekat saudara, sedekat sahabat yang tidak bisa di ingkari sampai kapanpun.


"Apa nona Fe tidak pernah mengatakan apapun pada mu?"


"Jadi Fe sudah bertemu denganmu?"


"Hmmm!"


"Dia tahu kamu menikah dengan Rangga?"


"Hmmm! Tapi bagaimana kamu tahu kalau Rangga suamiku?"


"Dia begitu mengkhawatirkan mu, dia tampak suami yang begitu siaga!"


"Aku tahu itu!" kemudian Zea kembali mengingat perkataan Rangga sebelum ia masuk ke dalam ruang gawat darurat tadi. Dia menyebut aku istrinya?


"Selamat ya atas pernikahan kalian, dia pria yang baik."


"Terimakasih!"


Rangga pun kembali masuk ke dalam ruangan,


"Bagaimana dok?" tanya Rangga.


"Tidak pa pa, semuanya sudah baik. Bahkan nona Zea sudah bisa pulang hari ini juga!"


"Syukurlah!"


Setelah mengurus administrasi, akhirnya Zea benar-benar di perbolehkan pulang.


"Aku akan mengantarmu sampai di rumah!"


"Benar, aku tidak merepotkanmu?"

__ADS_1


"Kenapa berkata seperti itu?"


"Ya tidak pa pa, seharusnya kita sudah melakukan banyak pekerjaan hari ini tapi gara-gara aku_!" tiba-tiba jari telunjuk Rangga ia tempelkan di bibir Zea.


"Tidak, lagi pula mungkin kita juga perlu istirahat. Maafkan mama aku ya atas kejadian tadi."


"Mama kamu tidak salah."


Rangga terus mendorong kursi roda yang di pakai Zea hingga sampai di depan rumah sakit, pengawal Zea kembali menghampiri mereka.


"Mari saya bantu tuan!"


"Buka saja pintu mobilnya!"


"Baik!" pengawal itu kembali berlari menghampiri mobil dan membukakan pintu belakang. Rangga segara menggendong tubuh Zea dan memasukkannya ke dalam mobil dan ia pun ikut masuk.


"Sudah!" ucapnya lagi setelah memastikan semua sudah masuk.


Mobil pun mulai berjalan meninggalkan rumah sakit, Rangga sesekali memperhatikan wajah Zea, "Tidurlah." Rangga menarik kepala Zea agar mau bersandar di bahunya. Zea dengan senang hati melakukannya.


"Ga!?"


"Hmmm?"


"Aku tadi sebelum masuk ke ruang IGD, sepertinya aku mendengar kamu mengatakan kalau aku istri kamu?" Zea ingin memastikan kalau apa yang ia dengar tadi benar, jika iya, dia ingin memastikan kalau suaminya itu sudah mengingat semuanya.


"Oh itu." Rangga tidak mungkin mengatakan jika ingatannya sedikit demi sedikit kembali, walaupun tidak sepenuhnya ia tahu jika wanita itu memang istrinya dari yang di katakan oleh koh Chang dan tentang perdebatan kedua orang tuanya waktu itu, tapi yang lebih dari semua itu, hatinya juga meyakini, "Aku terlalu panik, tadi sampai mengatakan hal itu. Maaf ya!"


Bukan itu yang ingin aku dengar Ga ...., walaupun kecewa tapi Zea tidak mungkin memaksakan diri. Ia jadi teringat dengan pembicaraan antara mama Rangga dan nyonya Widya tadi. Apa itu artinya Rangga dan papa tidak tahu tentang hutang mama?


"Zea, apa yang sedang kamu pikirkan?"


Sebelum aku benar-benar tahu pasti, lebih baik aku tidak bercerita sama Rangga ...


"Tidak, hanya sama aku merasa nyaman seperti ini."


Zea segara masuk, sedangkan Rangga pergi di antar pengawal Zea untuk mengambil mobilnya yang tertinggal di tempat proyek.


Kedatangan Zea langsung di sambut oleh bibi,


"Ya ampun, nyonya. Bagaimana keadaan nyonya?"


"Aku udah baik bi!"


"Ayo bibi antar ke kamar!"


