
...Banyak hal yang kita temui dan begitu luar biasa saat kita mau bersyukur dengan apapun yang ada pada diri kita, karena pada saat itulah Tuhan menciptakan banyak sekali kemudahan bagi orang yang mau bersabar....
...🌺🌺🌺...
Pak Seno pun segara mengajak Zea untuk meninggalkan tempat itu, sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin pak Seno tunjukkan pada Zea tapi ini sudah terlalu malam, ia merasa kasihan pada Zea karena kurang istirahat.
"Sebenarnya masih banyak yang ingin papa tunjukkan sama kamu_!"
"Zea mengerti pa, jangan di paksakan sekarang. Lagi pula masih banyak hari esok!"
"Baiklah kalau begitu papa akan mengantarmu pulang!"
Zea tersenyum, ia tahu papanya begitu berat untuk melepaskannya pulang tapi ia juga tidak mau membuat bibi mengkhawatirkannya karena tidak pulang malam ini.
Akhirnya mereka sampai di rumah Zea tepat pukul setengah dua belas malam, pak Seno ikut mengantar Zea turun hingga pagar rumah.
Terlihat bibi sudah menunggunya di depan pintu,
"Terimakasih ya untuk hari ini, ini merupakan hari terindah dalam hidup papa!"
"Zea juga, selamat malam pa!" Zea sudah hampir berbalik tapi pak Seno segera menahan tangan Zea kembali.
"Tunggu!"
"Ada apa pa?"
"Besok papa akan menjemputmu di sini ya?"
"Jangan pa, biar Zea yang datang menemui papa seperti biasa."
"Kenapa?" terlihat raut wajah kecewa dari pak Seno.
"Zea nggak mau sampai Miska tahu jika papa sudah tahu siapa anak kandung papa sebelum hari pengumuman itu, please ..., papa bisa ngerti kan!?"
"Iya_ papa ngerti!" walaupun berat, pak Seno tetap menerimanya, "Selamat malam sayang, mimpi yang indah ya!"
"Hmmmm!"
Zea segera melambaikan tangannya, berharap sang papa masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Setelan mobil pak Seno berlalu, bibi pun dengan cepat menghampiri Zea,
"Ibuk, dia tadi_?"
"Iya bi, dia papanya Zea!"
"Ya Allah, Alhamdulillah! Akhirnya ibuk mendapatkan dukungan juga!"
__ADS_1
"Aminnn, ayo masuk bi, sudah malam!"
"Baiklah!"
...***...
Di tempat lain, sepasang suami istri tengah tidak bisa tertidur di dalam kamarnya.
Mereka tengah memikirkan putranya, meskipun putranya sudah kembali beraktivitas kembali tapi tetap saja mereka kesusahan saat ingin menemuinya.
"Sekarang mama tahu sendiri kan bagaimana perangai wanita itu, masih bisa kamu memujinya!?" pak Beni terus saja menyudutkan istrinya.
"Tapi pa, mama pikir Miska itu wanita yang tepat untuk Rangga!"
"Tapi bagaimana sekarang, bahkan untuk bertemu dengan putra kita sendiri saja kita kesusahan, masih mau membela wanita tidak tahu diri itu. Sudah tahu putra mu itu memiliki istri, bisa-bisanya malah meminta wanita lain untuk menjaganya, sebenarnya hati nuranimu kamu taruh di mana?" pak Seno tampak kesal dan memilih beranjak dari tempat tidur.
Terus bersama istrinya bisa membuat tekanan darahnya naik, ia memilih tidur di sofa yang ada di ruang keluarga.
Sedangkan istrinya, saat ini sedang gundah dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi ia begitu merindukan putranya tapi di sisi lain ia masih menempatkan Miska di tempat yang paling tepat untuk menjadi istri dari putranya,
"Tapi bagaimana nanti jika Rangga benar-benar menikah dengan Miska dan wanita itu tidak mengijinkan Rangga untuk bertemu?"
