Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Ngepet


__ADS_3

Felic pun mulai menguatkan diri, ia memberanikan diri menatap pria itu, memang


wajahnya tidak ada tampang penjahat. Tapi siapa yang bisa menjamin tampang


polo situ bukan penjahat. Semua orang bisa jadi penjahat, apalagi saat ini


banyak dari penjahat-penjahat yang mengancam adalah dari keluarga  atau kerabat sendiri.


“Kantor polisi? Emang salah gue apa?” tanya dokter Frans terkejut, ia memiringkan


kepalanya memastikan apa yang di dengar itu benar.


“Asal lo *nglepasin* gue dan keluarga gue, gue janji nggak bakal *nglaporin* lo ke


polisi, sumpah!” felic sampai mengangkat dua jarinya di samping telinganya,


berbicara penuh permohonan tapi dokter Frans malah semakin bertambah bingung,


apalagi melihat wajah panik dari Felic.


“Sebenarnya lo ngomong apa sih, gue nggak ngerti!” ucap dokter Frans sambil berlalu, tapi Felic segera menahan tangannya berharap dokter Frans mau mendengarkannya.



“Lo…., lo seorang penjahat kan?” ucap felic sambil memejamkan matanya.


“Penjahat …?”


“Iya …, lo pasti dapat semua itu dari ngrampok, atau lo *******?”


“Gue bukan penjahat! Gila aja lo …, muka cakrp kayak gini di bilang penjahat!” ucap dokter Frans kesal.


Dokter Frans tertawa kesal, ia menyisir rambutnya yang terurai dengan kedua tangannya, berputar gemas bercampur kesal di depan wanita yang telah menjadi istrinya,



*Gila nih ....., benar-benar gila* ....., dokter Frans mencoba mencari akar masalahnya agar jangan sampai melebar dan mencoba menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman, ia berusaha keras untuk itu, rambutnya sampai berantakan karena kerasnya ia berpikir, mencari tahu kenapa istrinya itu bisa berpikiran seperti itu.


            Kemudian matanya menangkap sebuah


buku kecil yang teronggok di atas meja. Buku yang sudah keluar dari tempatnya dan tidak tertata dengan baik, buku itu terbuka, bibirnya mulai tersungging kembali, ada rasa geli di sana.


*Oh …, jadi semua mungkin gara-gara*


itu ….., parnoan banget nih cewek ....


Dokter Frans pun berjalan mendekat ke arah buku itu dan mengambilnya, ia kembali


menghampiri Felic yang masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi yang sama.


Dokter Frans memegang tangan


Felic dan menariknya, meletakkan buku itu di telapak tangannya.


"Jadi masalahnya ini, dari tadi yang lo ributin ini ......, gue kira?" tanya dokter Frans dan Felic hanya mengangguk dengan tangan yang gemetar.


            “Ini hak lo, jadi lo harus


mengambilnya. Insyaallah itu halal, bukan hasil gue ngrampok atau apalah itu yang lo tuduhkan tadi, nggak ada begitu-begitu an!” tapi tampak dari ekspresi Felic tidak percaya.


            “Mana mungkin, lo masih magang bisa


punya uang sebanyak ini!” ucap Felic masih ragu. Dirinya pun yang sudah bekerja cukup lama di bank sebagai office girl tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, bahkan nol koma duanya saja tidak bisa.


            “Cccckkkkk ......!" dokter Frans berdecak, "Gue sudah setua ini …., mana


mungkin masih magang."


"Jadi lo sudah dokter beneran?!"


"Ya iyalah .....! Gue udah jadi dokter selama tujuh tahun, gue sudah menjadi dokter special, gue juga udah dapat banyak penghargaan. Jadi jangan mikir macam-macam!”


"Tapi tampang lo nggak yakinin ......!" gumam Felic dengan bibir yang mengerucut tapi ada kelegaan di dalam dadanya setelah ini.


__ADS_1


"Ya ginilah gue ....., *baby face*!" ucap dokter Frans sambil tersenyum menunjukkan wajahnya yang tampan dan Felic tidak bisa menampik hal itu, benar jika pria di depannya itu sangat tampan. Walaupun belum pernah memujinya, tapi dialah pengagum rahasia wajah tampan itu.



"Sudah puas lihatin wajah tampan gue, kalau belum lo boleh pandang sepanjang malam, gratiiiiis!"



" Ihhhhh ....., Ge Er banget sih .....!" Felic pin segera duduk di tepi tempat tidur dengan tangan yang masih memegang buku rekening itu, sedangkan dokter Frans memilih memutar kursi kecil menghadap wanita itu, ia duduk di depannya dengan tangan yang sengaja ia gunakan sebagai sandaran kepalanya, menghadap ke langit-langit kamar.



"Frans!"


"Hemmmmmm?"


