Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Hamidung


__ADS_3

Hal itu berhasil membuat tuan bactiar begitu terkejut, ia sampai berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati anak buahnya itu.


"Tania …, istri saya?” tanya tuan Bactiar tidak percaya sambil menarik kerah kemeja pria itu.


“I-iya tuan!” ucapnya menjadi begitu ragu.


Tuan Bactiar pun mendorong pria itu dengan begitu kasar, ia sampai menjatuhkan tubuhnya di kursi.


"Tidak mungkin!” gumamnya sambil memegangi kepalanya. Hingga beberapa lama, dua orang itu tidak berani berbicara lagi hingga tuan Bactiar kembali bertanya.


“Apa ini berarti istri saya tahu?” tanya tuan Bactiar lagi.


“Mungkin tuan, mungkin yang mereka bicarakan waktu itu tentang itu!”


"Pergilah kalian ..., pergi kalian ...!" teriak tuan Bactiar, ia benar-benar marah saat ini.


"Baik tuan!"


Setelah kedua orang itu meninggalkan ruangan tuan Bactiar, tuan Bactiar benar-benar meluapkan semua emosinya.


Ia membuang semua yang ada di depannya, menghancurkan barang-barang nya, hingga tangannya berdarah karena terkena pecahan kaca frame foto yang ada di meja. Ia melepas semua foto yang ada fi dinding dan melemparnya begitu saja.


Ia benar-benar merasa di bohongi selama dua puluh lima tahun, istrinya yang tinggal bersamanya selama dua puluh lima tahun ternyata telah membohonginya.


"Bodohnya aku ....!" teriak tuan Bactiar sambil menutup wajahnya dengan tangannya yang berdarah.


Bahkan semua karyawannya tidak ada yang berani menghampirinya kecuali sekertaris pribadinya.


"Tuan ...., kendalikan emosi tuan, jangan biarkan emosi tuan merugikan tuan sendiri!" ucap sekretaris tuan Bactiar.


Akhirnya kemarahan tuan Bactiar reda juga setelah sekian lama. Sekertaris tuan Bactiar pun segera memanggil cleaning servis untuk membersihkan ruangan itu.


Selamat cleaning servis itu membersihkan ruangan itu, sekretaris tuan Bactiar mengobati lukanya dan membalutnya dengan kain kasa.


"Ada yang terjadi tuan?" tanya sekretaris nya itu.


"Dia telah membohongi saya!"


"Maksud tuan, nyonya?" tanya sekretaris nya.


"Iya ....! Apa yang kamu katakan beberapa waktu lalu terbukti, dokter itu putra kandung dari istri saya!" ucap tuan Bactiar masih dengan di liputi kemarahan.


"Apa nyonya Tania tahu?" tanya sekretaris nya itu.


"Iya ...., dan dia sengaja menyembunyikannya dari saya!"


...***...


Setelah meluapkan semua kemarahannya di kantor, tuan Bactiar pun segera memutuskan untuk pulang. Ia tidak sabar untuk bertanya kepada istrinya itu.


Mereka sudah berada di ruang keluarga. Ada nyonya Tania dan juga Tisya di sana. Awalnya ada Rizal juga tapi Rizal memutuskan untuk pulang saja.


“Ada apa pa, kenapa aku sama mama


di panggil ke sini?" Tanya Tisya yang tidak tahu menahu, nyonya Tania pun juga masih terlihat santai, hanya ada wajah serius dari tuan Bactiar.


"Iya pa ...., ada apa?" tanya nyonya Tania. Ia juga tidak mengerti kenapa mereka bisa di panggil dan di kumpulkan di ruang keluarga.


"Mama mau bicara jujur atau papa yang akan mengungkap semuanya!" ucap tuan Bactiar membuat nyonya Tania begitu bingung.


"Maksudnya apa pa? Apa yang di bongkar?" tanya nyonya Tania.


