Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (138. Aku tidak pa pa!)


__ADS_3

Kini di apartemen itu hanya tinggal Zea dan Rangga, suasana berubah sunyi. Walaupun tidak melakukan apa-apa, tetap saja Rangga masih merasa bersalah.


"Zee, yang kamu lihat tidak benar, aku benar-benar tidak_!" tiba-tiba Zea menempelkan jari telunjuknya pada bibir Rangga.


"Sudah cukup, aku sudah tahu semuanya!" Zea tersenyum dan menjauhkan kembali jarinya dari bibir Rangga, "Aku percaya padamu, apapun itu. Saat semuanya sudah tidak percaya padamu, aku orang pertama yang akan masih tetap percaya padamu!"


Mendengar perkataan Zea, ingin rasanya Rangga memeluk sang istri dan mengatakan kalau dia suaminya.


Tapi satu hal yang menghalanginya untuk tidak mengatakannya saat ini juga, ia harus menyelesaikan tugasnya terlebih dulu. Ia masih harus mencari bukti kejahatan Miska dan Rizal yang lainnya.


"Sudah, aku akan membuatkan sarapan untukmu!" Zea tidak mau suasananya tetap tegang seperti itu. Ia pun segera berdiri dan menuju ke dapur, Rangga tidak heran jika Zea seolah sudah sangat akrab dengan rumah itu, karena memang sebelumnya ini adalah rumah Zea.


Rangga segera menyusul Zea, "Apa yang bisa aku bantu untukmu?"


"Untuk kali ini tidak perlu karena aku ingin membuatkan sarapan spesial untukku, karena sudah lam_!" lagi-lagi Zea menghentikan ucapannya, ia benar-benar tidak ingin membuat Rangga berpikir macam-macam. Ia ingin Rangga ingat dengan sendirinya tanpa merasakan sakit. Jika memang prosesnya harus lama, ia rela asal Rangga tidak merasa sakit.


Akhirnya Rangga pun memilih duduk dan di balik meja dapur, memperhatikan bagaimana Zea dengan begitu bersemangat memasak untuknya.


"Kamu cantik!" puji Rangga membuat Zea menghentikan kegiatannya sejenak dan tersenyum.


"Aku tahu!" walaupun ia belum tahu kalau Rangga sudah mendapatkan kembali ingatannya, tetap saja ia merasa Rangga tidak pernah kehilangan ingatannya karena Rangga begitu perhatian padanya.


Hingga akhirnya makanan pun jadi, Rangga membantu Zea membawa makanannya ke meja makan,


"Sudah biar aku aja, sekarang waktunya kamu duduk!" Rangga mengambil piring yang di bawa Zea.


"Baiklah!" Zea segera duduk, dan kali ini Rangga yang melayaninya. Ia mengambilkan makanan untuk Zea dan menyuapinya.


"Aku masak untukmu, kenapa kamu yang menyuapiku?" protes Zea membuat Rangga tersenyum. Dalam keadaan apapun, Rangga selalu merasa ingin memanjakan Zea. Termasuk menyuapinya.


"Tidak pa pa, baiklah. Aku akan makan pakai sendok kamu!" Rangga menyuapkan makanan itu sendiri ke mulutnya, "Kalau begini lebih enak!"


Lagi-lagi perkataan Rangga berhasil membuat Zea tersipu di buatnya, "Aku seperti merasa kamu sedang tidak kehilangan ingatanmu!" ucap Zea seketika membuat Rangga terdiam.


"Aku berharap juga seperti itu, mungkin hal paling indah dalam hidupku ada pada dua tahun terakhir !"


Zea memilih kembali fokus makan, ia tidak ingin membuat Rangga kesakitan.


Setelah terdiam cukup lama, Rangga kembali memulai pembicaraan,


"Apa rencanamu hari ini, sebelum kita ke kantor?"


"Ehmmmmm, apa ya!?" Zea tampak berpikir, ia tidak punya rencana apapun sekarang.


"Aku akan mengantarmu kemana saja!"


"Kamu kayak Doraemon!"


"Iya dong, aku kan memang punya pintu kemana saja."


Ha ha ha

__ADS_1


Zea sampai tertawa dan memegangi perutnya karena candaan Rangga, candaan ini yang membuat Zea begitu merindukan Rangga.


Aku merasa bahkan kini Rangga benar-benar menjadi milikku lagi ...


Rasanya ingin hari ini tidak akan cepat berlalu.


"Terimakasih ya!" ucap Rangga kemudian membuat Zea menghentikan tawanya.


"Hmmm?"


"Terimakasih karena kamu sudah begitu sabar terhadapku!"


"Maksudnya?"


"Selama kita bekerja sama, kamu selalu sabar dengan sikapku. Setelah ini mungkin kita tidak akan sering bertemu lagi!" walaupun sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan, tapi ia tidak ingin membeli Zea dengan ucapannya.


"Tapi kamu boleh menemuiku setiap hari!" ucap Zea. Ia memang juga tidak rela jika harus jarang bertemu dengan suaminya, bagaimana pun keadaan sang suami ia ingin suaminya tetap berada di sisinya.


"Aku pasti akan senang kalau kamu mengijinkan ku untuk itu!"


