Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Siapa?


__ADS_3

Tangan Tisya gemetar, ada bayi di tangan nya sedang menangis. Untuk pertama kalinya ia melihat langsung proses lahiran dan itupun di tempat yang tidak terduga.


Dengan gaun putihnya itu, darah segar yang menempel di tubuh bayi itu begitu kontras, warna gaun yang tadinya putih bersih kini berlumuran darah dari bayi mungil di tangannya.


"Jangan nangis sayang, cup cup cup ....!" Tisya berusaha menenangkan bayi itu, ia tidak tahu jika memang bayi yang baru lahir haruslah menangis.


Dokter Frans masih sibuk mengeluarkan ari-ari dari perut ibunya.


Dua jam yang cukup melelahkan, proses lahiran yang sangat langka. Seorang pemilik rumah sakit terbesar, istrinya melahirkan di restauran.


Begitu banyak persiapan yang sudah dokter Frans lakukan untuk bisa mendukung istrinya agar bisa melahirkan dengan nyaman dan dengan pelayanan terbaik, tapi ternyata semua berbanding terbalik, tidak semua yang di rencanakan itu bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang kita mau.


Saat semua sudah selesai, akhirnya pihak medis datang. Nyonya Tania segera menggantikan Tisya untuk membopong bayi mungil itu dan menyelimutinya menutupnya dengan kain syal milik nyonya Tania.


"Ayo Frans biar mama bantu, bawa ke ambulans!"


"Iya ma!"


Dokter Frans pun segera membopong tubuh istrinya yang sudah terlihat lemah karena tenaganya sudah terkuras habis untuk melahirkan ke dalam ambulan begitupun dengan bayi mungil itu.


Setelah semua di bawa ke ambulans, Wilson segera mengkoordinir orang-orang nya untuk membereskan tempat itu.


Beberapa orang sudah Wilson minta membersihkan tempat itu dan kembali seperti sedia kala tanpa ada yang tertinggal lalu ia pun meminta pihak restauran untuk menghidupkan kembali cctv nya.


Tisya ikut bersama dokter Frans di dalam mobil itu, bayi itu sudah berbalut kain yang menutupi tubuhnya dan berada dalam gendongan sang nenek. Wajahnya tidak kalah pucat dengan wajah Felic, tangannya juga masih terlihat gemetar.


Dokter Frans terus menghangatkan tangan istrinya, sebuah slang infus juga sudah melekat di tangan Felic.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai sayang ...!" ucap dokter Frans beberapa kali agar Felic tetap dalam keadaan sadar.


Ambulans tiba di rumah sakit dengan lebih cepat, kedatangan mereka langsung di sambut oleh beberapa dokter wanita dan perawat, Felic dan bayinya di masukkan ke ruang perawatan intensif.


Dokter Frans seperti tidak pernah kehabisan tenaga, ia terus bergelut dengan para dokter untuk memeriksa dan memastikan keadaan ibu dan bayinya baik-baik saja.


Bayi Felic pun di bersihkan dan di potong tali pusarnya, bayi itu begitu lincah walaupun baru di lahirkan.


Setelah Felic dan bayinya di bersihkan, dokter Frans segera mengadzani bayinya.


Di luar ruangan terlihat mama Tania dan Tisya sedang duduk di kursi tunggu.


Wajah mereka terlihat begitu cemas, tapi setelah seorang perawat datang menghampiri mereka dan mengatakan jika bayi dan ibunya baik-baik saja, mereka bisa bernafas lega.


"Tisya sayang, kamu ganti baju gihhh, biar mama yang di sini!" ucap nyonya Tania.

__ADS_1


"Nggak bisa dong ma, Tisya masih pengen liat keponakan Tisya!" walaupun baru tadi mereka bertemu tapi rasanya begitu dekat.


"Iya nanti kan bisa, sekalian bawakan baju juga buat mama!" nyonya Tania terlihat memaksa. Ia merasa kasihan melihat putrinya yang terlihat begitu lelah dengan wajah pucatnya.


"Baiklah ma!"