"Tentang dokter itu!" ucap tuan Bactiar dan hal itu berhasil membuta nyonya Tania terdiam. Ia tidak tahu apa yang di maksud dokter tapi ia tahu jika saat ini sedang menyembunyikan rahasia besar.


"Dokter? Maksudnya dokter Frans? Ada apa lagi dengan nya? Apa dia membuat masalah lagi pa?" tanya Tisya yang begitu kesal saat mendengar nama itu, ia kesal karena apa yang di lakukan dokter Frans terhadap keluarganya.


“Tanyakan sama mama kamu, apa yang sebenarnya terjadi!” ucap tuan Bactiar dengan masih mengepalkan tangannya.


Tisya pun segera menoleh pada mamanya itu, mencari jawaban di sana.


“Apa ma?” tanya Tisya.


Apa yang di maksud papa, apa papa tahu tentang masa lalu Frans dan aku ....? batin nyonya Tania.


“Pa …, maksud papa apa aku benar-benar tidak mengerti!” ucap nyonya Tania yang terlihat begitu gugup.


“Siapa dokter itu? Frans Aditya ...., kamu tahu kan?” tanya tuan Bactiar lagi.


“dokter Frans …?!” ucap nyonya Tania yang semakin terpojok, ia tidak punya jawaban lain selain mengatakan kalau dia dokter handal.


“Iya , ayo katakan pada ku dan Tisya…! Atau jangan-jangan kamu takut semuanya terbongkar!”


“Ma …! Katakan saja ma, ada apa? Biar Tisya tahu, apa dokter itu menyakiti mama?”


"Ayo katakana!” bentak tuan Bactiar membuat nyonya Tania benar-benar terkejut sambil memegangi dadanya, air matanya sudah meleleh saat ini. Ia tidak bisa menyembunyikan lagi.


"Dia putra pertama ku pa, papa puas!" ucap nyonya Tania dengan air mata yang terurai,


Tisya begitu terkejut, ia seperti tersambar petir saat ini, jantungnya seperti di hujam begitu buasnya.


"Mama ....! Mama bohong kan?" tanya Tisya sambil menggelengkan kepalanya dan berdiri menjauh dari mamanya dengan air mata yang terurai.


"Tisya ...., maafin mama sayang ....!"


"Enggak ma ....!" ucap Tisya sambil menolak dekapan mama nya. Ia memilih mundur.


"Tisya maafin mama!" ucap nyonya Tania lagi.


"Berhenti berdrama, sekarang katakan padaku apa yang membuatmu menikah dengan ku?" tanya tuan Bactiar.


"Pa ...., mama cinta sama papa!" ucap nyonya Tania dengan berurai air mata.


"Bohong!" teriak tuan Bactiar sambil menghindar dari tangan nyonya Tania yang hendak memegangnya.


"Pa ...., mama cinta pa sama papa!"


"Benarkah? tidak mungkin semudah itu, pasti ada faktor lain, iya kan?"


"Maksud papa apa?" tanya nyonya Tania

__ADS_1


“Atau jangan-jangan Tisya juga bukan anak biologis saya …? Ayo katakan!” ucap tuan Bactiar begitu marah.


“Pa …!” teriak nyonya Tania tidak terima, Tisya tidak kalas syok nya dengan yang di katakan papanya.


“kenapa?” tanya tuan Bactiar dengan senyum smirt nya.


“Saat itu kamu hamil sebelum kita menikah! Iya kan? Karena Tisya lahir sebelum genap sembilan bulan!”


"Pa ....., kenapa papa jadi bawa-bawa Tisya pa? Tisya salah apa?!” rengek Tisya.


“Pa Tisya anak kita pa ....!" ucap nyonya Tania dengan memohon pada suaminya.


“Kamu sudah membuatku kecewa ma, kita lakukan tes DNA!”


“Pa …, jangan keterlaluan!” teriak nyonya Tania tidak terima.


