
Mobil dokter Frans sudah mulai meninggalkan lapangan parkir, banyak sekali pasan yang
ia kirim kepada felic tapi satu pun tidak ada yang dia balas.
“Sok sibuk banget dah jadi orang, awas saja kalau sampai di rumah!”
Dokter Frans kembali menscroll pesan yang di kirim ke Felic.
09.00
WIB
//sudah sampai belum?//
10.00
WIB
//Gimana editornya, baik atau judes? Kalau judes kamu judesin balik aja//
11.00
WIB
//Gimana lancar nggak?//
12.30
WIB
//Jangan lupa makan siang ya//
14.30
WIB
//kalau aku pulang mau oleh-oleh apa?//
14.45
WIB
//tetap nggak mau bales nih ceritanya//
14.55
WIB
//bales dong, lagi ngapain?//
15.00
WIB
//udah pulang belum?//
“Katanya mau di perhatiin, giliran di perhatiin, di cuekin gue nya!” gerutu dokter Frans
sambil terus memacu mobilnya, tapi kemudian ia teringat pada pembicaraannya tadi
pagi dengan Felic.
Dokter Frans pun memutar arah mencari apotik terdekat dengan jalan yang di lalui
mobilnya kini, ia akan membeli testpack untuk Felic, karena jika melihat sepak
terjang Felic, sepertinya Felic akan sangat sibuk akhir-akhir ini.
Akhirnya mobilnya berhenti tepat di sebuah apotik yang cukup besar, ia pun memarkirkan
mobilnya di lahan parkir yang ada di depan apotik.
Saat hendak masuk ke dalam apotik, langkahnya terhenti karena milih seseorang yang begitu ia kenal sedang memegang sapu di sana.
__ADS_1
“Zea …!”
Seseorang yang ia panggil itu cukup terkejut dengan kedatangan dokter Frans di sana, ia
sampai menjatuhkan sapunya.
“Frans …!”
***
Mereka sudah duduk di taman yang kecil yang sengaja di buat untuk penghijauan yang
berada di samping apotik yang bangunannya masih terlihat baru itu.
“Maaf karena sebelumnya aku tidak pernah jujur sama kamu, Frans! Aku sebenarnya tidak
pernah bahagia dengan keluarga baruku, aku tidak di biayai pendidikannya, aku
juga tidak kuliah!”
“lalu kenapa tidak kembali ke panti saat itu? Kenapa baru sekarang?”
Air mata Zea sudah tidak terbendung saat mengingat betapa kasarnya perlakuan
keluarga angkatnya, yang ternyata orang tua asli Zea meninggalkan beberapa
warisan yang kemudian di habiskan oleh keluarga angkatnya dengan dalih telah
membesarkan Zea dengan baik.
Mereka bukannya memperlakukan Zea dengan baik tapi malah menjadikannya seperti babu,
menyiksanya setiap hari hingga akhirnya ia berhasil kabur dan mulai hidup sendiri.
“Saat itu aku hampir memutuskan untuk kembali saja, tapi ternyata aku terlalu malu
Frans, aku malu bertemu denganmu kembali dalam keadaan yang buruk!”
“Padahal kamu tahu, kalau aku selalu menunggumu di depan pagar, berharap kamu kembali!” ucap dokter Frans menyesali apa yang di lakukan wanita yang ada di depannya
“Aku tahu Frans, aku sekali-kali mencuri-curi waktu hanya untuk bisa melihatmu dari
kejauhan!” ucap Zea sambil menyeka air matanya, entah mengapa ia merasa begitu
sakit saat mengingat saat itu.
“Dan kau membiarkan ku seperti orang gila, menyendiri setiap hari, dan terus
berharap kamu akan kembali! Aku hampir gila gara-gara nunggu kamu, kau tahu itu
…!”
“Maafkan aku Frans …!”
Zea segera berhambur memeluk pria gondrong itu, ia tidak tahu jika perlakuannya saat itu benar-benar membuat laki-laki yang ia cintai begitu terluka.
Awalnya dokter Frans tidak membalas pelukan Zea, tapi melihat Zea terus menangis dalam
pelukannya membuatnya tidak tega, akhirnya ia pun menyematkan lengannya di
punggung Zea dan mengusapnya mencoba menenangkan Zea.
***
Felic yang juga sampai di apotik yang sama segera turun dari mobil,
“Lain kali kalau bawa mobil lebih baik yang
kecil aja Wil, biar nggak macet-macet amet!”
Masih ksaja sempet-sempetnya Felic mengomeli Wilson cuma gara-gara terjebak macet, ia harus berada dalam mobil hampir satu jam itu pun masih setengah perjalanan
belum sampek di rumah. Untung Wilson orangnya sabar.
__ADS_1
“Maaf nyonya!”
“Bukan salah kamu juga, salahin tuh mobil! Makanya pakek motor aja lain kali!”
Felic pun meninggalkan mobil, tapi Wilson tetap berjalan di belakang Felic. Ia
menatap apotik yang terlihat begitu ramai.
“Ihhh antri deh kayaknya!”
Felic berencana untuk duduk dulu sambil nunggu apotik nya sedikit lebih senggang,
tidak ada tempat duduk di depan apotik, tapi ada taman kecil di samping apotik.
“Wil Kita tunggu di sana dulu aja ya, sambil nunggu biar agak sepi!”
“Iya nyo_!” ucapan Wilson terhenti saat melihat siapa yang ada di taman itu, Felic
jadi penasaran kenapa Wilson menghentikan ucapannya.
‘Kenapa Wil?”
“Sebaiknya kita pindah ke apotik lain saja, nyonya! Di sini ramai sekali!”
“Tadi kamu yang ngajak berhenti di sini, sudah terlanjur juga …, ayo …!” Felic
menarik tangan Wilson agar berjalan mengikutinya.
Wilson bukan tipe pengawal yang begitu kaku, ia sebenarnya saru server sama nyonya nya, agak kocak tapi juga bisa tegas di waktu yang tepat.
Dan benar saja. Langkah Felic terhenti tepat di belakang bangku itu, matanya tak
percaya tapi ia benar-benar melihatnya, mereka sedang berpelukan.
“Nyonya sebaiknya kita pergi saja!” Wilson berusaha menarik nyonya nya.
“Nggak Wil ..!”
Ternyata dokter Frans menyadari kedatangan Felic di sana, ia dengan cepat melepas
pelukan Zea dan sedikit mendorong tubuh Zea.
“Fe …!”
Dokter Frans segera berdiri dan menatap Felic yang masih terpaku di tempatnya dengan
tangan yang masih menggandeng tangan Wilson.
Air mata Felic tidak terbendung lagi, walaupun ia tahu bagaimana hubungan mereka,
tapi tetap saja rasanya begitu sakit saat melihat hal itu.
Felic pun dengan cepat melakukan hal yang sama, ia segera berbalik dan memeluk
Wilson, menumpahkan air matanya pada pria yang sudah di beri tugas untuk
menjaganya itu.
Dokter Frans yang melihat hal itu rasanya begitu marah, tanpa terasa ia sudah
mengepalkan tangannya hingga otot-otot tang ada di ruas jarinya terlihat. Zea juga sudah berdiri dan melihat bagaimana Felic menangis dalam pelukan pria lain.
Dokter Frans segera mendekati mereka, dan ..
Srekkkkk
Ia dengan begitu kasar menarik tubuh Felic dari pelukan Wilson.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