Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (37. godaan Miska)


__ADS_3

"Ga, ada tamu tuh!" pria berkaca mata itu tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangan Rangga. Rangga yang baru menutup telponnya segera menyembunyikan sesuatu yang ada di tangannya.


"Itu apa Ga?" sesuatu dengan warna mencolok pastilah sangat mudah menjadi pusat perhatian.


"Bukan apa-apa, siapa tamunya?"


Bentar deh Ga, aku kayak pernah lihat!" ternyata rasa penasaran Revan begitu besar dengan benda berwarna merah itu.


Tapi dengan cepat Rangga sudah memasukkannya ke dalam paper bag yang tadi ia bawa dari mall saat ia meeting dengan klien.


"Sepertinya itu.....!" tampak sekretaris Revan mulai menerka-nerka.


"Bukan hal yang penting, di mana tamunya?"


Belum sampai sekretaris Revan menjawabnya. Pintu ruangannya sudah kembali terbuka dan seseorang yang sangat ia kenal sudah berdiri di sana.


"Selamat siang pak Rangga!" sapa gadis dengan penampilan modis itu.


"Tuh dia orangnya, perwakilan dari perusahaan Mtex Group!" ucap sekretaris Revan sambil menepuk bahu Rangga yang masih tertegun di tempatnya.


Sekretaris Revan pun berpamitan untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua.


"Apa pak Rangga tidak berniat untuk mempersilahkan saya untuk duduk?" tanya wanita itu.


"Oh iya, silahkan!"


Wanita itu pun kemudian duduk tepat di depan Rangga, berbatasan dengan meja kerja Rangga. Wanita itu adalah Miska, karena mengetahui perusahaan papanya memiliki proyek kerja dengan perusahaan finityGroup terutama yang di kelola oleh Divtagroup, Miska pun memanfaatkan kerja sama itu untuk mendekati Rangga.


"Saya ke sini membawa berkas dari Mtex group yang harus pak Rangga tanda tangani!"


"Begitukah?, baiklah biar saya periksa dulu!"


Rangga pun segera mengambil berkas yang baru saja di berikan oleh Miska dan mulai sibuk untuk menelitinya.


Selagi Rangga memeriksa berkas, tatapan Miska malah tertuju pada paper bag yang masih berada di atas meja dan belum sempat Rangga turunkan.


Ia mengenal nama toko yang tertera di paper bag itu, toko itu adalah toko yang khusus menjual baju-baju perempuan terutama baju dalam.


"Kado buat siapa?"


Pertanyaan Miska mengalihkan perhatian Rangga sejenak dari berkas, tapi tidak lama. Ia memilih kembali fokus pada berkas di depannya.


"Bukan urusan anda!"


"Ga, ini sudah tinggal kita berdua!" Miska tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menghampiri Rangga dan berdiri di belakangnya. Mendekatkan bibirnya ke telinga Rangga.


"Jika kamu mau, aku bisa lebih seksi dan lebih hebat dari perempuan murahan itu!" bisiknya ke telinga Rangga.


Rangga pun segera menutup berkasnya, ia meletakkan bolpoinnya dengan kasar dan berbalik menatap Miska hingga membuat wajah mereka begitu dekat.

__ADS_1


"Maaf nona Miska, saya tidak akan mengusir anda karena saya menghormati anda sebagian urusan perusahaan Mtex group. Untuk itu saya harap anda bisa maklum dan membicarakan hal pribadi di luar jam kerja!"


Perkataan Rangga berhasil membuat Miska kembali duduk di tempatnya,


"Baiklah, aku akan menunggumu di kafe biasa setelah pulang kerja, jika tidak aku akan datang ke rumah wanita itu dan bikin perhitungan dengannya lagi!"


Rangga tidak menjawab sama sekali ucapan Miska, ia memilih untuk menyodorkan kembali berkas yang bahkan belum sempat ia tanda tangani,


"Maaf saya tidak bisa menyetujuinya karena ada beberapa bagian yang tidak lengkap. Sebaiknya anda memeriksa lagi berkas ini, dan kembali saat sudah lebih terinci! Selamat siang!" Rangga bicara sambil mempersilahkan Miska untuk keluar dari ruangannya.


