
"Kalian dari mana?"
Seorang wanita cantik sudah berdiri di depan rumah mereka.
"Kak Maira!"
Tisya segera menghampiri kakaknya itu dengan sedikit berlari.
Ia pun berdiri di depan kakak perempuannya, "Sudah lama kak?"
"Baru dua jam!"
Wilson segera turun dan menyusul dua wanita itu.
"Maaf ya sudah membuatku menunggu!"
"Nggak pa pa!" Maira tersenyum semanis mungkin.
Tisya hanya menatap dua orang ini bergantian, "Jadi kalian udah janjian?"
Bukannya menjawab pertanyaan Tisya, Wilson memilih membuka pintunya dan meminta Maira untuk masuk.
"Duduklah biar Tisya ambilkan minum!" ucap Wilson saat mereka sudah berada di ruang tamu.
"Aku?" tanya nya sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Kenapa? Nggak mau? Kamu kan kerja di sini!" ucap Wilson dengan santainya.
"Tapi kita kan lusa _!" ucapan Tisya menggantung, ia menoleh pada kakak perempuannya yang sedang memperhatikannya, menikah ..., akhirnya di lanjutkan juga tapi cuma dalam batin.
"Kenapa Tisya? Nggak pa pa kalau kamu nggak mau, duduk aja!"
"Nggak pa pa kok kak, aku akan mengambilkan minum untuk kakak dan dia!"
Tisya pun dengan kesal menuju ke dapur, kalau cuma untuk membuat sirup saja dia bisa.
Wilson dan Maira hanya berdua di ruang tamu itu.
"Mana yang tidak bisa, coba aku perbaiki!" ucap Wilson sambil mengacungkan tangannya.
"Bentar ya!" Maira pun mengambil sebuah laptop dari dalam tasnya.
Ia meletakkannya di atas meja. Sebenarnya tujuan utama Maira hanya untuk bertemu dengan Wilson, ia hanya menggunakan pekerjaan sebagai alasan.
Wilson pun mulai membuka laptop dan Maira pun menggeser duduknya agar lebih dekat.
"Yang mana?" tanya Wilson saat laptopnya sudah menyala.
"Yang ini!"
"Ini?"
"Iya, aku kurang faham kalau masalah begituan!"
Tisya baru saja menyelesaikan membuat minuman, ia meletakkan dua buah gelas di atas nampan dan membawanya kembali ke ruang tamu.
Langkahnya terhenti saat melihat dua orang di ruang tamu itu begitu dekat, sangat dekat. Bahkan duduk mereka berhimpitan.
Padahal baru aja dia melamar ku, tapi sekarang sudah dekat sama kak Maira ...., dasar ....
Entah kenapa ia hanya merasa kesal saja dengan Wilson, padahal ia tahu jika pernikahan mereka hanya karena uang lima Milyar.
Maira yang menyadari keberadaan Tisya pun segera menoleh padanya.
"Tisya, aku haus banget!" ucapnya sambil mengusap tenggorokan nya yang kering.
__ADS_1
Tadi katanya nggak usah ....
Tisya pun hanya mendesah, ia melanjutkan langkahnya dan meletakkan minuman itu di atas meja.
Ohhh jadi karena pekerjaan, kak Maira datang ke sini ...., modus kali kak Maira ....
Tisya terus memperhatikan Wilson yang sibuk dengan layar laptop di depannya.
"Silahkan di minum kak!"
Ucapan Tisya berhasil membuat Wilson mendongakkan kepalanya. Ia bisa melihat wajah kesal Tisya.
Kenapa dia kesal ....?
"Ya sudah kalian lanjutkan saja, aku tinggal keluar nggak pa pa ya kak!"
"Mau ke mana?"
"Jalan-jalan bentar, cari angin!"
Sudah tahu ada Maira, tikus ini malah keluar, dia benar-benar ya, mau aku kasih pelajaran kali ya ...
Tisya tidak mempedulikan tatapan kesal dari Wilson, ia memilih segera keluar saja dari rumah.
"Panas banget di dalam, aku pergi ke mana ya enaknya?"
Tisya sebenarnya tidak punya rencana untuk pergi kemana, ia hanya ingin jalan kaki saja.
Rumah mamanya juga tidak jauh dari rumahnya. Ia memilih untuk berjalan ke sana saja, hanya beberapa gang dari rumah mereka. Cukup untuk melemaskan kaki-kaki nya.
Beberapa kali Tisya menendang apa saja yang ada di depannya.
"Kira-kira kak Maira bakal marah nggak ya kalau aku nikah sama Wilson, kak Maira kan suka sama Wilson!"
