
Felic kembali mengabsen setiap jengkal ruangan yang sekarang menjadi ruang inapnya
itu setelag Rangga dan dokter Frans meninggalkannya, ia masih begitu penasaran
dengan ruangan yang super mewah itu. Luas ruangan itu lebih luas dari pada
rumahnya, lengkap dengan dapur kecil dan kamar yang ada di dalam kamar.
“Frans pasti sudah gila nih …., gue di taruh tempat kayak gini, nggak takut apa
ketahuan bosnya trus di pecat!” Felic terus bergumam sendiri sepanjang
berkeliling, bahkan kakinya sampai nyeri karena terlalu asik berkeliling.
Felic melupakan satu tempat. Yaitu jendela besar itu. Dengan langkah cepatnya Felic
segera menghampiri jendela itu.
“Wahhhh …., bagusnya …, dari sini bisa lihat pemandangan kota Jakarta, pasti kalau
malam hari lebih indah!”
Karena terlalu mengagumi ruangan itu, Felic hingga melupakan sakitnya. Saat sudah puas
menikmati pemandangan, mata Felic beralih menunduk. Dari atas ia bisa melihat
dokter Frans sedang mengobrol dengan beberapa seorang, tapi orang itu bukan Rangga.
“Mereka siapa?” matanya kembali terfokus pada orang-orang yang sepertinya mengawasi
mereka dari jarak aman dengan jas hitamnya.
“Lalu…, gue seperti menangkap pria-pria berjas hitam itu sedang mengawasi mereka?
Atau mungkin mereka menjaga atau malah penjahat?” Felic terus bertanya-tanya.
Tapi matanya kembali terfokus pada anak laki-laki yang berjalan menghampiri dokter
Frans lengkap dengan pria berjas hitam yang sama.
“Mereka di hormati sekali …!”
“Atau jangan-jangan itu pemilik rumah sakitnya? Buktinya Frans mengenal mereka!”
“Frans kalau di liat-liat dari sini, semakin tampan saja …!” puji Felic dengan senyum
yang mengembang. Walaupun hatinya belum cinta, tapi ia tidak bisa memungkiri
jika pesona Frans mampu membuat hatinya goyah apalagi akhir-akhir ini Frans
begitu perhatian padanya.
Senyum dokter Frans selalu berhasil membuat Felic luluh, apalagi setelah kejadian kemarin, ciuman itu, segera membuat pipinya memerah, rasanya panas.
"Aku jadi malu ......!" Felic bergidik ngeri sendiri, untuk pertama kalinya ia melakukan ciuman seperti itu, rasanya sangat membekas.
“Yah …, mereka masuk. Jadi nggak bisa liat lagi dong!” entah kenapa ada rasa yang hilang saat ia tidak bisa menemukan pria itu, bahkan kedatangan Rangga tidak lagi begitu berpengaruh untuknya, ia kira akan sangat sakit melepaskan Rangga, tapi ternyata lebih sakit saat Frans menghindarinya.
Felic pun memutuskan untuk menutup kembali sebagian gordennya, sinar matahari sore
akan segera masuk ke dalam ruangan itu. Felic kembali menggantung kantong
infusnya yang sudah Frans pasang kembali setelah melihat tangan nya tidak bengkak lagi, Felic menggantungnya ke penyanggah lalu duduk di tepi tempat tidur, tempat tidur itu
benar-benar tidak mirip dengan tempat tidur pasien tapi lebih mirip dengan
tempat tidur pengantin, empuk dengan selimut tebalnya.
Ceklek
Pintu di buka dari luar, menampakkan seorang perawat, “Permisi …, dokter Frans di
luar, apa mereka di ijinkan masuk?”
Felic tercengang, tidak biasa ia melihat perawat begitu hormat dengan pasiennya seperti
itu.
Sejak kapan Frans masuk pakek ijin dulu .....
“Heeee ….!” Hal itu malah membuat Felic bingung.
Kalau mau masuk masuk saja …, kenapa perlu ijin …?
Tapi perawat itu sepertinya tetap menunggu persetujuan Felic, “Suruh masuk, sus!”
“Baik nyonya!”
__ADS_1
Setelah mendapatkan persetujuan dari Felic, perawat itu pun segera undur diri. Felic
yang hendak duduk kembali segera ia urungkan karena kehadiran seseorang tapi
itu bukan dokter Frans, gadis kecil tiba-tiba menyusup di antara pintu.
‘Aunty …..!” Felic yang tidak terbiasa dengan panggilan itu hanya tercengang, gadis
kecil itu berdiri tepat di depan Felic, Felic segera menundukkan punggungnya
mencoba meraih wajah gadis kecil itu walaupun sedikit susah karena terhalang
oleh selang infus.
“Hai …., cantik! Sama siapa ke sini?”
“Sama mommy, papi, Sagara dan paman dokter!”
“Paman dokter?” sekarang Felic baru faham jika gadis kecil di depannya itu datang
bersama dokter Frans. Gadis kecil itu mengangguk membuat felic gemas.
"Lalu paman dokternya mana?" tanya Felic karena tidak menemukan siapapun di belakang gadis itu.
"Orang dewasa kalau jalan lambat!" keluh gadis kecil itu sambil menyilang kan tangannya di depan dada.
“Siapa nama kamu?”
“Sanaya!”
“San …., Naya…, Aya?” Felic berusaha mencari panggilan yang bagus untuk gadis kecil
di depannya itu.
“Nay …., aunty ….! Biasanya mommy memanggilku Nay ,…!"
