
Setelah perdebatan itu, Rangga memilih untuk kembali saja ke kamarnya. Ia harus mulai memikirkan tentang bagaimana cara untuk melunasi hutang yang sudah di buat oleh mamanya.
Pria itu duduk termenung di tepi tempat tidur, memandangi layar ponselnya, m-bangking di hp nya menunjukkan berapa tabungan yang ia miliki saat ini.
"Ini masih sangat jauh, aku harus cari ke mana uang sebanyak itu." Rangga menyunggar rambutnya ke belakang hingga menampakkan keningnya yang tidak tertutup rambut.
"Mobil, ya mobilku masih bisa aku jual kan!" Rangga pun akhirnya memilih untuk keluar rumah, ia membawa mobilnya ke dealer terdekat dari rumahnya dan melakukan negosiasi di sana, tidak lupa ia juga menjual motor besarnya .
"Ini masih 150 juta di tambah tabunganku 600 juta, masih kurang setengahnya lagi." gumam Rangga sambil menatap saldo di m-banking nya lagi, di depannya kini sudah ada motor bebek, ia sengaja membeli motor bebek bekas dengan harga tidak lebih dari sepuluh juta untuk mempermudahnya melakukan aktifitas.
"Aku tidak mungkin menjual apartemen, apartemen itu pemberian pak Div." gumamnya lagi, jika ia menjual apartemennya sudah pasti akan cukup uangnya tapi itu tidak mungkin ia lakukan.
Sedangkan pak beni, ia segera keluar dan menuju ke ruang kerjanya, tampak tengah membuka brangkas yang ada di ruangan itu, ia mengambil harta paling berharga miliknya, sebuah dokumen kepemilikan toko, toko yang telah membesarkan keluarganya mulai dari nol, "Sekarang mungkin memang sudah waktunya aku melepaskannya."
Ia segera menutup kembali brangkasnya, mengambil tas tipis berwarna hitam yang ada di atas lemari, tampak tas itu sedikit berdebu karena memang ia tidak pernah dipakai. Ia mengibaskan tas itu agar debunya sedikit menghilang dan memasukkan berkas yang baru saja ia ambil.
Dengan langkah pasti ia keluar dari ruangan itu, tapi segera di hadang oleh sang istri, "Pa, papa mau kemana?"
Pak Beni menatap istrinya sejenak lalu berbalik, "Jika ada yang harus di korbankan, maka hal itu bukan Rangga. Walaupun dunia ini meminta semua yang papa punya, papa akan berikan asal Rangga masih menjadi kebanggaan papa."
Ia pun berlalu begitu saja meninggalkan sang istri yang masih terdiam di tempatnya, menatap kepergian sang suami.
Pak Beni mengambil motor pespa lama miliknya, mengendarainya perlahan menuju ke tempat yang sudah lama mengincar toko dan rumahnya.
Sebuah rumah yang terlihat mencolok dari pada rumah yang lainnya, rumah yang tidak begitu jauh dari rumah pak Beni.
Ia segera memarkir motornya di pinggir jalan, menatap rumah besar itu sejenak dan meyakinkan kembali hatinya.
"Selamat sore, apa tuan Erwin ada?" tanyanya pada seorang pria yang terlihat seumuran dengan Rangga tengah memakai seragam satpam.
"Dengan siapa ya?"
"Katakan saja, saya pak Beni!"
"Baik, tunggu sebentar ya pak!" pria itu pun segera meninggalkan posnya dan menuju ke dalam rumah.
Sambil menunggu pria itu kembali, pak Beni pun mengambil tas yang masih ia letakkan di keranjang motornya, ia pun memilih duduk di pembatas jalan hingga suara panggilan membuatnya kembali berdiri,
"Pak, anda di perbolehkan masuk!"
Pak Beni pun segera mendekati pagar, dan pria itu membukanya, "Mari saya antar!"
"Baik!"
Pak Beni mengikuti langkah pria berseragam satpam itu menuju ke sebuah pintu utama berwarna coklat, pintu itu nampak berbahan kayu jati dengan ukiran yang indah.
"Mari silahkan masuk pak!" pria dengan tag nama Santoso di bagian bajunya itu membukakan pintu Daan membiarkan pak beni masuk sendiri. Ternyata terlihat tuan Erwin sudah menunggunya di sofa.
"Terimakasih!"
Satpam itu kembali menutup pintu dari luar, membuatkan pak Beni masuk sendiri.
__ADS_1
"Selamat datang pak Beni, ada angin apa nih anda tiba-tiba datang ke sini?" pria yang terlihat seumuran dengannya itu tampak berdiri menyambut kedatangan pak Beni.
