Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (22. Group sultan)


__ADS_3

Mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka dengan membicarakan hal-hal yang lain. Tampaknya dia orang licik itu begitu cocok saat saling membahas kesukaan mereka.


"Sepertinya kita sudah terlalu lama di sini, maaf saya harus pergi!" Miska segera berpamitan saat teringat ia masih punya jadwal lainnya.


"Iya, tidak pa pa! Terimakasih sudah menyempatkan diri tadi, ini pertemuan yang cukup berkesan. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan!"


"Sama-sama!"


Miska pun segera meninggalkan Rizal sendiri, manik mata Rizal masih terus mengawasi wanita itu hingga masuk ke dalam mobilnya.


"Sebenarnya dia wanita yang lumayan, sayang dia sangat naif!" gumamnya lalu tangannya melambai saat wanita itu melambaikan tangan.


Hehhhhh ......


Rizal kembali merenung, ia merasa sepi di tempat yang ramai. Ia seperti tidak punya siapapun di dunia ini selain ambisinya.


Kesalahan terbesarnya adalah mengabaikan wanita yang telah begitu setia menemaninya hampir sepuluh tahun tapi dengan bodohnya ia mengabaikan wanita itu dan sekarang ia harus menuai atas kesalahan di masa lalu.


"Mas Rizal?"


Suara seseorang membuyarkan lamunannya. Ia segera menoleh ke sumber suara dia adalah Felic sahabat Ersya.


"Fe, kamu di sini?"


"Mas Rizal sendiri?"


"Iya, duduklah!"


Felic melihat gelas yang sudah kosong di depan Rizal, ia tahu pria itu tidak sendiri tadinya.


Walaupun tidak punya urusan dengan pria di depannya, tapi Felic memilih untuk menerima tawaran pria itu untuk duduk sambil menunggu pemilik kafe yang belum datang.


"Sama suami kamu?"


"Enggak, Fe sendiri! Gimana kabar mas Rizal?"


"Seperti yang kamu lihat, aku begitu menderita karena kehilangan Ersya! Kamu tahu itu!"


Felic hanya menatap jengah pada pria di depannya, seandainya saja ia bisa mengumpat sekarang ia ingin sekali mengumpat banyak-banyak untuk pria di depannya.


"Aku sungguh masih sangat mencintai Ersya, dia jodohku! Seandainya saja waktu bisa di putar kembali sudah pasti aku tidak akan pernah melakukan kesalahan itu!"


"Semua sudah terlanjur mas, jadi mas Rizal juga harus bisa menerima kenyataan, mungkin memang Ersya bukan jodoh terbaik untuk mas Rizal!"


Kamu yang bukan jodoh terbaik untuk Ersya, sungguh aku bersyukur karena Ersya bisa lepas dari kamu ...., Walaupun di depan Felic bersikap manis tapi tidak dengan hatinya, ia masih begitu sakit hati dengan pria di depannya itu. Pria yang tengah dengan berani menyakiti sahabatnya.


"Sudah, lebih baik kita tidak membahas Ersya!" Rizal segera mengalihkan pembicaraan.


Lagi pula siapa yang ingin membahas Ersya untukmu, males banget ....


"Iya, itu jauh lebih baik!"


"Kamu ada apa ke sini?"


"Aku sebenarnya langganan beli kue dari sini, Zoe sangat suka kue dari sini!"


"Ohhhh!"

__ADS_1


"Ya udah mas, itu orang yang aku tunggu sudah datang!" Felic segera berdiri dari duduknya saat melihat seorang wanita memasuki kafe dengan pengawalan ketat. Siapapun yang melihatnya pasti sudah bisa menduga jika wanita itu bukan wanita sembarangan.


"Dia temanmu?"


"Begitulah!"


Tiba-tiba nyali Rizal kembali menciut, ia bisa membayangkan siapa saja orang-orang yang ada di dalam jajaran pemegang saham finityGroup.


...***...


Pak Beni, papa Rangga tiba-tiba menjadi penasaran dengan apa yang di katakan oleh istrinya beberapa waktu lalu.


Pria yang sudah pensiun itu tidak memiliki banyak pekerjaan, ia memiliki banyak waktu luang untuk hidupnya salain mengurusi toko furniture nya yang tidak begitu besar.