Saat Tisya mengambil tas kecil yang berada di samping mamanya. Nyonya Tania melihat Wilson sedang berjalan cepat menghampiri mereka. Karena suasana malam jadi yang terdengar hanya suara pantulan langkah kaki Wilson memenuhi lorong rumah sakit.


"Tuh kebetulan banget Wilson datang, minta dia untuk mengantarmu pulang!" ucap nyonya Tania saat melihat mantunya datang.


"Ma ..., Tisya, di mana tuan dokter?"


"Dia di dalam Wil!" jawab nyonya Tania.


"Bagaimana keadaan nyonya dan bayinya?" tanya Wilson, ia baru saja kembali karena dia lebih dulu mengurus segala sesuatunya di restauran.


"Dokter sedang merawatnya, kak Frans juga ikut bersama mereka, katanya mereka baik-baik saja!" ucap Tisya ikut menyahut, terlihat sekali rona kelegaan dari wajah wanita itu.


"Syukurlah!" Wilson memegangi dadanya.


"Wil!"


"Iya ma?"


Wilson menatap istrinya itu, benar saja baju istrinya itu terlihat begitu penuh dengan noda darah, apalagi lengannya terbuka pasti akan tidak nyama untuknya. Dan Wilson tidak terlalu suka jika tubuh istrinya itu terekspos.


"Iya ma!"


Tisya pun memeluk mamanya sebelum pergi, "Tisya pulang dulu ya ma, nanti kabari Tisya kalau butuh sesuatu!"


"Iya sayang, kalian hati-hati ya!"


Wilson kembali mengantar Tisya pulang. Pria itu menggandeng tangan istrinya itu.


Tapi saat sampai di tengah lorong rumah sakit, ia pun kembali melihat baju Tisya. Bajunya sangat tidak nyaman jika di pakai untuk di rumah sakit, sudah sangat malam sekarang.


Gaun yang tanpa lengan itu cukup membuat udara bebas menerpa tubuh Tisya.


Wilson melepaskan genggaman tangan Tisya.


Srekkkkk


Wilson melepas jasnya dan menyelimutkan ke tubuh Tisya membuat wanita itu terhenti dan menatap suaminya. Moment romantis tadi belum sempat berlanjut.

__ADS_1


"Terimakasih!"


"Sama-sama, udara di luar pasti sangat dingin!"


Hingga mereka sampai di depan gedung rumah sakit itu, tidak ada siapapun di luar. Dari kejauhan ia bisa melihat scurity duduk di posnya.


Sekilas tidak ada yang mencurigakan,


"Kamu tunggu di sini ya biar aku ambil mobilnya dulu!"


"Iya!"


Wilson berjalan menjauh dari Tisya, ia terlanjur memarkirkan mobilnya tadi.


Hingga tiba-tiba sebuah mobil menghampiri Tisya, dua orang dengan wajah kekarnya menarik tubuh Tisya masuk ke dalam mobil.


"Wilson .....!" teriak Tisya, tapi sebuah sapu tangan yang membekap mulut dan hidungnya membuatnya kehilangan kesadaran.


Wilson yang mendengar teriakan Tisya segera menoleh tapi sayangnya terlambat, Tisya sudah tidak berada di tempatnya dan mobil hitam besar berlalu meninggalkan tempat itu. Kejadiannya begitu cepat hingga scurity pun tidak menyadari kejadiannya.


Wilson kembali mengejar mobil itu tapi tidak bisa, mobil itu berjalan begitu cepat meninggalkan halaman rumah sakit.


"Siiitttt ....!" umpat Wilson sambil melepaskan tinjuan ke udara.


"Ada apa tuan?" tanya scurity yang sedang berjaga.


"Istri saya di culik, saya butuh mobil!"


"Itu tuan mobil rumah sakit, ini kuncinya!"


"Terimakasih ....!" Wilson segera mengambil kunci itu.


Ia begitu cepat mengemudikan mobil yang sudah membawa istrinya pergi, ia masih ingat dengan plat nomor itu.


Karena sudah hampir dini hari, jalanan sangat lengah, tidak begitu banyak kendaraan jadi dia bisa mengemudi secepat yang dia mau.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2