
Kini Miska sudah duduk di samping ranjang Rangga, ia tersenyum dengan semanis mungkin.
"Maaf ya sayang aku baru bisa datang hari ini, bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Kenapa memanggilku sayang?"
"Aku tunanganmu, kamu lupa? Namaku Miska, tunangan kamu dan Minggu lalu seharusnya kita sudah menikah!"
"Benarkah?"
"Jadi kamu tidak percaya?"
"Apa buktinya?"
"Ini!" Miska menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Sebuah kesempatan emas Miska dapatkan ketika mengunjungi kamar Zea waktu itu. Perawat yang tengah membereskan tempat tidur pasien yang baru di tinggalkan penghuninya itu mengejar Miska.
"Mbak tunggu!"
"Iya, ada apa?"
"Apa anda keluarga dari pasien atas nama Zea?"
"Iya, saya kakaknya!"
"Syukurlah, saya menemukan ini di bawah tempat tidurnya! Tolong sampaikan padanya ya!"
Sebuah cincin dan Miska tahun itu pasti cincin pernikahan mereka.
Miska menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya,
"Kamu juga punya kan?"
Miska meraih tangan Rangga dan mensejajarkan dengan tangannya.
"Rangga sayang, kamu cukup tahu saja jika aku tunanganmu. Untuk selebihnya kamu nggak perlu mengingat aku di masa lalu, biarkan aku yang akan mencintaimu!"
"Sudah berapa lama kita bertunangan?"
"Sudah dua tahun dan bahkan kita sudah tinggal satu rumah!"
"Benarkah? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali?"
"Jangan lakukan apapun selain mencintaiku, kamu tidak usah mengingat yang sudah usai. Setelah kamu pulang dari sini nanti kita bisa menyiapkan pernikahan kita kembali!"
...***...
"Bunda, jangan melakukan kesalahan yang sama lagi ya bund, kasihan bayinya kalau bundanya nggak mau makan!"
"Iya dok, terimakasih!"
Akhirnya setelah menginap dua hari di klinik kandungan, Zea di perbolehkan pulang.
"Bi, kita ke rumah sakit dulu ya bi!"
"Tapi ibuk belum benar-benar sehat, bagaimana kalau mamanya bapak berbuat kasar lagi sama ibuk?"
"Nggak akan bi, sekali saja dan setelahnya aku_!"
"Jangan menyerah, pasti masih banyak jalan!"
__ADS_1
Zea tersenyum dan memeluk bibi, di tengah kondisinya yang sangat lemah ini masih ada yang mendukungnya dan memberinya kekuatan.
Rasa ini lebih sakit di banding saat ia tahu Frans sudah menikah waktu itu.
Zea baru saja menyusuri lorong rumah sakit, dari lorong yang berlawanan terlihat papa dan mama Rangga juga tengah berjalan menuju tepat yang sama.
Melihat kedatangan Zea mama Rangga segera mempercepat langkahnya, ia bahkan tidak peduli dengan hardikan suaminya.
"Buat apa kamu ke sini lagi?"
"Ma, Zea mau ketemu sama Rangga. Ijinkan Zea ketemu sama dia, sebentar saja! Zea janji hanya sebentar setelah ini terserah mama mau melakukan apa!" Zea sampai mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Nggak, nggak akan aku biarkan kamu memenuhi anak saya lagi. Kamu tuh wanita pembawa sial, aku nggak mau sampai Rangga terkena soal gara-gara dekat sama kamu, pergi!"
Mama Rangga pun mengusir Zea, papa Rangga berusaha untuk mencegahnya,
"Ma, jangan keterlaluan. Zea ini istri rangga!"
"Nggak, dia bukan istri Rangga! Pergi!"
Mama Rangga selalu beranggapan bahwa yang terjadi pada Rangga atas kesalahan Zea. Dan Zea si pembawa sial untuk putranya.
"Ada apa ini buk?"
Dua scurity datang untuk melerai keributan itu,
"Bagus pak, kalian datang. Tolong usir wanita ini, dia mau berbuat jahat sama anak saya. Dia mau mencelakai anak saya, dan pak ingat-ingat wajah ini jangan sampai dia masuk ke rumah sakit ini selagi anak saya di rawat di sini!"
"Baik Bu!"
Mama Rangga segera menarik tangan suaminya,
"Pa, jangan membuat mama semakin marah sama papa! Papa pilih Rangga atau wanita ini?"
Itu pertanyaan yang sangat sulit, tapi untuk saat ini dia harus bisa berpikir jernih. Jika ia meninggalkan Rangga, ia takut tidak akan bisa mengawasinya lagi apalagi sekarang ada wanita jahat seperti Miska yang tengah mendekati putranya.