Tapi tuan Bactiar sudah terlanjur marah, ia segera keluar dari rumah dan meninggalkan nyonya Tania dan Tisya. Ia memilih tidur di hotel.


"Kamu tidurlah sayang, mama pergi dulu!" ucap nyonya Tania dan segera mengambil mantelnya meninggalkan Tisya sendiri di rumah.


...***...


Tujuan utama Nyonya tania adalah menemui ayahnya dan mengetakan yang sebenarnya pada ayahnya.


Ia berharap ayahnya akan menolong nya saat ini.


"Selamat malam ayah!" sapa nyonya Tania pada pria tua itu.


"Ada apa ke sini malam-malam?" tanya ayah nyonya Tania. Pria itu tampak renta dengan tongkat kayu di tangannya, tongkat kayu yang terukir indah dengan warna coklat legam.


"Yah ...., Beni marah sama Tania!" ucap nyonya Tania.


"Apa yang membuatnya marah?"


"Dia akan melakukan tes DNA atas Tisya ayah ....! Tania mohon, ayah cegah Beni ya, aku tidak mau hidup Tisya hancur ayah!"


"Jika Tisya benar-benar anak Beni, kenapa kamu harus khawatir?" tanya pria tua itu.


"Tapi Tisya bukan putri Beni yah ...!" ucap nyonya Tania dan hal itu membuat ayah nyonya Tania syok.


Ayah nyonya Tania memegangi letak jantungnya yang terasa nyeri.


"Ayah ...., ayah tidak pa pa?"


"Kau ini benar-benar ingin membuat ayahmu ini cepat mati saja!"


"Maafkan Tania, ayah ...!"


"Maaf mu itu sudah terlambat, kau sudah menghancurkan semua yang ayah usahakan untuk kamu, pergilah dari sini, ayah tidak mau melihat wajah kamu lagi di sini!"


"Ayah ....!" ucap nyonya Tania sambil bersujud di kaki ayahnya.


"Pergilah ....!"


Nyonya Tania akhirnya pergi dengan tangan kosong, ia begitu terluka saat ini, seperti terbuang begitu saja, air matanya tidak mau berhenti mengalir, bahkan berjalan pun tidak mampu tegak hingga ia menjatuhkan tubuhnya di samping mobilnya.


Menangis dengan begitu hebat di sana.


"Aku harus kuat demi Tisya ....!" ucapnya lagi sambil kembali bangun dan meraih gagang pintu mobilnya, ia harus segera menemani Tisya. Putrinya itu pasti sangat terluka saat ini.


...***...


Di tempat lain, dokter Frans sudah bersiap-siap untuk mengajak Felic berkunjung ke rumah ibu Narti.


Setelah mendapat kabar jika bu Narti pulang dokter Frans pun segera pulang dan menjemput istrinya, sebelumnya ia sudah menelpon Felic untuk bersiap-siap agar saat ia datang, Felic sudah siap.


"Sudah siap Fe?" tanya dokter Frans saat menghampiri Felic yang sudah berdiri di depan pintu. Tapi dengan cepat dokter Frans menghindar saat mencium aroma dari tubuh Felic.


"Ada apa Frans?" tanya Felic.


"Bisakah kau mengganti bajumu?"


"Kenapa emangnya?"


"Aku nggak suka aroma parfum itu, itu sangat menyengat!"


"Tapi ini parfum yang biasa aku pakek Frans!"


"Aku mohon ....!" ucap dokter Frans dengan wajah memelas nya, wajahnya juga sudah memerah karena ia terus menutup hidungnya.


"Ok ...., baiklah ....!"


Akhirnya Felic terpaksa untuk mengganti baju nya dan tidak lagi memakai parfum apapun.


"Sekarang gimana?" tanya Felic saat ia kembali.


"Aku suka yang sekarang, lebih alami ....!" ucap dokter Frans sambil merangkul pundak Felic.


"Aku rasa memang ada yang salah sama hidungmu!" ucap Felic sambil masuk ke dalam mobil.