"Boleh saya duduk?"
"Oh iya, silahkan!"
Pak Beni pun segera duduk di sofa yang lebih kecil begitupun dengan pria itu yang kembali duduk.
"Maksud kedatangan saya, saya ingin membicarakan kembali tentang pembicaraan kita beberapa bulan yang lalu!"
"Jadi maksudnya?"
"Iya, saya setuju untuk menjual toko dan juga rumah saya."
Tuan Erwin tampak tersenyum, ia benar-benar tidak menyangka pria di depannya akan berubah pikiran secepat ini. "Jadi bagaimana? Anda setuju dengan tawaran saya?"
"Saya mau tuan Erwin menaikan sedikit tawarannya!"
"Berapa?"
"Toko dan rumah, 1 milyar! Tapi juga ada syaratnya!"
"Apa syaratnya?"
"Tetap pekerjaaan pekerja saya di sana, saya tidak mau mereka kehilangan pekerjaannya. Mereka sudah bekerja dengan saya cukup lama, kalau masalah pekerjaan jangan khawatir mereka semua bisa di andalkan. Termasuk asisten rumah tangga di rumah saya!"
"Baiklah saya setuju." tampak tuan Erwin memanggil anak buahnya untuk mengambil cek.
"Ini sesuai dengan yang pak Beni minta!"
Pak Beni pun segara mengambil cek itu, ia menatap nominal yang tertera di dalam cek itu, Aku tidak akan menyesali semua ini .....
Pak Beni pun segera menyerahkan tas yang ada di tangannya, "Silahkan tuan Erwin periksa keasliannya."
"Saya percaya pada anda. Lalu kapan saya bisa menempati rumah itu?"
"Besok kamu akan segera berkemas! Beri kami waktu hingga besok malam."
"Baik!"
"Kalau begitu saya permisi!"
Pak Beni pun segera meninggalkan tempat itu, ia tidak sabar untuk segera menyerahkan cek itu kepada Rangga.
"Saya permisi!" ucap pak Beni saat melewati satpam yang tadi.
"Oh iya pak, hati-hati di jalan!" jalanan sudah mulai gelap dan seorang yang Sudja cukup berumur harus mengendari motor sendiri mungkin itu yang membuat satpam itu sedikit khawatir.
Pak Beni memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Hingga sampai di halaman rumah, ia melihat motor yang tidak biasa terparkir di sana, "ini motor siapa? mobil Rangga juga tidak ada. Apa ada tamu ya di dalam?"
Pak Beni pun mempercepat langkahnya, tapi di ruang tamu tidak ada orang, saat ia hendak menaiki tangga, ia melihat Rangga yang tengah berdiri di samping lemari pendingin tengah meneguk air putih.
__ADS_1
"Ga!?"
Rangga menghentikan minumnya dan menatap sang papa, "Dari mana pa?"
Bukannya menjawab, pak Beni mengurungkan niatnya untuk naik tangga. Ia memilih untuk menghampiri Rangga dan duduk di meja makan.
Rangga pun mengambilkan segelas air putih untuknya dan ikut duduk,
"Minum pa!"
"Itu di luar motor siapa?" tanya pak Beni sebelum meneguk minumannya.
"Motor Rangga, pa!"
"Mobil kamu?"
"Rangga jual."
"Mama kamu di mana?" pak Beni mengedarkan pandangannya, ia tidak menemukan sang istri di sana.
"Mama baru saja masuk ke kamar, katanya mau mandi!"
Pak Beni pun mengeluarkan selembar cek yang baru ia dapat, "Bawa ini Ga!"
Rangga menatap cek dengan nilai yang begitu besar itu, "Ini apa pa?"
"Papa sudah menjual toko dan juga rumah ini!"
"Pa_!"
"Papa sudah mengatakannya tadi, bagi papa, kebahagiaan kamu lebih penting dari semua yang papa miliki. Papa mau besok pergilah ke tempat nyonya Widya dan serahkan ini padanya, sekalian batalkan pernikahan kalian!"
"Tapi pa_!"
"Harta bisa di cari Ga, papa dulu juga bukan siapa-siapa. Papa mulai semuanya dari nol, dan sekarang kalau harus memulai dari nol juga papa siap, asal papa punya kamu. Papa yakin semuanya akan lebih mudah."
Srekkkk
Rangga segera memeluk papanya, "terimakasih ya pa!"
Mereka saling berpelukan, untuk sekian lama baru kali ini mereka bisa sedekat ini lagi.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1