Akhirnya setelah semakin siang, Zea dan Rangga pun berangkat ke kantor. Tuan Seno sengaja meninggalkan satu mobil untuk mereka, tuan Seno juga merasa khawatir jika membayangkan Zea akan di bonceng motor oleh Rangga.


Mereka pun akhirnya sampai di kantor, mereka menuju ke ruangan taun Seno.


Setelah mengetuk pintu dan masuk, langkah Rangga terhenti begitu melihat orang lain di dalam ruangan itu. Selain tuan Seno ternyata di ruangan itu ada Divta juga,


"Pak Div. Anda juga di sini?" tanya Rangga terkejut.


"Iya, silahkan duduk!" Divta mempersilahkan Zea dan rangga untuk duduk.


"Karena kalian sudah datang, jadi langsung kita mulai saja!" taun Seno pun mulai bicara. Tuan Seno menyodorkan dua cek untuk Rangga dan Zea membuat keduanya saling berpandangan.


"Ini apa?" tanya Rangga dengan begitu bingung.


"Itu adalah hasil kerja keras kalian selama beberapa Minggu ini. Karena proyek yang kalian jalankan berjalan dengan lancar, jadi kami sengaja memberikan bonus untuk kalian selain gaji bulanan." Divta ikut menjelaskan.


Rangga pun mulai melihat cek itu dan nilainya bahkan tiga kali lipat di banding dengan gajinya satu bulan.


"Tapi, bukankah ini berlebihan?" Rangga jelas merasa tidak enak untuk menerimanya karena memang ia sudah di gaji tiap bulannya dan gajinya tidaklah sedikit.


"Tidak ada yang berlebihan untuk hasil yang memuaskan. Kalau benar-benar partner yang cocok, untuk kedepannya kalian akan lebih sering mendapatkan proyek bersama!" Div kembali menambahi ucapan tuan Seno.


"Ya jadi kalian wajib menerimanya, itu hak kalian!"


Sekarang Rangga tidak bisa menolaknya lagi.


"Terimakasih, tuan Seno! terimakasih pak Div!"


"Kami juga berterimakasih pada kalian, hasil yang kalian dapatkan cukup memuaskan!"


Uang yang ia dapat hari ini begitu berarti bagi Rangga, karena dengan uang ini, sedikit lagi ia bisa mengambil kembali rumahnya. Dan ia begitu yakin, dengan cepat ia juga akan bisa mengambil kembali toko milik orang tuanya.

__ADS_1


Setelah urusannya selesai, Rangga pun segera berpamitan. Masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.


"Ga!?" panggil Zea saat Rangga sudah keluar dari ruangan itu, terlihat Zea mempercepat langkahnya mengejar Rangga.


Rangga pun segera menghentikan langkahnya, tidak mau membuat Zea semakin mengejarnya, "Iya?"


"Aku titip ini ya!" Zea menyerahkan cek miliknya dengan kedua tanganhya.


"Ini apa? Aku tidak mau!" Rangga langsung menolaknya, ia sudah lama tidak menafkahi istrinya, tapi kini Zea malah memberikan hasil kerja kerasnya pada dirinya.


"Aku belum butuh ini, bisa tidak kamu menyimpannya untukku, atau kamu bisa meminjamnya dulu sampai aku benar-benar membutuhkannya!"


Rangga tetap dengan pendirinya untuk menolaknya, ia memberikan kembali cek itu pada Zea, "Tidak, ini hak kamu!"


"Iya aku tahu, tapi aku ingin memiliki sebuah bisnis bersama denganmu."


"Maksudnya?"


"Kita bisa membangun kerja sama kan mulai sekarang. Misalnya, kita bisa punya minimarket bersama? Kalau kamu tidak keberatan sih!"


"Tapi aku belum kepikiran!"


"Kamu bisa mulai memikirkannya dari sekarang! Bagaimana? Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa jadikan aku karyawan minimarketnya!"


Mendengar hal itu Rangga tersenyum, tidak lupa ia juga mengusap kepala Zea, "Baiklah, aku akan memikirkannya!"


"Jadi ini buat kamu!"


"Aku kan baru akan memikirkannya!"


"Tetap saja, memikirkan tetap butuh modal, jangan sampai pas kamu dapat tempat yang bagus kamu Tidka punya modalnya!"


"Baiklah, aku akan menyimpannya untukmu!"


"Terimakasih!"


"Aku pergi dulu!"


"Hati-hati ya!"


Rasanya ingin sekali memeluk dan mencium Zea sebelum pergi, sabar, aku harus bergerak lebih cepat jika ingin melakukan hal itu ...


Rangga mencoba untuk mengendalikannya sendiri, "Bye!?" Rangga melambaikan tangannya dan benar-benar pergi.


Sedangkan Zea memilih untuk tetap diam di tempatnya, ia menatap kepergian Rangga dengan senyum. Ia sengaja memberikan cek miliknya untuk menambah tabungan Rangga, agar Rangga menggunakan uang itu untuk menebus kembali rumah dan toko milik orang tuanya. Jika Zea meyerahkannya dengan cuma-cuma sudah pasti Rangga akan menolaknya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2