Tisya mempercepat langkahnya, setelah berjalan lima belas menit akhirnya sampai juga di depan rumah mungil. Walaupun kecil dan mungil tapi rumah itu jauh lebih bagus dari rumah mereka sebelum ia pindah ke rumah Wilson.
Langkahnya terhenti saat melihat ada sebuah mobil berwarna hitam terparkir di depan rumah mamanya, di samping mobil itu juga berdiri seorang pria dengan jas hitamnya.
Tisya mengenali mobil siapa itu, "Kakek!"
Tisya pun memilih bersembunyi di balik semak itu saat pintu rumah mamanya terbuka. Dan benar dugaannya jika itu mobil kakeknya.
Kakeknya keluar bersama mamanya dengan wajah angkuhnya itu. Walaupun menggunakan tongkat, tetap saja dia terlihat angkuh.
"Aku menunggu jawaban dari nya!"
"Iya ayah! Tania akan usahakan!"
Pria angkuh yang berjalan dengan tongkatnya itu segera meninggalkan rumah mamanya.
Terlihat wajah gundah dari mamanya mengiringi kepergian kakeknya.
Setelah sampai di samping mobil, pria berjas itu segera membuka kan pintu mobil, tapi sebelum masuk kakek itu melihat ke arah Tisya. Tisya pun segera menyusupkan tubuhnya ke balik semak-semak agar kakeknya tidak menyadari keberadaannya.
"Silahkan tuan!"
Karena tidak menemukan apapun, kakek itu pun memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Tidak berapa lama mobil pun mulai berjalan meninggalkan halaman rumah nyonya Tania.
Tisya yang merasa sudah aman akhirnya memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya.
Saat nyonya Tania hendak masuk, Tisya pun segera memanggilnya membuat nyonya Tania menghentikan langkahnya dan memilih berbalik mencari sumber suara.
"Ma .....!"
"Tisya!"
__ADS_1
Tisya pun segera memeluk mamanya.
"Kamu kok di sini sih, Wilson mana?"
"Wilson di rumah ma, Tisya pengen main aja ma di sini!"
"Ya sudah ayo masuklah!"
Nyonya Tania pun segera mengajak Tisya untuk masuk ke dalam rumah.
"Itu tadi kakek ngapain ma?" tanya Tisya.
Nyonya Tania pun terdiam, ia tersenyum pada putrinya itu. "Itu tadi, nggak pa pa sayang! Kakek cuma mengunjungi mama!"
Tisya jelas tidak percaya, "Kakek bukan orang yang suka berkunjung ma!"
"Ya mungkin kakek sedang merindukan mama, sayang!"
Hehhhhhh
Tisya hanya menghela nafas. Dari dulu ia memang tidak suka dengan kakeknya itu.
"Jangan cemberut begitu, gini aja deh karena hari ini mama nggak kerja, mama mau masak, gimana kalau kamu temenin mama masak, sekalian belajar masak, nanti biar Wilson Nggak makan mie terus kalau kamu sudah bisa masak!"
"Mama becanda ihhh....!"
"Kok becanda sih?"
"Gimana nggak becanda, Tisya nyalain kompor aja nggak bisa, bagaimana bisa belajar masak!"
"Makanya mama ajarin biar bisa, ayo ikut mama ke dapur ...!"
Nyonya Tania pun menarik tangan putrinya itu ke dapur.
Di dapur itu sudah banyak bahan makanan.
"Mama kapan belanjanya?"
"Tadi sebelum ke rumah kakak kamu, kamu tahu nggak mama seneng banget kamu nikah sama Wilson, dia itu pria yang baik, nggak kayak Rizal!"
"Ma ....!" Tisya tidak terlalu suka jika mamanya membandingkan Wilson dengan Rizal.
"Mama serius Tisya, dulu mama cuma bisa memandang segala sesuatunya dari uang, tapi setelah mama mengalami semua ini, mama jadi tahu jika uang memang bukan segalanya sayang!"
"Tapi ma ...., segalanya butuh uang!"
"Kamu itu ya kalau di kasih tahu mama, selalu aja jawab! udah deh sekarang kamu cuci aja semua sayur yang udah mama potong!"
Tisya melihat sudah berbagai macam sayur yang di potong dalam wadah terpisah.
Spesial Visual Tisya
Bersambung
...Senja mengajarkan pada kita bahwa kehidupan tak selalu berjalan dengan cemerlang dan bersinar. Tapi senja tetap memberi warna indah meskipun ada kegelapan di baliknya...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1