
Sebuah kafe tampak ramai pengunjung, tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian. Ini jam sibuk, sudah wajar jika banyak orang akan datang ke kafe hanya untuk sekedar melepas lelah sebelum mulai kembali bekerja.
Dua wanita paruh baya dengan penampilan yang jauh berbeda tengah duduk berhadapan. Jelas terlihat jika mereka berasal dari kasta yang berbeda tapi mereka sudah saling mengenal semenjak remaja.
Karena keinginan putrinya, akhirnya dua orang itu harus terlibat sesuatu urusan yang pelik,
"Bagaimana, apa jeng sudah membicarakan pada suami jeng?"
Wanita dengan penampilan sederhana itu tampak meremas salah satu sudut tas tangannya, "Sudah jeng!"
"Lalu bagaimana? Kita bisa kan mengajukan hingga Minggu ini?"
"Maaf jeng tapi saya belum berhasil, papanya Rangga sangat keras kepala."
Wajah wanita sosialita itu tampak berubah masam, ia meneguk minuman dinginnya agar bisa mengendalikan amarahnya, udara yang panas di luar seakan sekarang ikut masuk ke dalam, menembus dinding yang ber ac.
"Jeng jangan lupa, jeng tidak mau kan membayar hutang jeng yang banyak itu. Seharusnya ini jadi kesempatan bagus buat jeng, jeng tidak perlu membayar hutang dan lagi jeng juga putra jeng yang hanya karyawan biasa itu akan menikah dengan putri saya yang jelas-jelas orang berada."
Wajah wanita itu tampak semakin masam, ia seolah kembali mengingat bagaimana ia bisa terjebak hutang dengan wanita yang telah berteman dengannya selama puluhan tahun di depannya itu.
Sebuah tawaran bisnis yang menggiurkan, membuatnya terpaksa menggadaikan sertifikat toko yang selama ini menjadi penopang hidup keluarganya, sedangkan saat itu putranya masih kuliah, masih membutuhkan biaya yang banyak.
Saat jatuh tempo pembayaran, ternyata uangnya malah di bawa kabur oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan beruntung temannya yang dirasa tidak begitu dekat dengannya tiba-tiba menawarkan bantuan dengan imbalan yang tidak di tentukan.
Tentu itu sebuah angin segar, ia dan keluarganya tidak harus kehilangan tokonya dan ia juga tidak perlu membayar hutang itu sampai wanita di depannya itu meminta imbalan putranya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Tapi kini semua keberuntungan itu seolah berbalik menjadi sebuah kesialan saat sang putra memilih menikah dengan wanita lain yang jelas tidak sepadan dengan wanita yang di sodorkan padanya.
Kini masalahnya semakin runyam saat wanita di depannya mengancam akan meminta dirinya membayar hutang plus bunganya jika pernikahan itu sampai tidak terjadi.
"Saya pergi dulu, pikirkan ini baik-baik. Saya minta keputusannya dua hari lagi, semoga menjadi berita yang bagus bagi saya!" wanita sosialita itu berdiri dan meninggalkan kursinya, meninggalkan temannya yang tengah bingung.
Wanita itu adalah mama rangga, ia kembali menatap undangan di tangannya. Bahkan hanya membicarakan saja belum sampai memperlihatkan pada suaminya, suaminya itu sudah lebih dulu menolak dengan mentah-mentah.
"Aku juga tidak mungkin bicara jujur sama papa tentang semua ini!"
"Papa pasti akan menyalahkan aku!"
__ADS_1
Tanpa ia sadar ternyata dari sudut lain, seseorang yang begitu ia benci dan ia pikir sebagai sumber semua masalah ini tengah memperhatikannya.
Ia terlihat ragu untuk mendekat, tapi melihat bagaimana wanita paruh baya itu dengan wajah yang begitu gundah membuatnya tidak tega.
"Tante!?"
Wanita paruh baya itu segera mendongakkan kepalanya dan menatap wanita yang tengah hamil 18 minggu itu, wajah bingung dan sedihnya berubah menjadi begitu kesal. Ia benar-benar merasa ingin melampiaskan semua emosinya pada wanita di depannya.
