
"Kalau boleh tahu siapa ya mas namanya?"
Pria itu segera menatap curiga pada Ersya.
Tentu saja apa yang di lakukan Ersya membuat siapapun lawan bicaranya akan curiga apa lagi saat melihat ke arah luar. Sopir yang berpenampilan rapi sedang menatap ke arah dalam dengan tatapan yang menakutkan.
Sopir itu bukan tampak seperti layaknya seorang sopir tapi lebih mirip dengan bodyguard atau seorang mata-mata mafia.
"Mbak ini siapa ya? Ada urusan apa dengan Zea?"
"Zea?" Ersya cukup terkejut saat mendengar mana Zea.
Nggak, di dunia ini banyak sekali yang mananya Zea. Lagi pula Zea yang itu kan sudah minggat ke luar negri ....
"Maaf saya tidak bisa memberi informasi apapun, sebaiknya mbak tanya orang lain!" pria itu segera menyelesaikan pekerjaannya dan meminta Ersya untuk pergi.
Hehhh, harus tanya siapa lagi?
Ersya keluar dengan wajah lesu. Ia tidak banyak mendapatkan informasi.
"Nyonya, apa ada masalah?"
"Nggak, masukkan saja ini ke dalam!"
Ersya juga sudah hampir masuk ke dalam mobil, tapi segera ia tersadar akan sesuatu.
Kalau wanita itu bekerja di minimarket ini, itu berarti banyak yang mengenalnya. Bukan tidak mungkin mereka tahu alamat rumahnya....
"Tunggu bentar!" Ersya pun kembali keluar, ia segera berlari dan menyeberangi jalan.
"Nyonya, tolong jangan berlari!" dengan cepat sopir itu mengikuti dan memperingatkannya. Tapi tetap saja Ersya tidak mengindahkan peringatan sang bodyguard.
Ersya menghampiri kedai penjual pecel lele.
"Maaf pak, boleh tanya?"
"Iya neng, mau tanya apa?"
"Bapak tahu nggak karyawan yang biasa kerja di minimarket itu?"
"Oh ..., mbak Zea?"
"Iya pak!"
"Kata mas Kim, mbak Zea nya sakit. Makanya mas Kim menggantikannya untuk beberapa waktu!"
"Mas Kim siapa ya pak?"
"Itu yang jaga sekarang. Dia akan anaknya koh Chang, pemilik minimarket itu!"
"Oh jadi Zea nya sakit ya, kalau boleh tahu bapak tahu alamatnya nggak, saya mau jenguk!"
"Mbak nya siapa ya? Soalnya kemarin juga ada yang nanya, saya takutnya orang jahat!"
"Saya temennya pak, masak tampang saya kayak orang jahat sih pak?"
__ADS_1
Pak penjual pecel lele itu pun mengamati wajah Ersya,
"Kalau mbaknya sih enggak, tapi itu!" pria itu menunjuk pada bodyguard Ersya.
"Ohhh dia mah tampangnya aja jahat pak, sebenarnya hatinya baik. Bener deh pak!"
"Beneran mbaknya ini temennya mbak Zea?"
"Iya bener, nggak percaya banget sih pak!"
"Ya bagaimana, mbak Zea bilang nggak punya siapa-siapa di sini!"
"Saya temennya sudah lama hilang kontak pak, makanya sekarang nyariin!"
Setelah penuh pertimbangan akhirnya pak tukang pecel lele itu pun memberitahukan alamat Zea.
"Terimakasih banyak ya pak!"
Ersya berjalan cepat menghampiri mobilnya, walaupun Ersya tidak menjelaskan lagi pada sopirnya, sang sopir sudah cukup tahu hanya dengan mendengar percapanan Ersya dengan penjual pecel lele itu.
"Kayaknya mobil nggak bakal masuk deh!"
"Masih bisa nyonya, tapi hanya cukup satu mobil saja!"
"Lebih baik di parkir di sana saja deh, masuknya jalan kaki!"
"Baik nyonya!"
Beruntung Ersya tadi berbelanja di minimarket, jadi ada barang yang bisa ia bawa ke rumah istrinya Rangga.
"Saya tidak mungkin membiarkan nyonya masuk sendiri!"
"Ini tidak jauh, hanya beberapa langkah saja sudah sampai ke rumahnya, jangan sampai ya kehadiran kamu menakuti orang lain!"
"Saya akan jaga jarak nyonya, atau saya akan menunggu di luar selagi nyonya masuk!"
"Keras kepala sekali!"
"Maaf nyonya!"
Walaupun kesal, Ersya tetap tidak bisa menolak. Ini sudah stantard SOP dari sang suami yang tidak bisa di langgar.
Langkah Ersya terhenti tepat di depan rumah kecil dengan cat berwarna biru muda, tepat seperti yang di katakan penjual pecel lele tadi.
Walaupun kecil, terlihat rumah itu sangat rapi.
"Mana!?" Ersya mengambil dua kantong plastik belanjaan dari tangan sopirnya dan kembali berjalan.
"Kamu tetap di sini saja!"
"Baik nyonya!"
Ersya mendekati pintu dan mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.
Di dalam seorang wanita yang baru saja membersihkan piring kotornya segera mengelap tangannya yang basah setelah mendengar pintunya di ketuk.
__ADS_1
"Masak Rangga sudah kembali sih? Ini baru satu jam dari dua berangkat!" gumamnya sambil melihat ke arah jam dinding.
Rangga sengaja meminta Zea untuk mengunci pintunya agar tidak ada yang masuk.
Ia pun bergegas menghampiri pintu dan membukanya.
Matanya terbelalak saat melihat siapa yang datang, begitupun dengan wanita yang baru datang itu. Ia sampai menjatuhkan plastik belanjaannya.
"Zea!?"
"Ersya!?"
Ucap mereka bersamaan, walaupun tidak ada masalah di antara mereka tetap saja pertemuan ini terlalu mendadak dan tidak di duga.
"Si_silahkan masuk!" walaupun tidak pernah siap, tapi Zea tahu hal ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Ia tidak mungkin terus berlari dan bersembunyi.
...***...
Ersya mengamati rumah itu, tidak ada yang istimewa kecuali sebuah foto yang masih sulit ia percayai.
Bagaimana bisa?
Itu yang selalu menjadi pertanyaannya sedari melihat keberadaan Zea di depannya.
"Minumlah, maaf hanya ada teh!" Zea baru saja kembali dari dalam dengan membawa nampan yang berisi segelas teh hangat.
"Bagaimana bisa?" akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibir Ersya.
Dunia ini begitu sempit, atau takdir sedang mempermainkan perjalanan hidup mereka. Zea yang mantan dokter Frans dan Rangga yang mantan Felic bisa mengikat sebuah hubungan.
Bagaimana bisa?
Kembali pertanyaan itu terucap dan mengambang dibenaknya.
"Maafkan aku! Sungguh saya tidak pernah merencanakan apapun. Saya sudah berusaha begitu keras untuk menghindari dari kehidupan Frans dan Felic, dari semua yang berhubungan dengan mereka. Tapi semuanya terjadi begitu saja, tolong jangan salahkan Rangga dalam hal ini, saya mohon!?" terlihat bibir pucat Zea memohon begitu tulus pada Ersya.
"Apa yang kamu lakukan di masa lalu begitu menyakitkan bagi sahabat saya, mungkin karena itu saya tidak pernah bisa memaafkan mu sampai saat ini, tapi Rangga _?!"
"Jika kamu memintaku untuk pergi, saya akan lakukan! Saya tahu kesalahan saya di masa lalu begitu besar, tapi jangan limpahkan kesalahan saya pada Rangga juga. Saya bisa pergi asal jangan hancurkan masa depan Rangga dengan membuatnya kehilangan pekerjaan!" Zea masih terus memohon.
"Saya tidak punya hak untuk melakukan hal itu!" Ersya tanpa menyentuh minumannya segera berdiri dan menyambar tasnya. Tanpa berpamitan ia pergi begitu saja meninggalkan Zea dalam kebimbangan.
Ersya segara masuk ke dalam mobil, bibirnya terkunci. Ia masih belum bisa memahami semuanya, semua itu terlalu rumit untuknya. Di sisi lain, ini hak Rangga untuk menikah dengan siapa saja tapi di satu sisi ada Felic yang pasti masih sangat terluka.
"Nyonya, tuan sudah menelpon anda beberapa kali dan meminta nyonya untuk pulang!"
"Baiklah kita pulang!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...