
"Nafkah batin ya?"
Sari tampak berpikir, ia menatap wajah polos Tisya.
Model, wira wiri di tv masak sih nggak tahu nafkah batin ....?
Tisya balik menatapnya Sari, dia kayaknya juga nggak tahu ...., percuma kayaknya ....
"Kamu juga nggak tahu ya?"
Tisya sedikit kecewa, Sari yang cerewet dan banyak bertanya saja tidak tahu nafkah batin, apalagi dirinya yang pantang untuk bertanya pada orang lain. Tapi karena hal ini mendesak, ia harus bertanya dari pada menjadi bulan-bulanan Wilson.
Polos sekali dia ....., Sari pun tersenyum dengan penuh arti. Sekali-kali mengerjai seorang arti tidak akan dosa.
"Ya tahu, pokoknya kalau nafkah batin itu paling di sukai oleh pasangan suami istri!"
Tisya kurang puas dengan jawaban dari Sari.
"Iya, yang paling di sukai itu apa?"
"Minta aja sama suami kamu, nanti juga di kasih!"
Hehhhhhh
Tisya menghela nafas panjang, ia mulai menyantap makan siangnya yang memang sudah di sediakan oleh perusahaan di kantin perusahaan, tapi jika tidak suka dengan makanan kantor, para karyawan bisa beli menu lainnya juga.
Tisya masih harus menghemat karena Wilson bilang dia tidak akan memberi gaji untuknya, padahal ia baru saja mendapatkan gaji satu kali dari Wilson.
Sore ini, seperti yang di katakan tadi pagi. Saat Tisya keluar dari kantor, mobil Wilson sudah terparkir di depan gedung yang tidak terlalu besar itu.
"Di jemput tuh, Tis!"
Sari menunjuk pada mobil berwarna putih yang terparkir tepat di depan pintu masuk.
"Aku duluan ya!"
Tanpa menunggu jawaban dari Sari, Tisya sudah lebih dulu berlari menghampiri mobil Wilson.
Dari dalam Wilson sudah menurunkan kaca mobilnya,
"Masuklah!"
Tisya pun membuka pintu mobil, masuk dan duduk di samping Wilson.
"Kenapa tidak melambaikan tangan?"
Pertanyaan itu seketika menghentikan kegiatan Tisya yang sedang memakai sabuk pengamannya, ia menoleh pada Wilson dan mengerutkan keningnya hingga alisnya yang tebal hampir saja menyatu.
"Kenapa? Lupa?"
Wilson masih terus menatap Tisya, ia berusaha mengingatkan wanita itu agar mengulang kebiasaan yang baru tadi pagi mereka sepakati.
"Maksudnya apa sih?" tanya Tisya sambil mengangkat kedua tangannya tidak mengerti.
"Lambaikan tangan saat berpisah atau bertemu!"
__ADS_1
Seketika ingatan Tisya kembali pada kejadian tadi pagi.
"Ohhhh itu?!" dan Wilson pun mengangguk kan kepalanya, "Aku lupa!"
"Belum tua sudah lupaan!"
Wilson memilih untuk menghidupkan mesin mobilnya, ia tidak lagi mempedulikan Tisya.
Mobil mulai melaju meninggalkan gedung tempat kerja Tisya, jalanan sangat padat karena memang jamnya orang pulang kerja.
Setelah melewati beberapa lampu merah dan kemacetan yang cukup panjang, mereka pun sampai juga di depan sebuah supermarket.
Wilson segera memarkirkan mobilnya, langit jingga mulai berubah menjadi gelap saat mereka turun dan memasuki gedung supermarket itu.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh satpam dan juga karyawan supermarket, tangan Wilson langsung terulur mengambil trolly belanjaan yang di sediakan oleh supermarket.
Tisya terus mengikuti langkah Wilson di belakangnya, ia tidak berpengalaman masalah. belanja bulanan.
Kenapa dia diam terus? Masak cuma gara-gara aku nggak melambaikan tangan saja dia marah ...., batin Tisya sambil terus menatap punggung Wilson.
Tangan Wilson sibuk mengambil beberapa barang dari rak yang di lewatinya. Itu terjadi hingga beberapa kali tanpa bertanya dulu pada Tisya.
Masa bodoh lah kalau dia marah, nggak ada ruginya juga aku ...., karena kesal Tisya pun memilih mengambil beberapa camilan yang ia sukai dan memasukkannya ke dalam troli yang di dorong oleh Wilson.
Tanpa di sadari oleh Tisya, ternyata Wilson menatapnya lalu mengambil camilan yang di ambil oleh Tisya dan mengembalikannya ke dalam rak.