"Pokoknya besok aku harus menemui Miska, bagaimanapun caranya. Kalau tidak, aku akan meminta Miska untuk meninggalkan Rangga! Aku rasa itu cukup adil!"
...****...
Pagi hari yang di tunggu akhirnya datang juga, Zea sudah bersiap seperti biasa.
"Ibuk mau pergi lagi?"
"Iya bi, maaf ya, bibi jadi sendirian di rumah!"
"Nggak pa pa Bu, bibi malah seneng lihat ibu sekarang sudah kembali tersenyum!"
"Terimakasih ya Bi!"
Setelah berpamitan pada bibi, Zea seperti biasa akan menaiki bus yang membawanya ke apartemen suaminya.
Sengaja sekali Zea melakukan hal itu karena memang ingin bertemu dengan pria yang telah menjadi ayah biologis dari bayi yang ia kandung itu.
Hanya dengan melihatnya pergi ke kantor seperti biasa, sudah cukup membuatnya senang.
Sebenarnya Zea ingin menghampiri Rangga tapi segera langkahnya terhenti saat melihat Miska ikut turun,
"Ga!?"
"Hmmm?" Rangga menoleh ke arah Miska yang berjalan cepat menghampirinya,
__ADS_1
"Hari ini aku masak makan siang buat kamu, nanti di makan ya!"
"Terimakasih, seharusnya kamu nggak perlu repot seperti ini!"
"Aku calon istri kamu, jadi sudah sewajarnya aku buatkan makanan untuk kamu!"
Mendengar hal itu, hati Zea merasa miris. Seharusnya dia yang berada di posisi Miska saat ini. Hal itu membuat tekat Zea semakin bulat untuk merebut kembali Rangga dari Miska,
"Aku tidak akan tinggal diam, tunggu saja sampai aku akan mengambilnya kembali dan kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa selain memohon atas pengampunan dariku!" Zea mengepalkan tangannya sempurna apalagi saat melihat Miska mencium pipi suaminya hatinya semakin teriris.
Setelah mobil Rangga pergi, tiba-tiba dari arah lain sebuah taksi berhenti di tempat yang sama. Zea yang hendak beranjak meninggalkan tempat itu segera mengurungkan niatnya.
Ternyata mama Rangga keluar dari taksi itu membuat Miska yang hendak kembali masuk mengurungkan niatnya,
"Tante!?"
"Miska, Tante ke sini mau ketemu sama Rangga!"
"Rangga udah berangkat kerja, Tante!"
"Ya udah, berarti saya akan menunggunya sampai dia pulang!" mama Rangga bersiap menerobos masuk tapi dengan cepat Miska menarik tangan wanita paruh baya itu agar tidak masuk.
"Tante, sudah Miska peringatin ya. Tante mau Rangga ingat semuanya sebelum kami menikah? Sudah aku bilang kan jangan banyak bertemu dengan Rangga, jangan sampai Rangga sampai ingat semuanya sebelum kita nikah!"
"Tapi ini sudah terlalu lama, kamu tahu kan aku begitu merindukannya!"
"Ya makannya kalau Tante ingin cepat ketemu sama Rangga, nggak usah ganggu-ganggu Rangga dulu sampai kami nikah, nanti juga kalau kami nikah sudah pasti bakal kami undang!"
"Tapi miska_!"
"Sudah aku Tante, Miska sibuk. Lebih baik Tante pulang aja sekarang dan siapkan pernikahan untuk kami karena tidak sampai satu bulan kami akan menikah!"
Miska meninggalkan mama Rangga begitu saja,
Sebenarnya Zea tidak tega melihat hal itu, hampir saja ia menghampiri mama rangga tapi seseorang sudah lebih dulu menahan tangannya,
"Nona, jangan lakukan macam-macam!"
Ajudan pak Seno ternyata Sudja berdiri di belakangnya dan menahan tangannya.
"Kamu!?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...