Miska pun dengan terpaksa keluar karena tidak mau di usir dengan kasar. Ia masih banyak waktu untuk melancarkan aksinya.


Sebelum masuk ke ruangan Rangga, Miska sengaja mengambil beberapa lembar berkas dari map itu dan memasukkannya ke dalam tas, ia sengaja melakukannya agar besok ia bisa kembali menemui Rangga dengan alasan pekerjaan. Ia tahu jika Rangga bukan orang yang mudah ia temui jika tidak karena alasan yang begitu penting.


...***...


Malam hari Zea sudah siap menunggu suaminya pulang. Ia tidak sabar untuk menunjukkan masakannya.


Sepulang dari taman, ia sengaja berbelanja beberapa bahan makanan untuk makan malam spesial mereka.


Hingga jam delapan, belum ada tanda-tanda pria itu akan pulang. Beberapa kali ia melihat jam dinding, sudah lebih dari satu jam ia menunggu. Biasanya suaminya akan datang jam tujuh dan ini sudah hampir setengah sembilan.


Sebenarnya ingin sekali menelponnya, tapi ia urungkan. Ia masih tidak ingin membuat Rangga terganggu karenanya.


Tapi kemudian ia pun tidak sabar dan menelpon Rangga.


"Maaf ya sayang, aku pulang terlambat. Aku akan segera pulang, jangan khawatir!"


"Baiklah, aku menunggumu!"


"I Miss you!"


"Miss you too!"


Zea kembali meletakkan ponselnya setidaknya ia saat ini sudah lega suaminya tidak pa pa, tapi makanan yang di atas meja sudah mulai dingin.


Zea pun akhirnya memutuskan untuk menunggu sambil menonton tv agar tidak terlalu bosan. Ia berencana untuk memberi kesempatan pada suaminya, memulai semuanya dengan baik.


Di tempat lain ternyata Rangga sedang menemui Miska. Ia tidak mau jika sampai Miska menemui Zea lagi dan menyakitinya.


"Ada apa?" tanya Rangga ketus saat sudah berada di samping tempat duduk Miska.


"Duduk dulu Ga!"


Rangga pun terpaksa duduk dan Zea memesankan minuman untuknya.


"Sekarang katakan!"


"Aku begitu mencintaimu, bisa kan kita memulai dari awal, tanpa wanita itu!"

__ADS_1


"Maaf, aku sudah menetapkan keputusan. Dan aku memilih Zea sebagai pendamping hidupku. Lebih baik kamu cari orang lain, bukan aku!"


Miska pun segera menggengam tangan Rangga,


"Mana bisa Ga, aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu semenjak kita bertemu pertama kali, aku nggak bisa ga menghapus semua ini dengan mudah!"


Miska menampakkan sisi lemahnya agar Rangga luluh dengan hal itu dan cukup berhasil, Rangga tidak bisa tegas seperti tadi.


"Maaf Miska, tapi aku tetap tidak bisa, aku sudah memiliki orang yang aku ingin jaga dan sayangi lebih dari diriku sendiri!"


"Lalu bagaimana dengan aku, siapa yang akan mengerti perasaanku. Kita akan di jodohkan!"


"Cinta tidak bisa di paksakan, Miska!"


Percapanan mereka terpaksa terhenti saat ponsel Rangga berdering. Ternyata dari Zea, Rangga pun dengan cepat menjawabnya.


Melihat bagaimana Rangga begitu mesra saat menerima telpon dari Zea, Miska semakin terbakar cemburu.


"Aku harus pulang sekarang, Zea sudah menungguku!"


"Jadi kalian benar sudah menikah?"


"Hmm!"


Melihat rangga pergi, Miska pun segera menyusul.


"Ga tunggu!"


Rangga terpaksa menghentikan langkahnya.


"Ga, aku tadi bawa mobil tapi ternyata mobilku mogok di jalan, bisa antar aku sampai di apartemen kan Ga!"


"Tapi mis_!"


Tiba-tiba tubuh Miska oleng hingga hampir jatuh, dengan cepat Rangga menangkapnya.


"Kamu kenapa?"


"Sebenarnya beberapa hari ini tekanan darahku agak turun, jadi sering pusing, bisa kan antar aku sampai apartemen. Aku juga takut jika harus pesan taksi!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2