Mereka pun segera menuju ke rumah kecil milik bu Narti, Felic sudah tahu alamatnya jadi mereka tidak perlu lagi bertanya-tanya pada orang yang lewat.


"Beneran ini rumahnya?" tanya dokter Frans.


"Iya kenapa?" tanya Felic.


"Ini terlalu kecil!" ucap dokter Frans saat melihat rumah itu, kesan pertamanya.


"Tidak pa pa Frans, aku juga suka rumah kecil seperti ini, kita tinggal di desa dengan rumah kecil hanya ada kita dan anak-anak kita, pasti menyenangkan!" ucap Felic terlihat berkhayal, tapi sepertinya dia salah ngomong sama orang, (jangan sembarangan ngomong makanya Fe)


"Beneran suka yang seperti itu, baiklah ...., aku akan merancangnya untukmu!" ucap dokter Frans sambil tersenyum.


Ahhhhh ....., aku lupa kalau suamiku ini lebih mirip seperti om jin ....., sekali cling langsung jadi ....


Felic hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal,


"Cuma becanda Frans!"


Dokter Frans segera memegang puncak kepala Felic dan tersenyum, mengarahkan wajah Felic agar menatapnya, "Tapi ucapan tidak bisa di tarik lagi!"

__ADS_1


"Itttssss ...., aku kan cuma becanda ...., lepaskan ....!" ucap Felic sambil menyingkirkan tangan dokter Frans dari atas kepalanya.


Mereka pun segera berjalan mendekati pintu yang tertutup itu. Walaupun kecil tapi rumah itu terlihat begitu rapi dengan pot-pot plastik yang menghiasi halaman yang tidak luas itu.


Felic memilih berlalu meninggalkan suaminya itu, tapi dokter Frans segera mengikutinya, Felic pun segera mengetuk pintu itu,


Tok tok tok


Saat tangannya masih menggantung di pintu, Felic teringat sesuatu dan kembali menoleh pada suaminya itu.


"Oh iya Frans ...., oleh-oleh nya?" tanya Felic karena mereka belum mengeluarkan oleh-oleh itu dari dalam mobil.


"Biar aku yang ambil!" ucap dokter Frans.


"Baiklah ...!" Felic kembali melanjutkan mengetuk pintunya.


Dokter Frans pun kembali lagi ke mobil, ia menurunkan seluruh oleh-oleh dari dalam mobilnya, ada beras, telur, mie instan, gula, kopi dan berbagai macam bahan pokok lainnya.


Ceklek


Pintu pun terbuka dan menampakkan menantu bu Narti di sana. Wanita muda yang mungkin usianya sekitar empat puluh tahun dengan baju daster rumahan yang sudah lusuh, terlihat dari warnanya yang sudah memudar.


"Ya Allah nona Felic ....!" ucapnya begitu senang dengan kedatangan Felic.


"Saya mau jenguk bu Narti mbak!" ucap Felic.


"Ayo masuk-masuk ....!" ajak menantu bu Narti itu.


"Tapi itu ....!" Felic menunjuk dokter Frans yang masih sibuk mengeluarkan barang-barang bawaannya, "Bisakah meminta seseorang untuk membantu mengangkatnya!"


"Tentu ...., tentu ...., nona Felic dan dokter masuk saja, biar suami saya yang mengangkatnya!"


"Benarkah? Terimakasih mbak!"


Kedatangan mereka di sambut dengan begitu baik oleh anak bu Narti dan juga bu Narti.


Mereka semua sudah duduk di ruang tamu yang tidak begitu luas itu hanya 3 kali 3 meter saja.


"Bagiamana keadaan bu Narti, sudah lebih baik?" tanya Felic.


"Sudah nak!" ucap bu Narti, tangannya terus memegang tangan Felic.


"Kenapa ibu tidak di rumah sakit saja biar Frans mudah memantau kesehatan ibu?" tanya dokter Frans.


