Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Kepulangan Felic


__ADS_3

Setelah nyonya Ratih menghilang di balik pintu bersama paman Salman, Felic pun segera


menatap dokter Frans. Dan seperti hal yang sama yang di lakukan nya, ia hanya


tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang gatal.


“Itu tadi siapa?” tanya Felic yang sudah sangat penasaran.


“Itu …, itu ibunya Agra!” ucap dokter Frans sedikit tergagap, membuat Felic memicingkan matanya.


"Sungguh .....?"


"Iya .....!" jawab dokter Frans dengan penuh keyakinan, "Juga ibu angkatku!" di lanjutkan dengan lirih.


"Nggak percaya!" Felic memegangi kepalanya yang sangat pusing, otak kecilnya belum mampu mencerna semuanya. Ia memilih duduk sebelum ia terjatuh karena terlalu terkejut.


“Fe …, kamu nggak pa pa kan? Minumlah dulu!” dokter Frans segera mengambilkan


segelas air putih untuk Felic.


“Rasanya aku dehidrasi, sangat berat .....!” ucap Felic sambil menghabiskan seluruh air di dalam gelas itu.


“tarik nafas Fe, hembuskan ….!”


Felic pun melakukan hal yang sama seperti yang di perintahkan oleh dokter Frans, ia


terlalu terkejut saat melihat penampilan nyonya Ratih yang terlihat begitu luar


biasa. Apalagi bagaimana cara dokter Frans menghormatinya, Felic berfikir jika


memang nyonya Ratih bukan orang sembarangan.


“Orang dari dimensi mana yang baru saja mengunjungiku, kenapa akhir-akhir ini aku


seperti kedatapan tamu dari dunia lain saja!” ucap Felic dengan polosnya, hal


itu malah membuat dokter Frans gemas, ia mengusap kelapa felic, mengacak-acak


rambutnya.


“Masih di bumi yang sama Fe …., nggak usah terlalu di pikirin…, akan lebih banyak hal


aneh lagi yang bakal kamu temui di masa depan!”


“Gue bisa mati berdiri jika ini terjadi setiap hari Frans …!”


“jangan dulu, tinggalkan stok nyawamu untuk kejutan yang lebih besar lagi …!”


“kamu ya …, becanda mu benar-benar nggak lucu. Kamu tahu baru saja aku merasakan


nafasku sudah sampai di pangkal tenggorokanku gara-gara menghadapi wanita


itu!”


Dokter Frans hanya bisa tersenyum melihat wajah panik felic. Ia tidak bisa mengatakan


apapun. Ia takut jika ia mengatakan kebenarannya bahwa rumah sakit ini


miliknya, Felic akan jantungan saat ini juga.


“bagaimana kalau kita pulang saja! Lupakan hal itu dan tunggu kejutan berikutnya! Dan nikmati saja hidupmu yang baru setelah ini!"


“Masih ada lagi?”


“Banyak!”


ucap dokter Frans sambil menarik tangan felic untuk keluar dari gedung itu, dan


tangan sebelahnya ia gunakan untuk menenteng tas milik Felic.


"Kamu serius Frans?" tanya Felic lagi sebelum masuk ke dalam lift.


"Dua rius lamah ....!" jawab dokter Frans dengan senyumnya dan sedikit mengerlingkan matanya membuat Felic mendengus kesal.


"Sudah ayo ....!" dokter Frans kembali menarik lengan Felic masuk ke dalam lift.


Mereka akhirnya sampai juga di depan pintu masuk rumah sakit, mobil mewah sudah bersiap di depan pintu masuk lengkap dengan belt boy yang membukakan pintu untuk mereka.

__ADS_1


"Ih ...., kok kayak di hotel sih!"


"Sudah ku bilang masih banyak lagi kejutannya! Ayo masuk!"


Felic terlihat ragu untuk masuk ke dalam


mobil itu, mobil itu terlihat mahal.


"Ini mobil rumah sakit ya?"


"Bukan, mobil aku!"


“Ini beneran mobil kamu?”


“Bukan! Mobil pak omar tukang bakso! Ya mobil aku lah …., ayo naik!”


Akhirnya Felic pun bersedia untuk masuk, mobil itu begitu nyaman. Felic mengamati


seluruh isi mobil mulai dari kursi yang tinggal pencet bisa rebahan sendiri,


music tinggal pencet remote dan kaca atas yang bisa kebuka sendiri. Dokter Frans


terus tersenyum melihat wajah polos Felic.


“pakek sabuk pengaman mu, jangan berdiri-berdiri. Nanti kalau ada polisi kita kena


razia!”


Akhirnya Felic turun kembali dan dokter Frans menutup bagian atas mobil dengan sekali


pencet.