"Pa, pakek baju oleh raga sore-sore begini mau ke mana?" mama Rangga jadi penasaran melihat penampilan suaminya, tidak biasanya ia pergi sore dengan pakaian olah raga.


"Mama nggak lihat, papa mau olah raga!"


"Papa nggak salah?"


"Ya nggak! Hari ini mataharinya bagus, cerah! Di lapangan sebelah pasti banyak anak-anak bermain bola, papa mau lihat!"


"Mama ikut ya?"


"Ngapain?"


"Juga mau lihat!"


"Nggak usah mama di rumah saja, lagi pula tadi kata mama jeng Titin mau datang!"


"Ya udah papa pergi dulu, keburu gelap!"


"Nggak usah lama-lama pa!"


"Hmmm!"


Pak Beni segera meninggalkan rumahnya, beruntung ia punya alasan untuk menolak istrinya ikut. Sebenarnya melihat anak-anak bermain bola hanya alasannya saja.


Ia ingin melihat wanita yang di bicarakan oleh istrinya, jika benar putranya sudah menemukan tambatan hatinya, dia bisa lega saat melihat wanita itu.


Langkah tuanya semakin melambat saat sampai di ujung gang, sebentar lagi ia sampai di minimarket yang di katakan oleh istrinya.


"Pak Beni mau ke mana? Mau saya antar saja pak?" seorang pria berpakaian satpam sedang menyapanya. Dia adalah satpam komplek tempatnya tinggal, hampir semua warga komplek mengenal sosok Beni ini.


Tapi kontrakan Zea dan rumah Rangga berbeda komplek, mereka akan bertemu di ujung jalan gang dan melalui jalan yang sama untuk mencapai jalan raya.


"Nggak perlu, saya cuma mau ke minimarket depan, haus mau cari minuman dingin sekalian cari angin, sudah lama nggak jalan-jalan!"


"Ahhh pak Beni nih nggak mau kalah ya sama anaknya?"


"Memang kenapa dengan anak saya?"


"Loh pak Beni tidak tahu ya?"


"Apa?"


"Mas Rangga sering nongkrong di situ dan gosipnya lagi_!"

__ADS_1


"Ada gosip apa?"


"Ahhhh, nggak ah pak, nanti saya malah salah bicara! ya sudah saya kerja lagi, silahkan di lanjut perjalanannya!"


Papa Rangga pun tidak bisa mengorek banyak dari orang lain, ia juga ingin segera tahu wanita seperti apa yang tengah membuat putranya lupa pulang.


Akhirnya setelah sepuluh menit berjalan, papa Rangga sampai juga di depan minimarket. Ia memandangi minimarket itu, terlihat masih ramai pengunjung.


Ia memilih menunggu hingga tidak begitu banyak pelanggan agar ia bisa berbicara dengan leluasa.


Kedatangannya langsung di sambut dengan ramah oleh seorang wanita berpakaian seragam minimarket,


"Selamat datang!"


Pak Beni mengamati sekitar, ia tidak melihat siapapun selain dia di sana.


Sepertinya dia baik ...


"Aku ingin segelas kopi dan mie rebus bisa?"


"Bisa, silahkan duduk di sana pak!"


Pak Beni pun memilih duduk di rest area yang ada di dalam minimarket itu, udara dingin AC segera menghapus keringatnya.


"Silahkan!" Zea sudah kembali dengan satu cup mie dan satu cup kopi panas.


Pak Beni lagi-lagi mengamati sekitar tidak ada pelanggan lain selain dirinya,


"Bisa minta tolong nak!?"


"Iya pak, apa?"


"Saya nggak enak kalau makan sendiri, bisa temani saya ngobrol!"


Zea kembali melihat sekitar, ia tidak kuasa untuk menolah pria di depannya.


"Iya!"


"Terimakasih!"


"Tidak perlu sungkan pak, saya tidak sedang sibuk!"


Zea pun mengamati pria itu, ia bisa melihat jika pria di depannya tidak begitu suka dengan mie yang ada di depannya.


"Apa bapak biasa makan mie instan?"


Pak Beni tersenyum, sebenarnya lambungnya sering bermasalah. Ia memesan mie hanya untuk alasan saja agar mereka bisa mengobrol.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2