Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Pertemuan yang mengharukan


__ADS_3

Langkah dokter Frans terhenti saat melihat siapa yang ada di atas makam ayahnya itu.


"Nyonya Tania!"


"Ibu Tania!"


Pekik Felic dan dokter Frans bersamaan membuat dua orang yang berada di makam itu menoleh pada mereka.


"Frans ....!"


"Kak Frans ....!"


Nyonya Tania dan Tisya segera berdiri dan berbalik menatap kedatangan Felic dan dokter Frans.


Mereka hanya berjarak tiga meter, cukup jelas untuk melihat siapa yang ada di hadapannya, cukup jelas untuk mendengarkan kata-kata yang bisa ia ucapkan.


"Frans ...., kamu ke sini? Maaf jika mama membuatmu tidak nyaman!" ucap nyonya Tania.


"Tidak pa pa itu hak anda, saya tidak keberatan!" ucap dokter Frans sambil membuka kaca mata hitamnya.


"Frans ....!" Felic menarik jaket suaminya agar suaminya itu tidak bersikap dingin terhadap nyonya Tania, mau bagaimana pun nyonya Tania adalah ibunya.


"Kita pergi ma!" ucap Tisya sambil menarik tangan mamanya tapi nyonya Tania menahannya.


"Ma ....!" keluh Tisya dengan begitu enggan menatap wajah dokter Frans. Ia bukannya benci tapi bingung harus bersikap bagaimana dengan kakak kandungnya itu, selama ini yang ia kenal sebagai kakak hanya satu Maira, dan kakaknya itu sekarang sudah membencinya gara-gara ulah papanya.


Nyonya Tania hanya menatap putrinya dan menggenggam tangannya agar tetap bersamanya.


"Frans ...., mama mohon, jika kamu tidak bisa memaafkan mama, mama tidak pa pa, mama ikhlas karena memang kesalahan mama sudah terlalu besar sama kamu, tapi Frans ...., Tisya adalah adik kamu satu-satunya jika nanti mama sudah nggak ada, mama mohon lindungi dia seperti seorang kakak melindungi adik perempuannya!" ucap nyonya Tania.


Dokter Frans masih terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa, ingin rasanya memeluk mamanya dan mengatakan kalau ia begitu merindukannya, tapi hatinya masih sangat sakit untuk melakukan itu, ia masih ingin tahu bagaimana perasaannya saat meninggalkan anak usia lima tahun di sama, di tempat asing saat anak itu sedang terpuruk karena kehilangan ayahnya.


"Frans ...., kamu boleh menghukum mama tapi jangan hukum adikmu juga, adikmu adalah korban dari keegoisan mama juga, Frans! Mama bahkan memalsukan identitasnya demi kebahagiaan mama!"


"Ma ...., sudah cukup ma, kita pergi! Nggak guna ngomong sama orang keras kepala seperti dia!" ucap Tisya sambil menarik tangan mamanya, sekarang nyonya Tania tidak bisa menolak lagi melihat bagaiman reaksi putranya itu, Dokter Frans sama sekali tidak bergeming dari tempatnya bahkan ia juga tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Nyonya Tania dan Tisya melewati Felic dan dokter Frans begitu saja, tapi saat mencapai lima langkah di belakang dokter Frans dan Felic, dokter Frans pun memintanya untuk berhenti.


"Tunggu!" ucap dokter Frans membuat langkah Tisya dan nyonya Tania terhenti.


"Pernahkan terpikir pada anda bagaimana perasaanku saat itu, seorang anak yang hidup sendiri, di tinggalkan oleh ibu kandungnya sendiri bahkan ia tidak di akui sebagai seorang anak? Pernahkan terpikir saat itu untuk sekali saja memeluknya dan mengatakan semua akan baik-baik saja? Pernahkan saat itu keinginan untuk melupakan egonya dan memilih putra kecilnya?" tanya dokter Frans dan nyonya Tania tidak punya jawaban atas pertanyaan putranya itu.


"Anda tetap diam, anda tidak pernah melihat bagaimana saat aku kecil, teman-teman ku mengejekku karena aku cuma anak yang dibuang dan tidak di inginkan?"

__ADS_1


"Frans ....!" air mata nyonya Tania mulai luluh, ia kembali berbalik pada putranya begitu pun dengan dokter Frans, ia ingin melihat bagaimana reaksi ibunya, wanita yang telah melahirkannya.


"Aku begitu bersalah padamu, aku tidak pantas mendapatkan maaf dari mu Frans!" ucap nyonya Tania, ternyata kesalahannya di masa lalu telah membuat putranya begitu terluka.


"Saya tidak butuh maaf dari anda, saya hanya butuh pelukan ...., aku ingin tahu bagaimana rasanya di peluk oleh seorang ibu, ma bisakah kau memelukku sekarang?!" ucap dokter Frans sambil merentangkan kedua tangannya.


"Frans ...., apakah mama tidak salah dengar, kau memanggilku mama, Tisya apa benar Frans memanggil ku mama?" tanya nyonya Tania meyakinkan diri nya sendiri jika yang ia dengar itu benar dan Tisya pun tersenyum dan mengangguk.


