
Rangga terbangun, ia perlahan menggerakkan tangannya dan melihat jam yang melingkar di sana. Betapa terkejutnya dia hingga membuatkan beranjak dari tidurnya.
"Aku ketiduran!" wajahnya berubah cemas.
Dengan cepat ia turun dari tempat tidur, mencari sosok yang datang bersamanya tadi.
"Zee...!"
"Sayang ....!"
Rangga mulai memeriksa setiap ruangan di apartemen itu dan ia tidak bisa menemukan siapapun.
"Zee kamu di mana? Jangan membuatku khawatir!"
"Ponsel!? Iya!?" dengan cepat ia mencari benda pipih itu dan melakukan panggilan tapi suara dering ponsel itu terdengar begitu dekat.
Hingga akhirnya ia menemukan benda pipih itu tergeletak di sofa tanpa pemiliknya.
"Dia meninggalkan ponselnya juga!"
Dengan cepat Rangga keluar dari apartemen, perasaannya benar-benar tidak karuan. Ia sudah membayangkan yang tidak-tidak akan terjadi pada istrinya.
"Kamu di mana?" gumamnya dengan tangan yang terus mengepal benda pipihnya berharap akan ada yang segera menghubungi.
Ia menuju ke tempat penjaga, berharap di sana ia bisa mendapatkan informasi tentan Zea.
"Ada yang bisa saya bantu pak Rangga?"
"Kalian lihat istri saya?"
"Tadi nyonya Zea sepertinya sedang mencari makanan, jadi saya memintanya ke restauran lantai dua!"
Perasaan lega segera membuyarkan kekhawatirannya.
"Terimakasih!"
Dengan cepat Rangga kembali ke lantai dua menuju ke restauran. Di lantai dua apartemen itu hanya ada dua bagian. Satu restauran dan satunya adalah tempat gym.
Zea yang sudah mengakhiri perbincangannya dengan kawan lama bersiap untuk kembali, tapi ia ternyata pergi sudah terlalu lama.
"Aku seharusnya mengirim pesan untuk Rangga tadi!" gumamnya , ia pun segera mencari benda pipih itu, tapi ternyata tidak menemukannya.
"Ahhhh, kenapa bisa ketinggalan!" Zea mempercepat langkahnya hingga seseorang tiba-tiba memeluknya dengan erat saat ia berdiri di depan pintu lift. Seseorang yang keluar dari sana.
"Sayang, aku mengkhawatirkan mu!"
Suara itu langsung membuat Zea lega, dia bukan orang asing. Rasa bersalah seketika muncul karena pasti suaminya sudah begitu mencemaskannya.
"Maafkan aku!" gumamnya pelan masih dalam pelukan Rangga.
Rangga pun segera melepaskan pelukannya,
"Seharusnya aku yang minta maaf, bukannya mencari makanan untukmu aku malah tidur!"
Ha ha ha ....
Tiba-tiba Zea tertawa membuat Rangga mengerutkan keningnya.
"Ada apa?"
Zea segera menutup mulutnya tidak percaya dengan kekonyolan suaminya.
"Ada apa?"
Rangga masih di buat bingung dengan ekspresi sang istri, Zea pun langsung menunjuk ke bawa dan ternyata Rangga hanya memakai celana kolor sedang atasannya kemeja. Ternyata sebelum tertidur, ia sengaja melepas celananya karena ingin ganti baju tapi malah tertidur dan lagi tanpa alas kaki.
"Issstttt, aku tadi terlalu mengkhawatirkan mu jadi nggak sadar!"
"Itu bagus kok, serius!"
"Jangan menggodaku!"
Rangga menarik kembali istrinya masuk ke dalam lift. Ia segera mengungkung tubuh Zea di antara tubuhnya dan dinding lift.
Apa yang mau dia lakukan? Mesum sekali, Memeng tidak takut jika tiba-tiba pintunya terbuka ..., batin Zea sambil mengalihkan tatapannya ke sisi lain agar tidak berhadapan dengan suaminya, tetap saja jika ber temu mata ia merasa kehabisan nafas hanya menatap wajah tampan suaminya saja.
__ADS_1
Ehhhh, ehhhh, kenapa bibirnya semakin dekat? Zea seketika memejamkan matanya. Tangannya sudah mengemas kemeja milik sang suami.
"Ga, mau ngapain?" gumamnya pelan bahkan suaranya tertahan di tenggorokan.
"Ada sisa makanan di sudut bibirmu!" ucapnya tapi bibirnya segera menyapu sisa makanan itu membuat mata Zea terbelalak dengan cepat Zea mendorong tubuh suaminya.
"Ga, ihhh jorok!" Zea menahan malu sambil mengusap sudut bibirnya yang sudah bersih. Sedangkan Rangga tersenyum santai dan memilih berdiri ke arah pintu.
"Rasanya lebih enak!" gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Zea.
Dasar aneh ....
...***...
