
Hingga setelah hampir setengah jam menunggu seseorang yang begitu ia baru saja datang dari pintu masuk, senyum Zea segera mengembang,
"Nona Ersya!" panggilnya sambil melambaikan tangannya membuat wanita yang tengah hamil besar itu menoleh padanya.
"Zea!?"
Ersya berjalan cepat menghampiri Zea dan duduk di kursi tunggu kosong yang ada di samping Zea.
"Kamu sendiri?" tanya Ersya sambil menggengam tangan Zea.
"Sama sopir, nona Ersya sendiri?"
"Enggak!"
"Pasti sama tuan Divta ya?"
"Enggak!" Ersya kembali melihat ke arah pintu masuk dan benar saja seseorang baru saja masuk, "Sama dia!" ucapnya lagi sambil menunjuk pria yang baru datang.
Bukan Ersya yang senang tapi Zea yang lebih senang saat melihat orang itu,
"Nona_, nona pasti sengaja kan?" tanya Zea, ia sampai menutup mulutnya karena terlalu surprise.
"Aku tahu dari bibi kalau hari ini kamu ke klinik, bagaimana kamu suka?"
Zea menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar dibuat surprise dengan apa yang di lakukan oleh Ersya.
Pria yang baru datang itu terlihat mengedarkan pandangannya sebentar lalu Ersya melambaikan tangannya agar pria itu bisa menemukan mereka.
"Bagaimana, apa sudah waktunya?" tanyanya pada Ersya saat sudah sampai di dekat mereka. Tapi segera teralihkan pada Zea yang duduk di samping Ersya.
"Kamu?" ia memang merasa kerap bertemu dengan Zea tapi tidak pernah tahu namanya.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Ersya bergaya tidak tahu.
"Beberapa ketemu sama dia di depan apartemen aku!" ucapnya sambil menatap Zea.
"Baiklah kalau begitu kenalkan, dia temanku namanya Zea!" ucap Ersya sambil menarik tangan Zea dan Rangga mereka pun akhirnya saling bersalaman.
"Saya Rangga!"
"Sudah tahu!"
Jawaban zea berhasil membuat Rangga mengerutkan keningnya,
__ADS_1
"Maksudku tadi nona Ersya sudah kasih tahu!" Zea segara mengklarifikasi ucapannya agar Rangga tidak curiga.
Pasien yang juga tengah hamil besar terlihat keluar dari ruang pemeriksaan begitu juga dengan dengan seorang petugas yang siap untuk memanggil pasien selanjutnya.
"Nyonya Ersya!" panggil petugas itu.
"Aku di panggil, Ga tolong temenin teman aku ya, please!?"
"Baiklah!"
Ternyata Ersya sudah melakukan janji sebelum datang, itulah kenapa ia di panggil lebih dulu meskipun datangnya belakangan.
"Aku duluan ya, sukses!"
Zea mengangukkan saat Ersya berdiri dan hendak meninggalkannya.
Ersya sudah masuk ke dalam ruangan. Kini tinggal Zea dan Rangga juga beberapa ibu hamil yang di temani suaminya juga tengah menunggu giliran.
Mereka masih saling diam dengan Rangga yang masih tetap berdiri, akhirnya zea pun memberanikan diri untuk memulai bicara,
"Kamu boleh duduk di sini kok!" Zea menepuk bangku kosong yang ada di sampingnya yang baru saja di tinggalkan Ersya.
"Tidak usah, aku berdiri aja!"
Tapi Zea dengan cepat menarik tangan Rangga hingga membuat pria itu duduk di sampingnya,
Rangga hanya menatap Zea dengan tatapan yang sulit di artikan, saat tangan Zea menyentuhnya rasanya seperti sangat familiar, ia merasakan aliran energi yang berbeda.
"Apa sebelumnya kamu pernah menyentuhku?" tanya Rangga kemudian.
"Apa perlu aku menyentuhmu lagi?" tanya Zea dan hampir saja menyentuhnya lagi tapi dengan cepat Rangga menghindar.
"Jangan nggak perlu, nanti ada yang salah faham!"
"Siapa?"
"Suami kamu!"
Jadi kamu belum sadar juga kalau kamu suamiku, kamu ayah dari anak ini Ga ...., ingin rasanya Zea mengatakan hal itu sekarang tapi ia tidak bisa membuat pria yang baru saja mau dekat dengannya kabur seketika.
"Dia nggak akan salah faham!" Zea segera menatap ke arah lain dan menghapus air matanya yang hampir jatuh.
"Kamu datang sendiri?"
__ADS_1
"Iya!"
"Bahkan ke klinik kandungan pun suamimu juga tidak mengantar?"
Zea menggelengkan kepalanya walaupun dalam hati ia ingin sekali mengatakan kalau pria itu kamu tetap saja bibirnya tidak bisa.
"Sebenarnya laki-laki seperti apa sih suami kamu itu, tega sekali!"
"Dia laki-laki yang baik, sangat pengertian dan pastinya berhati lembut!" ucapan Zea berhasil membuat Rangga terdiam, walaupun rasanya ingin mencaci suami wanita di sampingnya itu tapi saat melihat mata sendu wanita itu rasanya tidak tega.
Mereka kembali saling diam hingga Ersya keluar dari ruangannya.
"Sudah selesai?" tanya Rangga yang sudah hampir berdiri tapi Ersya dengan cepat menahan kedua bahu Rangga agar tidak berdiri.
"Sudah, tapi tidak dengan kamu!"
"Aku?" Rangga menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu harus menemin dia buat masuk dan melakukan pemeriksaan!"
"Kenapa harus aku?"
"Kamu tidak tahu, Zea ini kehamilannya hampir memasuki trimester ke 2, seharusnya ada suami yang menemaninya. Kamu bermurah hatilah sedikit!"
"Ini maksudnya apa nih?" Rangga mulai menyadari hal konyol yang tengah di rencanakan oleh temannya itu.
"Ayolah, untuk kali ini saja kamu ikut masuk sama Zea dan mengaku sebagai suaminya!"
"Ini ide gila apaan lagi sih!?" Rangga benar-benar tidak mengerti dengan maksud Ersya sedangkan Zea hanya bisa diam sambil mendengarkan percapakan mereka.
"Zea suaminya nggak ada, sedangkan saat ini ia sedang sangat butuh dukungan jangan sampai pertanyaan dokter membuatnya sedih nanti, aku mohon. Anggap aja ini sebagai tugas tambahan dari mas Div, bagaimana?"
"Pak Div nggak akan kasih tugas yang aneh-aneh!" ucap Rangga dengan begitu yakinnya.
"Kalau nggak percaya nih aku telpon ya, dia pasti akan meminta hal yang sama!"
Ersya pun segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada suaminya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...