Bibi pun mengantar Zea ke kamar dan membantunya untuk naik ke atas tempat tidur, ia juga membantu Zea menselonjorkan kakinya.


"Bi!?"


"Iya?"


"Papa kemana?"


"Oh tuan Seno, tadi dia ke rumah sakit. Tapi katanya ada tuan Rangga, makanya tuan Seno memilih pergi, beliau juga melarang bibi buat nyusul nyonya ke rumah sakit. Katanya biarkan nyonya bisa sama tuan Rangga!"


"Jadi papa sengaja?"


"Iya, tuan Seno begitu menyayangi nyonya!"


Akhirnya rasa kecewa tadi tiba-tiba hilang, ia sekarang tahu apa alasan papanya tidak menungguinya ke rumah sakit.


Dan benar saja, setelah tahu Zea sudah pulang. Tuan Seno cepat-cepat pulang dan menemui Zea.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?"


"Pa, Zea baik. Terimakasih ya pa!"

__ADS_1


"Terimakasih buat apa?"


"Karena papa sudah membiarkan Rangga menungguiku, dan lagi aku jga minta maaf!"


"Minta maaf?"


"Iya, karena Zea sudah berburuk sangka sama papa. Zea kira papa tidak sayang sama Zea karena papa tidak berada di samping Zea saat Zea bangun."


tuan Seno mengusap kepala Zea dan tersenyum, "Papa tidak peduli bagaimana dan apa yang kamu pikirkan tentang papa, yang papa tahu untuk saat ini, selama papa memiliki kesempatan papa ingin yang terbaik buat kamu."


"Pa!?" Zea benar-benar bersyukur karena walaupun sangat terlambat tapi cinta yang papanya berikan seolah menggantikan berpuluh tahun waktu yang terlewat selama ini, "terimakasih!"


Berenda dengan zea, Rangga cepat-cepat mencari keberadaan mamanya, ia ingin meminta penjelasan mamanya tentang apa yang ia lakukan pada Zea.


"Ma, mama ...!"


"Ma ....!"


Pria paruh baya yang baru saja turun terlihat mengerutkan keningnya yang sudah banyak kerutan membuat kerutan itu semakin jelas saja, "Ada apa Ga, kenapa teriak-teriak di dalam rumah?"


"Mama nama pa?"


"Mama kamu? Kayaknya belum pulang!"


"Kok bisa, papa tidak tahu mama kemana?"


"Memang mama kamu mau jawab kalau papa tanya, kamu kayak nggak hafal saja sama mama kamu!"


Baru saja Rangga berbalik, dari arah pintu depan terlihat mamanya datang, tapi dengan wajah yang sangat tertekan.


"Ma!?"


Rangga segara menghampiri sang mama, "Mama dari mana aja, Rangga kira mama langsung pulang tadi?"


"Memang kamu peduli sama mama, mau mama mati pun kamu juga tidak peduli, yang kamu pedulikan cuma wanita itu."


"Ma, mama ngomong apa sih?"


"Coba kamu katakan, kenapa kamu bisa berduaan tadi sama dia?"


"Rangga terlibat pekerjaan ma sama Zea. Mama sekarang jelaskan, kenapa sampai mama menyerang Zea?"


"Jadi mama.menyerang Zea?" papa beni begitu terkejut mendengar perdebatan putra dan istrinya itu.


"Sudah, mama pusing. Mama mau istirahat!"


"Mama kebiasaan ya, selalu saja menghindar saat Rangga ingin mama menjelaskan sesuatu!"


Tapi sepertinya wanita paruh baya itu tidak peduli, ia terlihat begitu kacau hingga membuat Rangga tidak tega mencercanya.


"Memang benar mama kamu menyerang Zea?" tanya papa Beni dan Rangga pun mengangukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana keadaan Zea sekarang? Bayinya bagaimana?"


"Dia sudah baik-baik saja pa, ya sudah Rangga juga capek, Rangga mau istirahat!" Rangga pun ikut meninggalkan papanya.


Mama Rangga segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kakinya rasanya seperti mau lepas dari tempatnya. Ternyata setelah pergi dari kafe, mama Rangga pergi ke toko emas untuk menggadaikan perhiasannya tapi tetap saja jumlahnya masih jauh dari hutang yang harus di bayarkan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2