
Ersya pun segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada suaminya itu.
"Hallo mas, ini aku mau kasih tugas tambahan sama Rangga, dia harus menemin Zea buat periksa kandungan, kamu pasti setuju kan kalau aku lakuin itu!?" Ersya sudah bicara panjang lebar meskipun pria di seberang sana belum sempat bicara.
"Serahkan ponselnya sama Rangga!"
"Baik!"
Ersya pun lalu mengulurkan ponselnya pada Rangga, "Nihhh!"
Rangga pun akhirnya menerima benda tipis itu dan menempelkan ke daun telinganya, ia terlihat tengah mendengarkan ucapan pria di seberang sana,
"Baik pak!"
"...."
"Mengerti pak!"
"...."
Rangga pun segera menyerahkan kembali ponsel itu pada Ersya,
"Bagaimana mas?"
"..."
"Siap!"
Ersya pun tampak begitu bersemangat saat mematikan sambungan telponnya dan kembali memasukkan. benda tipis itu ke dalam tas.
"Bagaimana, percaya kan?" tanya Ersya pada Rangga dengan nada mengejek.
"Iya kamu menang!"
Ersya pun beralih menatap Zea, ia menggengam kedua tangan Zea,
"Aku pinjem sopir kamu ya, aku tukar sama Rangga nggak pa pa kan?" tanya Ersya sambil mengedipkan matanya.
"Iya, tidak pa pa!"
__ADS_1
"Baguslah, aku harus pulang sekarang nanti kamu boleh sewa Rangga sepuas kamu!"
"Emang aku apaan!?" gumam rangga lirih tapi masih bisa di dengar oleh Ersya dan zea, Ersya pun dengan reflek memukul bahu Rangga.
"Bisa diam nggak!?"
"Issstttt!" Rangga selalu sadar memang tidak pernah bisa menang kalau melawan temannya itu.
Ersya Kembali fokus pada Zea, ia mendekatkan bibirnya ke arah daun telinga Zea,
"Manfaatkan kesempatan ini!"
"Pasti!"
"Ya udah, aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang!"
Ersya pun akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Zea dan Rangga.
Seperti sebelumnya, keadaan canggung masih tercipta diantara mereka.
Masih ada dua pasien sebelum giliran Zea dan Rangga pun masih dengan sabarnya menunggui Zea karena perintah bosnya.
Hingga setengah jam kemudian, barulah nama Zea di panggil, awalnya Rangga enggan untuk mengikuti Zea tapi petugas terlihat menatap Rangga,
"Maaf bapak, tolong ikut masuk. Selama ini nyonya Zea tidak pernah datang sama anda, jadi Pumpung datang harap ikut masuk ya!"
"Ahh_, iya!"
Akhirnya Rangga menyusul Zea ayang sudah berjalan lebih dulu. Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan itu dan terlihat seorang dokter wanita tengah duduk di balik meja kerjanya.
"Silahkan duduk bunda, ayah!" sapa dokter itu.
"Syukurlah bunda Zea akhirnya bawa suami!"
"Iya dok!" Zea tampak begitu yakin menjawabnya sedangkan Rangga masih belum terlalu nyaman dengan panggilan dokter itu.
"Ayah, lain kali di usahakan ya untuk menemani bunda periksa kandungan. Kasihan loh yah kalau bundanya suruh datang sendiri, sibuk kan masih bisa di tunda, yang terpenting bunda dan bayinya sehat dan mendapat dukungan dari ayah!"
"Iya dok!"
__ADS_1
Rangga beberapa kali menoleh ke arah Zea, ia tidak tahu saat berada di dalam ruangan itu ia menjadi tidak keberatan berada di sana.
"Bunda Zea, sudah memasuki trimester ke 2 ya, jadi detak jantungnya pasti sudah terdeteksi!"
"Iya dok!"
Dokter terlihat menanyakan banyak hal pada Zea mulai dari keluhan dan hal yang di alami selama satu bulan ini.
"Mari kita lakukan pemeriksaan lanjutan ya bund, ayah juga harus menemani ya!"
Rangga menatap Zea meminta persetujuan Zea dan Zea pun mengangukkan kepalanya.
Mereka pun menuju ke ruang pemeriksaan, seperti biasa Zea akan di minta untuk tidur di atas matras pemeriksaan. Setelah memeriksa tekanan darah dokter mulai melakukan USG.
Baru kali ini Rangga bisa melihat bayi yang ada di dalam kandungan, saat mendengar detak jantung bayi itu rangga merasa ada sesuatu yang aneh yang menjalar di tubuhnya. Ia seperti merasa memiliki bayi itu hingga membuatnya menitikkan air mata. Tangannya segera menggengam tangan Zea yang juga tengah konsetrasi mendengarkan detak jantung itu.
Zea yang tiba-tiba di genggam tangannya begitu senang, ia sekarang merasa kebahagiaanya begitu lengkap.
"Bayinya sehat ya ayah, dia pasti senang karena periksa saat ini di anter sama ayahnya!"
Dokter terus memberikan keterangan tentang bayi dalam kandungan Zea.
"Sudah selesai!" dokter memberikan perut Zea dengan tisu lalu menutup kembali perutnya yang sudah mulai buncit itu.
Zea dan Rangga kembali ke tempat duduknya tadi,
"Ini resep yang harus di tebus bunda Zea ya ayah!" ucap dokter sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi catatan resep vitamin dan tambah darah untuk Zea.
"Baik dok, kalau begitu kami permisi!"
"Iya, silahkan. Satu bulan lagi datang kembali ya, di usahakan ayah juga ikut ya!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...