"Iya ma .....!" jawab Tisya dan dengan cepat nyonya Tania melepaskan tangan putrinya itu dan berlari menghampiri dokter Frans memeluknya dengan begitu erat seakan-akan ia tidak mau melepaskan putranya lagi.


"Mama merindukanmu sayang ...., mama benar-benar merindukanmu!" ucapnya sambil terus memeluk dokter Frans.


"Ini nyaman ma ...., Frans begitu merindukannya!" ucap dokter Frans sambil mengusap punggung nyonya Tania.


Setelah saling berpelukan cukup lama, dokter Frans pun melepaskan pelukan dari ibunya itu. Ia juga mengusap matanya yang tanpa sadar mengeluarkan air. Felic yang sedari tadi hanya diam dan menyaksikan pertemuan ibu dan anak yang begitu mengharu biru. Ia tahu suaminya berhati lembut, tidak butuh waktu lama bagi Frans untuk memaafkan ibunya kembali.


Nyonya Tania pun kemudian menatap Felic, ia belum sempat meminta maaf pada Felic setelah kejadian itu. Ia merasa salahnya sudah terlalu besar dengan menantunya itu.


"Felicia ...., maafkan mama ya! Mama sudah membuat anak kalian tidak selamat, mama juga sudah memintamu untuk meninggalkan Frans, seharusnya mama tidak berbuat seperti itu!" ucap nyonya Tania pada Felic.


"Tidak pa pa nyonya, itu hanya sebuah kecelakaan! Bukan salah nyonya seratus persen, aku pun ikut andil dalam kesalahan itu!"


"Terimakasih, tapi jangan memanggilku seperti itu, panggil aku mama seperti Frans memanggil mama, mama akan sangat senang!" ucap nyonya Tania sambil memeluk Felic.


Dokter Frans pun melihat adiknya yang masih terdiam di tempatnya. Dokter Frans pun menghampiri adik perempuannya itu hingga ia berdiri satu meter di depan Tisya.


"Tisya ....!" ucap dokter Frans.


"Hemmmm?" Tisya masih terlihat begitu canggung di depan dokter Frans, terakhir kali mereka bertemu saat Tisya menampar dokter Frans.


"Boleh kakakmu ini memelukmu?" tanya dokter Frans sambil merentangkan kedua tangannya. Tisya masih terdiam, dia hanya menatap dokter Frans membuat dokter Frans terlihat begitu kecewa.


"Kenapa pakek ijin kalau mau meluk adikmu?!" ucap Tisya sambil tersenyum saat dokter Frans mulai menurunkan kedua tangannya dengan wajah kecewa.


Mendengar hal itu dokter Frans kembali tersenyum menatap Tisya.


"Yeahhhhhh .....!" teriak dokter Frans dan memeluk Tisya, ia sampai memutar tubuh Tisya dalam pelukannya.


"Lepasin Frans ...., lepasin ...., aku takut ....!" ucap Tisya sambil berusaha melepaskan pelukan kakaknya itu.


"Panggil kak Frans dulu baru aku lepasin!?" ucap dokter Frans.


"Dasar pemerasan ....!"

__ADS_1


"Ayo panggil kak Frans yang tampan dan aku akan melepaskan mu!" ucap dokter r Frans lagi membuat nyonya Tania dan Felic tertawa melihatnya.


Berbeda dengan wajah panik Tisya, ia begitu takut jatuh.


"Iya ...., iya baiklah ...., kak Frans yang tampan lepasin Tisya ya ....!"


"Itu suaranya terdengar begitu terpaksa!" ucap dokter Frans yang masih tidak mau kalah.


"Menyebalkan .....!" gumam Tisya tapi sambil tersenyum,


"Ayo .....!"


"Kak Frans yang tampannya seisi dunia, lepasin Tisya yang cantik ini ya ....!"


"Nahhh ....., gitu dong ....!"


Dokter Frans pun akhirnya melepaskan Tisya tapi kemudian membisikkan sesuatu kepada Tisya.


"Dengarkan aku baik-baik!" bisik dokter Frans,


"Apa?"


"Aku nggak janji nanti Felic nggak bakal mencakar kamu!"


"Kenapa? Aku kan juga sudah nggak jadi merebut suami temannya!"


"Karena kamu sudah berani merayuku dulu!" ucap dokter Frans, Tisya memang pernah di minta tuan Bactiar untuk merayu dokter Frans saat itu.


"Itu kan nggak sungguhan!" bisik Tisya juga.


Nyonya Tania dan Felic pun mendekati mereka.


"Apa sih yang kalian rahasiakan kenapa bicaranya sambil bisik-bisik?" tanya Felic dengan mata yang menyelidik.


"Bukan apa-apa, iya kan kak Frans?" ucap Tisya ternyata ia cukup takut dengan Felic.


Bersambung


...Saudara sejauh apapun kita nantinya, maka takdir pasti akan mempertemukan kembali karena darah memang lebih kental dari pada air...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2