“kalau di film-film romantis biasanya cowok pasangkan sabuk pengaman sama ceweknya!”


ucap felic dengan polosnya.


“memang sejak kapan kita romantis?!” ucap dokter Frans sambil mengusap kepala felic.


Sejak …, sejak kita berciuman …,


“kenapa wajahmu memerah?”


“Tidak …, siapa yang merah!”


“itu …, pipimu merah begitu!”


“Mungkin aku hanya sedang kepanasan saja, mobilmu panas!”


“Mobil ini be-AC ya …!”


Felic memilih memalingkan wajahnya agar dokter Frans tidak bisa melihat pipinya yang


memerah. Dokter Frans hanya bisa menghela nafasnya.


“Mau pulang ke rumahku?” tanya dokter Frans sambil menjalankan mobilnya


“rumah?”


terpaksa Felic membalik wajahnya dan menatap dokter Frans. Ia penasaran dnegan


maksud ucapan dokter Frans.


“Iya rumah kita, rumah yang akan kita tinggali!”


Tapi kan sayang uangnya jika untuk


bayar kos-kosan. Mending tinggal di rumah ayah dan ibu. Nggak perlu bayar ….


“bagaimana? Setuju tidak?”


“Kita pulang ke rumah ayah dulu aja ya, lagian aku kan juga belum membawa baju dan


barang-barang ku!”


“baiklah…!”


Akhirnya dokter Frans pun memilih mengantar Felic ke rumah mertuanya. Ia tidak mau

__ADS_1


berdebat dengan Felic, apalagi keadaan Felic belum benar-benar baik. Walaupun


ia tahu jika di rumahnya bibi Molly pasti akan merawatnya dengan sangat baik.


Sekali lagi semua keputusan di tangan Felic. Ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya.


Ia harus bersabar hingga Felic benar-benar mau di ajak ke rumahnya.


Kedatangan Felic di sambut oleh ayah dan ibu, mereka begitu senang Felic sudah pulang.


Lisa juga sudah datang, ia punya bayi jadi takut mengajak ke rumah sakit, tapi


begitu menyesal saat melihat bagaimana rumah sakit yang di tinggali oleh felic


di sana.


“yah ....., kalau tahu begini aku pasti setiap hari mengunjungi kak Felic!” keluh Lisa.


Ia terus menatapi ponsel kakaknya dengan begitu antusias.


“kalau gitu kamu aja yang sakit biar setiap hari di rumah sakit!”


“Nggak pa pa sih kalau dokternya kak Frans, sudah ganteng …, dokter lagi …, suami


idaman banget deh pokoknya …!”


Pluk


Felic segera memukul kepala adiknya itu dengan guling yang ada di sampinya,


“Ih kakak jahat ya …!”


“Nggak baik menghayalkan kakak ipar sendiri, sudah sana urus tuh anakmu …, nangis tuh


suaranya …!”


Dokter Frans hanya bisa tersenyum mendengarkan perdebatan adik kakak itu, ia sedang sibuk memasukkan pakaian felic ke dalam lemarinya. Lisa pun segera turun menghampiri putranya yangs edang menangis. Kini di kamar itu tinggal felic dan dokter


Frans. Tiba-tiba saja terjadi kecanggungan antara mereka.


“Sudah selesai Fe …!” ucap dokter Frans ia bingung harus mulai bicara dari mana, Felic


hanya tersenyum. Dokter Frans pun mendekati Felic dan duduk di depannya.


“Ada apa?’ tanya Felic saat dokter Frans sudah berada di depannya, jantungnya


berdegup kencang saat sedang berdua seperti ini, apalagi melihat tatapan dokter


Frans yang seperti itu, hatinya serasa leleh.


Bukannya menjawab, dokter Frans mendekatkan bibirnya ke bibir Felic, membuat jantung Felic semakin bergemuruh saja, felic sudah mencengkeram apapun yang ada di


sampingnya. Ia bersiap menerima ciuman dari dokter Frans.


Dokter Frans menyingkirkan anak rambut yang bertebaran di wajah Felic, ia semakin


mendekatkan wajahnya.


Dag dug dag dug


Seakan irama jantung mereka terdengar di seluruh ruangan. “kamu cantik!” bisik dokter


Frans lalu menjauhkan tubuhnya dari Felic.


“Aku ke luar dulu ya!” ucap dokter Frans lalu  berlalu begitu saja, felic hanya tercengang di buatnya.


“Nggak jadi nih ciumannya!” gumam Felic sedikit kecewa, padahal dia sudah berharap pria itu akan menciumnya tapi ternyata hanya ingin mengatakan kalau dia cantik.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Minal aidzin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin

__ADS_1


__ADS_2