
Di desa bersama dokter Frans dan Felic.
Hari ini dokter Frans dan Felic sudah bersiap-siap untuk pulang kembali ke kota. Mereka sudah terlalu lama di desa, sudah satu minggu sudah cukup untuk berada di desa.
Paman Richard dan bibi Molly sedang sibuk merapikan barang-barang bawaannya.
Mereka memasukkan barang-barang itu ke dalam mobil.
"Sayang ...., apa Wilson tidak menjemput kita?" tanya Felic.
"Kenapa menanyakan dia?" tanya dokter Frans yang terlihat tidak suka karena istrinya menanyakan pria lain.
"Tidak pa pa, hanya saja aku sedikit merindukan anak itu, Wilson itu orangnya suka tiba-tiba aja jadi begitu polos!"
"Beraninya merindukan pria lain saat suamimu di sini!" ucap dokter Frans yang kesal.
"Sedikit sayang ...., hanya sedikit!" ucap Felic sambil menunjukkan ujung jarinya.
"Yang banyak buat kamu!" ucap Felic lagi sambil memeluk suaminya itu.
"Kamu jadi aneh tahu kalau sikapmu begitu manis gini!" ucap dokter Frans sambil mengusap kepala Felic lalu berjalan menuju ke depan untuk melihat bagaimana persiapan bibi Molly dengan paman Richard.
"Bagaimana paman?" tanya dokter Frans.
"Sebentar lagi selesai tuan!" ucap paman Ricard yang masih terlihat sibuk.
"Duduklah dulu biar tidak capek!" ucap dokter Frans sambil memapah Felic untuk duduk di kursi yang ada di depan rumah.
Belum sampai Felic duduk sempurna, tiba-tiba sebuah motor yang berjalan cepat berhenti di depan rumah mereka, pengendaranya segera turun dan menghampiri dokter Frans.
"Dokter ...., dokter ...., tolong ponakan saya!" ucap bapak-bapak itu terlihat begitu panik.
"Tenang pak ada apa ini? Bi ambilkan minum untuk bapak ini!"
"Baik dokter!"
Bi Molly pun segera berlari masuk ke dalam rumah, mengambil segelas air dan berjalan cepat kembali ke luar menyerahkan gelas berisi air itu pada bapak-bapak itu.
Setelah meminum habis semua air itu, dokter Frans pun mulai bertanya.
"Ada apa pak?" tanya dokter Frans.
"Keponakan saya kecelakaan parah dok, dokter yang ada di sini kuwalahan! Mereka meminta saya untuk menjemput dokter!" ucap bapak itu.
Mendengar hal itu membuat dokter Frans berdiri dengan cepat dari duduknya.
"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau ada bahaya?!" protes dokter Frans sambil menyambar ponselnya yang sempat ia letakkan di meja kecil itu.
__ADS_1
"Mau ngomong nggak boleh tadi sama dokter!" ucap bapak itu.
Mereka pun segera menghampiri motor yang tadi sempat di parkir oleh bapak itu, Felic yang terbengong pun segera berdiri.
"Sayang ....!" panggil Felic membuat dokter Frans pun menoleh padanya.
"Iya?"
"Trus pulangnya gimana?" tanya Felic.
"Kita tunda lagi dulu ya ....!" ucap dokter Frans dan segera naik ke atas motor yang mesinnya sudah di hidupkan. Motor pun perlahan meninggalkan halaman rumah itu.
Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di klinik, dokter Frans pun segera masuk dan benar saja di dalam ada pasien yang begitu parah dengan luka di kepala, tangan dan kakinya.
Dokter yang bertugas pun segera memberi tempat untuk dokter Frans ikut menanganinya. Mau bagaimana pun dokter Frans tetaplah dokter senior di bandingkan dengan mereka, pengalaman dokter Frans juga yang paling banyak di antara mereka.
Butuh waktu hingga hampir dua jam untuk menangani pendarahan, melakukan penjahitan dan memeriksa organ-organ vital tubuhnya.
"Ahhhh akhirnya ....!" dokter Frans sudah duduk di kursi plastik yang ada di samping pasien sambil mengusap keringat yang ada di keningnya.
"Bagaimana lagi dok ini?" tanya dokter junior itu.
