
Saat ini selain Zea, koh Chang sudah menambahkan satu karyawan lagi. Semua itu sebenarnya atas permintaan Rangga dan koh Chang pun setuju.
Kebetulan Zea mendapat sift pagi, jadi dia hanya akan bekerja sampai jam dua siang.
"Zea pulang dulu ya mbak Dian!" pamitnya pada rekan kerja barunya. Walaupun mereka tidak akan pernah berada dalam satu sift yang sama, mereka akan saling menyapa saat pergantian sift karena Zea tidak mungkin pulang sebelum yang menggantikannya datang.
"Iya mbak Ze, maaf ya tadi agak terlambat!"
"Nggak pa pa!"
Zea pun segera meninggalkan minimarket. Karena masih siang, Zea tidak berniat untuk langsung pulang. Ia ingin menghabiskan waktu sorenya untuk jalan-jalan di taman yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Rasanya sudah lama sekali ke sana hanya untuk sekedar menikmati jajanan pinggir jalan.
Zea saat ini sudah duduk di bawah pohon beringin yang cukup besar, ia sudah memesan satu porsi somay.
Ponselnya berdering, dengan cepat ia mencari keberadaan benda pipih itu. Bibirnya langsung tersenyum saat melihat nama pemilik panggilan.
"Ahhh tapi kenapa harus vc sih!" walaupun senang, tapi ia tampak ragu untuk menjawabnya.
"Nggak pa pa kali ya, masak dia akan marah. Tapi aku pakek uang di kartunya!" gumamnya pelan, "Mungkin aku cukup minta maaf!"
Gajinya bulan lalu sudah habis untuk membayar minuman Rangga beberapa Minggu lalu dan juga pesanan-pesanan makanan Rangga yang menurutnya tidak masuk akal, jadi hari ini terpaksa ia mengambil sejumlah uang untuk ia pegang.
"Hallo!"
"Kenapa lama sekali angkatnya?" wajah pria di seberang sana tampak kesal saat Zea tidak segera mengangkat telpon darinya.
"Maaf, tadi aku masih di jalan?"
"Benarkah?" Rangga tampak mengamati pemandangan yang ada di belakang Zea, "Sudah selesai kerjanya? Lagi di mana?"
"Aku!?" Zea segera menoleh ke arah belakang dan jelas itu bukan rumahnya, Rangga tidak akan percaya jika dia mengatakan sedang di rumah, "Ini, aku sedang di taman lagi cari somay!"
"Ohhh, sama siapa?"
"Sama penjual somay!" Zea mencoba untuk mencairkan suasana sebelum ia mengatakan perihal ia mengambil uang dari kartu ATM milik suaminya,
"Oh iya Ga, jangan marah ya!?"
"Kenapa? Kamu janjian sama siapa di sana?"
"Kok gitu sih nanyanya?! Enggak, bukan kayak gitu!"
"Lalu?"
"Aku tadi ambil uang dari kartu yang kamu kasih kemarin!" Zea bicara sambil menundukkan kepalanya, ia benar-benar takut jika pria yang berada di seberang sana marah padanya, tapi dengan cepat ia mengacungkan dua jari dan menatap Rangga,
"Tapi janji deh, aku nggak ambil banyak-banyak. Lagian kemarin kan kamu sudah menghabiskan tabungan aku!"
Ha ha ha
Rangga malah tertawa melihat ekspresi Zea yang begitu polos itu,
"Tidak perlu, aku hanya butuh kamu ganti buat malam ini!"
"Malam ini, mana aku punya uang? Bagaimana kalau aku bungkuskan somay buat kamu juga?"
"Memang aku suruh kamu ganti pakek uang!?"
__ADS_1
"Lalu?"
"Nanti malam, pakek ini ya!" Rangga menunjukkan sesuatu di layar ponselnya, sebuah lingerie berwarna merah yang begitu menerawang.
"Hahhh, kamu dapat kayak gitu dari mana?"
Rangga tersenyum dengan senyuman menggoda, "Ada deh! Aku kerja dulu, jangan lupa nanti malam pakek ini!"
Zea segara mematikan sambungan telponnya,
"Ahhh, kenapa pipiku memerah seperti ini, Rangga benar-benar keterlaluan!" Zea mengusap kedua pipinya yang terasa panas. Hanya dengan membayangkan dirinya memakai baju haram itu sudah membuatnya malu.