"Kenapa di kembalikan?" protes Tisya.
"Kita harus berhemat!"
"Iya, aku akan memberimu nafkah lahir, uang belanja bulanan dan kamu harus bisa mengatur uang itu cukup untuk kita gunakan selama satu bulan!" ucap Wilson panjang lebar mencoba menjelaskan tentang peraturan dalam berumah tangga.
Tisya terlihat berpikir keras, dia bukan wanita yang pintar, bahkan di sekolah dulu ia tidak pernah masuk sepuluh besar, bagaimana bisa otaknya di paksa untuk berpikir serumit itu.
Dalam hidupnya selama ini hanya ada kemewahan dan kemewahan, bahkan saat ulangan ia tidak pernah mengerjakan soal ulangannya sendiri, ia memberi uang jajan pada teman sekelasnya yang pintar yang mau memberi contekan padanya.
Dan saat dewasa, ia harus menghitung pengeluaran.
"Adakah pekerjaan yang lebih mudah dari itu, misalnya suruh saja aku belanja tanpa menghitung pengeluaran?"
Wilson kembali melanjutkan langkahnya dan terlihat menimang-nimang beberapa barang yang memang di butuhkan.
"Nggak ada!"
"Memang berapa uang bulanannya selama satu bulan?"
"Lima juta!" jawab Wilson tanpa menatap Tisya, ia terus sibuk memilih barang.
"Kok cuma lima juta, lainnya mana?"
"Lainnya buat di tabung kalau ada keperluan mendadak!"
Tisya kembali berpikir, ia menghentikan langkahnya hingga tertinggal cukup jauh dari Wilson.
Yang di maksud kebutuhan mendadak itu apa ya, shoping pas lagi ada diskon, apa itu juga termasuk ....
__ADS_1
Tisya pun sedikit berlari mengejar Wilson, ia berdiri di depan Wilson dan menahan troli itu agar tidak berjalan.
"Apa shopping juga boleh di masukkan ke dalam keperluan mendadak?"
"Nggak!" jawab Wilson tegas.
"Trus kapan dong aku shoping nya?"
"Kamu boleh shopping satu bulang sekali, tapi tidak boleh lebih dari satu juta!"
"Tidak boleh lebih dari satu juta? Tapi bajuku kan harganya ada yang lebih dari sepuluh juta!"
"Hentikan kebiasaan buruk itu!"
Setelah memastikan semua barang belanjaannya sudah lengkap, Wilson pun segera menuju ke kasir, dan Tisya hanya bisa pasrah mengikuti langkah Wilson.
"Semuanya satu juta lima ratus dua puluh tujuh ribu mas!" ucap kasir itu dan Wilson pun mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada petugas kasir.
Tiga buah kantong plastik besar sudah berada di samping mereka.
"Bantu aku!" pinta Wilson.
"Hah, aku?" tanya Tisya.
"Emang aku harus minta tolong sama siapa lagi? Bawa satu kantong plastik dan aku akan membawa dua!"
Dengan kesal Tisya pun menyambar satu kantong plastik besar itu dan membawanya keluar dari dalam supermarket.
"Terimakasih mbak!" ucap Wilson saat petugas kasir itu menyerahkan kembali kartunya.
Wilson segera mengejar Tisya dengan dua kantong plastik besar yang ukurannya sama.
Tisya sudah menyandarkan punggungnya di mobil dengan kantong plastik besar itu di sampingnya.
"Belanja apa saja sih banyak sekali!" keluh Tisya sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa kram karena begitu berat.
Wilson membuka bagasi belakang mobilnya dan mulai memasukkan satu persatu kantong plastik besar itu di dalam bagasi.
"Itu tugasmu, nanti catat semua belanjaan ini dan untuk bulan depan atau ada yang habis kamu bisa mengeceknya!" ucap Wilson sambil menutup kembali bagasi mobilnya.
"Seribet itu?"
"Iya lah ....! Minumlah!" ucap Wilson sambil menyerahkan sebotol air kemasan rasa jeruk itu dan ikut menyender di mobil, langit sudah sangat gelap, kini gedung-gedung dan jalan-jalan sudah di hiasi dengan cahaya lampu dengan berbagai warna.
Tisya segera meneguknya, dia benar-benar haus saat ini dan juga lapar.
Bersambung
...Banyak hal yang kita baru tahu setelah kita menikah, hal kecil yang kita tidak pernah bayangkan sebelumnya ternyata menjadi masalah besar saat kita sudah menikah...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰🥰