
Setelah nyonya Ratih menghilang di balik pintu bersama paman Salman, Felic pun segera
menatap dokter Frans. Dan seperti hal yang sama yang di lakukan nya, ia hanya
tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang gatal.
“Itu tadi siapa?” tanya Felic yang sudah sangat penasaran.
“Itu …, itu ibunya Agra!” ucap dokter Frans sedikit tergagap, membuat Felic memicingkan matanya.
"Sungguh .....?"
"Iya .....!" jawab dokter Frans dengan penuh keyakinan, "Juga ibu angkatku!" di lanjutkan dengan lirih.
"Nggak percaya!" Felic memegangi kepalanya yang sangat pusing, otak kecilnya belum mampu mencerna semuanya. Ia memilih duduk sebelum ia terjatuh karena terlalu terkejut.
“Fe …, kamu nggak pa pa kan? Minumlah dulu!” dokter Frans segera mengambilkan
segelas air putih untuk Felic.
“Rasanya aku dehidrasi, sangat berat .....!” ucap Felic sambil menghabiskan seluruh air di dalam gelas itu.
“tarik nafas Fe, hembuskan ….!”
Felic pun melakukan hal yang sama seperti yang di perintahkan oleh dokter Frans, ia
terlalu terkejut saat melihat penampilan nyonya Ratih yang terlihat begitu luar
biasa. Apalagi bagaimana cara dokter Frans menghormatinya, Felic berfikir jika
memang nyonya Ratih bukan orang sembarangan.
“Orang dari dimensi mana yang baru saja mengunjungiku, kenapa akhir-akhir ini aku
seperti kedatapan tamu dari dunia lain saja!” ucap Felic dengan polosnya, hal
itu malah membuat dokter Frans gemas, ia mengusap kelapa felic, mengacak-acak
rambutnya.
“Masih di bumi yang sama Fe …., nggak usah terlalu di pikirin…, akan lebih banyak hal
aneh lagi yang bakal kamu temui di masa depan!”
“Gue bisa mati berdiri jika ini terjadi setiap hari Frans …!”
“jangan dulu, tinggalkan stok nyawamu untuk kejutan yang lebih besar lagi …!”
“kamu ya …, becanda mu benar-benar nggak lucu. Kamu tahu baru saja aku merasakan
nafasku sudah sampai di pangkal tenggorokanku gara-gara menghadapi wanita
itu!”
Dokter Frans hanya bisa tersenyum melihat wajah panik felic. Ia tidak bisa mengatakan
apapun. Ia takut jika ia mengatakan kebenarannya bahwa rumah sakit ini
miliknya, Felic akan jantungan saat ini juga.
“bagaimana kalau kita pulang saja! Lupakan hal itu dan tunggu kejutan berikutnya! Dan nikmati saja hidupmu yang baru setelah ini!"
“Masih ada lagi?”
“Banyak!”
ucap dokter Frans sambil menarik tangan felic untuk keluar dari gedung itu, dan
tangan sebelahnya ia gunakan untuk menenteng tas milik Felic.
"Kamu serius Frans?" tanya Felic lagi sebelum masuk ke dalam lift.
"Dua rius lamah ....!" jawab dokter Frans dengan senyumnya dan sedikit mengerlingkan matanya membuat Felic mendengus kesal.
"Sudah ayo ....!" dokter Frans kembali menarik lengan Felic masuk ke dalam lift.
Mereka akhirnya sampai juga di depan pintu masuk rumah sakit, mobil mewah sudah bersiap di depan pintu masuk lengkap dengan belt boy yang membukakan pintu untuk mereka.
__ADS_1
"Ih ...., kok kayak di hotel sih!"
"Sudah ku bilang masih banyak lagi kejutannya! Ayo masuk!"
Felic terlihat ragu untuk masuk ke dalam
mobil itu, mobil itu terlihat mahal.
"Ini mobil rumah sakit ya?"
"Bukan, mobil aku!"
“Ini beneran mobil kamu?”
“Bukan! Mobil pak omar tukang bakso! Ya mobil aku lah …., ayo naik!”
Akhirnya Felic pun bersedia untuk masuk, mobil itu begitu nyaman. Felic mengamati
seluruh isi mobil mulai dari kursi yang tinggal pencet bisa rebahan sendiri,
music tinggal pencet remote dan kaca atas yang bisa kebuka sendiri. Dokter Frans
terus tersenyum melihat wajah polos Felic.
“pakek sabuk pengaman mu, jangan berdiri-berdiri. Nanti kalau ada polisi kita kena
razia!”
Akhirnya Felic turun kembali dan dokter Frans menutup bagian atas mobil dengan sekali
pencet.