"Mbak somay nya!"
Zea sampai tidak sadar, penjual somay sudah berdiri di depannya entah sejak kapan.
"Ahhh iya mas!" Zea segera mengambil mangkuk kecil berisi satu porsi somay yang tampak masih panas, "Terimakasih ya mas!"
Zea segara melupakan apa yang baru saj di katakan oleh Rangga dan memakan somay nya. Terasa begitu nikmat dengan udara sejuk di bawah pohon. Seandainya saja tidak malu, ingin rasanya sejenak memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa kantuknya.
"Hmmm!"
Hingga suara deheman seseorang mengalihkan perhatiannya dari somay di depannya. Zea segera mendongakkan kepalanya.
"Mas Rizal!?"
"Boleh ikut duduk nggak?"
Zea terdiam, ia mengamati di sebelahnya masih ada kursi yang kosong. Ia tidak mungkin melarang siapapun untuk duduk karena bangku itu milik penjual somay.
Rizal pun memilih duduk di depannya, di bangku kayu yang sama dengan di tengahnya di pisahkan oleh sebuah meja.
"Mas Rizal ngapain di sini?"
"Makan somay!"
"Ahhh iya!" Zea baru sadar jika siapapun bisa makan somay di tempat umum seperti ini.
"Aku sering sih beli somay di sini, di sini paling favorit soalnya dan kebetulan ada kamu juga, jadi tambah seneng!"
"Iya, tadi tiba-tiba pengen makan somay, jadi mampir dulu sebelum pulang!"
"Tumben nggak Sampek malam?"
"Iya, sekarang sudah ada temannya, jadi kerjanya pakek sift. Kebetulan dapat sift siang, jadi sudah pulang!"
Percakapan mereka harus terhenti karena kedatangan penjual somay.
"Ini mas somay nya!"
"Terimakasih!"
Rizal segera mengambil mangkuk somainya dan membubuhkan saos di atasnya.
"Enak Lo Zee kalau tambah saos!?"
"Nggak mas, aku gini aja!"
__ADS_1
Zea merasa tidak enek jika sampai ada yang liat. Walaupun di tempat umum tetap saja ia tidak bisa seenaknya saja sekarang. Apalagi kesalah fahaman yang pernah terjadi cukup membuatnya enggan.
"Ze!"
Panggilan dari Rizal berhasil membuyarkan lamunan Zea.
"Hmm?"
"Kamu tidak suka ya bertemu denganku?"
Zea dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Ahhh enggak mas, sungguh!"
"Tapi sikapmu ini begitu dingin!"
"Perasaan mas Rizal saja!"
"Syukurlah kalau begitu! Oh iya Zee, sebenarnya aku menyukaimu sejak awal kita bertemu!"
Somay yang sudah melayang hampir masuk ke mulut Zea seketika berhenti dan kembali lagi ke dalam mangkuk. Saat ini bahkan untuk menelan Saliva nya saja dia begitu kesusahan.
"Maaf mas_!" belum sampai Zea menyelesaikan ucapannya, Rizal dengan cepat menyela.
"Kamu nggak perlu jawab sekarang, lain kali kita pasti akan bertemu kembali dan aku hanya butuh jawaban iya dari kamu!"
Tidak ada percakapan lagi, Zea bahkan begitu. sulit untuk bergerak sekalipun.
Aku harus apa sekarang ...,
Somay nya masih ada dua butir, tapi bahkan tenggorokannya sulit untuk menelan apapun saat ini.
"Aku pergi dulu ya, ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Kamu tidak pa pa kan sendiri?"
"Iya mas nggak pa pa!"
Seperti angin segar yang berhembus saat Rizal berpamitan. Walaupun Zea yang memesan lebih dulu tetap saja yang habis lebih dulu Rizal.
Setelah Rizal pergi, barulah Zea bernafas dengan lega.
"Akhirnya ...!"
Zea pun segera menghabiskan somay nya sebelum ia harus bertemu dengan orang-orang yang tidak terduga lagi.
"Berapa mas?"
"Sudah di bayar mbak sama mas yang tadi!"
"Ohhh ya sudah, mari mas!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1