
Wilson pun melakukan hal yang sama, ia juga terbawa emosi tadi. Ia menghela nafas dalamnya dan mengusap rambutnya.
Wilson pun menatap Tisya, "Aku tahu caranya!"
"Apa?"
"Kita harus nikah!"
Ucapan Wilson benar-benar berhasil membuat Tisya terkejut, seterkajut-terkejutnya.
"Nikah?"
"Iya ..., kita harus nikah!"
Wilson benar-benar yakin dengan ucapannya tapi Tisya malah beberapa kali mengedipkan matanya tak percaya.
"Kamu lagi becanda ya? Tapi becanda kamu ini nggak lucu banget!"
"Aku serius!"
Tisya hanya bisa menghela nafas, dapat ide dari mana si kucing Wilson ini ....
Kemudian ia melihat penampilannya yang memang kelewat seksi. Dengan cepat Tisya menakupkan jas nya agar tubuhnya tidak semakin terekspos, jangan-jangan gara-gara ini ....
Tisya menatap Wilson dengan tatapan takut sambil mengeratkan tangannya.
Wilson mengerti maksud tatapannya itu.
"Ye ...., jangan Ge Er ya!" ucao Wilson sambil mendorong kepala Tisya dengan jari telunjuknya.
"Kalau bukan karena kamu tertarik dengan tubuhku, lalu apa dong yang bikin kamu punya keinginan buat nikah sama aku?"
Bukannya menjawab pertanyaan Tisya, Wilson malah berjalan meninggalkan Tisya, ia menuju ke meja kerjanya dan mengambil sebuah berkas.
Wilson kembali menghampiri Tisya, ia menyerahkan berkas itu pada Tisya.
"Karena ini!" ucap Wilson.
Tisya pun segera membuka berkas itu dan membacanya.
"Ini maksudnya?"
"Masih tanya lagi, bisa baca nggak sih?" tanya Wilson kesal.
"Ya bisa ..., tapi maksudnya gimana?"
Hehhhhhh
Wilson menghela nafas dan duduk berhadapan dengan Tisya, mereka hanya terpisah meja kecil di depan mereka.
"Itu adalah surat wasiat dari kakek aku, dia bakal ngasih warisannya sebesar lima milyar jika aku udah nikah selama satu tahun! Dan akan di berikan secara berkala, satu minggu pernikahan uang akan di berikan sebanyak satu milyar!"
"Jadi maksud kamu, kamu mau nikah sama aku agar bisa dapat uang lima milyar?"
"Ya!"
"Dan aku dapat apa?"
"Aku akan memberikan satu milyar di muka dan setelah kita menikah satu tahun aku akan memberikan satu milyar lagi nanti saat kita cerai!"
__ADS_1
Tisya tampak berpikir, ini sebenarnya tawaran yang bagus.
Satu milyar di tangan setelah satu minggu nikah, kita juga akan bisa cerai kan setelah ini ...
Wilson menatap Tisya, ia berharap jika Tisya akan setuju, karena menurutnya ini cara satu-satunya dari tuan dokternya, "Bagaimana?"
"Baiklah aku setuju, tapi ada syaratnya!"
"Apa?"
"Kita kan cuma nikahnya satu tahun habis itu cerai, di larang minta hak kamu sebagai suami aku jika aku tidak mengijinkannya, mengerti!?"
"Mengerti!" Wilson mengangguk an kepalanya beberapa kali.
"Boleh deh pacaran sama siapa saja selama kita terikat hubungan pernikahan asal jangan di ajak pulang ya pacarnya!"
Kali ini Wilson terlihat kurang setuju, "Kenapa? Memang kamu mau pacaran?"
"Bukan aku tapi kamu!"
"Aku?"
"Iya!" Tisya pun melanjutkan ucapannya, "Kamu sama kak Maira kan pasti sebentar lagi jadian!"
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Ya karena kak Maira itu cantik, pintar, baik pula, kamu kan pasti juga senang di perhatiin sama kak Maira!"
Setelah memberi jeda pada ucapannya, Tisya kembali melanjutkannya.
"Aku juga nggak mungkin lah terjebak dalam hubungan palsu ini selama satu tahun, bagaimana nanti kalau tiba-tiba aku jatuh cinta pada seseorang saat kita masih dalam status menikah, aku tidak mungkin mengabaikannya kan!"
"Okey siap!"
...**""**...
Dokter Frans baru saja selesai dengan pekerjaannya, ia menyelesaikan semua pekerjaan dari rumah karena masih belum bisa meninggalkan istrinya.
Dokter Frans meregangkan otot-otot nya,
Felic yang melihatnya segera menghentikan kegiatannya membaca buku panduan kehamilannya itu,
"Sudah selesai ya?"
Dokter Frans mendongakkan kepalanya dan menatap istrinya itu, ia segera beranjak dari duduknya dan menghampiri istrinya.
Dengan meloncat ia menaiki tempat tidurnya. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya, memeluk perut besar istrinya itu dan menciuminya.
"Senengnya kerja di temenin kalian!"
Felic mengusap kepala suaminya itu dengan senyum yang merekah, "Aku udah nggak pa pa loh, kalau kamu mau ke rumah sakit, aku nggak pa pa!"
Mendengar ucapan istrinya, dokter Frans pun mendongakkan kepalanya.
"Nggak suka ya kalau aku di rumah seharian?"
Salah ngomong nih kayaknya ...., Felic pun segera tersenyum semenarik mungkin.
"Mana mungkin aku nggak suka, suka..., aku sangat suka ....!"
__ADS_1
Tapi masalahnya kalau kamu di rumah seharian gini aku nggak bisa kemana-mana, pumpung Wilson sedang sibuk sama Tisya ...., batin Felic, suaminya itu terlalu protektif, ia bahkan tidak boleh melakukan apapun.
Pekerjaannya hanya tiduran dan menemaninya bekerja.
"Baguslah kalau kamu suka...!"
Untung dokter Frans percaya begitu saja ucapan Felic.
Dokter Frans terus menyusupkan wajahnya di perut Felic, sebenarnya sangat geli tapi Felic mencoba menahannya.
"Sayang!"
"Hemmm?"
"Kita jalan-jalan ya! Ke rumah Nadin misalnya!"
"Nggak usah, boleh jalan-jalan nanti kalai udah melahirkan!"
"Masih lama ..,, aku bisa bosan kalau di rumah terus!"
"Aku tidak akan membuatmu bosan!"
Felic sepertinya salah bicara lagi kali ini karena ia merasakan tangan suaminya itu sudah mulai menelusup di balik bajunya, bibirnya juga mulai menciumi seluruh perut Felic dan semakin naik dan naik hingga akhirnya berhenti di bibir Felic.
Sayang ...., bukan ini yang aku mau ...., batin Felic sambil menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara *******.
"Sayang ...., ehhh ini masih siang lohhhh ...!" ucap Felic dengan menahan agar suaranya tidak mendesah tapi ternyata gagal.
Dokter Frans hanya tersenyum dan kembali ******* bibir Felic. Mencumbunya dengan begitu rakus.
Kini dress hamil Felic sudah menghilang entah kemana dan hanya menyisakan celana dal*m dan juga BH nya.
Tapi tak lama benda itu juga ikut menghilang dari tubuh Felic. Dokter Frans pun melakukan apa yang memang seharusnya di lakukan.
Setelah pergulatan yang memanas itu, dokter Frans pun kembali menutup tubuh istrinya itu dengan selimut dan mengecup kening Felic.
Felic menahan tangannya saat dokter Frans hendak beranjak dari tempat tidur, "Sayang ...., mau ke mana?"
"Bentar ya, aku mau hubungi Wilson dulu!"
Felic pun perlahan melepas lengan suaminya, Dokter Frans segera menyambar ponselnya.
"Bagaimana Wil?" ucap dokter Frans saat sambungan telpon terhubung.
"Berhasil tuan! Semua berjalan lancar tuan!"
"bagus ...! Besok siapkan semuanya!"
"Secepat itu tuan?"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1