“kalau di film-film romantis biasanya cowok pasangkan sabuk pengaman sama ceweknya!”
ucap felic dengan polosnya.
“memang sejak kapan kita romantis?!” ucap dokter Frans sambil mengusap kepala felic.
Sejak …, sejak kita berciuman …,
“kenapa wajahmu memerah?”
“Tidak …, siapa yang merah!”
“itu …, pipimu merah begitu!”
“Mungkin aku hanya sedang kepanasan saja, mobilmu panas!”
“Mobil ini be-AC ya …!”
Felic memilih memalingkan wajahnya agar dokter Frans tidak bisa melihat pipinya yang
memerah. Dokter Frans hanya bisa menghela nafasnya.
“Mau pulang ke rumahku?” tanya dokter Frans sambil menjalankan mobilnya
“rumah?”
terpaksa Felic membalik wajahnya dan menatap dokter Frans. Ia penasaran dnegan
maksud ucapan dokter Frans.
“Iya rumah kita, rumah yang akan kita tinggali!”
Tapi kan sayang uangnya jika untuk
bayar kos-kosan. Mending tinggal di rumah ayah dan ibu. Nggak perlu bayar ….
“bagaimana? Setuju tidak?”
“Kita pulang ke rumah ayah dulu aja ya, lagian aku kan juga belum membawa baju dan
barang-barang ku!”
“baiklah…!”
Akhirnya dokter Frans pun memilih mengantar Felic ke rumah mertuanya. Ia tidak mau
__ADS_1
berdebat dengan Felic, apalagi keadaan Felic belum benar-benar baik. Walaupun
ia tahu jika di rumahnya bibi Molly pasti akan merawatnya dengan sangat baik.
Sekali lagi semua keputusan di tangan Felic. Ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya.
Ia harus bersabar hingga Felic benar-benar mau di ajak ke rumahnya.
Kedatangan Felic di sambut oleh ayah dan ibu, mereka begitu senang Felic sudah pulang.
Lisa juga sudah datang, ia punya bayi jadi takut mengajak ke rumah sakit, tapi
begitu menyesal saat melihat bagaimana rumah sakit yang di tinggali oleh felic
di sana.
“yah ....., kalau tahu begini aku pasti setiap hari mengunjungi kak Felic!” keluh Lisa.
Ia terus menatapi ponsel kakaknya dengan begitu antusias.
“kalau gitu kamu aja yang sakit biar setiap hari di rumah sakit!”
“Nggak pa pa sih kalau dokternya kak Frans, sudah ganteng …, dokter lagi …, suami
idaman banget deh pokoknya …!”
Pluk
Felic segera memukul kepala adiknya itu dengan guling yang ada di sampinya,
“Ih kakak jahat ya …!”
“Nggak baik menghayalkan kakak ipar sendiri, sudah sana urus tuh anakmu …, nangis tuh
suaranya …!”
Dokter Frans hanya bisa tersenyum mendengarkan perdebatan adik kakak itu, ia sedang sibuk memasukkan pakaian felic ke dalam lemarinya. Lisa pun segera turun menghampiri putranya yangs edang menangis. Kini di kamar itu tinggal felic dan dokter
Frans. Tiba-tiba saja terjadi kecanggungan antara mereka.
“Sudah selesai Fe …!” ucap dokter Frans ia bingung harus mulai bicara dari mana, Felic
hanya tersenyum. Dokter Frans pun mendekati Felic dan duduk di depannya.
“Ada apa?’ tanya Felic saat dokter Frans sudah berada di depannya, jantungnya
berdegup kencang saat sedang berdua seperti ini, apalagi melihat tatapan dokter
Frans yang seperti itu, hatinya serasa leleh.
Bukannya menjawab, dokter Frans mendekatkan bibirnya ke bibir Felic, membuat jantung Felic semakin bergemuruh saja, felic sudah mencengkeram apapun yang ada di
sampingnya. Ia bersiap menerima ciuman dari dokter Frans.
Dokter Frans menyingkirkan anak rambut yang bertebaran di wajah Felic, ia semakin
mendekatkan wajahnya.
Dag dug dag dug
Seakan irama jantung mereka terdengar di seluruh ruangan. “kamu cantik!” bisik dokter
Frans lalu menjauhkan tubuhnya dari Felic.
“Aku ke luar dulu ya!” ucap dokter Frans lalu berlalu begitu saja, felic hanya tercengang di buatnya.
“Nggak jadi nih ciumannya!” gumam Felic sedikit kecewa, padahal dia sudah berharap pria itu akan menciumnya tapi ternyata hanya ingin mengatakan kalau dia cantik.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Minal aidzin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin
__ADS_1