"Mari Bu, Kami tidak segan untuk berbuat kasar kalau ibu menolak!"
"Pak, jangan begitu. Saya hanya ingin melihat suami saya, sungguh!"
Zea terus meronta dan memohon hingga scurity hampir saja menyeret tubuh Zea.
"Kami mohon Bu, jangan mempersulit pekerjaan kami!"
"Pak tolong pak, lepaskan tangan nyonya saya. Saya yang akan membawanya keluar. Tapi jangan perlakukan kasar nyonya saya!" bibi segera menahan tangan scurity.
"Baik, silahkan bawa dia keluar!"
Bibi kembali berjongkok, meraih tubuh Zea yang bergetar karena menangis,
"Ayo buk, kita cari cara lain buat ketemu sama bapak. Sekarang kita pulang dulu ya buk!"
Tidak ada yang lebih sakit dari pada di lupakan oleh suaminya sendiri di tambah di tolak oleh keluarga suaminya saat ia sangat membutuhkan dukungan dari mereka.
Mereka harus pulang dengan tangan kosong,
"Bu, bibi kupaskan buah untuk ibu ya!?"
Zea hanya mengangguk, ia duduk di tempat tidur dengan bersandar pada sandaran tempat tidur, tatapannya kosong.
Bibi pun meninggalkan zea sendiri, air mata Zea kembali lolos tanpa di perintah hanya dengan mengingat bagaimana mama mertuanya memperlakukannya sudah cukup membuatnya sakit.
__ADS_1
Zea membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidur, sebuah berkas yang sudah tertumpuk rapi.
Berkas-berkas yang sudah di siapkan oleh suaminya, seharusnya berkas itu sudah di kirim ke kantor catatan sipil, tapi nyatanya kini masih dalam genggamannya.
"Aku harus apa sekarang Ga, kapan kamu akan kembali mengingatku?"
"Aku harus bangkit kan Ga demi anak kita, tapi berjanjilah kamu juga harus berusaha untuk mengingatku kembali!"
Zea segera menghapus air matanya, sudah cukup hari-hari yang telah ia habiskan untuk menangis. Kini saatnya dia untuk bangkit.
Zea menyimpan kembali berkas-berkas itu dan segera beranjak dari tempat tidur. Ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri,
Bibi yang baru kembali dengan potongan buah di tangannya begitu terkejut tidak mendapati Zea di tempatnya.
"Ibuk!?"
Ia meletakkan piring yang berisi potongan buah itu begitu saja di atas meja lalu mengetuk pintu kamar mandi,
"Buk, buk ...., ibuk nggak pa pa kan?"
Ceklek
Zea tersenyum dengan handuk yang melilit rambutnya,
"Aku nggak pa pa Bu, tadi gerah jadi Zea langsung mandi, mulai saat ini Zea akan bangkit bi, demi anak ini!" Zea mengusap perutnya yang sudah mulai berisi.
Bibi tersenyum dan memeluk Zea,
"Ya Allah, terimakasih buk. Bibi ikut seneng, bibi akan berbuat semampu bibi untuk membantu ibuk!"
"Terimakasih ya Bi, terimakasih sudah menemani Zea di masa-masa sulit ini!"
Mereka saling berpelukan cukup lama,
"Bu, buahnya!" ucap bibi setelah melepaskan pelukannya.
"Pasti bi, Zea akan makan! Zea pakek baju dulu!"
...Mungkin ini akan sulit, tapi akan lebih sulit jika aku tidak bisa bangkit dan melawan keadaan. Keadaan tidak akan berbaik hati padaku, diriku sendiri yang harus berbaik hati agar tidak semakin hancur...
NB;
Kemarin banyak yang koment kenapa temanya hilang ingatan, hilang ingatan terus, nggak ada tema lain ya kak?
Jadi jawabannya gini; pertama ini aku tulis memang udah lama, jadi ngalir gitu aja.
trus yang ke dua karena memang di sini aku mau buat sebuah titik balik dari Zea yang lemah, berhati lembut dan mengalah akan menjadi wanita yang kuat dengan tekatnya sendiri untuk mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Jadi harap sabar menunggu di saat-saat itu ya, kan nggak seru kalau tiba-tiba bahagia aja, trus tiba-tiba jadi jiwa yang kuat tanpa ada akar di baliknya.
Terimakasih kasih atas dukungannya, aku menunggu komentar -komentar kalian lagi, selamat pagi💪💪💪💪
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1