"Kita tunggu sampai dua belas jam, setelah pasien kembali sadar kita bisa langsung mengetahui keadaannya!" ucap dokter Frans. Ia harus menunda kepulangannya mungkin sampai besok, sampai pasiennya benar-benar sadar dan tidak ada masalah.
...****...
Tisya sudah siap dengan baju rapinya. Kemarin Tisya sudah ijin tidak masuk kerja karena ingin menemui tuan Bactiar.
"Rapi banget mau ke mana?" tanya Wilson yang masih santai menikmati sarapannya.
"Kenapa? Bukan urusanmu juga kan?!" jawab Tisya ketus.
Amit amit deh nih Tikus ...., cuma di tanya aja ketus banget ....
"Kamu kan bilang kalau kamu mau libur hari ini, kenapa nggak buat beres-beres rumah ...., malah keluyuran!" ucap Wilson yang tidak mau kalah.
"Aku nggak keluyuran ya, aku mau ke Bactiar group!"
Mendengar ucapan Tisya, Wilson jadi teringat dengan surat perjanjian itu, mungkin saja memang Tisya ingin mengatakan tentang surat perjanjian itu. Wilson pun jadi memikirkan cara agar ia tahu apa yang terjadi.
"Tunggu sebentar!" ucap Wilson lalu berlari menuju ke kamarnya, ia pun mengambil benda kecil hanya sebesar jari jempol dan menggenggamnya begitu erat. Ia kembali keluar dan menghampiri Tisya.
"Ada apa sih? Aku buru-buru!" ucap Tisya kesal karena Wilson tidak segera mengatakan apa yang ingin di katakan.
Srekkkkk
Tiba-tiba Wilson menarik tubuh Tisya ke dalam pelukannya, menasukkan benda kecil yang sempat ia ambil tadi ke dalam tas samping Ersya.
__ADS_1
"Wil ...., kamu lagi mimpi ya? Apa memang belum bangun?" tanya Tisya bingung karena tiba-tiba di peluk oleh Wilson.
Wilson pun tersenyum, "Tidak pa pa ...., aku hanya mau memberi mu semangat siapa tahu setelah ini kamu akan nangis!"
Wilson pun segera melepas pelukannya dan mengusap tubuhnya karena telah memeluk Tisya.
"Untuk nggak ketularan judesnya!" gumam Wilson sambil meninggalkan Tisya yang masih bingung dengan tingkah Wilson.
"Wil__!" panggil Tisya, ia pun mengikuti langkah Wilson.
"Wil ...., tunggu!"
"Ada apa sih?" tanya Wilson yang kembali duduk di ruang makan dan melanjutkan sarapannya.
"Uangku habis! Bisa pinjami aku uang nggak!?" tanya Tisya.
"Buat apa?"
"Buat naik angkot atau taksi mungkin!"
Wilson pun tidak banyak bertanya lagi karena ia tidak sabar untuk mengetahui apa isi dari surat perjanjian itu.
"Segini cukup kan?" tanya Wilson sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan membuat Tisya tercengang. Wilson yang biasanya begitu irit dengan uang, perhitungan sekali tiba-tiba memberinya uang tanpa banyak bertanya.
"Ini serius?" tanya Tisya.
"Kenapa? Nggak mau? Kalau nggak mau ya sud__!" ucap Wilson yang hendak mengantongi kembali uangnya tapi kalah cepat dengan Tisya yang menyambar uangnya.
"Saya berangkat! Sampai jumpa nanti!" ucap Tisya sambil berlari meninggalkan Wilson.
"Dasar mata dwitan ....!" gumam Wilson.
Wilson sudah memasukkan alat penyadap di tas Tisya. Ia juga sudah on kan jadi ia bisa mendengarkan apa saja yang akan di bicarakan oleh Tisya dan tuan Bactiar nanti.
Bersambung
...Menangislah jika kamu ingin menangis, karena menangis bukan karena kamu lemah tapi menangis karena kamu sudah terlalu lama menjadi kuat...
Maaf ya hari ini up nya cuma ini, kehidupan dunia nyata nggak bisa di tinggal, besok insyaallah doakan bisa up lebih banyak ya,
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1