"Kamu, bagus kamu di sini. Wanita tidak tahu diri. Mau sampai kapan kamu membayang-bayangi kehidupan putraku, aku benar-benar ingin menghancurkanmu!"
Tangan mama Rangga dengan cepat menarik rambut Zea dengan begitu kuat hingga Zea mengaduh kesakitan.
"Aughhhh, Tante sakit!"
"Ini tidak akan lebih sakit dari pada apa yang kamu lakukan padaku, kamu tahu keberadaanmu benar-benar akan membuat hidup keluarga ku hancur, mengerti!" tanpa sadar karena terlalu kuat mama Rangga menarik rambut Zea hingga membuat perut Zea terhimpit antara tubuhnya dan meja yang berada di depannya, Zea berpegangan pada meja di depannya, berusaha untuk melonggarkan jarak antara tubuhnya dan meja.
"Tante, maafkan Zea Tante. Lepaskan!" Zea sampai memegangi perutnya yang terasa kram.
"Mama. Apa yang mama lakukan?" beruntung Rangga datang cepat waktu. Hari ini sebenarnya Zea dan Rangga sedang melakukan survei lapangan. Tapi karena Rangga tidak ingin Zea berpanas-panasan dengannya ia sengaja meminta Zea untuk ke kafe membeli minuman dan makanan.
Ternyata keberadaan kedua wanita paruh baya itu membuat Zea tidak segera pergi, ia penasaran dengan apa yang sebenarnya di bicarakan oleh kedua wanita itu. Dan benar saja ternyata ada yang tidak beres.
Rangga segera melepaskan tautan tangannya di rambut Zea, dan memeluknya.
"Mama tidak tahu Zea sedang hamil, tega banget jadi orang!"
Mama Rangga memandangi sekitar dan ternyata mereka tengah menjadi pusat perhatian.
"Ga kamu di sini? Sama dia?"
Tapi belum sampai Rangga menjawabnya tangan Rangga segera di genggam erat oleh Zea,
"Ga, perut aku!" Zea tampak memegangi perutnya dengan tangan satunya sedangkan tangan satunya tengah mencengkeram tangan Rangga.
"Zee, kamu kenapa?" terlihat Zea mengeluarkan keringat dingin. Ia merasa perutnya begitu sakit saat ini.
"Nggak tahu, tiba-tiba perut aku kram!"
__ADS_1
Rangga dengan cepat mengajar tubuh Zea ke dalam gendongannya, "kita bicarakan ini nanti di rumah." ucapnya pada sang mama dan segera membawanya lari keluar kafe meninggalkan sang mama sendiri.
Pengawal Zea yang berjaga di luar segera menghampiri Rangga dan ikut terlihat panik, ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam karena memang Zea melarangnya untuk ikut masuk.
"Tuan, apa yang terjadi dengan nona Zea!"
"Saya jelaskan nanti. Cepat siapkan mobil!"
Pengawal itu segera menghampiri mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.
Pengawal itu segera turun kembali dan membantu Rangga membukakan pintu mobil.
"Kamu yang sabar ya, Zee!"
"Hmmm!" Zea menganggukkan kepalanya tapi Rangga benar-benar tidak ingin melepaskan Zea. Ia memeluk begitu erat tubuh Zea yang berada dalam pangkuannya.
"Dia anak yang kuat, dia pasti baik-baik saja." sebenarnya kata-kata itu ia ucapkan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Rangga benar-benar khawatir terjadi sesuatu sama bayinya.
Hingga akhirnya mobil sampai juga di depan sebuah rumah sakit besar, Rangga melihat sekilas dan langsung tahu itu rumah sakit milik siapa.
"Kenapa kita ke rumah sakit ini?"
"Maaf tuan, tapi ini rumah sakit paling dekat dari lokasi."
"Baiklah kita turun." Rangga tidak bisa memikirkan hal lain selain keselamatan Zea dan bayinya. Ia harus memikirkan mana yang paling penting untuk saat ini.
Pengawal itu pun segera turun dan membantu Rangga membuka pintu mobil, dan memanggil perawat untuk membawakan ranjang dorong untuk Zea.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1