"Nay cantik sekali ....., aunty jadi pengen nyubit!"
"Aunty juga cantik seperti Rapunzel, beruntung sekali ya paman dokter ...., dia tidak begitu keren!" ucap Sanaya dengan gaya berpikirnya.
Ha ha ha ....
ucapan Sanaya berhasil membuat Felic tertawa, gadis kecil itu begitu menggemaskan.
"kata mommy, aunty sendang sakit ya, apanya yang sakit?”
“Aunty sakit perut, Nay …!”
di perut aunty Nadin. Apa aunty Fe juga ada bayinya di dalam perut?” tanya
Sanaya sambil memegang perut Felic, pertanyaan gadis kecil itu membuat Felic
tergelitik. Gadis kecil itu masih begitu polos.
“Nay …, jangan ganggu aunty Fe sayang …, aunty-nya masih sakit!” ucap seseorang,
seorang wanita yang begitu cantik dengan kesederhanaannya. Wanita itu
menghampiri mereka di ikuti dua pria di belakangnya.
Felic hanya bisa mengeryitkan keningnya heran, mereka seperti sangat mengenalnya,
sedangkan dia sama sekali tidak mengenal siapa mereka kecuali orang yang berada
di samping dokter Frans, pria itu yang datang ke pernikahannya waktu itu.
Kenapa mereka terlihat luar biasa sekarang?
‘Hai Felicia …, kenalkan saya Ara, istri Agra!” wanita cantik itu mengulurkan tangannya, walaupun dengan bingung Felic pun akhirnya menyambut tangan itu.
“Felicia …!”
“Sudah tahu, dokter Frans sering menceritakan tentangmu!” ucap Ara dengan senyum
lembutnya. Hal itu membuat Felic segera menatap ke arah dokter Frans.
“kakak ipar …, apa-apaan …, aku nggak pernah menceritakan tentang dia sama kakak
ipar!” protes dokter Frans yang terlihat panik hal itu membuat Agra tertawa, gimana lucunya melihat wajah panik dokter Frans.
“Takut banget ketahuan cinta!” ledek Agra. Agra pun meninggalkan dokter Frans dan
menghampiri Felic.
“Hallo Felic …, masih ingat sama saya kan?”
“Iya …!”
__ADS_1
“bagaimana keadaanmu?”
“Sudah lebih baik!”
Kemudian mata Felic menangkap sosok yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya. Pria
kecil dengan sejuta pesona itu, dia pria kecil yang di kelilingi oleh pria-pria berjas yang Felic lihat di bawah tadi.
Sepertinya Ara menyadari arah tatapan Felic.
“Gara …, sini sayang! Beri salam pada aunty Fe!” perintah Ara pada Sagara. Sagara yang
sedari tadi diam pun segera mendekat kearah Felic.
“Hai aunty ….!”
“hai ….!”
“Aku Gara, kakaknya Nay!”
“kalian kembar?” felic begitu terkagum dengan dua anak itu, ia baru menyadari jika
mereka berdua itu kembar.
“Iya …, tapi karena Gara lahir lebih dulu, jadi Gara yang paling keren!”
Ha ha ha
Ucapan polos Sagara mengundang tawa semua yang ada di ruangan itu. Felic benar-benar tidak menyangka mereka begitu hangat.
"Aunty Fe cantik, Gara boleh tidak jatuh cinta sama aunty Fe?"
"Hahhhh?"
"Kalau boleh Gara siap bersaing dengan uncle dokter!"
"Ihhhh ...., Gara ....! Kecil-kecil sudah pandai gombali cewek ya, mau uncle Dokter jambak jambulmu itu!" ucap dokter Frans kesal sambil berdiri di depan Sagara.
"Issttt. ....., istttt ....., isstttt ....., posesif sekali!" gumam Gara lalu berlalu begitu saja tanpa dosa.
Setelah memperkenalkan diri masing-masing, Sagara dan Sanaya terus saja membanjiri
Felic dengan banyak pertanyaan yang sering kali tidak bisa di jawab oleh Felic,
wajah bingung Felic membuat dokter Frans terpesona, menurutnya itu sangat
menggemaskan.
“Sudah anak-anak …, jangan menggoda aunty Fe lagi …, kalian bermain sendiri di sana,
biar mommy yang mengobrol dengan aunty Fe!”
“Baik mom!” jawab Sagara dan Sanaya bersamaan, mereka pun dnegan kompak meninggalkan Felic dan Ara sedangkan dua pria dewasa itu juga berpamitan untuk keluar
sebentar karena ada beberapa pekerjaan yang harus di lakukan.
“Fe …!”
“Iya?”
“Gimana pernikahan kalian? Maaf ya kemarin pas kalian nikah nggak bisa datang soalnya
dokter Frans nggak ngijinin kita datang!”
Kenapa Frans nggak bolehin kerabatnya datang? Apa karena terlalu dadakan? Kalau Frans panggil mbak Ara,
kakak ipar berarti hubungan mereka bukan pertemanan biasa dong?
“Kami baik mbak!”
“panggil saja Ara, kita sepertinya seumuran kan, walau mungkin tua-an aku dua atau tiga
tahun sih! Kamu nggak penasaran sama kehidupan dokter Frans?”
Pertanyaan Ara menyadarkan felic, ia baru sadar jika belum mengenal pria yang menjadi
suaminya itu, bahkan ia tidak tahu latar belakang suaminya itu, sebelumnya ia
tidak pernah terusik dengan hal itu tapi setelah mendapatkan pertanyaan dari
Ara, entah kenapa ia jadi penasaran.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘😘