Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (33. bagaimana perasaan kami?)


__ADS_3

"Jangan kerja dulu ya!"


"Tapi aku nggak enak nggak kerja, lagi pula aku harus apa di rumah seharian!?"


"Kamu boleh lakukan apa aja, belanja juga boleh!"


Rangga terus memaksa istrinya agar tidak pergi bekerja untuk sementara waktu sampai benar-benar baik.


"Tapi aku nggak enak sama koh Chang kalau ijin terlalu lama!"


"Kalau itu jangan khawatir, biar aku yang bicara dengannya!"


"Hehhhh!" Zea hanya bisa pasrah, ia juga merasakan tubuhnya belum benar-benar enak.


"Oh iya, ini untukmu pakailah semau kamu!" Rangga menggeser sebuah kartu tepat di depan Zea di samping piringnya yang sudah hampir kosong.


"Ini apa?"


"Itu hak kamu, aku suami kamu sudah seharusnya aku yang memberi nafkah untukmu!"


Zea tidak berniat untuk mengambilnya, ia memilih menggeser kembali kartu itu.


"Jangan, aku belum pantas menerimanya!"


Rangga kembali menggesernya, "Tidak! Kamu yang paling pantas. Memang tidak banyak tapi aku rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan kita dan kebutuhan kamu sehari-hari!"


"Tapi Ga_!"


"Jangan membuatku berat dengan kamu tidak menerima nafkah dari ku, aku mohon!"


Melihat kesungguhan Rangga, Zea pun akhirnya tidak bisa mengelak lagi.


"Baiklah!"


"Nanti aku kirim nomor pin nya, aku berangkat dulu ya!"


Rangga segera berdiri dan menghampiri Zea. Meninggalkan kecupan di keningnya.


"Hati-hati di rumah!"


"Hmmm!"


Rangga pun akhirnya berangkat kerja, sebelum berangkat tidak lupa ia juga menghampiri rumah koh Chang untuk memberitahukan tentang ketidak hadiran Zea bekerja.


"Terimakasih atas pengertiannya!"


"Sama-sama!"


Rangga segera berangkat ke rumah Ersya karena Divia sudah kembali. Melihat istrinya tidak terlalu baik, Div sengaja menjemput Divia agar Ersya lebih terhibur.


"Hallo nona cantik!" sapa Rangga saat Divia menghampirinya.


"Hari ini lebih ceria, om Rangga nggak jadi patah hati ya?"


"Issstttt dasar, bocah! Pengen tahu banget urusan orang tua!"


Divia hanya tertawa lalu masuk begitu saja ke dalam mobil saat Rangga sudah membukakan pintunya.

__ADS_1


Tapi saat Rangga hendak memutari mobil, Ersya datang dari dalam dan menghentikan langkahnya.


"Ga, boleh bicara sebentar?"


Rangga sudah tahu apa yang akan di bicarakan oleh sahabatnya itu,


"Baiklah!"


Rangga membungkukkan badannya dan bicara pada Divia sebentar,


"Tunggu sebentar ya tuan putri, bunda ratu ingin bicara!"


"Siap komandan!" Divia berbicara sambil meletakkan telapak tangan di pelipis persis seperti seseorang yang memberi hormat.


"Anak pintar!" ucap Rangga sambil mengusap puncak kepala Divia.


Ia kemudian berjalan sedikit menjauh dari mobil agar Divia tidak bisa mendengarkan percakapan mereka.


"Ada apa?"


"Aku sudah tahu semuanya!"


"Hmmm!"


"Kenapa harus dia Ga, kenapa bukan yang lain? Kamu tahu kan siapa dia?"


"Maaf! Tapi jika aku di posisi orang lain yang dekat dengan istriku, pasti dia juga mengatakan hal yang sama, kenapa harus aku, kenapa tidak dengan yang lain?"


Rangga memberi jeda pada ucapannya.


"Semua pertanyaan itu akan sama Sya, tapi siapa yang bisa menjawab ini semua. Cinta bukan soal harus memilih yang paling baik tapi memilih yang paling cocok untuk kita, jika dia tidak baik untuk orang lain belum tentu kan untuk aku!"


Rangga tersenyum,


"Lalu pernahkan terpikir oleh mu, bagaimana dengan perasaanku dan Zea saat itu? Saat mereka menikah dan memilih pergi dari hidup kami? Saat itu kami sama-sama hancur. Jika aku ataupun Zea boleh memilih, kami ingin kisah cinta kamu begitu sempurna!"


Ersya terdiam dengan ucapan Rangga. Ia membenarkan dalam hati, mungkin yang di rasakan Felic saat ini saat tahu siapa yang telah di nikahi mantannya adalah Zea tidak akan sebanding dengan luka yang di miliki Rangga maupun Zea di masa saat harus melepaskan orang yang mereka cintai.


"Sudah siang, Divia pasti sudah menunggu!" Rangga berlalu begitu saja meninggalkan Ersya yang masih terdiam di tempatnya.


Ia segera masuk ke dalam mobil. Ersya enggan beranjak dari tempatnya hingga mobil yang membawa Rangga dan putrinya itu benar-benar menghilang di balik gerbang besar rumahnya.


"Sayang, apa Rangga sudah pergi?" pertanyaan seseorang menyadarkannya.


"Ah iya_, baru saja!" ternyata suaminya, ia keluar dengan sedikit berlari sambil membawa sebuah map di tangannya.


"Yah sayang sekali, aku harus meminta seseorang untuk mengambilnya!"


"Mas Div nggak ke kantor?"


"Aku harus ke Surabaya hari ini!"


"Lama?"


"Malam sudah pulang!"


...***...

__ADS_1


Zea yang tidak bekerja jadi bingung harus mengerjakan apa saja di rumah. Ia pun memilih untuk bersih-bersih rumahnya, walaupun setiap hari di bersihkan tetap saja ia membersihkan ulang, mencuci baju sendiri. Biasanya ia mengirim ke laundry karena tidak sempat tapi hari ini ia memilih mencuci sendiri.


Zea membentangkan semua tali untuk menjemur pakaian.


"Di rumah mbak Zea?"


Rumah mereka yang berdempetan membuat apapun yang aktifitasnya bisa di ketahui sang tetangga.


"Iya buk!"


"Enak ya mbak Zea kalau udah nikah, nggak perlu kerja lagi! Emang sudah nggak kerja di minimarket lagi?"


Zea paling malas jika harus di tanyai seperti itu.


"Masih Bu!" tapi Zea selalu bisa menanggapi ucapan tetangganya dengan tersenyum.


"Oh iya mbak Zea, yang kemarin itu siapa? Kok ribut-ribut?"


Zea terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin mengatakan kalau itu ibu mertuanya. Tapi jika tidak di jawab pasti tetangganya masih akan terus bertanya padanya.


"Itu ...., em ...!"


"Selamat siang!" suara seseorang membuat percakapan mereka terhenti, ada perasaan lega akhirnya ia terbebas dari pertanyaan tetangganya.


"Selamat siang!" Zea kembali meletakkan baju yang hendak di jemur ke dalam ember. Sudah tinggal beberapa helai saja di dalam ember.


Zea mengamati pria di depannya, pria paruh baya yang menurutnya tidak begitu asing.


"Bapak cari siapa?"


"Bapak tadi kebetulan lewat, boleh kita mengobrol sebentar?"


Zea terlihat bingung, ia merasa tidak mengenal pria di depannya itu.


"Oh iya pak, silahkan duduk!"


Zea mengajak bapak itu duduk di teras, di kursi plastik yang ada di sama.


"Bapak mau minum apa?"


"Apa saja!"


"Baiklah, saya buatkan teh hangat dulu ya pak!"


Zea pun segera masuk ke dalam rumah. Ia membuatkan teh hangat untuk bapak itu, hanya butuh waktu lima menit dan ia kembali keluar dengan segelas teh hangat yang di sampingnya satu toples biskuit.


Tetangga kepo di sebelah tadi ternyata sudah masuk, entah apa sengaja mendengarkan pembicaraan mereka dari balik jendela rumahnya, tapi yang pasti ibu-ibu tadi sudah tidak di teras lagi.


"Duduklah nak!" perintah bapak itu. Zea pun duduk kursi plastik yang satunya. Mereka hanya di pisahkan sebuah meja kecil yang juga berbahan plastik.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2