            “Lo kok bisa ngumpul sebanyak ini,


berarti uang lo habis dong?”


            “Ya nggak lah …, gue masih ada


sedikit. Tapi jangan khawatir gue masih bisa ngumpulin uang lagi!”


            “Tapi ini banyak banget …,


jangan-jangan lo ngepet ya …?”


            “Iya …., gue ngepet …., puas!” ucap


dokter Frans kesal. Ia memilih berlalu meninggalkan felic dan kembali duduk di


atas tempat tidur, mulai memainkan ponselnya.


Felic pun menyusul dokter Frans, ia beralih posisi dan duduk di depan dokter Frans.


            “Frans ….!”


            “hemmm!”


maharnya dan lagi pula gue nggak pantes nerima semua ini, gue kembaliin aja ya sama lo, pasti lo lebih butuh. Misalnya buat bangun klinik milik lo sendiri!” Mendengar ucapan


Felic, dokter frans pun menatap wanita yang ada di depannya itu, ia meletakkan


ponselnya.


"Jangankan klinik, rumah sakit besar aja gue punya!" ucap dokter Frans membanggakan diri.


"Sudah deh ....., jangan mulai, gehalu lo ketinggian!"



Mendengar jawaban Felic dokter Frans kembali berdecak, ia tidak menyangka jika istrinya itu kelewat polos. Kalau dia mau tahu tentang dokter Frans sebenarnya tinggal ketikkan namanya di pencarian saja, nama dokter Frans di sana sudah muncul lengkap dengan semua aset yang dimiliki.


            “Mau gue beri tahu sesuatu?” Felic


pun mengangguk, dokter Frans lagi-lagi menarik tangan felic dan mendekapnya,


membuat jantung felic kembali berdetak tidak beraturan, bohong jika sampai


sentuhan itu tidak berpengaruh pada dirinya, mau bagaimanapun mereka dalah pria


dan wanita yang berada dalam satu tempat yang sama, pastilah hawa-hawa itu


berkelebatan saling muncul din pikirannya.


            Apalagi saat menatap mata tulus pria


yang ada di depannya itu, baru dua pria ini Felic mendapatkan tatapan mata tulus itu, yang pertama matan pacarnya, Rangga dan sekarang suaminya yang belum mencintainya.


            “Bagaimana pun awalnya kita menikah,


tapi bagiku pernikahan adalah hal yang sakral. Kewajiban tetaplah kewajiban, tak peduli ada cinta atau tidak dalam pernikahan kita, yang pasti sekarang gue adalah seorang suami yang wajib memberi nafkah kepada istrinya!”


            “Uang itu adalah nafkah pertama gue

__ADS_1


buat lo …, jadi mau lo buat beli apa aja terserah! Mau lo buang juga terserah lo”


            “Jadi itu beneran uang gue? Sebanyak


itu?”


            “Iya ….!”


            Felic sekarang bisa tersenyum senang


dan lega. Ia berhambur memeluk dokter Frans membuat dokter Frans terpaku di


tempatnya. Felic yang menyadari refleknya berlebihan segera melepaskan


pelukannya.


            “Maaf …, maaf …., reflek!”


            “Nggak pa pa …, gue seneng sih …, sering sering saja refleknya kayak gitu!”


Ucapan dokter Frans seketika mendapat pukulan dari Felic tepat di lengannya membuat dokter Frans mengaduh kesakitan.


            “Augh ……!”


            Melihat dokter Frans kesakitan,


membuat Felic merasa bersalah. Pukulannya tadi terlalu keras.


            “Maaf …, maaf …, gue nggak sengaja,


sakit ya?”


            “Ini nih kebiasaan yang nggak gue


suka …., sakit tahu!”


            “ya maaf!”


“ya udah gue mau tidur!” ucap dokter Frans lalu mengubah posisinya menjadi tidur,


membuat Felic menggeser duduknya. Dokter frans tidur memunggungi Felic yang masih


duduk.


“Apa kita harus tidur satu ranjang?’ tanya Felic masih ragu.



“Memang mau tidur di mana? Kita suami istri, lagian kita juga sudah sama-sama dewasa, sekali-kali mencobanya juga tidak akan rugi kan!” ucap dokter Frans dengan


entengnya, seketika lagi-lagi mendapat pukulan dari Felic, kali ini tidak dengan tangan kosong, Felic menggunakan gulingnya sebagai senjata.


Bug


“Awas ya …, jangan macam-macam…, kalau gue belum siap jangan minta lebih!”



Felic pun segera mematikan lampunya dan menyuisakan lampu tidur, mereka tidur saling membelakangi, Felic menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki


hingga ujung kepala sedangkan dokter Frans tersenyum puas karena berhasil


menggoda istrinya itu.



**Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘**

__ADS_1


__ADS_2