"Mau sebagus apapun yang namanya rumah sakit tetap saja masih enak di rumah, dekat dengan anak-anak!"


"Mas ...., saya punya pekerjaan yang bagus buat mas!" ucap dokter Frans pada putra bu Narti, "Bagaimana mas mau?"


"Tapi saya tidak punya pengalaman apapun!" ucap putra bu Narti itu, "Saya hanya lulusan SMA!"


"Nggak pa pa, nanti staf kami yang akan membantu mas! Besok saya tunggu mas di rumah sakit ya!"


"Terimakasih banyak ...., kami tidak tahu harus berkata bagaimana lagi untuk membalas semua kebaikan dokter dan nona Felic!"


"Tidak perlu, cukup jaga bu Narti dengan baik saja ....!"


"Dan ini ...., hanya sedikit untuk ibu!" ucap dokter Frans sambil menyelipkan sebuah amplop di tangan bu Narti.


"Jangan repot-repot seperti ini, kalian mau datang mengunjungi ibu saja itu sudah lebih dari cukup, nak!"


"Tapi bagi kamu itu semua tidak akan cukup bu untuk membalas semua kebaikan dan ketulusan ibu, di terima ya!"


"Ya sudah ibu menerimanya, ibu berdoa semoga kamu keluarga kamu dan kandungan istri kamu baik-baik saja!"


"Bu ...!"


"Bu ....!"


Ucap Felic dan dokter Frans bersamaan, mereka begitu terkejut dengan ucapan bu Narti.


"Bu ...., tapi saya tidak sedang hamil!" ucap Felic.


"Iya bu, istri saya tidak sedang hamil, ia baru saja keguguran dua bulan lalu!"


"Tidak nak, ibu melihat istri kamu ini sedang isi, tanda-tanda nya kelihatan sekali!" ucap bu Narti.


"Kelihatan bagaimana bu!"


"Dadanya sedikit naik, keningnya sedikit berkilat, pinggulnya sedikit lebar! Dan masih banyak lagi, itu bisa di pelajari, orang dulu kalau mau mengetahui seseorang itu hamil atau tidak tidak perlu ke rumah sakit dan itu di akui kebenarannya!"


"Benarkah ....?" wajah dokter Frans tiba-tiba berbinar-binar sambil menatap istrinya itu.


"Benar, apalagi jika seseorang yang hamil trus keguguran biasanya tidak sampai tiga bulan pasti akan kembali lagi janinnya, begitu kata Mbah nya ibu dulu di kampung!"


"Felic akan sangat senang bu jika benar seperti itu, tapi kali ini Felic tidak mau banyak berharap dulu!"


"Iya ...., ibu hanya bisa mendoakan dan memberi masukan, sebaiknya segera di tes saja, jika memang kalian sangat mengharapkan kedatangannya jaga dengan baik!"


"Iya bu pasti!"


Setelah hampir gelap, dokter Frans dan Felic pun berpamitan untuk pulang.


Bersambung


R : Kak crazy up dong, minimal doble!


A : Ini episode nya udah aku panjangin banget ya, ini sama dengan dua episode kalau biasanya jadi jangan minta doble up lagi ya 🥰🥰🥰


R: Kak ceritanya bang Divta mana? kok malah fokus ke kuluarganya Bactiar sih?


A : Kan memang ada sangkut pautnya sama dokter Frans. Dan yang nunggu ceritanya bang Divta sabar ya, biar author kelarin satu per satu dulu, kalai semuanya bisa mobal kepalanya author, harap maklum, kepalanya nggak ada serepannya ....


R : Tapi kok nggak ada yang kelar-kelar sih thor?


A : Sabar ya, orang sabar di sayang sama pacar. Insyaallah Dini dan Ajun yang bakal kelar duluan jadi mungkin upnya sedikit lambat karena faktor kalau udah mau End, tiba-tiba ide hilang entah kemana.


Ini nih info yang paling penting, biar authornya tambah semangat :


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2