Zea sudah mulai mengeluarkan barang-barang nya dari dalam tas dan koper miliknya, tapi ia kembali tertegun saat melihat lemari besar itu ternyata sudah penuh dengan pakaian, mulai dari baju tidur hingga baju untuk hang out.
"Ini apaan?" matanya melotot sempurna saat melihat deretan lingerie dengan berbagai warna ikut terpampang di sana.
"Gaaaaa!"
Mendengar teriakan Zea, Rangga yang sedang bekerja segera berlari ke tempat istrinya.
"Ada apa?" wajahnya cemas dan mendapati istrinya dengan wajah kesal.
"Ada yang salah?"
"Ini apa?" Zea menunjuk ke deretan lingerie dengan berbagai warna itu.
Rangga tersenyum dan mendekati istrinya, ia memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menempelkan dagunya di bahu Zea,
"Itu semua untukmu!"
"Buat apa?"
"Buat cari pahala!"
"Mesum sekali jadi orang!" gumam zea pelan tapi segera ia melepaskan tangan Rangga yang melingkar di pinggangnya membuat Rangga menegakkan tubuhnya. Zea sehat berbalik menatap suaminya dengan tangan yang berkacak pinggang.
"Trus kalau lemarinya sudah penuh, baju-baju ku mau di taruh di mana?"
Ukuran ...? Tiba-tiba pikiran Zea sudah memikirkan hal yang memalukan itu membuatnya dengan cepat menyilangkan tangannya di depan dada.
Melihat ekspresi Zea yang seperti itu, Rangga di buat gemas. Ia mengacak-acak rambut Zea hingga berantakan.
"Kamu lucu sekali!"
"Kapan kamu ngukurnya?"
Tiba-tiba kedua tangan Rangga membentuk cengungan dan ia arahkan ke dada Zea membuat wanita itu memundurkan langkahnya. Rangga menemukan ide untuk menjalin sang istri.
"Aku cukup memegangnya dengan kedua tanganku, begini!?"
"Awas ya, jangan macam-macam!" Zea kembali mundur beberapa langkah hingga membuat tubuhnya terjerembab ke dalam lemari.
"Aughhh!"
Rangga bukannya berhenti malah ikut masuk ke dalamnya, memeluk sang istri di sana.
"Ga, ngapain sekarang?"
"Karena kamu sudah menggangu kerjaku, jadi akan ada baiknya jika aku memberikan balasan!"
Hahhhhh ....
Saat bibir Zea terbuka, dengan cepat Rangga melahapnya dengan begitu rakus. Zea hanya bisa pasrah saat ini dan membiarkan sang suami melakukan apa yang ia mau.
Melihat Zea yang pasrah, Rangga pun segera mengangkat tubuh Zea dan membawanya ke tempat tidur. Dan melanjutkan apa yang belum selesai.
(Di skip ya)
Kini Zea dan Rangga sudah berada di bawah selimut yang sama, untuk pertama kalinya mereka melakukan hubungan intim di apartemen.
"Ga!"
Zea segera mendongakkan kepalanya begitu teringat sesuatu.
__ADS_1
"Hmmm?"
"Tadi di bawah aku ketemu sama temen lama, aku mengundangnya buat makan malam besok, apa kamu keberatan?"
"Teman lama?" Rangga segera menjauhkan tubuhnya dan menatap istrinya dengan penuh selidik.
"Teman cewek, satu panti dulu!"
"Ohhh ...!" seketika perasaannya berubah lega.
Dasar pencemburu ...., Zea kembali memeluk suaminya berharap suaminya mengijinkan tamunya datang.
"Boleh ya?"
"Apa dia baik?"
"Dia baik, sungguh?"
"Baiklah, tapi tunggu aku pulang!"
Zea tersenyum dan mengeratkan pelukannya,
"Terimakasih!"
"Cuma itu?"
Zea segara mendongakkan kepalanya kembali, mengetukkan keningnya meminta penjelasan pada sang suami.
"Apa?"
"Seharusnya kamu punya imbalan untuk itu!"
"Dasar perhitungan!?" gerutu Zea.
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah tidak pa pa, aku juga tidak memaksa!"
Itu artinya tidak jadi boleh? Nggak, nggak , aku nggak mungkin membatalkannya kan!?
"Baiklah, apa syaratnya?"
"Bukan syarat, tapi imbalan!"
"Iya!"
Dasar cerewet ....
"Apa imbalan yang harus apa berikan pak Rangga?"
"Cukup layani suamimu dan pakai baju dinasmu setelah temanmu pergi!"
"Baju dinas?"
"Baju yang berada di urutan paling atas!"
Ingatan Zea kembali mengelana ke deretan baju seksi nan transparan dengan berbagai warna yang terpampang di lemari paling atas.
Yang benar saja?
"Bagaimana, deal kan?" Rangga tersenyum dengan penuh kemenangan.
Dia suka sekali memerasku ....
"Baiklah, kita batalkan saja!"
"Jangan, jangan. Ya baiklah aku setuju!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1